Storge

Storge
Drama 3 bersaudara


__ADS_3

Akhirnya pesta pernikahan Joen dah Ghina selesai. Penderitaan Jung pun akhir nya selesai sudah. Nggak kebayang seharian di buntutin si Andrea, udah seperti ulat bulu, nemplok terus di belakang maupun di samping Jung. Sampai larut malam pun, dia belum mau pulang meskipun berbagai cara Jung lakukan untuk mengusir nya pulang dengan cara halus . Sampai akhir nya Tuan Wiliam datang menjemput nya, sebuah keajaiban yang Jung tunggu-tunggu sedari tadi


Sepulangnya Andrea, Jung segera masuk ke kamar. Melepas pakaian nya, masuk ke kamar mandi dan membenamkan diri dalam bak mandi"Gila! Kalo memang berjodoh dengan si ulat kepompong pasti hidupku penuh warna..." gumam nya bergidik ngeri.


"Penuh warna gelap gulittaaaaa," jerit nya dari dalam kamar mandi.


"Woiii, tengah malam jangan teriak-teriak!," Nari menggedor pintu kamar mandi, mengejutkan Jung di dalam sana.


"Astaga! si nene lampir!," Jung mendengar suara Nari menggedor kamar mandi secara brutal"Kalo sampe bolong pintu nya aku retak kan ginjamu Nar!," ancam Jung.


Nggak takut!, Nari menyandarkan diri di daun pintu"Ngapain malem-malem di kamar mandi? main sabun ya bang? ck! mending nikah aja bang, mubazir sabunnya," ledek Nari.


"Otak somplak!, kamu pikir aku ngapain? hah??," pekik Jung kesal. Bener-bener deh, otak Nari lama-lama makin melenceng dari jalur lurus. apa dia kerasukan setan mesum ya?!.


"Hilih! ngeles aja kaya kang bajai. Terserah sih mau ngapain juga, Nari mau pinjem handuk dong," ujarnya begitu santai.


"Cebong mulut nya nggak ada akhlak, lagian nyari handuk kok ke dini? emang handuk kamu kemana, nenek lampir."


"Entahlah, ggilang sendiri dari kamar Onta!, kalo ada di sana aku nggak bakal ke sini kali."


Menahan emosi, di adek makin kurang ajar aja"Lapor mamah sana!," Jung berteriak lagi.


Bukannya pergi untuk menemui Nyonya Sook, Nari justru nemplok depan pintu kamar mandi kayak cicak bunting"Mamah udah tidur abaaaang!!."


"Aku pinjem yang di dalam situ aja deh, aku juga mau mandi. Lengket semua badan aku," Nari berteriak lagi.


"BRAK?!," kesal dengan teriakan yang saling bersahutan, Joen muncul kayak pahlawan kesiangan"Berisik amat para si gogot! aku capek nih mau tidur, udah tengah malam masih aja teriak-teriak kaya kambing mau lahiran."


Jung keluar dengan sabun yang masih menempel di badan nya"Tau nih si Nenek sihir, nyari handuk aja berisik banget."


"Kok abang malah nyerang Nari sih! abang kan teriak-teriak juga," kesal di salahkan, Nari menggenggam handuk di badan Jung.


Kedua bola mata Jung membuat"Curut! aku pake apa kalo handuk ini kamu ambil??," histeris menahan helai handuk yang menutupi tubuh toples nya.


"Bodo amat! pokoknya aku pinjem!," sekuat tenaga dia berusaha menarik handuk yang masih si pakai Jung.


"Lah, aku masa bugil nyong, aku belum pake apa-apa nihhh!," mati-matian Jung mempertahankan handuk itu untuk tetap menutupi bagian bawah tubuhnya.


Joen memegang kepalanya yang berdenyut. Malam pengantin nya di warnai kegaduhan dua gogot super berisik itu membuatnya hampir gila!.


Sementara Ghina berdiri di luar kamar Jung dengan handuk di tangan"Nari, pake handuk ini aja."


Joen terkejut akan kehadiran Ghina, segera dia menutup kedua mata Ghina agar tidak melihat otot-otot di perut Jung. Bahaya! bisa-bisa dirinya kalah saing gara-gara otot dosen edan yang sedikit lebih besar darinya.


"Aduh Tuan! kenapaa sih?," Ghina berontak. Entah Ghina yang terlalu polos atau memang oon, dia kayak nggak denger obrolan via teriak antara Jung sama Nari barusan. Joen begitu demi melindungi kesucian pandangan nya dari tubuh toples Jung. Mana otot Jung nemplok di mana-mana pula, khawatir Ghina bisa mimisan kalo lihat yang begituan, kalo lihat punya dia sih nggak apa-apa.


"Mesum! pemandangan nggak senonoh!," kamu lemparin aja handuk nya," seru Joen tanpa melepaskan tangan dari kedua mata Ghina, dan Ghinapun melempar handuk itu ke sembarang arah.


Menendang handuk itu ke arah Nari"Nar, tuh handuk nya. Udah kan, jangan berisik lagi ya," Jeon berkata sambil membawa Ghina masuk ke kamar mereka.


"Brak!," pontu kamar Joen dan Ghina di tutup.

__ADS_1


"Cih! nggak sopan banget ngasih handuknya. Mentang-mentang Ghina udah jadi bininya, nggak rela banget kalo Ghina liat otot abang," cibir Nari.


"Tau tuh, songong banget jadi orang," sahut Jung cemberut.


Tiba-tiba, dua saudara itu saling berpandangan. Nari yang lebih dahulu tersenyum nakal, dan Jung mengangguk dengan seringai tawa"Abang bilas sabun dulu ya, tungguin di depan deh."


"Asiaap," ujar Nari mengacungkan jempol kepada Jung"Jangan kelamaan, ntar keburu kelar."


"Mulai juga belum, kan mereka baru masuk."


"Lah, siapa tau aja bang Joen punya jurus ninja, sat set langsung kelar, rugi dong kita!," cerocos Nari menggerakan tangannya seperti pedang.


Jung mengerutkan hidung menarap Nari"Idihhh otaknya benar mesum, perlu di kasih bayclin nih biar bersih."


"Bawel, kalo nggak mau Nari sendiri bisa kok."


"Heh! masa nonton wayang nggak ngajak-ngajak," gerutu Jung melangkah kembali ke kamar mandi.


"Makanya buruan!! ih si onta mah lama!."


Jung melengos mendengar ocehan si bontot. Pria itu segera merampungkan ritual mandinya dan hendak segera berpakaian.


Si bontot datang lagi"Buruan! lemot amat sih bang! sodaranya keong racun ya!?,"Nari menarik Jung yang tengah mengenakan kaos.


"Ini udah cepet monye, aku sampe nggak pake minyak wangi."


"Tengah malam pake minyak wangi mau manggil mbak kunti," tukas Nari memaksa Jung untuk segera menuju kamar Joen.


"Anying!! itu nama yang nggak boleh di sebutn," sentak Jung.


"Lewat mana nih! Jung mulai beraksi. Mereka bergandengan tangan mengendap-endap ke depan kamar sebelah, kamar sang pengantin baru. Bekerja sama mereka mencari celah pada daun pintu kamar Joen, mau ngintip nih ceritanya.


Nari melihat ke bawah pintu"Tuh," berbisik, dia menunjuk bayangan mereka di dalam sana.


"Gimana liat nya!," bisik Jung.


"Gini bang..,"Nari memiringkan kepala nya di lantai, sampai nungging.


Jung mencoba melihat dari lobang pintu"Gini lho dekkk!."


"Lewat sini aja bang!," Nari menarik Jung ke lantai.


berbisik"Susah!," mereka di tempat tidur kali," Jung menarik kerah baju Nari untuk membangunkannya dari lantai.


"Buset!," sentak Nari mencubit lengan Jung agar melepaskan tangannya dari kerah baju.


"Aku mati kalo di gituin onta!," serunya dengan suara tertahan.


"Ya maaf," cengir Jung"Mending kita intip lewat sini nih," tunjuk nya pada lobang kunci. Dan dengan patuh nya Nari mengikuti arahan sang abang.


Cukup lama mereka mencari cara supaya bisa mengintip aktivitas Joen dan Ghina di dalam sana.

__ADS_1


" klutak!," Jung memegang gagang pintu, nggak sengaja! dan dia sedang menahan napas sekarang.


Joen sadar ada yang nggak beres di luar sana. Sebab pertempuran para gogot mendadak senyap, aneh bukan?!.


Dia mengisyaratkan kepada agar Ghina diam.


"Kenapa Tuan?," Gina bertanya dengan bahasa isyarat.


"Dua orang gila pasti ada di situ," Joen membalas isyarat Ghina.


Suara langkah kaki perlahan terdengar di depan pintu, membuat Ghina mengerutkan kening.


"Tuh, dengar kan suara nya," bisik Joen.


Ghina menutup mulutnya dengan kedua tangan, dia sempat melupakan keusialan para Tuan dan Nona muda di kediaman ini"Ya Tuhan! mereka ngapain sih!," pekik hati Ghina.


Sumpah! perasaan Ghina nano-nano hari ini. Senang, dan sedih bercampur menjadi satu.


Di luar pintu .


"Tuing! tuing," Nari menarik narik baju si abang.


"Waee??," tanya Jung.


"The Shadow is gone," ujarnya beerbisik pula. Padahal, Joen kini berdiri tepat di samping pintu, dengan telinga menempel di dinding, mendengar bisik-bisik mereka.


Sedangkan Ghina, duduk manis di depan meja rias, menyaksikan kelakuan 3 bersaudara itu.


Nari kembali memerengkan kepala nya di lantai"Sini bang, di sini aja liat nya."


"Di sini lho bisa dek, ujar Jung mengintip lobang kunci.


"BRAK!," Pintu kamar mendadak terbuka.


Mereka berdua kaku di tempat. Joen bersandar si depan pintu dengan kedua tangan terlipat di dada"Di sini aja di situ aja, ini lho bang gini lho dek," manyun-manyunJoen menirukan bisik-bisik mereka tadi.


"Bukan nya tadi manggilnya nenek sihir.." Joen menatap Jung.


"Heeee," Jung nyengir. Di sini ggak ada tampang-tampang dosen sama sekali dari diri seorang Jung. Malah terlihat seperti anak kecil yang sedang mengusik saudaranya.


"Kamu bukannya tadi manggil orang tua ini Onta arab!," kini Joen beralih pada Nari"Dan sekarang panggil abang adek!,bwwekkk, aku rasanya ingin muntah!."


Joen duduk di ubin menemani mereka yang masih kaku di tempat"Kalian akur ya kalo urusan beginian."


"Apa enaknya ngintipin orang tidur? kalo ngiri, nikah sono! Andrea pasti mau kok di ajakin nikah.


Ucapan Joen membuat Jung bergidik"Enggak deh Joen, makasih."


"Kamu!," masih kecil udah paham yang beginian," Joen meletakan jari telunjuknya di pelipis Nari"Otak kamu kotor banget, isinya mesum semua! perlu di bawa ke tukang rukiyah ni otak!," toyoran Joen membuat Nari terhuyung-huyung dalam duduk nya.


"Kira-kira dong bang! ini kepala ya, bukan kelapa."

__ADS_1


"Hiss!, ngejawab aja kalo di bilangin!," sentak Joen. Sebenarnya posisi anak tertua si Joen apa si Jung, kok malah si sulung sama si bontot yang di ceramahin si mentok. Ghina senyum-senyum sendiri di buat mereka.


~~♡♡ Happy reading . Jangan lupa like vote fav dan komen ya teman ^,^ .


__ADS_2