
Naya sedikit mempercepat langkahnya menuju ruangan dimana Abah nya di rawat, Ia mengabaikan kehadiran dua orang yang masih berseteru di depan ruangan itu.
Naya berjalan menundukkan kepala saat melewati keduanya, entah apa yang dirasakan antara malu yang teramat akibat penolakan atau justru marah dengan keadaan.
Kedua orang itu pun baru menyadari jika pembicaraan nya selama ini telah di dengar oleh putri Pak Jaelani, ada sesal di wajah keduanya.
_
_
_
"Abah, cepet sembuh, jangan khawatir dengan hidup Naya, sudah cukup Naya jadi beban Abah selama ini, jangan limpahkan beban pada orang itu, dia berhak bahagia dengan pilihannya Bah" tangis Naya pecah di samping Abah.
"Maafin Naya, Abah.... " Ia pun larut dalam tangisan yang selama ini Ia pendam
"Na-ya..., maafin Abah tidak bisa nemenin kamu lagi" lirih Abah menahan tangis
"Abah jangan ngomong seperti itu, Abah udah janji bakal nemenin Naya sampai tua, jangan ngomong kayak gitu lagi" ucap Naya dengan tangis yang kian menjadi
Tangisan keduanya pun tak luput dari pandangan Radit, Ia seakan mampu merasakan penderitaan keduanya. Ia pun terlihat mengusap butiran air mata yang tanpa sadar sudah membasahi wajahnya.
"Naya, kamu mau kan nurutin permintaan Abah? " tanya Abah dengan wajah memohon
Naya hanya mengangguk dalam tangisnya, wajahnya sudah penuh air mata,
"Panggil nak Radit kesini"... ucap Abah mulai melemah
Segera Naya mencari sosok yang di nanti oleh Abah nya itu, ada kelegaan dalam hatinya saat mendapati dua orang laki-laki itu masih setia menunggu di luar ruangan.
" Ma-af mas Radit, di panggil Abah" tutur Naya masih sesenggukan.
Segera mereka bertiga masuk kedalam ruangan
Di tengah melawan rasa sakitnya, Abah masih menunjukkan senyuman saat melihat Radit menghampiri dirinya.
Ia pun kembali meraih tangan Radit, dan mengulang kembali permintaannya.
"Tolong, Abah tahu ini tidak adil bagi mu nak, tapi Bapak mohon satu kali ini saja" air mata yang selama ini dipendam pun tumpah, Abah tak mampu membendung lagi, Ia terlalu takut membiarkan putri nya hidup di dunia seorang diri.
Tangis Abah semakin membuncah, Radit pun segera memeluk untuk menenangkan.
Mereka berdua nampak larut dengan perasaan yang dirasakan.
"Abah mohon,..... " ucap Abah sambil terus memeluk Radit dan menumpahkan air mata di pundak Radit.
Entah apa yang dipikirkan Radit saat ini, sebuah kata lolos begitu saja, dengan memantapkan hatinya ia berujar
"Baik Pak, saya akan menikah Naya, dan akan selalu menjaga Naya seumur hidup ku" ucap Radit dengan pasti
__ADS_1
"DUAR.... "
Bagai di hantam bom di tengah keramaian, itulah yang di rasakan Bima, Ia tak pernah menyangka jika Radit akan mengambil keputusan itu, bagaimana ia menyerahkan masa depannya pada gadis yang baru Ia kenal hanya beberapa jam yang lalu.
Seutas senyum terlihat menghiasi wajah Pak Jaelani di detik-detik kepergiannya,
"Menikah lah dengan Naya malam ini,"
Radit pun segera mengiyakan permintaan dari Abah, Ia bergegas mencari dokter untuk dijadikan penghulu untuk pernikahannya malam ini.
Dokter Anton yang kebetulan kenal dengan Radit pun nampak terkejut dengan apa yang dialami oleh Radit, Ia menjadi penghulu dadakan, sedang Bima menjadi saksi pernikahan dari sahabat nya kali ini.
_
_
Radit meraih ponsel ingin rasanya ia berlari ke pujaan hatinya, Ia terlihat menulis beberapa pesan
"Icha... Maaf
"Terimakasih banyak
"Semoga kamu bahagia...
Tiga kalimat yang akan mengakhiri hubungan keduanya, Radit akan menjalani kehidupan barunya bersama Naya.
Air mata tak mampu Ia bendung, ia harus merelakan pujaan hatinya bersanding dengan orang lain, Aku janji Cha kamu akan mendapatkan suami yang jauh lebih baik dari pada aku" batin Radit
Dokter Anton pun menanyakan pihak laki-laki terkait mahar yang akan diberikan kepada mempelai wanita, karena mahar sendiri adalah syarat wajib yang harus di penuhi dalam pernikahan.
"Sudah, Dokter saya sudah siapkan"
Radit pun merogoh saku dan menunjukkan dua pasang cincin indah disana, Cincin yang sudah Ia siapkan untuk calon istrinya Icha Wijaya, tapi begitulah takdir tak ada yang bisa menerka dengan siapa hati akan berlabuh.
"Baik kita mulai ijab kabul kita"
Bismillahirrahmanirrahim
Saya nikahkan engkau (Radit Atmaja bin Almarhum Surya Atmaja) dengan Naya Anindita binti Bapak Jaelani dengan mas kawin seperangkat alat solat dan cincin emas dibayar tunai."
Belum sempat Radit mengucapkan lafal kabul* tiba-tiba kondisi Pak Jaelani menurun drastis, ia pun segera mendapatkan pertolongan dan di tuntun untuk mengucapkan dua kalimat syahadat oleh Radit.
"Asyhadu alla ilaha illallah, wa asyhadu anna muhammadar rasulullah"
Akhir hidup yang mulia, disaat detik-detik terakhir nya hidup di dunia ini, beliau mampu mengucapkan kata terindah yang tidak semua orang mampu mengucapkan dengan fasih saat ajal datang menjemputnya.
Naya tak kuasa membendung rasa sedihnya, Ia tak mengira jika Allah menjemput Abah secepat ini.
Dokter Anton pun turut berduka atas kepergian dari ayah Naya,
__ADS_1
"Kamu yang sabar ya...
Bapak sudah tenang disana."
ucapnya menguatkan.
"Radit kita ulang ijab kabul kita, saya panggil dokter Agus untuk jadi penghulu, aku akan menjadi wali nikah bagi Naya, Pak Jaelani sudah memberikan wasiat kepadaku." Ucap dokter Anton
Jika seorang Ayah kandung (sesuai nasab) yang telah wafat memberi seseorang wasiat untuk menjadi wali nikah putrinya, maka wali nikah sang putri adalah orang tersebut.
"Baik Dokter,... " dengan menyeka Air mata dan masih tak percaya dengan apa yang ia alami hari ini,...
Setelah lima menit, acara ijab kabul pun kembali di ulang dengan formasi yang berbeda.
Bismillahirrahmanirrahim
Saya nikahkan engkau (Radit Atmaja bin Almarhum Surya Atmaja) dengan Naya Anindita binti Almarhum Bapak Jaelani dengan mas kawin seperangkat alat solat dan cincin emas dibayar tunai."
Radit pun meraih tangan dokter Anton seraya berucap dengan lantang
"Saya terima nikahnya Naya Anindita binti Almarhum Bapak Jaelani dengan mas kawin seperangkat alat solat dan cincin emas dibayar tunai."
SAH.....
Rasa haru menyelimuti proses ijab kabul keduanya, tak ada perayaan yang meriah, hanya ada tangis mengiringi kepergian Abah tercinta.
Dokter Anton memberikan nasehat kepada dua pengantin baru itu.
"Semoga pernikahan kalian langgeng sampai mau memisahkan kalian, ingat pernikahan bukanlah permainan, Allah jadi saksi atas ikatan suci ini, Radit kamu adalah suami Naya mulai saat ini, Kamu adalah kepala rumah tangga yang akan memimpin kemana bahtera rumah tangga kalian akan melabu, sementara kamu Naya, sekarang kamu adalah seorang Istri, kamu wajib patuh pada suami mu selama ia menyuruh dalam ketaatan pada Allah.
Sebuah pesan yang cukup mengena di hati keduanya, tanpa sadar air mata mengalir.
"Udah sekarang, Mari kita kuburkan jenazahnya Pak Jaelani" ucap Pak Anton kembali
*Flashback Off
_
_
_
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Eits... pada penasaran gak sih, bagaimana perjalanan hidup Radit dan Naya?
lalu bagaimana dengan Adit dan Icha?
Jangan lupa dukung author dengan Vote, Komen dan like ya...
__ADS_1
See You🥰