
Pagi itu Ghina terbangun lebih awal dari biasanya. Indra pendengarannya terusik dengan suara ayah yang terus-terusan batuk hingga membuatnya khawatir.
"Bu, Ayah sakit ya??," ujarnya bertanya pada bibi Mae. Perasaanya mulai gelisah, sebab sang Ayah akan sangat lemah jika batuk melanda nya. Dada yang terasa sesak bahkan akan menimbulkan suara saat dirinya menarik dan membuang napas, ck! mikirin itu aja sudah bikin Ghina khawatir sekali.
"Asmanya kambuh nak, mungkin ayah kecapean. Akhir-akhir ini ayah juga sering begadang," ujar sang Ibu. Nah! betul kan, penyakit asma nya kambuh dan itu jelas akan mempersulitnya jika bekerja.
"Di suruh izin aja deh bu."
"Orangnya nggak mau tuh, kamu sama ayah kan sama-sama keras kepala," sahut sang ibu lagi.
Masih dengan perasaan yang berkecamuk Ghina mengambil duduk di kursi dapur, kini dia mendengar langkah Ayahnya menuruni anak tangga. Masih terbatuk-batuk meskipun tak sehebat subuh tadi. Saat itu sang Ayah sudah berpakaian rapi seperti biasanya, membuat Ghina melengos kesal kemudian berujar dalam hati "Dasar ayah! ngeyel banget sih jadi orang tua!!."
Dengan kedua alis yang menukik naik Ghina mulai protes pada sang Ayah"Hebat ya anda pak Komarudin, udah tau sakit kok masih mau berangkat kerja!."
Sembari mengeratkan sabuknya Mr Ko beucap dengan nada santai kepada Ghina" Hebat dong, Komarudin kan superhero! kalo cuman sakit kaya begini mah.....kecil!," ujarnya sekilas menjentikan jari kelingking ke arah Ghina, membuat gadis itu menekuk wajah"Lagipula, Hari ini ada pengantaran bunga ke koleganya Tuan Charllote, nggak enak kalo ayah minta Izin," usai mengeratkan tali pinggang, dia pun ikut duduk di meja makan, bersama putri bawelnya.
Melihat Ghina yang cemberut"Kalo nggak kuat nanti ayah ijin pulang aja," Maemunah coba menenangkan hati sang putri"Sudah, jangan cemeberut lagi, ntar idung sama mulutnya menyatu lho."
"Ibu!!!," kesal Ghina.
"Sarapan dulu, Ghina bawel," Mae, wanita hebatnya itu tertawa sambil menghidangkan makanan hangat yang telah dia sediakan untuk keluarga kecilnya.
Selama sarapan hati kecil Ghina seolah teusik, seperti ada perasaan janggal jika sang ayah tetap berangkat bekerja. Hati kecilnya terus meronta meminta Ghina menghentikan keinginan ayah yang ngotot bekerja, namun sayangnya Komarudin tetap keras pada pendiriannya.
"Ayah!, Tuan Charllote pasti mengerti kok, penyakit asma Ayah sedang kambuh. Gimana kalo ayah kenapa-kenapa ??!!," di sisa-sisa waktu sarapan mereka, Ghina mencoba menahan ayahnya agar beristirahat saja di rumah.
Namun usaha Ghina nampaknya akan sia-sia"Ayah sdah baikan kok Ghina, buruan deh selesaikan sarapan nya,biar ayah anterin ke sekolah, motor tua kamu kehabisan bensin tuh," ujar sang ayah lagi.
"Ghina bisa isi bensin dulu kan yah, ayah duluan aja deh," sahutnya bernada merajuk.
Komarudin tersenyum kecil"Kang bensin di depan kehabisan stok bensin, kalo harus ngantri bensin dulu kamu bakal terlambat ke sekolah nya."
Selepas sarapan, hari itu Komarudin mengantarkan sang putri lebih dahulu ke tempatnya menuntun itu, selepas itu barulah dirinya kembali ke rumah untuk menjemput sang istri dan berangkat bersama ke kediaman keluarga Charlotte.
Jalanan pagi itu sangat licin, mungkin karena tadi malam sang hujan turun hingga subuh menjelang. Tersisa beberapa genangan air yang menambah licinnya jalan beraspal itu.
Mr ko berkendara dengan kecepatan standar, dirinya terlibat sangat berhati hati mengingat dadanya yang masih terasa sedikit sesak.
Berkat kehati-hatian beliau, sepanjang perjalanan itu berhasil mereka lalui dengan mulus. Dan ketika sampai pada tikungan terakhir menuju kediaman Charlotte, di depan mereka ada Truk yang sedang mengangkut pasir. Truk itu menyenggol pengendara lain hingga menyebabkannya hilang kendali. Supir truk banting setir, mencoba menghindari Mr ko di depan. Namun sayang, angkutan berat itu sudah mulai goyah dan____"BRUAAKKK!!."
Truk itu terguling menghantam Mr ko dan bibi Mae. Mereka hilang kesadaran dan terkubur dalam pasir yang terhambur di jalanan.
Suasana seketika riuh, para pengendara panik. Mereka menghentikan kendaraannya dan segera mencoba membantu para korban. Salah seorang dari mereka ada yang dengan cepat memanggil ambulan dan yang lain bergegas mencoba menyelamatkan sang supir yang terjepit di dalam Truk tersebut.
Suara tabrakan itu cukup keras dan mengejutkan Mr So yang sedang berjaga si depan gerbang kediaman Charllote. Lokasi kejadian hanya berjarak beberapa meter saja dari kediaman Charllote, dengan mudah dia dapat melihat orang orang-orang berhamburan menuju TKP.
Dengan tergopoh gopoh Mr So bergegas menghampiri kerumunan itu, dan betapa terkejutnya dia mendapati sepeda motor milik rekan kerjanya sudah hancur tak berbentuk.
Tangan gemetarnya meraih ponsel dan menekan nomor sang majikan"Tu....tuan, spertinya Mr Ko kecelakaan," terbata-bata, dia menghubungi Tuan Charllote.
Kediaman Charllote seketika gaduh"Mah suara dentuman tadi ternyata sebuah kecelakaan di tikungan depan. Cepat kedepan nampaknya Mr Ko yang jadi korban," teriak Tuan Charllote.
Mendengar teriakan sang Papah membuat Jung meloncat dari tempat tidurnya, dia berlari ke depan jendela, mencoba melihat keadaan di bawah sana.
Sedangkan Joen, pria itu sudah sampai di depan gerbang. Dirinya berlari tanpa mengenakan alas kaki, dan nampak kendaraan Mr Ko yang hancur di depan matanya.
"Permisi!, permisi," Joen mencoba memasuki kerumunan orang-orang. Dirinya nggak mau sembarang menebak, bisa saja itu hanya kendaraan yang mirip dengan milik Mr So, bukan?
__ADS_1
Namun nyatanya, sekarang pria itu telah terjatuh ke aspal. Indra penglihatannya mendapati tubuh bibi Mae berlumuran darah, separuh tubuhnya masih tertimbun pasir. Orang yang sangat dia sayangi tergeletak tak berdaya di depan matanya, masih bernyawa kah bibi Mae?? Joen sangat berharap keajaiban itu datang di saat-saat seperti ini.
Jung datang bersama Tuan Charllote"Cepat temukan korban lainnya," seru Tuan Charllote, meminta mereka menemukan Mr Ko secepatnya.
Seluruh tubuhnya gemetar"ya Tuhan, aku berharap nyawa mereka masih bisa di selamatkan," ujarnya lirih. Tak terbayangkan jika mereka benar benar pergi dengan cara seperti itu. Mr So dan Bibi Mae sudah seperti keluarga baginya.
Tuan Carllote mengerahkan para pelayan laki-lakinya untuk turut membantu para petugas. Mulutnya terus komat-kamit memohon kepasa sang maha kuasa semoga nyawa mereka dapat di selamat kan.
...ππππ...
SMA Widuri.
"Panggilan kepada siswi bernama Ghina Larasati, di harapkan untuk segera datang kantor kepala sekolah." Suara dari pengeras suara bergema di seluruh pelosok sekolah.
Ghina yang baru saja menyiapkan buku-buku pelajarannya merasan aneh dengan panggilan tersebut .
"Kamu di panggil tuh Ghin," tegur Rena sang sahabat sebangkunya.
"Kenapa ya?," tanyanya penasaran.
"Tau deh, bu Jamela kangen kali," ujar Rena asal sambil mendorong sahabatnya agar bergegas ke kantor"Kalo di panggil tuh buruan di samperin, ntar merajuk bahaya lho."
"Aduh, hatiku cemas lho Ren," ujar Ghina lagi.
"Makanya buruan di pastiin," Rena terus mendorong Ghina agar segera menuju kantor.
Ghina pun menuju ruang kepala sekolah sambil bertanya tanya, dan nampak sepasang mata Adam sedang mengawasinya dari depan kelas seberang.
"Kenapa!," tanya Adam dengan bahasa isyarat.
Sesampainya di kantor Ghina mengetuk pintu" Tok tok!."
"Masuk!," suara bu Jamela mempersilahkan sang pengetuk pintu.
Ghina melangkahkan kaki memasuki ruang kantor, di sana dia mendapati Mr So duduk menunggunya bersama kepala sekolah.
Mr So menatapnya sedih, dengan tepian mata nampak basah.
"Kenapa Mr So?," tiba-tiba perasaan cemas itu semakin memuncak, ini pasti bersangkutan dengan kedua orang tuanya.
"Neng Ghina segera ikut saya ya," ujarnya pelan.
"Kenapa dulu Mr! Ghina mau di bawa kemana?," Ghina mulai panik, raut wajah Mr So membuatnya teringat dengan keadaan ayahnya yang sedang sakit.
Sambil menunduk dan menutup matanya"Ayah dan ibumu sudah tiada Neng," ujar Mr So dengan suara bergetar.
Langitnya telah runtuh, bahkan dunianya telah hancur. Kabar itu membuat Ghina kehabisan kata-kata, gadis itu berubah menjadi patung dengan wajah datar.
"Ayo Neng, kita harus segera ke rumah sakit," ujar Mr So lagi.
Jamela mengusap punggung Ghina, perlahan"Yang sabar ya Ghin, semua yang bernyawa pasti akan kembali pada illahi. Ibu turut berdukacita."
Mengusap wajahnya, lemah. Ghina mengangguk saja. Dan segera Ghina langsung mengikuti Mr So keluar sekolah dan masuk ke dalam mobil, secepat nya mereka langsung menuju rumah sakit.
...π₯π₯π₯π₯...
Tuan Charllote dengan perasaan ketar-ketir berdiri mondar-mandir di depan ruang jenazah. Nampak kekhawatiran menyelimuti wajah separuh baya nya, kejadian ini sungguh hal yang tak pernah di sangka-sangka.
__ADS_1
Tak berapa lama nyonya Sook dan Nari datang" Lho, Nari nggak sekolah?," tanya Tuan Charllote.
"Nggak pah!," sahutnya terisak. Bibi Mae bukan sekedar koki baginya, perempuan paruh baya itu sudah seperti sahabat yang selalu membuatnya tertawa dalam suka maupun duka. Nari juga sangat terpukul dengan kejadian yang merenggut nyawa Bibi Mae dan Mr Ko, sejatinya dua pekerja di kediaman mereka itu sudah seperti saudara bagi mereka.
Mr So akhirnya datang bersama Ghina, gadis kecil itu melangkahkan kaki tanpa ragu. Wajahnya dingin tanpa air mata, dia melewati keluarga Charllote tanpa berkata-kata kata. Kedua bibirnya nampak bergetar menahan tangis, jauh di dalam tubuh hati dirinya tengah menguatkan diri atas apa yang telah.
Nyonya Sook mengikuti Ghina masuk ke ruangan jenazah, mensejajarkan langkahnya bersama Ghina. Jemarinya menggenggam tangan Ghina seolah berkata"Ada kami di sini!." sementara Ghina, masih nampak kaku menahan segala derita yang menghujam jantungnya.
Dan Ketika Dokter membuka kedua mayat yang terbujur kaku itu, barulah tangis Ghina pecah. Menyaksikan orang-orang terkasihnya sudah tak bernyawa di hadapannya, sungguh membuat hatinya hancur porak poranda. Baru beberapa jam yang lalu mereka makan bersama dan sekarang mereka sudah terpisah oleh sebuah kematian. Tubuh kecil itu melorot ke lantai, dengan tangan yang menggenggam erat jemari jenazah ayahnya, pria hebat sang cinta pertamanya.
Nyonya Sook memeluk Ghina erat, mencoba menenangkan gadis lemah itu. Dalam pelukan nyonya Sook, Gadis berseragam SMA itu menangis dan menjerit sejadi-jadinya memanggil ibu dan ayah tercinta. Tangisan Ghina terdengar begitu pilu, begitu menyayat hati, hari ini dunianya telah runtuh.
Di sudut lain, Nari pun tak sanggup menahan air matanya, gadis itu kembali terisak.
Joen terdiam di balik dinding rumah sakit, pria itu amat sangat terpukul. Dia sangat menyayangi Bibi Mae yang mengasuhnya sedari kecil. Bibi Mae berperan besar dalam kehidupan Joen, dan kini perempuan kesayangannya itu telah pergi meninggalkan dunia ini.
Jung terduduk lemas pada kursi panjang di depan kamar jenazah. Ujung matanya menitikan air mata. Tangisan Ghina begitu pilu , mengalun penuh kesedihan.
"Biarkan dia menangis sepuas hatinya," ujar Tuan Charllote pada istri nya saat itu.
"Biarkan dia mengeluarkan segala kesedihannya," tambahnya lagi.
Hari yang Na'as, menyisakan Ghina seorang diri di dunia ini. Dia telah kehilangan arah, dia kebingungan, dan hanya mampu terus menangisi kedua orang tuanya. Dengan terpaksa, gadis itu harus melepas kepergian mereka.
Selamat jalan Mr ko, selamat jalan Bibi Mae.
"Ya Tuhan....
Ampunilah segala dosa ibu dan ayah ku yang telah tiada.
Tempatkanlah mereka di tempat yang sebaik-baiknya.
Kasihanilah mereka dengan kasih dan sayang-Mu.
Jangan biarkan raganya tersiksa di panasnya api neraka.
Ya Tuhan yang maha kuasa...
Jika banyak dosa yang menutup pintu surga untuk di masuki mereka,
Maka ringankanlah segala rintangan yang menghadang.
Permudahlah mereka untuk meniti jalan tempat persinggahan.
Jangan bebani dengan segala siksa berat yang ada.
Ya Tuhan kami...
Kasihanilah mereka sebagaimana mereka mengasihi ku sewaktu kecil.
Tangan yang lembut tidak pernah bosan menyentuhkan kasih dan sayang kepadaku.
Jiwa dan raga kuat mencari nafkah untuk ku diriku.
Segala doa Ghina panjatkan dengan lapang dada, meski berat dia ikhlaskan kedua orang tuanya kembali ke pangkuan-Nya.
~~β‘β‘Happy reading . Jangan lupa like , Vote , Fav dan komen ya teman ^,^ .
__ADS_1