Storge

Storge
Kegelisahan


__ADS_3

Seorang pelayan sedang merapikan kamar Jung sementara sang mamah sibuk mempersiapkan kedatangannya di teras rumah.


Beberapa saat lagi Jung akan meninggalkan rumah sakit, setelah 2 hari di rawat, akhirnya dia pun telah pulih kembali.


Nyonya Sook, meletakan beberapa bunga di kamar Jung dan menyuruh pelayan meletakan beberapa tanaman hijau di balkon.Dia menyulap kamar Jung menjadi lebih asri dan lebih segar dan aroma pengharum ruangan berganti menjadi aroma woddy,


aroma hangat yang memiliki sentuhan maskulin, mengingatkan suasana hutan tropis nan damai.


"Akhirnya selesai!!," Nyonya Sook menatap seluruh ruangan dengan wajah puas. Dia yakin Jung akan merasa santai berada di kamarnya yang berpenampilan baru ini.


Seluruh jendela di buka lebar lebar, mempersilahkan udara sejuk memasuki ruangan.


"Mah, mereka sudah dekat, Ghina memberi kabar kepada Nyonya Sook.


Wanita paruh baya itu menepuk tangan"Oke semuanya, mari kita sambut kedatangan Jung," titah sang Nyonya Sook.


Segera seluruh pelayan bersusun rapi di depan pintu menyambut kedatangan Jung seperti perintah Nyonya Sook.


"Duileh, menyambut kedatangan Tuan edan saja sampai seperti ini, sudah seperti mengambut kedatangan pengantin pria saja," ujar Nari yang melihat para pelayan bersusun rapi seperti titah sang Mamah.


"Hehe, saking bahagia karena putra tampannya sudah sembuh," Ghina ikut memperhatikan dari atas balkon" Hemm, aroma kamarnya nyaman sekali Nar," ujarnya menghirup wewangian di kamar Jung.


"Kamu seperti tidak tahu dengan Mamah saja, dia kan sangat menyukai wangi-wangian," sahut Nar."


"Mamah kan memang the best," Ghina mengacungkan jempolnya.


Tak berapa lama, datanglah sang para Tuan-Tuan keluarga Charllote.


Tuan besar dan Tuan muda kedua lebih dulu keluar dari mobil membantu Tuan muda pertama keluar. Dia masih nampak pucat, atau memang warna kulitnya yang pucat.


"Lucu ya Ghina, wajah korban perasaan itu," di saat seperti ini, Nari masih bernafsu menjahili abangnya.


"Omo," pekik Nyonya Sook saat Jung telah hadir di hadapannya"Sudah pulih kamu nak, cepatlah naik ke kamar, apa kau ingin makan sesuatu?," wanita itu menatap Jung lekat-lekat, wajah sang putra sangatlah mengenaskan.


"Tidak perlu Mah, Jung hanya ingin istirahat saja."


"Ya sudah, hati-hati menaiki tangga sayang," Nyonya Sook mengikuti langkah Jung, kemudian di sambut Nari menggantikan sang Mamah mengiringi Jung ke kamar.


"Sudah sembuh? pesakitan cinta??," Nari menyapa sang kakak, namun bukan sapaan yang sedap di dengar.


"Kutu kuvret! apa kau senang melihatku sekarat?," sahut Jung ketus.

__ADS_1


Nari tertawa lebar"Akh, ternyata kau memang sudah sembuh," pegangan tangan Nari semakin erat pada lengan Jung.


Melihat tawa si bontot merekah, Jung pun jadi ikut tertawa"Kau merindukanku tidak?."


"Dikit!!," sambil menjentikan jari kelingkingnya. Tingkah Nari dan Jung mengundang senyum di wajah Tuan Charllote. Nampaknya Jung sudah tidak terlalu sedih lagi.


"Joen, bagaimana menurut kamu."


Joen memandang Papahnya penuh tanda tanya.


"Abang mu, sudah tidak patah hati lagi sepertinya."


"Iya kali Pah, jika tidak salah mereka sudah berbaikan," ternyata kemarin malam Joen sempat melihat Andrea tertidur di lengan Jung.


"Oho, benarkah? kalau begitu mereka akan jadi menikah," Tuan Charllote menyenggol istrinya.


"Jadi apa Pah??."


"Jung sama Andrea," seringai Tuan Charllote.


"Oh ya? tapi Andrea tidak datang hari ini, jika benar hubungan mereka sudah membaik, dia pasti datang ke sini untuk menyambut Jung.


Di kamar atas.


Jung tampak nyaman dengan suasana baru kamarnya, tapi....


"Aku baru dua hari di rumah sakit, dan kamar ku sudah menjadi hutan nan asri seperti ini," celetuknya menyapukan pandangan pada sekitar.


"Jangan protes ya, Mamah yang menyiapkan semua ini," bisik Ghina kepada Jung.


"Ooo...," dan mulut pria itu pun langsung membulat.


"Bagus sekali Mah, kamar Jung jadi seperti di tengah taman. Kalau begini tinggal nyalakan instrumen relaksasi, suasanya pasti akan semakin nyaman," setelah mendengar bisikan Ghina, dia langsung memberikan pujian kepada Mamah yang manis.


"Begitukah?? jadi kau ingin di iringin dengan instrumen syahdu?," Nyonya Sook berbalik hendak memasang gawainya pada pengeras suara di kamar Jung.


"Aduh! kalau begini aku akan semakin nyaman di kamar ini, sampai lupa untuk bangun," ujarnya balas berbisik pada Ghina.


"Sudahlah, nikmati saja, biar dapat pahala," balas Ghina terkekeh.


Bisik bisik di antara mereka menarik perhatian Joen. Dia memandang Ghina dengan mata penuh prasangka. Kemusian Joen menggoyang goyangkan telunjuknya kepada Ghina, pertanda meminta kehadiran sang istri untuk mendekat ke sampingnya.

__ADS_1


Mengerti dengan kode keras sang suami, sang istri pun segera berpindah tempat mendekati Joen.


"Bisikin apa??,"


"Rahasia."


"Baiklah, nanti malam kau harus mendapat hukuman!."


"Hukuman? kenapa?."


Joen menariknya lebih dekat dan berbisik di telinga istri kecilnya"Kau berani berbisik-bisik dengan pria lain, di depan mataku!."


Ghina tertawa kecil setelah mendengar bisikan Joen, bahkan dengan saudaranya pun dia bisa cemburu.


Setelah menjemput Jung, Tuan Charllote dan Joen bersiap menuju kantor. Sudah beberapa hari ini Joen mulai masuk dan menangai beberapa urusan kantor, bersama Papahnya.


"Tunggu sebentar pah, ponsel Joen tertinggal di kamar," dengan kaki panjangnya yang berlarian ke lantai atas, dalam sekejap Joen sudah berada di depan pintu kamarnya.


"Brak!!" Joen memasuki kamar dan menutup pintu, dengan alis terangkat dan dua bola mata yang membesar Ghina nampak terkejut dengan kehadiran Joen .


"Kenapa Yang? ada yang tertinggalM," Ghina mulai mencari-cari mungkin memang ada barang Joen yang tertinggal di kamar mereka.


"Ini yang ketinggalan," Joen mencium istrinya dengan mesra, tangannya memanggkut dagu Ghina dan semakin mempererat ciumannya. Ghina menanggapi ciuman Joen dengan kedua mata mengerjap berkali kali.


"Hupffhh!," Ghina menarik nafas ketika Joen melepaskan ciumannya. Wajahnya nampak bersemu dan terasa memanas.


"Apa-apaan kau ini!," wanita kecil itu menghardik sang suami, karena telah menyerangnya tanpa aba-aba terlebih dahulu.


Seolah tak perduli dengan ocehan Ghina"baik-baiklah di rumah sayang, Weekend kita jalan-jalan," Kali ini ciumnnya mendarat di kening Ghina, Gadis itu hanya bisa pasrah dengan kelakuan sang suami.


"Joen...Papah pasti sedang menunggumu," gumamnya di sela ciuman bertubi-tubi Joen.


...☘☘☘☘...


Sementara Jung, menatap ponselnya yang nampak baik-baik saja itu. Dirinya terus memikirkan Andrea, gadis itu pasti sudah tahu akan kepulangannya, tapi mengapa sampai detik ini tak jua datang menemuinya??


"Akh! apa aku sudah tidak menarik lagi??," gumam Jung menundukan kepala.


"Apa dia sudah tidak menyukaiku lagi??," ujarnya lagi, terdengar sangat putus asa.


~~♡♡Happy reading. jangan lupa like, vote, fav dan kasih ulasan ya guys ^,^

__ADS_1


__ADS_2