
Di kediaman Charllote, Joen seperti seorang terpidana, yang sedang di interogasi oleh seorang hakim. Dan hakim tersebut adalah sang papa, Tuan Charlotte. Sikapnya yang dingin berubah setelah menikahi Ghina, hal itu sangat di pahami pihak keluarga, karena Joen terlalu mencintai Ghina. Namun, kali ini sikap Joen kembali berubah, menjadi sangat kekanak-kanakan, membaut sang papa tak tahan untuk mencari sebabnya.
"Katakan! apa kau sakit? tapi kau terlihat baik-baik saja, terlepas dari sikap seperti anak kecilmu itu. Kau bahkan tidak sudi masuk ke ruangan beraroma aneh, menurutmu. Bagiku pengharum di ruangan rapat memiliki aroma yang bagus, nyaman dan menyenangkan. Kau juga sering merajuk, menekuk wajahnya hanya karena suatu hal yang tak kau sukai! kau aneh Joen. Kau seperti wanita yang sedang mengandung!."
"Papa! Joen tidak mungkin hamil," sela Nyonya Sook. Rasanya tidak tega melihat Joen tertunduk seperti itu, menerima semua omelan suaminya yang nampak sangat geram.
"Tapi ma, memang seperti itu kan ciri-ciri orang hamil?."
"Tapi syaratnya utama bisa hamil ya, harus perempuan, papa!," hardik sang istri. Terkadang, sikap sang suami membuatnya menggelengkan kepala, seorang pria yang lugas namun juga memiliki pemikiran yang tidak masuk akal.
"Atau...atau kau hanya sedang malas bekerja, Joen!," kini pria itu mengalihkan pandangan pada sang putra.
"Pa! Joen tidak sedang bercanda. Dan papa tahu bukan, Joen tidak suka bermalas-malasan jika itu masalah pekerjaan!," hei! ayolah! dirinya benar-benar sedang tidak enak badan, namun tatapan sangsi dari sang papa, membuat hatinya mencelos.
Melipat kedua tangan di dada, Nyonya Sook menatap Joen lekat-lekat"Nak, apa kau sedang ingin makan sesuatu?."
Buka hanya Joen, Tuan Charlotte dan Ghina yang sedang berada di situ mengalihkan atensi pada sang ratu di rumah itu"Kita sedang membahas sikap aneh Joen, yang banyak tingkah itu. Bukan sedang membicarakan makanan, sayang," ujar Tuan Charlotte, dengan nada melemah. Dirinya cukup lelah karena ulah Joen, jangan sampai sang istri juga akan membuatnya lelah hari ini.
Menatap dalam pada Charlotte, Sook seolah memberi kode agar dirinya diam dan menyaksikan saja.
"Katakan! apa kau sedang ingin makan sesuatu?," dia kembali bertanya pada Joen.
Memikirkan makanan, sontak membuat Joen menelan air ludah. Sajian makanan dengan cita rasa pedas sedang menari-nari di dalam kepala"Bakso, super duper pedas," ucapnya dengan mulut mulai berair. Nampak jelas pria itu menelan air ludah usai mengucapkan nama makanan itu.
"Bagaimana dengan telur keju saja, mama akan membuatnya untuk mu," seringai tawa terbit di wajah cantik Nyonya Sook.
"Oh!!! tidak!. Joen akan kabur dari rumah ini, jika kalian membuat makanan itu," jemarinya justru tertuju kepada pelayan, yang juga berada di ruangan itu.
"Kenapa? bukankah kau sangat menyukai hidangan itu?."
Joen menggeleng cepat"Tidak! membayangkan saja sudah membuatku ingin...huewkk!!," saat itu juga, Joen berlari menuju kamar mandi.
Ghina dan Nyonya saling berpandangan. Senyum penuh arti, namun Ghina tak tahu arti dari senyuman sang ibu mertua.
"Kau sedang datang bulan?."
__ADS_1
"Tidak."
Lagi, wanita itu tersenyum"Kau urusi dulu Joen. Petang nanti mama akan membawamu ke dokter kandungan."
Terperangah, wajah Tuan Charlotte saat itu membuat pelayan menahan tawa.
"Bagaimana bisa hal ini berhubungan dengan dokter kandungan, sayang?."
"Ya, betul kata papa. Ghina baik-baik saja mama. Kenapa kita harus ke dokter kandungan?."
"Jika ini benar, kau sangat beruntung. Sebab Joen yang sedang tidak baik-baik saja saat ini, dan itu bisa jadi karena kehadiran seseorang di sini," berjalan mendekati Ghina, dan mengelus perutnya.
Terhuyung, Joen kembali ke ruangan di mana mereka berbicara tadi. Dan betapa terkejutnya, mendengar ucapan sang mama"Jadi, Joen hamil?," tanya pria itu dengan wajah datar.
"Kau!!," geram Tuan Charlotte"Kau lelaki! mana bisa hamil!!."
Nari yang baru hadir, menggelengkan kepala mendekati Joen"Ckckcc! good looking tidak menyelamatkan dirimu dari kebodohan, bang!."
"Apaan??!," sentak Joen, tak terima di katakan bodoh.
"Tapi aku yang muntah," seru Joen seolah tidak rela, kehamilan yang belum pasti ini di tanggung oleh Ghina.
"Nah, di situlah letak bahlul mu. Percuma sekolah mahal, tapi tidak mengerti tentang berkembang biak dan gejalanya," mengambil duduk, bersandar melepas lelah usai menguras otak di sekolah.
Andai saja tidak ada sang papa, Joen pasti sudah menjitak kepala Nari. Entah kenapa, gadis dengan banyak pengikut di berbagai akun media sosialnya ini di ciptakan dengan wajah sangat cantik, namun bertutur kata tidak sopan.
"Sudahlah, kau bawa Joen untuk beristirahat, papa akan kembali ke kantor."
"Iya pa," ujar Ghina, melempar senyum pada Nari.
"Jaga baik-baik, lelaki bunting itu," ucap Nari membuat Ghina semakin tertawa.
"Aish!! kau beruntung ada mama dan papa di sini."
Alih-alih takut dengan amarah Joen, Nari menjulur lidah, dengan mata berputar menatap Joen"Bweekk, bodo amat, lelaki bunting."
__ADS_1
...ππππ...
Malam itu Joen tidur dengan memeluk istri kecilnya. Aroma tubuh Ghina membuatnya tertidur sangat nyenyak. Berbeda dengan Ghina, dia terbangun di tengah malam dan hingga kini dia tak bisa memejamkan kedua matanya lagi.
"Tik tak tik tak," jam menunjukan pukul 2 dini hari.
Ghina menggerutu, kesal pada diri sendiri sebab tak bisa tidur kembali. Pergerakan di sampingnya membaut Joen ikut terbangun, dan mengusap lembut wajah Ghina"Kenapa? kau nampak gelisah."
"Entahlah, aku tidak bisa tertidur lagi."
"Kau... belum siap menjadi ibu?."
Pertanyaan itu membuat Ghina menggigit bibir"Aku... tidak yakin bisa menjadi ibu yang baik. Menikah dengan mu saja sebuah ketidak sengajaan, aku tidak ingin menjadi ibu yang buruk karena kehamilan yang...datang tanpa persiapan ini."
Joen menarik jemari Ghina, menggenggamya erat. Dugaan Nyonya Sook benar, Ghina sedang hamil dan Joen yang menanggung rasa ngidamnya. Joen begitu bahagia, sebab tak lama lagi akan menjadi seorang ayah, namun berbeda dengan Ghina, wanita itu nampak kurang bersemangat.
Ghina mengambil duduk, di ikuti oleh Joen"Sejujurnya, aku merasa belum menjadi istri yang baik untukmu."
Sorot mata yang teduh, menghujani Ghina malam itu"Jodoh bukalah sebuah kebetulan. Kau memang gadis yang di kirimkan sang maha pencipta untukku, dan aku yakin semua yang datang darinya adalah kebaikan, apalagi dirimu."
"Tapi..."
"Tidak ada tapi!," sanggah Joen cepat.
"Kau sudah ku damba sejak lama, begitu pula dengan calon bayi di dalam sini," jemari pria itu mengusap lembut perut Ghina yang masih rata.
"Kau ingat permintaan yang ku tuliskan pada lampion permohonan?."
Ghina tersenyum samar, saat teringat dengan permohonan yang awalnya di tutupi oleh Joen.
"Ghina sayang, bertemu denganmu adalah takdirku. Menjadi teman hidupmu adalah keinginanku. Namun, menjadi jodohmu adalah sebuah hal yang tak bisa aku hindari, maka daru itu kita nikmati saja masa-masa kebersamaan kita ini dengan penuh cinta. Dengan segala hal baik entah itu suka ataupun duka," bisikan Joen seperti semilir angin yang menyejukan hati.
"Ingat, kau berharga dan aku sangat beruntung memiliki dirimu. Jaga baik-baik calon bayi kita, biarlah aku yang merasakan ngidam ini. Sampai akhir bulan pun aku rela, asal kau dan dia selalu baik-baik saja."
To be continued...
__ADS_1
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya π€π€π€