
Aron terus menekuk wajah, nampak tak bisa menyembunyikan kekesalannya kepada Alex. Tak seperti biasanya, Alex yang dingin tiba-tiba menghangat, dan itu terjadi di hadapan Nari.
Alex bahkan memesan roti dengan krim keju, padahal Aron sangat tahu bahwa saudara kembarnya ini tidak suka dengan rasa keju. Dan ekspresi saat menikmati roti tersebut, owh!! sangat memuakan bagi Aron.
"Bukankah kau tidak suka keju!," hardiknya, tak tahan melihat tingkah Alex. Tak segan-segan, Aron langsung berkata di hadapan Nari.
"Aku sangat menyukai nya, bahkan sekarang sangat menyukainya," sahut Alex acuh. Dia tahu Aron pasti sedang kesal, tapi masa bodo lah!.
"Benarkah? jika kau tidak suka keju, tidak perlu di paksa. Aku akan memesankan roti dengan krim biasa untuk mu."
Wajah manis Nari, menggetarkan hati Aron. Sorot matanya sangat menunjukan betapa tertariknya dia terhadap Nari. Dan, Alex tak biasa diam saja, dia langsung menendang kaki sang saudara di bawah meja. Namun, Aron bukanlah orang yang mudah di tekan, dia menyerang balik hingga membuat Alex meringis.
"Ough!!" menahan rasa ngilu pada pangkal kakinya"Tidak perlu Nar, aku suka dengan roti ini," bersikap santai. Semakin hari Nari semakin cantik dan menarik, Alex jadi semakin berani untuk mengejar cintanya.
"Serius? kalau begitu aku akan memesan minuman yang sama dengan pilihanmu, jadi kita sama-sama menikmati hidangan kesukaan kita," antara polos dan bego, entah Nari memang polos atau bego. Seolah tak menyadari persaingan di antara dua pria ini, dia terus menebar pesona secara tidak sengaja. Kerap menyelipkan helai rambut hitam legam itu ke daun telinga, dan dua bola mata indah yang menyipit ketika tertawa, Alex dan Aron semakin tenggelam dalam pesona gadis ini.
Aron tidak bisa diam saja saat Nari berusaha menyeimbangi kebesaran hati Alex, dengan memesan minuman yang sama dengan sang saudara"Selera tidak bisa di paksa. Pesan saja minuman yang memang kau inginkan. Bagaimana jika minuman yang di pesan Alex tidak cocok di lidahmu? bagaimana jika kau tidak mampu untuk menghabiskan minuman itu? dan akhirnya membuangnya?," terjadilah sikut menyikut, pandang memandang setajam belati antara Alex dan Aron. Dia hampir melukai bibirnya karena terus menggigit bibir, menahan kesal di dalam dada.
Sementara Alex, merasakan sakit yang teramat pada kakinya di bawah sana. Sebab serangan beruntun yang terus di lakukan Aron.
"Ash!! sudahlah! aku sudah tidak tahan lagi!. Alex, berterus terang saja! kau menyukai Nari, bukan?," begitulah Aron, pria ini tak suka membuang waktu, saat itu juga dia mengungkapkan perasaan Alex kepada Nari.
Alex terdiam, suasana mendadak canggung.
"Kau bilang tidak menyukainya! tapi kau datang ke sini dan mengganggu kami!."
"Kau bilang akan berlatih basket, tapi kau justru duduk di sini, bersama kami!."
"Juga," Aron terlihat menarik napas"Kau berubah menjadi banyak bicara! kau seperti bukan Alex!."
Rentetan ocehan Aron, membuat Nari terperangah menatapnya.
"Cerewet! aku memang hendak latihan. Lihat, aku membawa tas ku," belum habis roti yang dia makan, melihat Aron mengoceh panjang lebar membuat Alex kehilangan selera makan.
__ADS_1
"Grab!!," Aron mencekal lengan Alex, menahannya untuk pergi"Jika itu memang cinta, katakan sekarang, Alex!. langsung di hadapannya."
Nari, gadis yang kerap di katakan jelek oleh para penghuni kediaman Charlotte, merasakan panas pada wajahnya. Gadis itu tersipu malu setelah menyadari bahwa dua lelaki di hadapannya ini sedang membicarakan cinta, cinta kepadanya.
"Ck! kau benar-benar cerewet," desis Alex menepis tangan saudaranya.
Sorot mata Alex kini menatap Nari, gadis itu nampak enggan membalas tatapannya"Nari, itu benar. Aku menyukai mu."
Ada rasa perih di hati, saat mendengar pengakuan cinta dari Alex kepada Nari. Aron membuang pandangan, menatap mereka berdua terasa menyesakan dada.
Arin sempat khawatir melihat perdebatan dua pria itu. Gegas menghampiri mereka, tanpa Arin sadari kehadirannya membuat Alex kehilangan kesempatan mendengar jawaban Nari atas pernyataan cintanya.
"Apa rotinya tidak enak? kenapa tidak kalian habiskan."
Dalam keterkejutan, Nari bersyukur atas hadirnya Arin, dengan begitu dia dapat menghindari tuntutan jawaban kepada cinta Alex.
"Rotimu selalu enak. Ini, aku sedang menikmatinya," mengangkat roti empuk itu, Nari mengambil gigitan yang besar.
"Ya, enak seperti biasanya. Ayo, habiskan dulu roti ini sebelum kau berangkat ke lapangan basket."
.........
Nyonya Sook di seberang jalan sedang asik menata bunga-bunga yang sangat menawan di matanya. Ghina nampak sedang melayani pelanggan, sesekali dia membuka katalog tentang bunga dan maknanya. Seperti nya dia harus lebih banyak belajar tentang bunga, sebab para pelanggan yang datang kebanyakan mencari bunga yang sesuai dengan acara, atau dengan seseorang yang akan menerima bunga pemberian mereka.
Setelah selesai melayani pelanggan, Ghina melanjutkan aktivitas merangkai mahkota bunga.
"Cantik sayang, kau berbakat merangkai bunga," Nyonya Sook mengamati aktivitas menantunya.
"Benarkah?," Ghina meletakan makhota bunga di atas kepalanya, berjalan ke arah cermin.
"Waw! kau cantik sekali, sayang!," Joen berseru. Pria itu baru pulang dari kantor, singgah ke toko bunga untuk menjemput sang istri. Mendapat betapa cantiknya Ghina ketika mengenakan mahkota bunga itu, Joen langsung memeluknya dari belakang"Jadi teringat dengn pernikahan kita kemarin," Joen berbisik menatap pantulan mereka di cermin.
"Hei,...malu di dengar mama," Ghina menepuk pelan lengan suaminya, yang masih memandanginya penuh cinta.
__ADS_1
"Santai saja, bukan hanya Joen, papa pun masih suka menggoda mama dengan ucapan manis seperti itu," sahut Nyonya Sook, membuat Ghina tersipu malu.
Joen terkekeh, begitu pula dengan Nyonya Sook.
"Sayang, kita ke kedai Arin yuk, wangi rotinya menggugah selera," dia bahkan belum melepaskan pelukan dari tubuh sang istri.
"Boleh," sahut Ghina. Pasangan itu gegas ke seberang jalan, memasuki kedai Arin. Dan saat sampai di depan etalase yang menyajikan bermacam varian roti, Joen menemukan seseorang yang sangat menarik untuk di usik.
Joen mengarahkan Ghina pada sosok Nari di meja sudut kedai"Nona kecil sedang menebarkan kecantikan di hadapan dua orang lelaki tampan," guma Ghina tertawa.
"Ayo kita ganggu."
"Jangan! nanti dia marah."
"Biarin, gangguin Nari lebih mengasikan dari pada menghindari amarahnya," senyuman nakal itu membuat Ghina tak kuasa melawan, dia pun mengekor langkah Joen menjumpai si bontot.
Menyerahkan langsung rasanya kurang menarik, Joen menyelinap ke belakang Nari, memasang telinga lebar-lebar"Kita berteman saja ya," lemah lembut, suara Nari seperti di buat-buat bagi Joen. Uwch! menggelikan.
"Katakan saja kau menolaknya. Sekarang bagaimana dengan ku? aku juga menyukaimu, Nari."
Menelan saliva yang terasa berat, Nari mengulum bibir memikirkan posisinya saat ini, terjebak di antara dua pria tampan.
Sementara Nari sedang bingung, Joen tak kuasa lagi untuk tak segera menjahili Nari.
"Bagus! jadi kau sedang di tembak dua pria? ckckck! ilmu apa yang kau punya? sampai dia cowok...," Joen menatap Alex dan Aron bergantian"Sampai dia cowok tampan ini jatuh cinta padamu?."
Aghhhh!! hati Nari menggeram! kenapa Joen muncul di saat-saat seperti ini!!!
"Hei, aku kasih tahu ya. Kalian jangan tertipu dengan wajah cantik ini," begitu leluasa, Joen menarik kedua pipi Nari. Ghina merasa ngeri, takut Nari membalas perlakuan Joen lebih sadis dari yang lalu-lalu.
"Dia galak! cerewet! jarang mandi!, hemmmm," sedang berpikir. Namun belum habis kata-kata yang Joen lontarkan, sebuah sendok telah mendarat dengan indah pada batok kepala Joen.
"PLETAK!!!!!,"
__ADS_1
To be continued...
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗🤗