
Mata Icha membelalak dengan lebar saat sebuah benda kenyal dan dingin menyentuh bibirnya. Sedangkan Adit? Ia sangat menikmati bibir Icha yang sudah sangat ia rindukan itu.
Adit yang tidak tahan mendengar celotehan panjang Icha karena setiap Icha menggerakkan mulutnya semakin besar keinginan Adit menyecap manisnya bibir itu, memilih menggerakkan sebelah tangannya untuk meraih tengkuk Icha lalu menariknya mendekat ke wajahnya.
Adit sengaja memanfaatkan keterkejutan Icha untuk memperdalam ciumannya. Sedangkan Sebelah tangannya bebas berkelana. ia kaitkan tangannya ke pinggang Icha sehingga membuat Ia tidak bisa berkutik.
Adit melepaskan perlahan, ketika mereka berdua sama-sama kehabisan pasokan oksigen, memberi sedikit jarak antara wajahnya dan wajah Icha tapi tangan Adit masih pada posisi semula.
"Adit kamu ap—" Tanya Icha mencoba meminta penjelasan tapi
Adit kembali membungkam mulut Icha dengan bibirnya. Semakin lama semakin dalam. Icha mengaku kalah, kakinya mencair, jantungnya berdetak tidak karuan, nafasnya terengah, demi menopang beban tubuhnya ia memilih meremas kaos Adit -bagian pinggang- , matanya terpejam.
Adit yang merasa menang semakin bersorak dalam hatinya, bahkan ia lupa dengan sakitnya yang sedang Ia derita sementara Icha melupakan kekesalannya. Keduanya saling memejamkan mata, menikmati ciuman yang semakin lama berubah menjadi ******* dan gigitan lembut.
"Ekheemm!"
Reflek Icha membuka matanya lebar dan meremas punggung Adit dengan kuat karena terkejut, membuat Adit memekik keras. "Aakkhh!"
Adit melepas pelukannya.
__ADS_1
Mereka berdua menoleh ke arah deheman yang lumayan keras itu, lalu keduanya salah tingkah. "BUNDA!!!" seru Icha terbata, membuat Bunda semakin terkekeh geli.
"Nggak usah gugup gitu ah..jadi nggak enak nih udah ganggu!" ujar Bunda masih dengan nada menggodanya.
Pipi Icha bersemu merah menahan malu, ia segera memberi jarak antara dirinya dan tepi ranjang Adit.
Sedangkan Adit, meskipun Ia terkejut tapi masih sibuk meringis sakit di punggungnya. "Maaf ya, pasti sakit ya? Aku panggil dokter?" entah mengapa melihat Adit meringis sakit membuat Icha tidak tega, melupakan sedikit kekesalannya.
"Gapapa kok Cha, nggak sakit," kilah Adit. "Beneran gapapa?" tanya Bunda yang berubah khawatir mendekati ranjang Adit.
Icha masih tidak berani menatap Bunda karena malu.
"Gapapa kok, Bunda" jawab Adit menahan sakit.
"Iya Bunda, aku panggilin dokter dulu." balas Icha yang tahu maksud teguran mertuanya itu.
"Cha..udah nggak usah, i…Adek baik-baik aja kok Bunda" cegah Adit.
"Baik-baik aja? Bukannya punggung kamu masih agak lebam? Masih ada perbannya kan? Udah kering luka lecetnya?" tanya Mami tanpa jeda membuat Adit sedikit ternganga.
__ADS_1
"Kok Bunda tau?"tanya Adit polos.
"Menantu Bunda yang bilang, dong" ucap Bunda beralih menatap Icha yang dijawab Icha tergagap "I-iya Bunda."
"Cha?" tanya Adit pada Icha dengan kening berlipat penuh tanya.
"Aku udah tanya sama dokter Anton," jawabnya pelan.
"Dokter Anton? Kamu ketemu sama dia? Ngapain?" tanya Adit yang tiba-tiba diselimuti cemburu.
"Loh, kok Adek malah tanya ngapain? Ya nanyain keadaan kamu. Udah Cha, panggilin dokter Anton!" perintah Bunda.
"Baik Bun" jawab Icha meninggalkan ruangan.
______________
Hemm... gimana masih kurang Uwu belum? Ah.... Maafin Author yang gak ahli dalam mendiskripsikan hal ini wkwkwk
Spoiler untuk episode selanjutnya kita akan kepoin kehidupan Naya dan Radit ya... hehe
__ADS_1
Tunggu kelanjutannya ya...
Boleh banget kritik dan saran, 💜