
Jung berlari dari kamar dan bergegas meninggalkan kediaman Charllote. Dengan perasaan ketar-ketir pria itu berusaha fokus menyetir. Tujuannya adalah kediaman William. Kabar tak sadarkan dirinya Andrea telah sampai kepadanya, bagaimana pria itu tak mengambil langkah seribu ketika sang kekasih kembali di timpa musibah.
Di perjalanan perasaan gundah itu sedikit terobati, Tuan William kembali memberikan kabar bahwa Andrea telah di tangani oleh dokter, putrinya tidak harus di bawa ke rumah sakit.
Memarkir mobil dengan cepat, juga dengan langka yang cepat Jung telah berhadapan dengan sang calon ayah mertua"Bagaimana om? kenapa Andrea sampai tak sadarkan diri??," terdengar beradu, tentu saja napas pria itu berlomba mengejar waktu. Ingin segera bertemu dan mengetahui keadaan wanitanya.
Mengajak Jung untuk duduk terlebih dahulu di ruang tamu"Di temukan obat tidur pada jus yang dia minum."
Sebelah alis pria tinggi itu terangkat naik"Jus? jus yang di buat di rumah ini?," tanya dengan rasa terkejut.
Anggukan dari Tuan William membuat kening Jung semakin berkerut. Bagaimana bisa Andrea di serang di kediamannya sendiri?
Mengedarkan pandangan pada setiap sudut rumah"Bagaimana dengan rekaman Cctv?," ujarnya saat melihat benda itu terpasang di beberapa sudut ruangan.
"Ya, sekarang sedang di lakukan pemeriksaan pada rekaman itu."
Setidaknya Jung dapat sedikit merasa lega. Semoga saja kemujuran dapat bekerja sama dengan mereka kali ini, mengingat begitu besar cobaan yang di alami Andrea, Jung sungguh merasa iba.
"Om, bisakah Jung menemui Andrea," pintanya hati-hati.
Uluran tangan mempersilahkan dirinya untuk naik ke lantai atas, menjadi pertanda bahwa Tuan William memberikan izin"Naiklah, Jung," ujarnya pula.
"Terimakasih, om," ucapnya yang di iringi dengan anggukan kecil Tuan William.
Menapaki anak tangga yang membawa dirinya sampai di lantai atas, perasaan di dalam dada sangat berkecamuk, rasa khawatir yang teramat mengiringi langkahnya menemui Andrea. Sesampai di muara pintu kamar sang kekasih, pelayan pribadi yang sudah sangat tahu dengan Jung pamit undur diri, memberikan ruang dan waktu pada sepasang kekasih itu.
"Semoga dengan kehadiran Tuan Jung, nona Andrea segera pulih kembali," bisik hatinya.
Dan sebelum beranjak pergi"Permisi Tuan, mau saya buatkan minuman?."
Jung menggeleng"Tidak perlu, nanti aku akan memintanya jika memang mau."
"Baiklah, Tuan. Saya permisi," ucapnya kemudian berlalu.
__ADS_1
Memandangi sang kekasih yang masih terlelap, Jung mengambil duduk di tepian ranjang gadis itu sembari mengusap lembut kepalanya"Maaf, sayang. Aku selalu terlambat menyelamatkan dirimu," bisikan itu begitu lembut di telinga Andrea.
Genggaman tangan yang perlahan terasa erat, membuat Jung yakin bahwa Andrea mendengar bisikannya, mungkin karena pengaruh obat tidur itu belum hilang sepenuhnya maka dirinya belum mampu untuk membuka kedua mata.
"Tidurlah, aku akan menjagamu di sini," ujarnya kembali berbisik.
Melihat ketidak berdayaan Andrea, sungguh hati kecil di dalam sana teramat sangat sakit. Pria itu menggeram di dalam hati"Kemana pun kau bersembunyi, aku pasti akan menemukan mu. bahkan jika harus membuat dunia ini terbalik, aku harus mendapatkan mu," kilatan penuh amarah, terlihat jelas dari dua bola mata.
Cukup lama memandang wajah teduh sang kekasih, setelah memastikan semuanya nampak baik-baik saja, Jung merebahkan diri di samping Andrea, semilir angin yang masuk dari jendela kamar itu memanggil rasa kantuk. Perlahan, terdengar napas teratur dari pria itu, dia pun ikut tertidur seperti Andrea.
Beberapa waktu kemudian, pelayan datang akan menyampaikan pesan dari majikan, untuk memanggil Jung menemuinya. Namun, pemandangan dua insan yang terlelap itu, membuatnya tak kuasa untuk mengusik ketenangan mereka. Juga, wajah tampan Tuan pertama ini, seperti sihir yang membuatnya terpesona.
"Nona Andrea, jalan cinta kalian sungguh tidak mudah. Mendapat pangeran tak berkuda ini membuatmu mendapatkan perlakuan buruk berkali-kali. Semoga kalian selalu bersama, hingga hari tua," spontan, pelayan itu melangitkan doa untuk sang Nona dan Tuan muda di hadapannya ini.
Setelah menyampaikan apa yang dia saksikan di kamar nona mudanya, Tuan William segera naik ke lantai atas, menuju kamar sang putri.
Genggaman tangan yang begitu erat, membuat hari pria paruh baya itu terenyuh. Rasa haru begitu menguasai sang hati, hingga nyaris membuatnya menitikan air mata.
Ya! setelah memeriksa Cctv, pelaku kejahatan itu ternyata adalah Calista, sahabat kental sang putri.
"Selidik juga, apakah dia juga terlibat dalam insiden di kampus kemarin," titahnya lagi dengan suara bergetar. Emosinya melonjak naik, seorang sahabat menikam putrinya dari belakang!! akh! pria itu merasa sangat di remehkan!.
Meninggalkan duka yang masih setia singgah dalam kehidupan Andrea, Aron yang pantas menyerah masih melancarkan serangan cintanya kepada Nari. Nona muda dari keluarga Charlotte itu sangat membuatnya terpesona.
Setelah mengungkapkan siapa dirinya, dia pun mendapat balasan dari Nari, dan....mereka mulai berbalas pesan cukup lama.
"Aku rindu dengan roti di kedai Arin, apa kau mau menemaniku ke sana?."
"Hei, aku juga merindukan roti itu," seru Nari dalam pesannya.
"Oh, hanya dengan roti itu? bagaimana dengan ku? apa kau tidak ingin bertemu denganku lagi?."
Nari tertawa di seberang sana, pesan dari Aron yang teramat berterus terang membuat nya salut"Kau sangat berbeda dari Alex, kau orang yang gemar berterus terang, sepertinya."
__ADS_1
"Tentu saja, aku tidak suka membuang waktu dengan bertele-tele. Dan...ayolah! ini hanya tentang kita, jangan bawa-bawa Alex," sebuah emoji dengan garis senyum melengkung kebawah, kembali membuat Nari tertawa.
"Baiklah! baiklah. Aku juga ingin bertemu denganmu. Bagaimana jika besok kita pergi ke kedai Arin."
Dalam sekejap, pesan itu telah mendapatkan balasan"Ya!."
Kebahagiaan itu membuat Aron meloncat, seperti hatinya yang sedang meloncat senang di dalam dada.
"Kau kenapa?," tanya Alex mendapati saudara nya nampak gembira.
"Nari membalas pesan ku! besok kami akan pergi ke kedai Arin," ujarnya menunjukan ponsel kepada Alex.
Argghh! menelis ponsel sang saudara, Alex terlihat memberengut. Mood nya seketika merosot ke dasar bumi. Malam itu dia enggan tidur satu kamar dengan Aron, aura dinginnya sangat terasa saat itu juga. Sedang Aron, lelaki itu nampak enggan membujuk Alex sebab dia tak tahu letak kesalahannya di mana.
"Katakan! kalian kenapa??," Daniza, sang mamah dari dua saudara kembar itu menjadi bingung, dengan tingkah kedua putranya.
"Tidak ada apa-apa," sahut Alex ketus. Malam itu mereka sedang makan malam, dan wajah buram Alex sangat menggangu Daniza dan Aron.
"Kalian rebutan cewek?," tanya Daniza.
"Cewek?," sahut Aron.
"Jadi kau marah padaku karena Nari?," tanya Aron pada Alex, menarap sang saudara dengan tajam.
"Tidak! mamah hanya asal bicara!!," sentak Alex kesal.
"Lantas? kenapa kau nampak gelisah? kau seperti orang yang sedang menahan amarah, Alex," ujar Aron lagi.
Suara kursi yang berderit, Alex berdiri"Ck! kalian bawel!," ketusnya menyudahi acara makan malam mereka.
To be continued...
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗
__ADS_1