
Mengingat kelakuan dimasa mudanya membuat Icha tersenyum sendiri di sudut ruang BK
Tapi Ia masih penasaran dengan siapa bocah kecil yang sudah menyadarkan dirinya kala itu, bahkan saking penasaran dengan sosok yang dianggap misterius itu ia selalu request dengan Mama untuk selalu mengadakan momen istimewa di Panti tersebut, selain untuk berbagi dengan anak Panti, Ia juga berharap bisa bertemu kembali dengan pangeran kecilnya itu, hihihi
Tapi sia-sia sudah lama penantiannya tak jua dapat mengkonfirmasi walau hanya sebatas nama. Icha tak pernah bertemu kembali dengan bocah kecil tersebut.
"Kira-kira siapa ya bocah Itu?" Tanya Icha penasaran
"Siapa Bu? " tanya Pak Dion mengangetkan
"Astaghfirullah, Pak Dion bikin kaget saja, Ah bukan siapa-siapa kok, " balas Icha tersenyum
"Ada Apa Pak?" Tanya Icha akan maksud kedatangan Pak Dion ke ruang BK
"Biasa Bu, mau ngabarin besok kita ada sidak lagi" bisik Pak Dion sambil lirik kanan kiri takut informasi penting ini bocor.
"Lagi Pak? bukannya minggu lalu kita baru saja eksekusi? balas Icha lagi
" Ah ini beda Bu, mangsa kita besok kelas atas, hahaha , jadi pastikan Bu Icha bawa perlengkapan yang lengkap ya" Ucap Pak Dion dengan memainkan kedua alisnya
"Bapak ini bisa saja! bikin merinding saja" jawab Icha dengan ekspresi ketakutan yang di buat-buat.
"Udah makan siang Bu? " ke kantin yuk" ajak Pak Dion
"Boleh, Pak" terpaksa Ia harus mengiyakan permintaan dari Pak Dion, karena ia merasa tak enak, meskipun nanti akan menghadapi para fans fanatik dari beberapa guru, Hem...
***
Kantin Sekolah
Seperti biasa Pak Dion selalu tepat saat mengajak Icha ke Kantin, Yap suasana masih sepi bisa dipastikan para siswa masih berkutat dengan pelajaran di dalam kelas.
Jadi gak perlu antri hehe
"Gimana Bu, betah ndak disini? tanya Pak Dion di sela-sela menikmati menu nasi goreng yang mereka pesan.
" Alhamdulillah, sejauh ini aman Pak" tutur Icha basa-basi,
Sebenarnya ada sedikit kecanggungan saat Icha hanya makan berdua seperti ini, entah mungkin karena sekarang ini status nya sudah menjadi istri orang atau mungkin selama ini ia jarang berinteraksi dengan lawan jenis kecuali dengan Papa, Abang dan tentunya si Radit sialan tentunya.
Obrolan ringan pun di manfaatkan Pak Dion untuk mengulik lebih dalam tentang kehidupan Icha, meskipun Ia tahu Icha bukan tipe orang yang akan terbuka dengan informasi perihal hidupnya.
Lagi-lagi diujung sana terlihat seseorang menatap keduanya dengan tatapan tak suka, ada rasa marah dan curiga jangan-jangan yang menelepon Icha tadi pagi Pak Dion? Pikir Adit
"Bos, ngapain di sana? " tanya Agung mendapati Adit hanya mematung dengan tatapan kosong tak tak juga bergabung dengan teman bolos lainnya, yang sudah memesan makanan.
"Berisik Lu" jawab Adit dengan ketus
"Dih, sensi amat Lu" gumam Agung
Sekilas ia juga penasaran apa yang dilihat oleh sahabat nya itu, hingga membuat ia begitu sensitif
"OMG, " Ucap Agung ternganga ketika melihat Pak Dion dan Icha sedang makan berdua di Kantin yang sepi
"Kemajuan nih, mumpung masih panas gue komporin lagi ah, biar gak kaku-kaku banget sama mbak manis" batin Agung dengan segudang rencana untuk Adit nantinya.
Segera Ia bergegas menyusul teman yang lain untuk menikmati semangkok mie ekstra pedas yang Ia pesan, di ruang rahasia tentunya.
\=\=\=\=\=
Singkat cerita Icha sudah sampai di rumah, Ia pun segera menyiapkan beberapa menu untuk Adit, sudah hampir jam 4 sore tapi sang suami tak juga menampakkan barang hidungnya.
"Tuh, anak kemana sih, kenapa telat mulu, ah mungkin lagi ngapelin si cabe-cabean kali ya" cela Icha pada Adit
Ia pun mencoba memahami Adit, meskipun ada rasa marah saat mengetahui jika sang suami masih punya hubungan gelap dengan wanita lain diluar sana!
__ADS_1
"Dasar Bochil" gerutu Icha tak bisa menahan amarah
*Sebuah panggilan masuk
"Abang : Assalamu'alaikum, Dek kayaknya nanti malam acara kita diundur deh, Abang lagi diluar kota nih. " terang Abang mencoba menjelaskan
"Icha : Iya sayang kuh, Adek bisa ngerti kok, karena di undur jadi kadonya double ya, "
segera Ia putus matikan panggilannya secara sepihak
Tawa Icha menggelegar saat membayangkan ekspresi sang Abang mendengar permintaan Icha.
"Hahahaha, dapat double" seru Icha dengan bahagia dan tak menyadari jika Adit sudah berdiri mematung di belakang Icha.
Lagi-lagi Adit salah paham dengan apa yang Ia dengar, ia semakin yakin jika saat ini Icha mempunyai hubungan istimewa dengan Pak Dion di belakang nya.
"Astaghfirullah, sejak kapan kamu di sana? tanya Icha terbata-bata
Ia sangat malu jika Adit mengira Ia cewek matre yang memeras Abangnya dengan meminta kado double.
Adit hanya berlalu, tak ada satu kata pun keluar dari mulutnya.
" He? kenapa tu bocah? batin Icha heran
*******
Kamar Adit
"Haruskah aku tanya langsung ke Icha?"
Apakah benar atau hanya salah paham saja" cukup lama Adit memikirkan tindakan yang harus diambil
Dengan berat Ia memutuskan untuk bersikap abai saja, meskipun berat
"Tok Tok Tok"
"Dit, makan yuk" ajak Icha di depan pintu
Adit pun menghampiri sumber suara dan berjalan mengikuti langkah Icha menuju Ruang Makan.
Terlihat meja sudah penuh dengan beberapa menu yang menggiurkan lidah.
"Apakah ada tamu hari ini? tanya Adit memastikan, karena menurutnya menu yang tersaji cukup banyak jika untuk dua porsi
Icha hanya menggelengkan kepala, karena memang hari ini tak ada yang akan datang ke rumah.
" Syukurlah" jawab Adit sumringah
Icha pun semakin tak paham dengan apa yang ada dipikiran Adit saat ini.
"Cha nanti aku mau ngomong sesuatu" cetus Adit tiba-tiba.
"Ah, baiklah, sekarang juga boleh" bisik Icha
"Makan dulu" potong Adit
Setelah selesai makan akhirnya pertama kali Adit beriinisiatif membantu Icha mencuci pirang.
Mereka terlihat berkerja sama saling membantu, meski siapapun yang melihat keduanya akan terasa kecanggungan diantara mereka.
Tapi begitulah, memang tak mudah untuk menyatukan dua insan untuk saling mengungkapkan isi hati secara gamblang, butuh waktu dan persiapan tentunya.
"Makasih Adit" ucap Icha canggung, sebenarnya tindakan Adit tadi cukup membuat jantung Icha sedikit berdebar, karena memang selama ini ia berharap suatu saat nanti jika ia mempunyai suami. Ia ingin suaminya juga ikut membantu pekerjaan rumah biar romantis, pikirnya
Akhirnya mereka berdua duduk berdua di Ruang Tamu, Icha pun tak tahu apa yang sebenarnya akan dibicarakan Adit nanti.
__ADS_1
"Cha, ... " ucap Adit pelan membuka obrolan kali ini
"I -ya" jawab Icha khawatir, karena ini kali pertama Adit ingin berbicara hal penting dengan dirinya, Ia sangat takut jika hal penting itu adalah perceraian.
"Sebelumnya aku mau minta maaf sama kamu, mungkin selama ini aku kurang...
Belum usai Adit melanjutkan ucapannya, Icha sudah keburu berderai air mata, ia semakin yakin jika Adit ingin bercerai dengannya, hal itu diperkuat dengan ucapan maaf yang terucap dari Adit, padahal Icha mengira selama ini Adit tak pernah melakukan kesalahan padanya.
Tangis Icha semakin menjadi-jadi, ia bahkan meminta Adit untuk tak melanjutkan ucapannya, ia terlalu takut dan terlalu menyakitkan bagi Icha
Melihat Istrinya menangis Adit semakin panik, pasalnya ia tak menyangka jika respon Icha akan berlebihan seperti ini.
Ia pun reflek memeluk Icha mencoba menenangkan istrinya itu,
"Udah gak Papa nangis saja"
Icha semakin tenggelam dalam pelukan Adit dan tentunya masih menangis sesenggukan. layaknya anak kecil, mungkin Icha lupa jika ia saat ini sudah berumur.
Sementara Adit masih bingung kenapa Icha nangis? Kenapa wanita sulit di mengerti Tuhan? keluh Adit
Cukup lama Adit mencoba menenangkan Icha, semakin Adit berusaha menenangkan justru semakin kencang tangisan Icha, hingga tanpa dasar Icha pun terlelap dalam pelukan Adit.
Dan hal itu tak lepas dari pandangan Bunda, yang tanpa disadari oleh keduanya telah berdiri tadi tadi,
Seperti biasa Bunda selalu mengabadikan momen romantis keduanya,
"Sempurna" saat gambar berhasil di potret oleh Bunda.
Tetapi sayangnya karena sudah berumur Bunda tak bisa terlalu lama berdiri, kakinya sudah terasa kesemutan dan meronta untuk segera di pijit.
Dengan langkah perlahan Bunda mendekat ke arah Adit sembari memberikan tanda untuk diam agar menantu kesayangannya ini tak terbangun.
"Sisssttttttt" ucap Bunda pelan
Adit terkejut dengan kedatangan Bundanya, sejak kapan Bunda disini? dan Apa yang akan dipikirkan Bunda melihat Icha sedang tertidur pulas dalam pelukan Adit.
"Bunda Bunda Ini tidak seperti yang Bunda kira" Ucap Adit hanya menggerakkan bibirnya tanpa bersuara
Bunda hanya mengangguk-angguk kepala disertai senyum yang jail, menggoda Putra Bungsunya yang terkenal kaku itu!
Bahkan Bunda pun melancarkan aksi potret nya tepat di depan Adit, entah berapa banyak gambar yang sudah Bunda dapatkan, Adit hanya menunduk kan kepala manahan rasa malu.
"Ish, Bunda Jail... " ucap Adit keceplosan
Merasa terganggu, Icha semakin mengaitkan pelukan dan kembali tertidur lelap dan belum menyadari kehadiran dari mertuanya itu.
Sementara Bunda tersenyum bahagia*
\=\=\=\=\=
Terimakasih buat semua yang sudah mendukung Author pemula ini,
sangat menghargai saran dan masukannya 🐨🐨🐨
Terus ikuti keseruan Icha dan Adit..
Dan siapa nih yang penasaran kenapa Radit tega Ninggalin Icha?
Kalau bahasa Anak Gaul sekarang mah "GHOSTING" \=>(Menggantung adalah istilah untuk menggambarkan pemutusan komunikasi sepenuhnya kepada pasangan, pacar, atau teman, tanpa memberitahukan alasan di balik sikap tersebut.)
Hayo siapa nih yang pernah di GHOSTING? atau jangan-jangan kalian yang Ghostingin si Doi....
Becanda gaes....
🙈🙈🙈🙈
__ADS_1