
Menyadari hilangnya Jung dari kediamannnya, Andrea sangat merasa kesepian. Juga di kampus, pria itu langsung melarikan diri saat bertemu dengan Andrea, membuat mental baja sang wanita akhirnya melunak jua.
Sambil menunggu Nari, atau Ghina yang masih berada di sekolah, Andrea menemani Nyonya Sook di saung taman bunga. Meski tak lagi muda, wanita itu terlihat cantik di antara bunga-bunganya yang cantik, dirinya bagai seorang peri yang tengah menyayangi teman-teman bunganya.
"Selamat siang tante," sapa Andrea mengambil duduk, bersama Nyonya Sook.
"Hem, hai, selamat siang sayang," sahut wanita itu sangat ramah. Ah! andai saja keramahan itu Andrea dapatkan dari putra pertamanya, hatinya pasti juga akan di penuhi bunga-bunga nan indah itu.
"Bagaimana, apa tidurmu nyenyak?,"tanya nya sembari menyirami beberapa tanaman.
"Nyaman sekali tante, aroma bunga di kamar tamu Tante membuat tidurku nyenyak."
Terlihat senyuman manis mengembang di wajah Nyonya Sook"Syukurlah jika kau menyukainya."
Andrea balas tersenyum, namun Nyonya Sook dapat melihat bias kesedihan di wajah ceria gadis itu"Andrea, maafkan Jung. Tante sudah memintanya untuk pulang, tapi anak itu sangat keras kepala sekali."
Senyuman getir terukir samar di wajah Andrea, memaksakan garis senyum menghiasi wajah cantiknya"Tidak mengapa tante, lagipula, sepertinya besok aku akan kembali ke rumah. Tidak terasa, sudah berhari-hari aku di sini."
Nyonya Sook melepaskan teko berleher panjang, untuknya menyiram tanaman"Sayang, tante sungguh merasa bersalah, lain kali, akan tante kurung saja bocah nakal itu di dalam kamar, hingga saat kau datang dia tidak akan bisa kabur seperti sekarang," menarik tubuh Andrea kedalam pelukan, kesedihan yang tertahan akhirnya tumpah jua. Dalam pelukan Nyonya Sook, Andrea terisak tangis.
Sesampainya di kediaman itu, Ghina segera turun dari mobil, dan menyongsong Andrea bersama Nyonya Sook di taman, samping kediaman mewah itu. Mendapati Andrea sedang di peluk erat oleh sang ibu mertua, Ghina menduga-duga, pasti wanita bar-bar itu telah kehabisan stok kesabaran menghadapi pria pujaannya.
Menyeka air mata, ternyata dugaan Ghina benar, Andrea mulai berduka.
Memeluk sang ibu mertua dengan erat jua, Ghina segera pamit undur diri dan membawa Andrea kembali ke lantai atas. Dengan tatapan sendu, Nyonya Sook menatap punggung dua wanita itu hingga memasuki pintu samping kediaman mereka.
__ADS_1
Dan tidak berapa lama, terdengar makian yang tertuju kepada Jung, melalui panggilan telepon.
"Dasar kucing tua bangka! bukankah Papah sudah mengatakan, bahwa kau dan Andrea akan menikah! kenapa kau tak jua kembali ke rumah ini!."
Menjauhkan telinganya dari sang gawai, Jung yang sedang bermalas-malasan di ranjang hotel mengerutkan keningnya. Setelah membiarkan sang Mamah mengomel hebat, barulah Jung berkata-kata"Boleh tidak rencana pernikahan itu di batalkan saja? si ulat bulu juga belum mengetahui hal itu kan Mah?."
Memang benar, sampai saat ini Andrea belum mengetahui rencana para orang tua. Sebab dirinya yang sudah jelas tergila-gila kepada Jung, mereka menunggu kesiapan Jung menerima Andrea dan mengungkapkan rencana pernikahan itu dengan sendirinya.
"Kami sudah memberimu waktu, kau jangan menjadi penjahat yang mengingkari kata-kata sendiri," gerutu Nyonya Sook.
"Mah, setelah ku pikir-pikir lagi, menikahi gadis itu sungguh menyeramkan. Dia hampir menggauli ku Mah, dan kalian diam saja!. Aku tidak mampu membayangkan akan seperti apa hidupku nanti, sebab kalian dan dirinya berada di kubu yang sama."
Alih-alih memahami ocehan panjang putranya, Nyonya Sook menggeram di ujung telepon"Cepat pulang atau namamu ku coret dari kartu keluarga!!."
Suara bermuatan amarah sang Mamah, membuat Jung kehabisan kata-kata. Sekejap, pria itu melepaskan ponselnya dan tercenung menatap langit-langit kamar yang dia sewa.
"Kamu mau apa Tuan suami?," tanya Ghina mendapati Joen mengambil duduk di tepi ranjang.
Wajahnya di buat melongo, dengan pertanyaan istrinya itu"Ini kamarmu, tapi juga kamarku. Mengapa aku seolah tidak di terima di tempat ini?," ujarnya melirik sang istri, dan ingin seger menerkamnya.
"Ehem!," ujar Andrea menyasarkan sepasang suami istri itu akan kehadirannya.
"Haish! jadi, aku harus menyingkir dari sini? dari kamarku sendiri?," ujar Joen saat mendapat lirikan dari ujung ekor mata Ghina, yang menggiringnya menatap ke daun pintu.
Wanita itu mengangguk dengan senyuman, yang membuat kedua matanya melengkung bak bulan sabit. Baiklah! demi senyum yang mengembang di wajah sang istri kecilnya, meski terseret, Joen pun membawa diri keluar dari kamarnya. Menuju kamar serba ungu mikil nenek lampir, Nari.
__ADS_1
Selepas menghilangnya Joen dari balik pintu, dua wanita itu saling bercerita, saling mendengarkan. Ghina denga keluh kesah pada kehidupan sekolahnya, dan Andrea dengan kisah percintaan mirisnya.
"Apa kau pernah mendengar istilah tarik ulur?," ujar Ghina setengah berbisik. Biar bagaimanapun ini masalah perempuan, dirinya tidak ingin perbincangan rahasia ini sampai ke telinga suaminya. Baik itu masalah Andrea, juga masalah penjahat mulut di sekolahnya.
Nampak terkulai lesu, Andrea menggelengkan kepala"Ini tentang cinta, Ghina. Bukan tentang bermain layang-layang."
Ghina menatap Andrea, miris. Gadis yang biasanya lugas itu tek ayal seperti anak ayam yang kehilangan induknya, kebingungan.
Andrea menepuk pundak lemas Andrea"Hai!! ayolah! fokus Andrea! fokus! kita memang tidak sedang bicara layang-layang, tapi ini tentang lima huruf yang bisa membuatmu gila. Aku yakin itu," seru Ghina membuka semua jemari di tangan kirinya tepat di hadapan Andrea.
Kening gadis itu di buat berkerut, begitu pasrah saat dirinya di tarik lebih dekat kepada Ghina. Namun, garis senyumnya terangkat naik saat Ghina membisikkan suatu rencana.
"Kamu yakin?."
"Aku yakin," ujar Ghina.
...❣️❣️❣️❣️...
Nyonya Sook di kenal sebagai ibu yang baik, lemah lembut dan humoris. Tingkat kesabarannya juga di atas rata-rata, jika di bandingkan dengan suami dan para anak-anaknya. Namun, sungai yang tengah bukan berarti tak ada ikannya, bisa jadi bukan hanya ikan, bahkan buaya nan besar pun bisa muncul dari dalam sungai nan tenang itu. Mendengar ancaman sang ibu tercinta, nyali dan tekad Jung untuk menolak rencana pernikahannya dengan Andrea, seketika menciut. Apalagi ancaman Nyonya Sook sebelum memutuskan panggilan sepihak, bulu-bulu halus di tubuh Jung sekerika meremang, merasakan keselamatannya sedang terancam.
Lantas, demi menenangkan sungai nan berombak yang bisa menggulung tubuhnya, Jung membujuk diri sendiri untuk segera kembali ke kediaman mereka. Tentu dengan kesepakatan awal, bersedia menikah dengan Andrea. Ah! jangan menikah dulu! setidaknya biarkan dirinya menelisik pesona seorang Andrea, dan semoga saja dirinya mampu membalas kasih dan sayang yang menggebu dari gadis pecicilan itu.
To be continued...
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗
__ADS_1
Nb: Perlahan-lahan setiap bab terdahulu akan di ubah penuturan katanya, menjadi bahasa Indonesia yang baik dan benar 🤭🤭. Untuk bab selanjutnya, akan menggunakan bahasa formal seperti novel "Senja di pelupuk mata",