
Tak terasa bel berbunyi dengan nyaring pertanda jam sekolah usai sudah, terlihat beberapa anak bersorak ria seakan terbebas dari belenggu pelajaran yang memusingkan kepala kini berakhir sudah,
Sedang Adit masih bertahan di ruang kelas, meskipun beberapa anak sudah pulang
Sementara di sudut yang lain terlihat Lia dengan langkah cepat menghampiri Adit dengan perasaan yang berkecamuk sedari berita Adit selingkuh beredar luas seantero sekolah.
"Adit......!!! " Teriak Lia
Mendengar namanya di panggil ia hanya menghembuskan nafas dengan kesal, karena ia tahu betul siapa pemilik suara cempreng itu.
"Iya..... " jawabnya dengan malas
"Siapa ini? Kamu gila ya? selingkuh sama ipar mu sendiri!!!!!!! pekik Lia dengan emosi
" Kok kamu tahu? ucap Adit terkejut
"Jadi ini kalian benar-benar.... " tangis Lia yang selama ini Ia pendam runtuh sudah, fakta bahwa pujaan hati yang selama ini ia cintai berpaling dengan wanita lain! dan ia pun juga baru tahu jika Adit sangat berengsek!!!
"Kok kamu tahu kalau itu Icha?" tanya Adit penasaran tanpa memperdulikan tangisan Lia yang semakin menjadi-jadi.
"Adit kamu tega banget sih!!! kamu udah selingkuh malah tanya kayak gitu!!
" Li... maaf aku kan cuma penasaran, duduk dulu, jangan teriak-teriak kepala ku pusing" ucapnya dengan menarik Lia duduk dihadapan nya.
"mungkin ini saatnya aku harus jujur" batin Adit
"Li.. aku mau ngomong, tapi kamu jangan kaget ya, dan semoga kamu siap mendengar ini semua" ujar Adit dengan mengumpulkan segudang keberanian untuk terus terang dengan Lia.
Kedua mata Lia fokus menatap Adit yang sedari tadi cukup gusar,
"Aku gak janji Adit" ucapnya dengan meremas ujung baju seragam siang ini.
"Lia, kamu tahu kam, selama ini kamu sahabat terbaikku? cuma kamu satu-satunya wanita yang dekat denganku, dan aku juga senang, kamu mau jadi sahabat ku"
"Tapi Adit.....
ucapan Lia terpotong,
" Dengerin dulu " ucap Adit melanjutkan
"Aku juga paham bahkan ngerti banget kalau kamu ada rasa sama aku,... tapi Li
hatiku sudah terpaut sama yang lain"
Tangis Lia semakin tak terbendung, Ia sadar Adit tak sepenuhnya salah, karena selama ini Ia lah yang menganggap Adit sebagai kekasihnya, tapi bagaimana pun ia perempuan hatinya terlalu rapuh untuk menerima kenyataan ini.
"Wanita mana yang sudah merebut hati mu?" ucapnya dengan nada sinis menahan amarah.
"Dia adalah gadis kecil yang pernah aku ceritakan kepadamu dulu" ucap Adit dengan lirih
"Jadi kamu masih bertahan dengan gadis pujaan hatimu yang entah dimana sekarang!!! kamu jangan gilaa Adit!! pekik Lia dengan suara yang kian meninggi
" Li dengerin dulu,... "ucapnya mencoba meredam amarah sahabatnya itu.
" Dari awal aku enggak ada niat buat nyakitin kamu, tapi ini mungkin lebih baik kamu tau dari awal..
"Enggak Dit, aku enggak bakal lepasin kamu begitu aja! aku bakal cari wanita sialan itu!! ucapnya dengan sorot mata penuh keyakinan, Lia pun dengan amarah melangkah pergi, namun jarak mereka belum terlalu jauh saat Adit berujar
" Gadis itu Icha.... "
Langkah Lia terhenti beberapa saat, Ia sangat berharap pendengaran nya salah kali ini, Hatinya hancur saat mengetahui siapa gadis pujaan hati Adit selama ini adalah Icha, wanita yang ia tahu saat ini adalah kakak iparnya, istri dari Bang Radit.
Dengan masih berderai air mata Lia kemudian berlari meninggalkan Adit yang masih terpaku di ruang kelas yang kosong.
_____________________________
Adit melaju dengan motor kesayangannya menuju ke rumah, meskipun hatinya sedang kalut, tapi rasa khawatir nya terhadap Icha jauh lebih besar, pasalnya hari ini Icha sedang tidak enak badan.
Tak lama kemudian Adit sudah berada di depan rumah, Ia parkiran motornya di samping kemudian bergegas menemui istri tercinta.
"Assalamu'alaikum... "
sudah tiga kali ia mengucapkan salam tapi tak ada jawaban yang ia terima.
Ia pun segera menuju ke lantai dua mencari Icha tentunya,
Ia sedikit lega saat menyaksikan Icha sedang tertidur dengan pulas dengan kain kompres yang masih menempel di dahinya.
__ADS_1
"Lucu sekali " kekeh nya dan bergegas untuk membersihkan diri sebelum mendekat ke Icha, takut membawa virus dan juga bau asem tentunya.
Dua puluh menit kemudian Adit menghampiri Icha, gak lupa Ia cek suhu badannya yang ternyata masih lumayan panas, ia dengan telaten mengganti kompres serta memberi pijatan lembut di tangan dan kaki.
"Cha, kamu sudah minum obat?" tanya Adit dengan pelan
"Aku gak bisa nelen obat" jawab nya dengan sama-sama
"Terus gimana mau sembuh? minum satu ya"
"Enggak bisa, nanti juga sembuh kalau udah waktunya" tentu jawaban Icha membuat mata Adit membulat sempurna, bagaimana bisa ia dengan mudahnya berucap seperti itu? apakah ia sangat menikmati sakit? kenapa begitu pasrah.
"Baiklah,... " Adit tak ingin memaksa jika itu sudah menjadi keputusan Icha,
Tet.. Tet... Tet...
Sebuah panggilan dari Adit untuk
Adit : Assalamu'alaikum Bang lagi sibuk ?"
Abang : "Wa'alaiakumussalam, santai dek ada yang bisa dibantu? tumben gitu hehe"
Adit : "Ah, abang jadi merasa bersalah nih rasanya seperti ipar yang durhaka."
"Abang : Becanda dek, gimana-gimana?
Adit : Gini Bang, Icha hari ini sakit, tapi gak mau minum obat dan ke dokter. ada solusi lain?
Abang : Oh itu mah udah gak bisa di tawar, memang udah modelannya kayak gitu kalau lagi datang bulan.
Adit : jadi dibiarin aja Bang?
Abang : Ya jangan lah, itu adik gue!
Adit : Hahahhahahaa
Abang : Biasanya kalau Icha sakit dia minta mama buat meluk gitu, gak mau lepas pokonya sampe pagi.
Adit : Serius Bang?
Abang : ya udah sih, tinggal dipeluk aja, Abang mau ada rapat bentar lagi ini, udahan ya
sambungan telepon terputus.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Icha yang masih tidak ada pergerakan, ia masih terkulai lemas di atas kasur selain tak mau minum obat, makanan pun tak diperkenankan masuk ke mulutnya.
"Dit,.. aus" pintanya dengan lemas
Segera Adit mengambil air untuk Icha minum.
Yap dari sedari sore hingga malam menjelang malam Adit setia mendampingi Icha.
"Kamu tidur, aja ini udah malem, aku cuma masuk angin sama nyeri haid saja"
"Iya nanti juga tidur, kamu mau apalagi?"
Icha tak menjawab hanya terlihat menggelengkan kepala lalu terpejam kembali.
Seusai Salat Isya' Adit membawa buku pelajaran serta bantal menuju kamar Icha, yap rencananya malam ini Ia akan belajar sekaligus tidur disana.
"Adit, .... " panggil Icha
"Iya aku disini, " jawabnya sembari meletakkan buku pelajaran yang sedari tadi ia baca.
"Aku mau pipis" isaknya
"Ayok, kenapa malah nangis? " ujar Adit bingung
"Kepalaku pusing, sedari tadi aku tahan" ucapnya dengan sedikit menangis
" Ya Ampun kenapa di tahan sih, ayok sekarang ke kamar mandi"
"Tapi dit,....
Belum usai Icha memberikan penjelasan Adit dengan sigap merangkulnya dalam pelukan nya.
__ADS_1
" Gak baik nahan pipis" bisiknya pada Icha
"Aku Berat, besok diet" tandas Icha saat melihat Adit sedikit kelelahan saat memapah dirinya.
Adit tak menanggapi ucapan istrinya itu karena ia paham jika wanita agak sensitif jika berhubungan dengan berat badan.
Tak lama mereka sampai ke kamar mandi lantai bawah, sebenarnya bisa saja mereka menggunakan kamar mandi yang ada di kamar Adit tapi karena gugup Adit melewatkan itu.
Adit dengan perlahan meletakkan tubuh Icha di atas closet, dan kemudian saat ia akan membantu melepas celana Icha, dengan reflek tamparan yang Adit dapatkan.
"Au..., sakit" pekiknya
"Kamu mau ngapain Adit!" tanya Icha dengan gagap
dengan masih memegangi bekas tamparan ia berucap
"Ya kan mau pipis, emang mau ngompol disini? ya harus dilepas lah" jawab Adit dengan enteng
. "Ya ampun Adit, aku bisa sendiri sekarang kamu keluar dulu! pintanya
Tapi begitulah Adit bukannya segera keluar justru malah ia semakin bertingkah.
" Ya ngapain harus keluar?" ucapnya dengan polos
Sebuah wadah sabun mendarat tepat mengenai dirinya, " Dalam hitungan ke tiga kalau masih disini aku bakal lempar semua ini ke kamu!" ancam icha dengan menunjuk beberapa peralatan mandi yang berjajar rapi di samping closet.
"Becanda Cha, ya udah aku tunggu di depan ya"
Cukup lama Icha bersemedi di dalam kamar mandi, yang jelas cukup membuat kaki Adit sedikit kesemutan.
"Ayok Dit" ajak Icha setelah menuntaskan hajatnya
"Oh sudah, ya udah ayok"
"Eh mau ngapain?" saat Icha melihat Adit akan merapat dirinya
"Biar gak jatuh, kelamaan mikir!" secepat kilat Adit meraih Icha untuk kembali ke kamar atas.
"Dit aku udah bisa jalan kok,"
"Ya udah aku turunin nih?" goda Adit
"ya jangan sekarang lah, gak peka amat sih bisa bonyok lah kalau kamu turunin dari tangga!
Cukup menguras tenaga hingga akhirnya Adit berhasil mendaratkan Icha dengan selamat di atas kasurnya.
" Udah malam kamu tidur aja Dit"
"Baiklah" jawabnya enteng
"Tumben nurut banget tu bocah," batin Icha
Icha kemudian menarik selimut untuk menutupi sebagian tubuhnya yang dirasa sedikit membeku malam ini, saat akan memejamkan matanya, terdengar seseorang menghamburkan tubuhnya tepat di samping Icha.
"Ahhhh kamu ngapian?" tanya Icha dengan terkejut
"Tadi kan di suruh tidur, ya ini mau tidur!" ocehnya tanpa rasa berdosa
"Iya maksud aku kenapa tidurnya disini?" tanya Icha sedikit tergagap akibat rasa gugup yang tiba-tiba mendera dirinya.
" Capek, tenaga ku habis" kilahnya
"Kamar kamu kan cuma di sebelah Dit!" gerutu Icha dengan kesal
"Saran dari Bang Aksa kalau kamu sakit wajib banget di.... " sengaja Adit menggantung ucapan nya agar Icha semakin penasaran.
"Di... diapakan Dit?" tanyanya semakin penasaran.
"Di...
Adit menggeser tubuhnya untuk menatap Icha lebih dalam,
" Di.... " ucap Icha semakin tidak sabar
"Dipeluk sampai pagi!" Lagi-lagi dengan gerakan cepat Adit menarik tubuh Icha menghambur ke tubuhnya.
Jarak mereka cukup dekat bahkan satu sama lain saling mendengar deru nafas masing-masing.
__ADS_1
"