
Ternyata kali ini Icha bukan hanya kedatangan Bunda saja melainkan sahabatnya yang beberapa hari lalu sempat berkunjung ke rumahnya, siapa lagi kalau bukan Rara.
Ia merasa menyesal karena sudah terlambat memberikan ucapan selamat ulang tahun, karena Ia harus menyelesaikan setumpuk pekerjaan di kantor.
Dengan riang Rara berjalan menuju ke Rumah Icha dengan membawa sebungkus kado yang ia tenteng di tangannya.
Bukan Rara namanya, jangan salahkan Ia ketika masuk ke dalam rumah Icha tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu,
Pasalnya saat Itu pintu terbuka lebar pertanda jika si empunya sudah memberikan izin, pikir Rara
Betapa terkejut nya Ia saat mendapati sahabatnya itu tertidur pulas dalam pelukan suaminya dan lebih terkejut nya lagi saat Ia melihat mertuanya Icha bersama keduanya.
Reflek Rara pun menutup mulutnya dengan kedua tangannya untuk menutupi rasa keterkejutan nya.
Kehadirannya pun sudah dianggap biasa oleh Bunda, pasalnya dari dulu saat Icha pacaran sama Radit pun, Ia juga sering nyelonong ke Rumah Icha tanpa permisi.
"Sissssttttttt" ucap Bunda dengan menempelkan ujung jarinya pada bibir berharap agar Rara tak membuyarkan momen romantis keduanya.
Seakan mengerti kode yang diberikan oleh Bunda, Rara pun berjalan menghampiri ketiganya dengan langkah berjinjit, agar suara langkahnya tak membangunkan sahabatnya itu.
Rara pun segera mengecup punggung tangan Bunda dan menyapa Adit dengan senyum mengembang.
Sementara pipi Adit sudah memerah bak tomat, akibat rasa malu yang luar biasa. Ia hanya menunduk dan berharap Icha segera bangun
"Ya Allah, ada Bunda saja rasanya pingin teriak, apalagi ini ada Rara" batin Adit
Obrolan kecil diantara Bunda dan Rara terus berlanjut, meski pelan Adit melihat jika keduanya sedang dalam mood yang baik.
"Bunda kita foto bareng yuk" ajak Rara sembari mengeluarkan ponselnya.
"Boleh" jawab Bunda kegirangan
Tanpa perlu persetujuan dari Adit tentunya,
mereka berdua mulai mendekat ke Adit dan Icha,
dan Taraa...
Hasil jepretan yang akan membuat iri orang diluar sana, saat melihat Icha memeluk Adit dengan erat, dan Adit pun terlihat tulus menatap Icha dengan rasa sayang, sementara Bunda dan Rara tampak lucu dengan gaya manis ala mereka.
"Ya Allah, Bunda lihat deh, bikin iri aja" ledek Rara pada Adit
"Upload aja itu" pinta Bunda
Adit menggelengkan kepala dengan cepat dan berharap mereka tak akan melakukan itu tanpa persetujuan dari Icha pastinya,
gerakan tubuh Adit akhirnya membangunkan Icha dari tidur pulas nya.
Perlahan ia mulai membuka mata yang agak perih dan berat efek dari menangis tadi. Ia pun terkejut saat melihat Bunda dan Rara sudah tersenyum lebar padanya.
Icha mengucek matanya memastikan bahwa ini masih di alam mimpi, tetapi bayangan keduanya tak hilang juga.
"Astaghfirullah Bunda! " teriak Icha spontan
dan ia baru menyadari jika selama ini ia sudah memeluk seseorang!
ia pun mendongak ke atas untuk mencari tahu siapa gerangan yang sudah ia peluk sedari tadi.
Deg Deg...
Jantung Icha berdetak kencang..
dan mungkin Adit bisa merasakan itu.
saat keduanya saling bertatapan entah dorongan apa yang membuat Adit mendaratkan kecupan manis di kening Icha.
Cup...
"Surprise... "Ucap Adit garing
Dunia seakan berhenti berputar dan hanya menyisihkan mereka berdua. Mereka melupakan kehadiran Bunda dan Rara yang sedari tadi melihat keromantisan keduanya.
Icha pun gelagapan saat mendengar deheman dari Rara sahabatnya itu.
Tak tahu apa yang harus dilakukan, ia terlalu terkejut dengan surprise Adit sore ini. Ia pun meminta izin Bunda untuk ke kamar belakang.
"Anu-anu Bunda Icha Mau-ke-kamar-belakang- sebentar" ucapnya gagap
Dan entah mengapa Adit pun juga menginginkan hal yang serupa
__ADS_1
"Aku juga Bunda" ujarnya mengikuti Icha
Icha tak menghiraukan perkataan Adit, yang ia butuhkan saat ini hanya menjauhkan dirinya dari Bunda serta Rara, hanya itu saja
"Kenapa kamu malah ngikut sih Dit! " ucap Icha gemas pada suaminya itu
"Kamu tega ninggalin aku di sana bareng sama mereka? " balas Adit pelan
Bunda dan Rara pun kembali menggelengkan kepala melihat tingkah keduanya...
"Mereka Lucu ya Bunda, Gemes" Timpal Rara seakan mampu membaca pikiran dari mertua sahabatnya ini.
"Kamu tuh Ra, bisa aja"..... Balas Bunda tanpa melepaskan raut bahagia di wajahnya.
\=\=\=\=
*Ruang Makan
Mereka berempat sudah berkumpul di meja makan, baik Icha maupun Adit mencoba bersikap tenang, seakan-akan tidak terjadi apa-apa sore tadi.
Menu kali ini khusus Bunda yang memasak, sengaja Ia membawa beberapa menu makanan dari rumah khusus buat anak serta menantu kesayangannya itu.
Di tengah-tengah hening nya suasana makan malam ini, tiba-tiba Rara dengan wajah berbinar menunjukkan berita bahagia yang datang dari ponselnya.
karena sedari tadi Ia tak sedikitpun lepas dari ponsel kecilnya itu.
"Bunda, Bunda, Daebak!! " teriak Rara
yang tak ada rasa takut sedikitpun pada mertua Icha itu
"Lihat... Bun" ucap Rara dengan Bangga
"Wah, kamu memang yang terbaik! " balas Bunda dengan menunjukkan jempol ibu jari di wajahnya.
Jujur ada rasa penasaran, sebenarnya apa yang sedang Rara tunjukkan pada Bunda? kenapa mereka begitu bahagia tapi menyembunyikannya dari ku? pikir Icha yang sedari tadi melihat sahabatnya itu malah asyik dengan Bunda.
Icha tak mengetahui jika gambar kemesraan bersama suaminya itu telah di unggah oleh Rara di akun media sosial nya dan diserbu beberapa komentar positif dari netizen gaib.
dan yang Rara baca sebagian besar mendoakan kebaikan untuk Icha dan Adit, meskipun ada beberapa akun yang memberikan komentar yang cukup pedas.
Tapi Rara abai dengan hal itu, ...
Tapi Rara tetap menghargai privasi dari sahabatnya itu, alhasil Ia pun memberikan stiker untuk menyamarkan muka Adit dan Icha.
***
Sesi makan malam bersama telah usai, kedua tamu itupun masih terlihat enggan meninggalkan kediaman yang empunya rumah meskipun malam sudah semakin gelap.
"Hemmm niatnya mau ngasih surprise eh malah kita yang di kasih surprise" ejek Rara pada sahabatnya
Icha pun memahami maksud perkataan dari sahabatnya satu ini, tentang surprise yang di maksud adalah kecupan manis Adit tadi sore!
Icha hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal, ia tak tahu harus menjawab apa, perasaannya campur aduk kali ini.
"Yah, ni bocah malah ngelamun! " ujar Rara tanpa sopan santun
"Nih, dari aku" Rara memberikan sebuah bingkisan kotak 📦 kepada Icha dengan senyum lebar
"Semoga suka" potongnya melanjutkan
Saat Icha akan membuka kadonya, segera Rara melarang hal itu,
"JANGAN DIBUKA SEKARANG! " teriak Rara menghentikan Icha
Semua mata sontak tertuju pada Rara dengan tanda tanya
"Kenapa?" tanya mereka kompak bersamaan
"Pokoknya, nanti saja bukanya, biar tambah surprise! " kilah Rara
Tak terasa sudah jam sudah menunjukkan pukul 22.00, akhirnya Bunda memutuskan untuk pulang ke Rumah, meskipun Icha sudah memintanya untuk menginap disini.
begitupun Rara yang sudah merasa puas menghabiskan waktunya bersama sahabatnya itu harus pamit undur diri pasalnya besok pagi ia harus kembali bertempur dengan pekerjaan dari atasannya yang super bawel!
Adit bersama Icha pun mengantarkan kedua tamunya di depan teras, saat mengucap salam perpisahan Rara membisikkan sesuatu kepada Icha.
"Lu gak boleh buka sendiri kadonya! bahaya! minta Adit buat buka, kalau tidak RESIKO TANGGUNG SENDIRI"
Icha menatap heran kepergian sahabatnya itu, ia tak habis pikir bagaimana bisa Rara memberikan kado yang berbahaya kepada dirinya?
__ADS_1
Setelah kedua tamu sudah benar-benar tak terlihat, Adit pun mengajak Icha masuk kedalam rumah, pasalnya angin malam tak baik bagi kesehatan.
Terlihat dua bungkus kado tergeletak di atas meja ruang tamu, segara Icha menyambar penasaran dengan isi kado tersebut.
Dengan wajah berbinar Icha membuka bungkus pertama yang berisi sebuah tas bermerek bewarna coklat,
"Memang Bunda paling ngerti aku" tutur Icha dengan raut bahagia
Saat akan membuka kado selanjutnya, ia teringat pesan Rara yang harus membuka kado darinya bareng sama Adit!
"Adit,... " teriak Icha saat Adit akan menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Adit pun menoleh ke sumber suara, dan memilih untuk melanjutkan langkahnya menuju ke kamar karena rasa kantuk yang sudah menyerang dirinya.
"Loh, kok malah naik sih" omel Icha
Ia pun segera berlari kecil mengejar suaminya itu, pasalnya ia sudah terlalu penasaran dengan isi kado dari sahabatnya itu.
Saat akan mengunci pintu, segera Icha menghadang Adit dan nyelonong masuk kedalam kamar.
"Agak lancang sih tapi mau gimana lagi, terlanjur kepo sih!" batin Icha
"Ngapain Cha" tanya Adit sambil mengucek matanya yang sudah dari tadi ingin terpejam
"Sebentar Dit, temenin aku buat buka kado dari Rara ya, Please... " pinta Icha dengan nada memelas
Adit hanya menyerngitkan kedua alisnya, heran melihat tingkah istri manisnya tersebut.
"Tadi kan berani buka sendiri" ucap Adit sambil menguap
"Ih ini tu beda! kata Rara bahaya buka sendiri ! balas Icha menyakinkan
Dengan perlahan Icha mencoba membuka bungkus kado tersebut, cukup ribet pasalnya Rara sengaja membungkusnya dengan bungkus yang banyak.
Sesekali Icha berguman " Dasar Rara suka Ribet" yang tentu terdengar oleh Adit
Adit pun beralih membuka kado tersebut, dan seketika rasa kantuk nya hilang saat melihat isi kado tersebut. Hingga tanpa sadar Adit pun menjauhkan bungkus kado tersebut darinya.
"Kenapa di lempar?" tanya Icha penasaran dan memungut kembali kado yang jatuh di lantai.
"JANGAN BUKA" teriak Adit spontan saat Icha akan membuka isi kado tersebut.
Bukannya mendengarkan permintaan Adit justru Icha semakin penasaran dengan isi kado tersebut.
"Astaghfirullah" teriak Icha membuang kado tersebut
Jantungnya berdetak kencang saat mendapati sebuah lingerie merah terpampang jelas dihadapannya.
Dan Icha tak bisa membayangkan gadis mana yang akan menggunakan baju yang mengerikan itu.
Reflek Icha menyilang kan kedua tangannya di atas dadanya sembari menggelengkan kepala untuk mengusir pikiran kotor dari otaknya.
"Cha.... " tegur Adit
"I-Ya!" jawab Icha agak keras...
"Aku mau tidur" balas Adit pelan
"A-Pa! jawab Icha tergagap, salah paham terhadap ucapan Adit,
" Aku mau tidur" ucap Adit mendekat ke Icha, karena Ia kira Icha tak mendengar ucapannya.
Entah apa yang sedang merasuki Icha kali ini, dengan lantang Ia justru menjawab;
"Bukankah ini terlalu cepat? Aku belum siap!!"
jawab Icha dan berlari meninggalkan Adit dengan segudang kebingungan.
"Kenapa? Icha belum siap!??"
Apa ini...
Hem lagi-lagi aku sulit memahami ciptaan mu Tuhan.... keluh Adit kembali
Adit pun segera merebahkan tubuhnya di kasur....
.
***
__ADS_1
Sementara mata Icha tak bisa terpejam sedetikpun setelah banyak kejadian yang tak terduga hari ini....