
Susah payah, Ghina mengusir kehadiran Adam dari kediamannya. Sikap pria itu semakin menyebalkan bagi Ghina, dari dulu selalu saja memaksakan kehendak terhadap dirinya. Dengan alasan ingin menemani Ghina yang sendirian di rumah, gadis itu menyadari maksud terselubung dari ucapan sang kekasih.
"Ayah sedang dalam perjalanan kembali ke rumah, katanya lagi nggak enak badan," begitulah cara Ghina mengusir kehadiran Adam.
Kepergian Adam membawa sisa-sisa cinta yang hanya tinggal sejumput. Mulai hari ini Ghina memutuskan untuk mencari cara agar berpisah saja dari sosok Adam.
Sungguh rindu, akhirnya tubuh lelah itu mendarat sempurna di atas kasur. Anggap saja kasur butut itu seonggok salju di tengah lapangan, dengan senangnya Ghina menggerak-gerakkan kaki dan tangan yang merentang di atas sang kasur butut.
Tanpa melepaskan seragam sekolah, gadis itu meluncur indah ke alam mimpi. Beruntung Ghina tidur di rumahnya sendiri, jika sedang tidur di kediaman Charlotte, pasti liur yang tengah menetes di sudut bibirnya akan jadi bahan olokan para Tuan dan Nona muda.
"Drrttt!!," entah sudah berapa lama terlelap, getar sang gawai membuat dirinya terusik.
"Eish!! siapa sih!!," teriaknya kesal.
"Ya! halo," ujarnya tanpa membuka kedua mata.
"Heh, kamu kasih makan apa Tuan Joen??," suara ibu terdengar resah di ujung telepon.
Mengusap air liur di tepian bibir, dengan berat Ghina membawa diri untuk duduk"Apaan? Ghina nggak ngasih dia makan apa-apa bu."
"Lah itu, kok badannya bentol-bentol."
Kedua matanya sontak terbuka dengan sempurna, mendengar hal itu entah harus tertawa atau ikut resah seperti ibunya.
"Mana Ghina tau bu, kenapa musti tanya Ghina sih? kenapa nggak tanya orangnya aja?," gadis itu menggaruk kepala dengan rambut bak anak singa, sangat berantakan.
"Biasanya kan kamu yang ngurusin makanan Tuan Joen, makanya ibu bertanya sama kamu."
Beralih dengan menggaruk pipinya"Entahlah, orang tadi dia mintanya roti kedai Arin, tapi keburu dingin. Ibu tau kan kalo nggak bawel bukan Tuan Joen namanya, dia nggak mau makan roti yang udah dingin itu. Dari pada di anggurin mending Ghina yang makan."
"Jadi Tuan Joen nggak makan siang?."
"Iya kali! Ghina kan langsung pulang habis di kerjain," ketusnya.
"Ghina! tugas kamu kan ngurusin makanan para Tuan muda, kok nggak bilang sama ibu kalo Tuan Joen belum makan siang? dia pasti kelaparan banget sampe makan sembarang kaya gitu, kamu harus tanggung jawab, nak!."
Sumpah demi apa pun itu, kedua bola mata Ghina di buat terbelalak karena ibu tercinta menyalahkan dirinya.
"Ibu! dia tu udah besar! bukan akan kecil lagi. Salah dia sendiri dong badannya bentol-bentol karena salah makan. Kok nyalahin Ghina sih!," menghentakkan kaki, Ghina kesal sekali kepada bibi Mae.
"Lagian kan cuman bentol doang, di kasih salep pasti bakal sembuh tuh," sambungnya bernada tak perduli.
__ADS_1
"Ghina! ini bukan hanya perkaya bentol. Tuan Joen bisa mati kalo tidak lekas di bawa ke rumah sakit tadi!."
Hah! rumah sakit?? seketika tubuh gadis itu melorot ke lantai. Mati gegara bentol-bentol di badan? gila! penyakit jenis apa itu??
"Mati bu?," lirihnya dengan dada turun naik.
"Makanya! sekarang kamu buruan susul ke rumah sakit. Tuan dan Nyonya Sook juga sudah berada di rumah sakit," ujar bibi Mae lugas.
Joen memang menyebalkan, tapi jika dia mati sepertinya Ghina nggak akan bahagia deh. Sayang dong orang tampan seperti dia harus mati muda, ckckckck. Mandi secepat kilat, berpakaian lengkap juga secepat kilat, gadis kecil itu kembali membelah jalanan dengan motor bututnya.
Sesampainya di sana, hatinya mencelos menghadapi tubuh pria usil itu tak berdaya di atas ranjang pesakitan.
"Maaf Nyonya, Tuan," lirih Ghina. Dirinya sudah pasrah jika harus di salahkan atas insiden tak terduga ini"Seharusnya saya mengawasi apa yang Tuan Joen makan."
"Nggak apa-apa sayang, dia hanya alergi makanan," mengusap lembut punggung gadis itu, Nyonya Sook mencoba meredakan kekhawatiran Ghina.
"Heran, setelah sekian lama baru sekarang alerginya kambuh lagi," ujar Tuan Charlotte.
Alergi makanan? Ghina nggak tau bahwa Joen punya alergi makanan.
"Memangnya dia alergi makan apa Tuan?," tanyanya memberanikan diri.
Buset! jadi Joen hampir mati karena bubur kacang ijo yang dia rebut dari Ghina? kalo begini pantaskah Ghina yang di salahkan?
"Dia sendiri yang mengambil bubur itu dari saya Nyonya," cicit Ghina sangat merasa bersalah. Masih dapat di lihat, tepian mata wanita anggun itu menyisakan linangan air mata.
"Nggak apa-apa, Ghina. Salah dia sendiri selalu usil kepadamu."
Ucapan sang majikan membuat Ghina semakin merasa bersalah. Andai saja Joen bersikap baik seperti Nyonya Sook, juga Tuan Charlotte, mungkin hubungan mereka nggak akan seperti Tom dan Jerry yang sangat suka berkelahi dan saling menyakiti.
Ekor mata Ghina menatap Jung yang duduk setia di samping adik laki-lakinya. Meski kerap bertikai, di saat seperti ini kasih sayang di antara mereka terlihat dengan sangat jelas. Bagaimana dengan Nari?? gadis itu menangis tersedu-sedu di ujung panggilan video saat mendengar kabar itu.
"Kak Joen, Jangan mati dong. Dendam di antara kita telalu banyak, nanti kalo kamu mati kamu pasti gangguin aku setiap malam," sedih jenis apa ini? ocehan Nari di ujung video membuat Joen yang dari tadi tertidur terbangun.
"Sialan, kau menyumpahi ku??," teriak Joen.
"Kau sudah sekarat, bisa kalem sedikit nggak?," ketus Jung menahan Joen yang ingin bangun.
"Oh syukurlah, kamu masih hidup," ujar Nari menyeka air matanya.
"Sudah lihat kan! dia nggak jadi mati kok. Sekarang kamu lanjutkan saja kerja kelompoknya. Dia nggak akan menginap di rumah sakit kok," sungguh, suka duka menjadi orang tua dari mereka membuat emosi Tuan Charlotte turun naik.
__ADS_1
Sedangkan Nyonya Sook, wanita itu kini sudah bisa tertawa. Putranya sudah melewati masa-masa berbahayanya. Bersama sang suami, mereka memenuhi panggilan dokter.
"Ini obat oles untuk bentol-bentol nya," ujar sang perawat sebelum pergi dari kamar itu. Memberikan obat itu kepada Ghina, gadis itu di buat bingung saat menerimanya.
"Di oleskan di mana?," tanya nya kepada Jung.
Jung menarik ujung hidungnya"Nih, oleh ke lubang hidungku."
Sontak Ghina mengengus kesal.
"Hahahah," Joen tertawa geli.
"Lagian, sudah tahu itu obat bentol-bentol, pake nanya harus di oleskan di mana," celetuk Jung tertawa nakal.
Ghina menatap Joen dari kepala hingga ujung kaki. Bentol kemerahan di tubuhnya lumayan banyak, dan terlihat sangat banyak pada bagian leher kebawahnya. Jadi?? haruskah dia yang mengoleskan obat itu? dengan menyentuh tubuh bagian leher ke bawah Joen??
Kedua mata Ghina bergetar, otaknya mulai berpikir nakal. Lekas dia memberikan obat itu kepada Jung"Tuan saja yang mengoleskan obatnya.
"Dia begini karena bubur dari kamu," ujarnya menolak obat itu.
"Lho, bukan dari saya. Tapi di rebut dari saya. Jadi bukan salah saya kan kalo dia jadi seperti ini," celoteh Ghina kembali memberikan obat itu kepada Jung.
"Ih! nggak mau! ini tugas kamu. Jangan ngeles deh Ghin."
"Tuan Jung, ayolah," cicit Ghina menatap penuh harap kepada Jung.
"Berisik! tinggal oles saja kan," sentak Joen.
"Tau nih di cebol, buruan di kasih obat. Ntar lama sembuhnya."
Dengan wajah memelas, Ghina menatap Jung yang tertawa penuh arti kepadanya"Ehem, aku haus. Mau cari minuman dingin dulu. Aku pergi dulu ya, selamat mengobati," tanpa beban Jung melangkah menuju pintu.
"Grab," Ghina melingkarkan tangannya di lengan Jung"Please!! bantuin saya dong Tuan. Nggak mungkin kan saya harus pegang-pegang tubuh Tuan Joen."
Mendengar hal itu, raut wajah Joen menjadi merah. Jadi hal itu yang membuat Ghina menolak untuk mengoleskan obat itu di tubuhnya.
"Ghina, aku bisa mengobati diriku sendiri. Sudah, jangan bergantung terus di tangan bang Jung," tukasnya membuang pandangan. Sejujurnya pemandangan itu membuat hatinya gerah.
To be continued...
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗
__ADS_1