
...***Apakah sinar matahari hanya bersinar padamu???,...
...Mengapa engkau begitu mempesona...??***...
...🍃🍃🍃🍃...
"Selamat pagi nona Charlotte," suara itu mencairkan hati Nari seperti es krim. Seketika tersenyum dengan hati berdebar, Alex telah berdiri di hadapannya.
"Sendirian saja! Arin nya mana??," eh! apa maksud pria ini? mengapa menanyakan Arin?.
"Sepertinya belum datang," sahutnya, sedikit kecewa.
"Oh, aku duluan ya," pria itu gegas berlalu, setelah sedikit berbasa-basi kepada Nari.
Menyusuri koridor sekolah dengan hati yang gundah, ck! ada apa dengan sang hati? mengapa merasakan sedih seperti ini?.
Duga menduga pun terjadi di dalam pikiran Nari"Apa jangan-jangan cewek yang di sukai Alex adalah Arin?," oh! demi Neptunus! Nari berharap semoga itu tidak terjadi.
Menyeret langkah dengan wajah menunduk"Nari oh Nari! hatiku terlalu cepat berbunga! pada akhirnya kumbang itu tidak berniat singgah pada taman bungamu!."
"Aish!! aku cantik! aku menarik! tapi kenapa tidak ada seorang pun yang mendekatiku???," gadis ini! sungguh tidak bisa diam. Menduga telah ada seorang lelaki yang menyukai sahabatnya, Nari menjadi pundung, juga kesal.
Arin baru saja datang, saat Nari sedang duduk di dalam kelas, sembari melepas pandangan keluar jendela. Para lelaki begitu banyak di bawah sana, sedang bermain bola basket. Seandainya saja ada salah satu dari mereka yang menyukai dirinya. Begitulah keinginan Nari saat ini.
"Hei nona! apa yang kau lamunkan?," menyentil dagu sang sahabat, Arin memecah lamunan Nari.
Kedua mata bulat Nari, menatap Arin"Alex tadi mencarimu," datar, suara Nari begitu datar.
"Alex mencariku? yang benar saja!," suara Arin sedikit meninggi"Kemarin sore aku melihatnya di kedai kami, tapi dia bahkan tidak bicara kepadaku."
"Dan sekarang dia mencariku? sungguh aneh," ucapnya menanggapi perkataan Nari.
"Oh ya? apa dia membeli roti di kedaimu?."
"Tentu saja, memangnya untuk apa dia datang ke kedai roti jika tidak untuk membeli roti."
"Siapa tahu dia hanya ingin melihatmu, dengan alasan membeli roti," setengah hati, dia berucap seperti itu. Jika memang benar Alex menyukai Arin, hati kecil Nari pasti potek!!!.
Arin menyilangkan kedua tangan di dada"Itu sangat tidak mungkin!."
"Kau terlalu yakin! dia yang menyukai mu, kau mana tahu!."
"Tidak! kau salah sangka, Nari!," sanggah Arin begitu yakin.
Nari menopang kepalanya dengan lengan"Kita lihat saja nanti, dia pasti akan kembali mencarimu saat jam istirahat tiba."
Arin membuang napas"Lupakan saja dia, aku punya sesuatu yang sangat menarik untukmu,"
Arin memainkan kotak makannya di hadapan Nari.
Hidung gadis berambut sebahu itu menangkap aroma sedap"Wah!! apa isinya?," wajah tertekuk Nari berganti dengan keceriaan. Masakan Papa Arin memang selalu menggoda.
Setelah di buka, bekal yang di bawa Arin membuat bola mata bulat Nari berbinar-binar"Oh Tuhan!! aku mau!!!."
"Kau mau memakannya sekarang??."
Nari mengangguk bak anak gukguk, menggemaskan.
"Kalau kau makan sekarang, makan siang kita apa dong Nar??," Arin tak kuasa menahan rawa, Nari memang penggemar garis keras masakan sang Papah.
__ADS_1
"Kita ke kantin saja! aku yang bayar," seru Nari menyambar sumpit milik Arin. Bisa-bisanya dia makan dengan lahap, padahal dia sudah sarapan ketika hendak berangkat ke sekolah. Ckckckc....
...***...
Di sekolah yang lain.
Seorang anak laki-laki mengirimkan pesan kepada saudaranya"Nanti sore mau ikut tidak?."
Dan ternyata pesan itu di tujuan kepada Alex. Setelah membaca pesan tersebut, jemari Alex segera mengetik balasan"Tidak, kau saja yang pergi.
"Lebih baik jika kita pergi bersama, kau bisa menikmatinya saat masih hangat," balasan kembali Alex terima.
"Aku ada jadwal bermain basket," balas Alex lagi.
Nampak sang saudara di sekolah berbeda itu kembali mengirim pesan kepada Alex"Baiklah, aku saja yang pergi membelinya."
Si pengirim pesan adalah Aron, saudara kembar Alex. Roti dari kedai keluarga Arin membuat mereka ketagihan, sekali menggigit rasanya ingin lagi dan lagi.
Alex sepertinya telah jatuh hati kepada roti di kedai itu, dan karena itulah dia menanyakan Arin pagi ini kepada Nari. Sedangkan Nari memiliki pemikiran yang bermacam-macam tentang maksud Alex menanyakan Arin.
Tak terasa jam sekolah telah berakhir. Nari dan Arin berpisah di gerbang sekolah. Tubuh Nari terasa sangat lelah, apa karena hati yang resah? penyakit yang di timbulkan oleh cinta memang sangat menguras tenaga.
"Ghina, aku sangat lelah," dia merebahkan diri di hamparan karper bermotif black cat milik Ghina. Sedangkan Ghina telah berganti seragam dengan pakaian biasa, hari ini Ghina yang lebih dahulu pulang dari sekolah ketimbang Nari.
"Kenapa?," tanya sang kakak ipar yang jarang di panggil Nari dengan sebutan kakak ipar.
"Hatiku lelah," lelah hati, lelah pikiran, lelah segalanya.
Ghina menepuk bantal di sampingnya"Sini, aku masih punya sisa tenaga untuk memijatmu," ujarnya. Padahal, bukan hanya Nari yang lelah, dirinya pun sama. Di kenal sebagai siswa yang telah bersuami, di jauhi sahabat, menjadi bahan pembicaraan para siswa bermulut besar, bagaimana hati dan jiwa Ghina tidak lelah. Jika tidak karena di penghujung masa SMA, mungkin Ghina akan angkat kaki saja dari sekolahan itu.
Nari merangkak mendekati Ghina, dan merebahkan diri pada bantal yang di tepuk Ghina tadi"Tidak perlu di pijat, kau hanya perlu membantuku berpikir" dan kali ini giliran Nari yang merengek pada Ghina.
Nari mengangguk, dengan bibir menurun.
"Baiklah, coba kau ceritakan duku," meletakan gawai di samping, dan menyeka rambutnya ke daun telinga. Kini Ghina telah siap mendengar keluh dan kesah.
"Bla bla bla," cerita Nari pun di mulai. Begitu panjang, dan selama Nari bercerita Ghina hanya banyak mengangguk.
Usai gadis itu bercerita, dia lantas meminta pendapat Ghina"Bagaimana menurut mu?."
"Kau, jangan langsung menerka. Apa kau sudah melihat Alex dan Arin bertemu? bagaimana gelagat mereka? apakah wajah Alex terlihat merah? sepertinya Arin tidak mempunyai rasa kepada Alex, jika itu memang cinta pasti Alex lah yang akan tersipu saat bertemu Arin," ucap Ghina memulai konseling cinta di kamarnya.
"Iya, Arin juga mengatakan, bahwa dia tidak punya rasa apa-apa terhadap Alex, hanya sekedar kagum karena dia bintang di lapangan basket."
"Tuh! kau pun sudah tahu dengan perasaan Arin. Jangan sedih, selain Alex masih banyak cowok lain, kau sangat cantik Nari."
"Cantik tapi tidak ada yang mau mendekati," lirih Nari.
Ghina tergelak"Kau terlalu pundung. Apa kau bisa membaca isi hati semua lelaki di sekolah mu? cobalah kau berkaca Nari, kau putri tunggal dari pengusaha kaya raya, meksi yang bersekolah di sana semuanya anak orang kaya, kekayaan mereka hanya seujung kuku papa Charlotte."
Nari memandang Ghina lekat"Jadi, semua ini karena harta?."
"Bukan seperti itu, terkadang pria merasa kecil jika bersanding bersama wanita yang lebih kaya darinya," ujar Ghina mencoba menjelaskan.
"Bukankah mendapatkan wanita kaya itu lebih menguntungkan? aku bisa memberi semua yang aku punya, demi cinta."
Kedua mata Ghina terbelalak, begitukah Nari jika sedang jatuh cinta?"Oh Naria!! jangan seperti itu!! akan sangat berbahaya jika kau bertemu lelaki bajingan."
"Aaahhhh!! bahkan lelaki bajingan pun tidak ada yang mau mendekati ku!!," teriaknya.
__ADS_1
Ghina mengusap wajah, sungguh pelik menjelaskan tentang cinta kepada Nari ini.
Sekian lama waktu berlalu, Nari masih betah berada di kamar Ghina. Dan..."Aku bosan," ucap gadis itu.
Ghina sedang menonton U'Tube menanggapi"Aku juga." Bagaimana tidak bosan, sedari tadi mereka hanya bolak-balik di atas karpet bulu itu, sambil memainkan gawai mereka.
"Ke kedai Arin, apa kau mau?."
Ghina mengambil duduk, setelah sebelumnya merebahkan diri"Mau, sangat mau."
Tubuh Nari sungguh malas untuk bergerak, tapi rasa bosan membuatnya hampir muntah. Berdiam diri saja tidak ada gunanya"Ughhh," lenguhnya berdiri, merentangkan tangan ke udara.
"Bersiaplah," tukasnya.
"Aku harus meminta izin kepada Joen dahulu," Ghina meraih ponselnya, dan segera melakukan panggilan telepon kepada Joen.
Dan saat Nari meminta izin secara langsung kepada Joen untuk membawa Ghina"Kalau sampai Ghina kenapa-kenapa, kepalamu akan jadi tumbal" suara Joen begitu nyaring hingga terdengar oleh Ghina.
Ghina segera berseru"Hei!! kenapa galak sekali dengan adik mu?!."
"Itu nenek lampir, Ghina sayang," Joen balas berseru.
Nari menahan rasa geram, dasar Joen ini!!!"Cerewet sekali!! jangan mengurung Ghina di rumah terus, bisa gila. Menikah denganmu saja sudah bencana baginya, apalagi jika terus kau kurung di rumah ini. Ckckck sungguh Ghina yang malang," pedas mulut Joen, pedas lagi mulut Nari. Tak jarang candaan mereka membuat Ghina bergidik, jika orang itu bermental kerupuk pasti sudah menangis tersedu-sedu karena mulut pedas mereka.
"Sialan! pokoknya kalian jangan macam-macam, hanya akan membeli roti bukan? ingat ya! kalian sudah harus di rumah saat aku datang. Jika kalian masih di luar sementara aku sudah kembali ke rumah, kau harus bertanggung jawab Nari," ujar Joen panjang kali lebar. Joen sungguh tidak mau ketika pulang istri kesayangannya tidak ada di rumah.
"Iya! iya abang durjana!," sentak Nari langsung mematikan panggilan.
Ghina menggeleng melihat dua saudara itu berdebat via telepon. Usai bersiap-siap, mereka pun berangkat ke kedai Arin di antar pak supir.
Namun alih-alih langsung ke kedai Arin, Nari meminta MR. Zak menunggu mereka di parkiran dekat taman kota. Mereka akan berjalan kaki dan menikmati angin sore di pinggiran kota.
"Wah,! sudah lama kita tidak jalan-jalan seperti ini," celetuk Ghina.
Nari mengangguk"Heem, terakhir saat Andrea dan bang Jung berselisih," ingat Nari.
"Betul, dan sekarang giliran sudah berbunga-bunga mereka pacaran terus. Kita justru tidak di hiraukan," keluh Ghina mengapit lengan Nari, mereka berjalan bergandengan.
Tidak jauh, hanya perlu berjalan beberapa menit dia wanita itu telah sampai di kedai Arin. Ghina masuk terlebih dahulu, di susul Nari di belakang.
"Selamat datang!," seru Arin yang hari ini berperan sebagai penyambut tamu. Senyum gadis itu mengembang saat melihat siapa yang datang"Kak Ghina! Naria."
Mereka bercengkrama, kemudian Arin mengajak Nari dan Ghina untuk memilih roti apa yang mereka mau. Dan saat sedang sibuk memilih roti, tiba-tiba terdengar pintu utama terbuk. Sontak Arin menoleh ke arah pintu, hendak memberikan sambutan. Namun...
"Alex," pekik Nari dengan suara tertahan. Rupanya dia juga memperhatikan orang yang masuk ke kedai setelah dirinya itu.
Langsung berjalan menuju konter roti "2 roti keju," Alex memesan roti yang masih hangat pada ayahnya Arin.
Saat itu dia berada sangat dekat dengar Nari, tapi tidak jua menyapa.
Pandangan Nari beralih kepada Arin, dengan tatapan penuh tanya. Sedangkan Arin mengendikan bahu, pertanda juga tidak mengerti dengan tingkah acuh Alex.
Karena penasaran Nari mengikuti Alex dan memanggilnya"Alex...."
Pria itu berbalik namun dengan ekspresi berbeda"Maaf,kamu siapa ??."
Nari dan Arin semakin di buat bingung, Alex kenapa? bukankah mereka kerap saling sapa kerika di sekolah??
To be continued...
__ADS_1
~~♡♡happy reading.jangan lupa like dan komen ^,^