
"Saya Terima nikah dan kawinnya Naya Anindita binti Almarhum Bapak Jaelani dengan mas kawin seperangkat alat salat dibayar tunai." Ucap Radit dengan satu kali tarikan nafas.
Terdengar para saksi yang hadir mengucapkan kata "Sah" pertanda mereka berdua sudah sah menjadi pasangan suami Istri baik di mata agama maupun negara.
Pernikahan adalah momen sakral dalam kehidupan seseorang.Β Tapi bagi Radit, Ia tak pernah sedikitpun membayangkan jika takdir hidup nya akan berakhir seperti ini, Ini bukan lah jalan yang Radit pilih, tapi takdir lah yang memaksa Ia untuk menapaki jalan ini.
Setelah mengucapkan ijab kabul, Radit menundukkan kepala sambil sesekali menghapus air matanya, baginya ini terlalu tiba-tiba.
*Flashback On
H-1 Pernikahan Radit & Icha
Rapat bersama klain di luar kota sungguh menguras tenaga, pikiran dan waktu tentunya, setelah perdebatan yang alot akhirnya Radit berhasil menyakinkan sang Klain untuk menjadi investor di perusahaannya.
"Huh...! Yok Bima kita balik, besok nikah nih gue" ucap Radit sambil mengemas beberapa pakaian ke dalam koper
"Iya, Bos... Besok nikah, gak sabar amat sih, majuin aja hari ini deh" balas Bima sewot, pasalnya dari kemarin Radit selalu saja menekankan bahwa Ia akan menikah sebentar lagi! dan tentu hal itu membuat kuping Bima terasa panas.
"Kalau bisa di cepetin sih, Maunya nikah hari ini, hahaha" jawab Radit asal
Mereka pun segera bergegas menuju mobil, tak sabar rasanya untuk segera bertemu dengan pujaan hati hari ini, Radit pun memaksa untuk menyetir dengan alasan agar cepat sampai tujuan.
Bima dengan berat hati harus menuruti keinginan dari bos sekaligus sahabatnya itu.
"Pelan-pelan aja loh, gue masih bujang!" ancam Bima pada Radit
Radit pun hanya menggelengkan kepala dan siap meluncur dengan mobilnya.
Perjalanan kali ini memakan waktu cukup panjang, sesekali Bima sudah menawarkan untuk menggantikan menyetir, tapi lagi-lagi tawaran itu berhasil di patahkan.
"Sini biar gue yang nyetir! lihat tu mata dah bengkak mo copot!
"Wah parah nih anak! mata we bengkak juga gara-gara lu! tunjuk Radit
"Serius gue aja yang nyetir" ucap Bima menyakinkan
_
_
_
Diujung jalan terlihat seorang bapak tua tengah menuntun sepeda tuanya, terlihat wajahnya pucat dengan langkah kaki semakin melemah.
"Bima... Lihat, kenapa bapak itu?" tunjuk Radit ke arah jendela kaca mobil
Belum sempat Bima menjawab, bapak tua itu keburu tersungkur ke tanah,
Ciiiiiit.....
Sontak Radit pun menghentikan mobilnya dan berusaha untuk menolong
"Radit, lu jangan gegabah, ayok kita pulang! kita gak tahu kan bapak itu siapa! siapa tahu dia Rampok! lihat di sekitar sini sepi, percaya deh dit! Tegas Bima masih terus menahan Radit keluar dari Mobil.
Tapi begitulah Radit, semua ucapan Bima bagaikan angin yang berlalu tak pernah ia dengar,...
Sedikit berlari Radit menghampiri bapak tua itu, Ia pun segera menopang menuju ke mobil dan bergegas ke Rumah Sakit,
Sekitar 30 menit perjalanan yang ditempuh menuju Rumah Sakit terdekat, Bapak tua itupun segera mendapat pertolongan dari dokter. Adit nampak cemas menunggu, Ia berulang kali mondar-mandir. Ada kekhawatiran yang menyapa hatinya.
"Duduk ngapa sih, pusing nih pala we, mondar-mandir aja lu! ucap Bima jengkel
" Bim, gimana nasib bapak tadi, gue takut," tutur Radit
"Ya ampun lu apaan sih, lu aja kagak kenal, inget lu besok N-I-K-AH!" ucap Bima dengan menekankan kata nikah, berharap Radit sadar dan bergegas untuk pulang
"Aish, lu! "
pikiran Radit semakin kacau ia seperti makan buah simalakama, sebenarnya Ia bisa saja meninggalkan bapak tua tadi dan pulang untuk mempersiapkan pernikahannya besok, tapi entahlah hatinya seakan tak rela jika Ia harus meninggalkan bapak tua tadi seorang diri. Mungkin bapak tua tadi mengingatkan Radit pada sosok Almarhum Ayah-nya yang sudah terlebih dahulu menghadap Sang Kuasa.
Ditengah keresahan hatinya seorang dokter menghampiri dan menyampaikan beberapa informasi terkait kondisi pasien, Dokter pun mempersilakan Radit untuk menemui pasien.
Radit dengan langkah perlahan menuju tempat bapak tua di rawat, terlihat beberapa selang infus menggantung serta peralatan medis terpasang di tubuhnya.
__ADS_1
Sebuah tangan ringkih meraih tangan Radit,
"Terimakasih Nak, sudah menyelamatkan Bapak" ucapnya dengan berderai air mata.
"Sama-sama Pak, tadi kebetulan kami lewat" balas Radit santun
"Terimakasih banyak" ucap Bapak tua itu berulang kali
_
_
_
Cukup lama Radit menghabiskan waktu bersama pak tua, yang biasa dipanggil Abah Jaelani, pembicaraan keduanya cukup dalam, Pak Jaelani mulai menceritakan perjalanan hidupnya hingga bagaimana penyakit ganas ini hinggap di tubuhnya.
"Dokter bilang waktu Bapak sebentar lagi" ucap Pak Jaelani dengan lirih
"Pak jangan ngomong begitu, Bapak pasti kuat, keluarga bapak menunggu"
Jawaban dari Radit semakin membuat Pak Jaelani menangis semakin dalam, ia tak bisa membayangkan bagaimana nasib putri nya jika ia pergi nanti, siapa yang akan menjaga Naya"
"Hari ini putri Bapak pulang, dia pasti menunggu di rumah, tolong jemput dia kesini nak" ucap nya dengan nada bergetar menahan sakit yang menggerogoti tubuh ringkih nya.
"Tapi... Pak" ucap Radit ingin menolak permintaan dari Pak Jaelani itu, pasalnya ia harus segera pulang.
"Tolong bantu Bapak sekali saja nak, " ucap Pak Jaelani memotong ucapan Radit.
Radit pun tak punya pilihan selain menjemput putri Pak Jaelani, dengan bermodalkan alamat rumah yang telah ia kantongi, dengan kecepatan tinggi Radit melesat menuju tempat tujuan dan meninggalkan Bima di Rumah Sakit.
Sebuah rumah sederhana, terlihat seorang gadis muda tengah duduk sembari membaca buku di teras.
"Per-misi... " ucap Radit Ragu, ia takut jika salah alamat.
Gadis itu pun segera menghampiri sang tamu
"Iya Mas, ada yang bisa di bantu? jawabnya santun
" Apa benar ini rumah Pak Jaelani? "
" Ah.. itu... kurasa kamu perlu ikut saya" tegas Radit
"Hah? " maaf maksudnya Mas apa ya? " balasnya mencoba memastikan bahwa ia tak salah dengar, bagaimana bisa ia harus ikut orang yang bahkan tak tahu siapa namanya itu.
"Bapak sedang di Rumah Sakit, saya diminta untuk menjemput putrinya" ucap Radit menjelaskan
Gadis tersebut nampak terkejut dengan apa yang Ia dengar, buku yang Ia pegang sedari tadi pun terjatuh, pikirannya kacau.
_
_
"Itu seatbelt nya jangan lupa di pasang" ucap Radit canggung, pasalnya ini kali pertama Ia hanya berduaan bersama seorang gadis selain Icha tentunya.
Naya pun hanya mengangguk, tak ada pembicaraan diantara keduanya, mereka benar-benar orang asing. Setelah beberapa menit akhirnya mereka sampai ke tempat perawatan Pak Jaelani.
"Abah..... " tangis Naya saat melihat ayah tercinta terbaring lemah dengan berbagai macam peralatan medis menempel di tubuhnya.
"Putri Abah, sudah sampai? " ucap Abah pelan dan menyembunyikan rasa sakitnya
"Abah kenapa disini? Abah sakit apa? kenapa gak pernah cerita ke Naya" ucap Naya dengan sesenggukan
Adit seakan terbawa dengan apa yang alami oleh keluarga ini, hatinya benar-benar tersentuh.
Saat hendak meninggalkan keduanya, panggilan Abah menghentikan langkah Radit
"Nak, kemarilah.... " panggil Abah dengan lirih
Adit pun mendekat, sementara Bima masih mematung di depan pintu, Ia benar-benar tak tahu apa yang harus Ia lakukan saat ini.
"Terimakasih untuk semua kebaikan mu nak, Abah enggak bisa janji bisa balas budi ke kamu" tuturnya pelan
"Jangan dipikirkan Pak, saya Ikhlas" jawab Radit dengan tulus.
__ADS_1
Abah menggenggam tangan Radit dengan kuat, dan membisikkan sesuatu
"Tolong jaga Naya, Abah titipkan ke kamu" ucapnya dengan sekuat tenaga
"Abah jangan ngomong gitu, Naya gak butuh orang lain buat jagain Naya, Abah harus selalu nemenin Naya! " ucapnya lembut mencoba menguatkan Abah
"Tolong nikahin Naya, tolong bapak nak" tegas Pak Jaelani terlihat wajahnya semakin pucat dengan nafas yang tersendat-sendat
"Pak saya pasti jagain Naya, tapi saya gak bisa nikah dengan putri bapak" jawab Radit nampak frustasi dengan permintaan Pak Jaelani kali ini.
"Tolong nikahin Naya, dia gadis baik, dia gak punya siapa-siapa lagi di dunia ini" tangis Abah pecah di tengah kesunyian malam ini.
"Tolong penuhi permintaan Bapak nak, untuk terkahir kali" dengan terus menggenggam tangan Radit, berharap jika lelaki di depan nya ini bersedia untuk menjaga Naya seumur hidup.
Naya pun tak kuasa membendung kesedihan nya, bagaimana mungkin Abah yang selama ini selalu mewanti-wanti Naya untuk tidak dekat dengan pria sembarangan.
"Lalu apa ini?
bagaimana Abah dengan mudah menyerahkan putri semata wayangnya pada seseorang yang baru mereka kenal hari ini?"
Naya pun tak kuasa mendengar ucapan Abah dan memilih meninggalkan meraka berdua dengan penuh air mata.
Selepas kepergian Naya,
Abah masih berusaha untuk menyakinkan Radit untuk memenuhi permintaan terakhirnya.
"Saya menderita kanker stadium akhir, dokter sudah menyerah, hanya menunggu hari, saya terpaksa harus berbuat seperti ini nak" ucap Abah putus asa
Radit tampak terkejut mendengar apa yang baru saja terucap dari mulut Abah. Ini kali pertama ia melihat seseorang sangat putus asa dengan hidup.
"Abah harus kuat, Radit janji bakal nanggung semua pengobatan Abah sampai sembuh, Naya butuh Abah" jawab Radit dengan sungguh-sungguh
"Tidak Nak, Abah sudah enggak kuat, tolong penuhi permintaan Bapak, untuk terakhir kali" ucap Abah berulang kali
_
_
_
Melihat kondisi yang semakin kacau, Bima pun menyeret paksa Radit untuk segera keluar dari kamar perawatan.
"Lu gila... udah gue bilang dari awal jangan ikut campur terlalu dalam! ini akibatnya!
Inget lu besok NIKAH...!! ucap Bima dengan penuh emosi
Radit hanya menenggelamkan kepalanya,
" Besok siang Lu Nikah! sadar gak lu, Icha, Bunda pasti nungguin kita! pulang adalah pilihan terbaik Radit, sebelum terlambat " ucap Bima khawatir pasalnya sahabatnya satu ini tipe manusia yang gak tegaan, dan rela melakukan apapun untuk orang lain.
"Aku gak bisa tinggalin mereka Bim, mereka butuh aku sekarang" ucap Radit tiba-tiba
"Ngaco lu! sadar Radit sadar jangan terbawa emosi, kamu punya Icha, tinggal besok kalian akan bersama, dan kamu mau ngelepasin begitu aja? kamu udah gila " murka Bima
Keduanya tanpa sadar telah membuat sedikit keributan di area rumah sakit, seorang perawat menghampiri dan menghentikan keduanya.
Sedang Naya hanya mematung mendengar perdebatan keduanya, Ia menemukan fakta bahwa laki-laki yang diminta Abah untuk menjadi suaminya ternyata sebentar lagi akan menikah dengan pujaan hatinya.
"Abah kau memilih orang yang salah untuk Naya" batin Naya dan berlari menghampiri Abah, Ia akan memberi tahu tentang kebenaran ini.
_
_
_
"Aku tak akan menjadi perebut kebahagiaan orang itu (Batin Naya)
ππππ
__________________________________
Weh karena terlalu panjang untuk scene flashback kita lanjutkan di episode selanjutnya ya... π
__ADS_1
Maaf kan Author yang sempat menghilang beberapa hari, karena di sambil nyicil skripsi hiks. Apalah daya ku yang harus membagi waktu dengan dunia nyata hehe...
Salam bahagia π₯°