SUAMI PENGGANTI ICHA

SUAMI PENGGANTI ICHA
Apa dia nggak cemburu?


__ADS_3

Lanjut......


☘☘☘☘☘☘☘


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Icha keluar dari ruangan tersebut dengan detak jantung yang semakin berdebar, nampak jelas kedua pipinya merona.


Entah apa yang Ia rasakan,


Aksi spontan Adit tadi sungguh di luar dugaan!


"Ya Ampun kenapa jadi panas gini sih" ucapnya sembari mengibaskan tangannya seolah mampu meredam gejolak hatinya.


__________________


"Bunda, Adek pulang ke rumah sendiri saja ya? rengek Adit


" Iya.... "


"Alhamdulillah," ujar Adit lega


"Tapi, kalau sudah benar-benar sembuh" ucap Bunda melanjutkan ucapannya itu.


""Adek baik-baik aja kok. Lagian dokter juga udah bilang aku gapapa." ucapnya menyakinkan


"Nggak! " ucap Bunda dengan tegas


" Tapi Bun--"


"Assalamu'alaikum!" ucapan Adit terpotong karena seseorang membuka pintu, bukan Icha pastinya.


"Wa'alaikumsalam." Bunda tersenyum, "Loh, ini Lia kan? Yang sering main ke rumah?" tanya Bunda saat Lia berjalan ke arahnya lalu mencium punggung tangan kanannya.

__ADS_1


"Iya tante…" Ucapnya riang.


"Oya tante, ini aku bawain makan siang. Aku yang masak, resep yang waktu itu tante ajarin ke aku." Lia meletakkan satu rantang berisi menu makan siang yang sengaja ia bawa dari rumah.


Lia tahu bahwa Adit akan pulang ke rumah hari ini dan ia sangat yakin bahwa Bunda akan datang menjemput. Maka dari itu ia sengaja membawa makan siang untuk dirinya dan calon mertuanya itu. Licik memang, tapi menurutnya cinta memang butuh perjuangan.


"Wah, pasti enak nih. Kamu masih simpen resepnya?" tanya Bunda antusias saat melihat menu makanan.


"Masih Tante, aku catat kok di buku resep aku." ucap Lia dengan tersenyum lebar.


"Oo..yuk duduk dulu, kamu pasti capek deh pulang sekolah langsung ke sini."


"Gapapa Tante, aku emang tiap hari ke sini kok. Khawatir sama Adit."


Lia masih tersenyum tapi tidak dengan Bunda, ia sedikit terdiam ketika mendengar kata 'tiap hari ke sini' yang dilontarkan Lia.


Jujur Bunda memang sangat menyukai Lia, pribadinya yang terkesan baik dan juga keahliannya dalam memasak patut diacungi jempol. Coba sebut, ibu-ibu mana yang tidak suka pada perempuan yang pandai bersilat dengan alat alat dapur?? Tapi Bunda sadar, Adit bukan lagi cowok remaja yang bebas berdekatan dengan cewek manapun. Adit sudah ia nikahkan. Anak bontot nya itu sudah punya istri dan fakta bahwa Icha merupakan menantu kesayangannya.


Selang lima menit, sahabat Adit ikut masuk. Menghentikan cuap-cuap diantara keduanya


"Siang tante!!" sapa Agung yang pertama kali mencium punggung tangan kanan Bunda disusul yang lainnya. "Apa kabar tante? Mama kamu sehat?" Mami balik bertanya. "Sehat juga tante," lalu mereka bertiga saling berbincang, mulai dari membahas kabar orang tua, sekolah sampai rencana kuliah ke depan.


Icha baru saja selesai mengurus semua administrasi, ia berbelok ke kantin berniat membeli makan siang. Setelah menunggu pesanan beberapa saat ia kembali berjalan menuju kamar inap Adit, sebelah tangannya menenteng plastik berisi makanan. Icha menghentikan niatnya untuk membuka kenop pintu saat mendengar ada beberapa orang tertawa di balik pintu. Salah satunya suara Bunda, dengan rasa penasaran beriring rasa takut -takut sakit hati- Icha memilih berdiri sejenak di depan pintu untuk menyiapkan hatinya seperti kemarin. Mana tahu kali ini hatinya tidak sekeras es batu.


Sebelah tangannya yang bebas ia gunakan untuk membuka pintu. Sangat pelan. Seolah takut jika ada bayi yang terbangun mendengar decitan pintu. Saat pintu terbuka hingga dirinya sepenuhnya berada dalam ruangan, matanya langsung melihat ke arah sofa. Ada Agung, Ali, dan Bunda? Icha menolehkan wajahnya ke arah ranjang karena tadi saat ia keluar mertuanya itu masih berdiri di sisi ranjang. .


DEG


Baru saja Icha berniat tersenyum untuk melihat Bunda namun batal, wajahnya berubah pias. Tiga kali. Apa ada yang berminat memberikan hadiah piring cantik untuk Adit? Dia sudah berhasil tiga kali meremukkan sesuatu di dalam tubuhnya. Semacam hati mungkin.


"Ca, udah beres?"


Saat jantungnya masih ketar ketir mencari bala bantuan, Bunda yang baru keluar dari kamar kecil menanyakan satu pertanyaan yang memaksa mulutnya bersuara.

__ADS_1


Kalau saja Bunda tidak ada di sana, mungkin Icha akan memilih pergi seperti dua hari sebelumnya. "U-udah Bunda, sebentar lagi udah bisa pulang," jawabnya terbata.


Sesekali ekor matanya masih menangkap dengan jelas, Lia yang sedang menyuapi Adit makan siang. Tapi melihat reaksi mertuanya yang biasa saja Icha berusaha bersikap tegar. Icha mengekori Bunda yang duduk di sofa,


Terlihat dengan jelas ketiga sahabat Adit sudah bergerak mulai gelisah sejak tadi. Ali memulai percakapan "Baru pulang ngajar Mbak?"tanyanya basa basi. "Iya Al" jawab Icha datar.


"Jam berapa kita bisa pulang Ca?"tanya Bunda. "Sekarang juga udah bisa, Bund"


Sementara di sudut lain.....


"Makan lagi dong sayang. Nih aku suapin," suara manja Lia terdengar sampai ke gendang telinga Icha. "Udah kenyang Li," jawab Adit serak. "Dikit lagi sayang. Biar kamu cepet sembuh," rayuan Lia yang semakin menusuk hati Icha.


"Lia--, jangan dipaksain kali, Adit masih belum sembuh total. Nggak selera makannya," potong Ali yang sudah gerah dengan rengekan manja Lia itu! .


Terlebih ada Icha di situ. "Ih, Ali. Justru karena Adit kesayangan gue lagi sakit makanya mesti makan yang banyak!" bantahnya.


Icha yang sengaja duduk membelakangi memilih menulikan pendengaran. Perutnya lebih penting, ia membuka bungkusan plastik yang tadi ia beli di kantin, "Kalian udah makan?"tanyanya basa basi. "Udah mbak, mbak makan aja dulu," ujar Agung.


"Ooh, ok." Icha tersenyum singkat, bergerak membuka makanannya. Tanpa Icha sadari sejak kembalinya dari mengurus administrasi, Asit tidak sekalipun mengalihkan pandangannya dari Icha. Ia tahu dia sudah sangat menyakiti hati istrinya itu, tadi Lia dengan sesukanya menyuapi dirinya makan. Pun dengan Bundanya yang sama sekali tidak keberatan dengan sikap Raline.


bahkan Bunda terlihat akrab dengan Lia, karena memang Lia pernah beberapa kali ke rumahnya ketika libur. Tapi melihat reaksi Icha yang biasa saja membuat hatinya sedikit mencelos. Mungkin emang gue nggak terlalu penting buat dia, makanya dia biasa aja. Pikiran itu melintas di benak Adit. Ia memilih diam. Padahal ia sangat ingin Icha memperhatikannya, bukan cuma diam saja melihat wanita lain berada di dekatnya.


Apa dia nggak cemburu? Adit bermonolog dalam hati.


______________________________


Oh Iya untuk part Naya &Radit episode selanjutnya ya.. kita kelarin dulu nih cerita si bontot hehe


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -


Terimakasih atas dukungan nya,.....🤍🤍🤍


Sekali lagi mohon maaf kemarin lagi sibuk ngurusin drama kehidupan hehe...

__ADS_1


__ADS_2