
Satu kata yang terucap oleh Icha pagi ini!
Malu Ia sangat malu, bahkan jika ia bisa ingin rasanya menenggelamkan dirinya di Samudra Hindia atau jika Ia punya kekuatan super ingin rasanya Ia menghapus ingatannya Adit terutama tentang semua kejadian kemarin.
"Ahhhhhahahahshhs" ucapnya saat memandangi wajahnya di depan cermin.
Dengan malas ia menyisir rambutnya yang tergerai lurus, tak lupa ia juga menempelkan bedak tipis ke wajahnya, sesaat sebelum berangkat ke sekolah.
Ia berjalan mengendap-ngendap menuruni tangga, yap hari ini Icha belum siap bertemu dengan Adit, terpaksa Ia harus menghindar untuk sementara waktu. dengan langkah cepat ia menuju mobilnya dan melesat pergi lebih awal menuju sekolah.
Deru mobil Icha tentu terdengar oleh Adit, Ia hanya menyingungkan senyum tipis saat menatap wajahnya di depan cermin.
"Kenapa Icha semakin lucu"
Sebuah pesan masuk,
"Aku ada rapat, makanan sudah ada di meja, jangan lupa di makan"
"Iya sayang" balas Adit dengan senyum sumringah.
"Dih, dasar" ucapnya sambil terkekeh.
Adit kembali mengirim pesan, sebuah gambar yang menampilkan dirinya sedang memakan roti bakar serta susu sengaja ia bagikan ke Icha tak lupa caption juga membuat Icha mengulas senyum lebar
"Mas Adit sarapan dulu, makasih sayang😘"
Icha tak menjawab pesan itu, karena menurutnya hal itu terlalu kekanakan. Tak lama mobilnya sudah memasuki area sekolah, masih sepi hanya pak Kebun yang terlihat sibuk menyapu daun yang berguguran di ujung sana. Terlihat juga beberapa anak yang menggendong tas di punggung mereka berjalan menuju ruang kelas, tetapi tetap saja masih terlalu pagi untuk dirinya.
Melangkah menuju ruang BK yang terletak di ujung membuatnya sedikit bergidik ngeri dengan langkah berat dan memaksa kakinya untuk terus berjalan sementara rasa takut tak kunjung hilang.
"Unnie..... " panggil Agung
Bukan senyum manis yang Agung dapatkan justru teriakan melengking yang Agung dapatkan.
"Ada apa Bu? tanya Agung sembari masih menutup gendang telinganya.
" Ya Allah Agung kenapa ngagetin?" tanya Icha dengan mengelus dadanya.
"Ada yang mau saya obrolin Bu, " liriknya
"Ya udah ayok ke ruangan" ajak Icha
Setelah keduanya duduk berhadapan terlihat muka Agung tidak seceria biasanya, ada sedikit beban di pundaknya.
__ADS_1
"Gimana Gung, sehat? akhir-akhir ini saya jarang melihat kalian bersama" pertanyaan Icha seakan bisa menebak dimana akar permasalahan bocah gembul ini.
"Ya, Unnie saya lagi pusing, apa yang harus saya lakukan?" ucapnya dengan meremas rambutnya dengan kasar.
"Cerita dulu, saya dengerin"
"Kita berempat jarang banget bertengkar, tapi kemarin seperti nya saya terlalu ikut campur dengan permasalahan Adit, jujur saya gak rela Adit duain Unnie, saya gak bisa tinggal diam melihat itu" lirihnya
Icha hanya menganggukkan kepala dan baru menyadari penyebab renggang nya hubungan empat sekawan itu akibat dirinya.
Semakin Icha merasa kehadirannya dalam hidup Adit memberikan pengaruh yang buruk.
"Nanti coba saya ajak ngobrol sama Adit ya Gung, kalian jangan lama-lama berantem nya gak baik."
Setelah berbincang cukup lama serta memberi masukan untuk Agung keduanya harus berpisah karena jam pelajaran segera di mulai.
Adit lagi-lagi datang terlambat karena mampir ke Cafe terlebih dahulu untuk mengecek persediaan bahan baku.
Seperti biasa Pak Dion sudah berdiri di depan gerbang untuk mendisiplinkan murid-murid yang sedikit bandel.
Pak Dion di tunjuk langsung oleh Bu Dewi dengan alasan badan kekar serta muka sangar yang ia miliki, meskipun pada kenyataannya pak Dion adalah orang yang ramah.
"Adit... " Panggil Pak Dion saat Ia melihat Adit dengan sengaja menghindar darinya.
Berhenti kemudian berbalik arah menatap tajam Pak Dion, entah apa yang terjadi diantara keduanya di masa lalu.
"Dasar anak jaman sekarang" batin Pak Dion
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hari ini waktu teras berjalan lambat, Adit yang masih utang penjelasan sama Bu Dewi membuat nya sedikit gusar, apa yang harus Ia katakan jika Bu Dewi menagih penjelasan darinya, mana belum sempat ia mendiskusikan hal ini dengan Icha.
Agung yang sedari tadi duduk disampingnya pun melihat dengan jelas bagaimana gusarnya Adit saat ini,
"Anjir,..... " pekik Agung
Sontak sebagian murid menoleh ke arahnya, Ia nampak kikuk, tapi memang bawaannya Agung dengan mudah mengatasi masalah.
"Asem lu, ngapain lu ikutan ngambek juga njir" ucapnya dengan menyenggol bahu Adit.
"Kesambet lu?" tanya Adit datar
"Asem lu" balas Agung sengak
__ADS_1
Tak lama Ali datang kemudian mengutarakan niatnya untuk meminta maaf pada Adit karena terlalu ikut campur dalam urusan pribadi nya, suasana agak canggung pasalnya ini kali pertama mereka renggang setelah sekian lama bersama.
"Makasih" Ucap Adit dengan tulus
Yap sebenarnya Adit sangat bersyukur mempunyai sahabat seperti mereka, saling mengingatkan jika memang salah, hanya saja kemarin ego Adit terlalu tinggi dan kadung kebawa emosi.
"Nah gini kan cakep ya, pada baikan" Ucap Aldi yang menyusul Ali
Mereka berempat pun saling bercengkrama seperti tidak pernah terjadi apa-apa diantara . mereka.
_________
Disisi Lain Icha nampak mantap saat berhadapan dengan Bu Dewi di ruang pribadinya, ada yang perlu Icha sampaikan terutama terkait foto viral yang ramai jadi perbincangan.
Ia mengakui jika wanita yang berseragam guru yang dipeluk Adit adalah dirinya, dan siap menerima konsekuensinya.
"Apa hubungan Bu Icha dengan Adit?" tanyanya memastikan karena Ia tak ingin jika asal menuduh tanpa bukti.
"Sa-saya pacarnya Bu!" jawab Icha dengan sedikit terbata-bata.
Rasa keterkejutan Bu Dewi tidak bisa disembunyikan, ia tak menyangka jika Bu Icha menjalin kasih dengan anak didiknya.
Sengaja Ia berbohong kepada Bu Dewi karena menurut nya cara ini terbaik untuk Adit, Ia tak ingin karena kasus ini tak bisa mengikuti ujian nasional yang sebentar lagi akan dilaksanakan.
Bu Dewi terdiam sesaat mencoba mencerna apa yang baru saja Ia dengar dan berpikir bagaimana solusi atas kejadian ini, kemudian Ia berucap.
"Cinta memang kadang membuat kita melampaui batas wajar, sulit meredam gejolak dalam dada, pinginnya bersama, jujur saya juga bukan orang yang mendukung pacaran atau penentangnya, sepenuhnya saya serahkan pada masing-masing Bu, hanya saja untuk masalah ini sudah berhubungan dengan citra sekolah mungkin saya akan meliburkan Bu Icha selama dua minggu, biar Adit juga fokus saat Ujian Nanti, apalah keberatan Bu? tandasnya
"Terimakasih Bu, atas pengertiannya, saya mohon satu hal lagi tolong rahasiakan pertemuan ini dari Adit ya Bu, anggap saja masalah ini sudah selesai" ucapnya ragu-ragu
"Saya paham Bu, semoga ini menjadi pembelajaran untuk kita kedepannya, dan maaf soal ponakan saya yang waktu itu diabaikan saja Bu"
Icha hanya mengangguk Ia sangat bersyukur akhirnya masalah ini sudah teratasi meskipun ia harus cuti dua minggu ke depan,.
Ia melangkah keluar ruangan Bu Dewi dengan wajah lesu menyesal telah berbohong tentang status nya.
•
•
•
Apakah cara Icha diterima oleh Adit?
__ADS_1
Bagaimana reaksi Adit saat mengetahui keputusan Icha?
Oh iya masih inget dengan Bang Aksa? next kita buat part tentang dia ya... 😁