
Hari Senin tepatnya seminggu sebelum Ujian Nasional berlangsung, proses belajar mengajar cukup padat selain untuk persiapan menghadapi soal-soal ujian nanti, sebagian murid juga sudah diarahkan untuk menentukan pilihan akan melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Termasuk Adit yang saat ini sedang bimbang dalam menentukan pilihan untuk masa depannya.
Disisi lain ia ingin melanjutkan kuliah ke luar kota tapi disisi lain juga Ia tak mungkin berpisah dari istri tercintanya.
Saat jam istirahat berlangsung sengaja Adit menemui Icha di Ruang BK, ada beberapa hal yang perlu untuk didiskusikan pikirnya kala itu.
"Lagi sibuk Cha"? tanyanya mengagetkan
" Adit? " balas Icha sembari mengedarkan pandangan ke berbagai arah, takut jika ada yang melihat keduanya..
"Nyari siapa? suamimu sudah ada disini!" ucapnya dengan suara cukup keras.
"Ya Ampun Adit.... "
Icha pun dengan segera membungkam mulut Adit agar Ia berhenti mengoceh.
"Ada apa Dit?" tanya Icha saat keduanya sudah duduk berhadapan.
"Ada yang mau aku obrolin kamu ada waktu kan?"
"Harus disini?" Adit mengangguk
" Apakah ada sesuatu yang urgent? " batin Icha
"Jadi aku harus bagaimana?" tanya Adit ambigu
"Apanya?" jawab Icha masih bingung dengan apa yang diutarakan oleh Adit
"Hari ini Pak Syamsul tanya mau kuliah dimana? karena lusa sudah hari terakhir pendaftaran, apa yang harus aku lakukan?" ucapnya dengan lirih
Icha sejenak terdiam, jujur ia pun belum memikirkan akan hal ini, bagaimana pun Adit sekarang adalah kepala rumah tangga, dan sudah menjadi kewajiban Icha untuk menaati nya bukan? dan bagaimana pun Ia harus menjadi orang yang selalu mendukung keputusan Adit. Dan tak mungkin bagi nya menjadi penghalang mimpi Adit.
"Cha,... " panggilnya pelan
"Aku akan memberi dua jawaban, mana yang ingin kau dengar terlebih dahulu? "
"Aku akan mendengarkan keduanya" jawabnya dengan menatap intens mata Icha.
"Ok, kalau kau tanya aku sebagai guru BK tentu aku berharap kamu melanjutkan kuliah di kampus yang terkenal, bahkan kalau bisa ke luar negeri, karena aku yakin kamu pasti lolos, secara kamu termasuk anak pintar, Tapi kalau kamu tanya aku sebagai seorang istri....
"ucapnya menggantung
"Gimana?" ucap Adit dengan mata berbinar, entahlah akhir-akhir ini Adit sangat senang jika memandangi Icha dari jarak dekat.
"Jangan dilihatin terus lah" ucap Icha dengan tersipu malu
"Tentu aku tak akan bisa jauh dari mu, ya meskipun kamu menyebalkan dan enggak romantis" lanjutnya.
Mendengar jawaban Icha, terlihat seutas senyum manis di wajah Adit, ia tak menyangka jika itu yang akan diutarakan oleh Icha, Ia pun berdiri dan mendekat ke arah Icha. Reflek Icha pun berdiri dan menjauh dari Adit
"Adit kamu mau ngapain?" tanya Icha saat Adit semakin dekat dan tanpa aba-aba mengaitkan kedua tangannya pada Icha"
"Iya biar romantis" ucapnya semakin mengeratkan pelukannya.
"Ya enggak gini juga Adit!! ini disekolah!!!" seru Icha
__ADS_1
"Berarti kalau di rumah boleh dong?" balas Adit dengan senyum jail nya.
Cukup lama Icha berusaha melepaskan pelukan Adit, semakin ia melawan justru Adit semakin lebih kencang, "Adit enggak lucu ya! lepasin enggak atau ku injak!!!" ancam Icha dengan kesal. Layaknya anak kecil semakin dilarang semakin membangkang begitulah Adit kiranya!
Karena merasa ancamannya tak digubris, Icha pun mendaratkan sepatu hak tingginya itu tepat di atas kaki Adit,
"Ahkkkkkhhhhh" teriak Adit kesakitan, dan cara ini dianggap paling ampuh untuk melepaskan pelukan Adit.
Icha pun mengibaskan rambut panjangnya tanda kemenangan "Icha mau dilawan? Gak Akan bisa!!!!"
Merasa tertantang Adit pun kembali mengejar Icha dan dengan sengaja memeluknya dari belakang. "Adit,....!!!! teriak Icha agak keras dan kembali melepaskan dirinya dari cengkraman Adit!
Dari kejauhan terdengar suara langkah kaki berjalan menuju kearah mereka berdua, sedangkan Adit tak jua melepaskan pelukan nya dari Icha justru pelukannya semakin dalam.
" Adit ada orang!" ucap Icha pelan penuh penekanan.
"Terus kenapa? " jawabnya tepat ditelinga Icha
"Adit serius ini enggak Lucu! lepasin atau aku banting?" ancam Icha serius
"Mau dong dibanting" jawab Adit menganggap remeh ancaman Icha, bahkan di situasi genting seperti ini pun Ia masih bercanda dengan Icha.
"Aku itung sampai Tiga ya, kalau enggak kamu lepasin aku banting!" Tegas Icha memberi peringatan.
"Satu.... "
"Dua... "
"Dua setengah"...
Tepat hitungan ke tiga Icha sengaja membungkukkan tubuhnya dan sedikit menarik tubuh Adit condong ke depan, dalam hitungan detik tubuh Adit sudah jatuh tersungkur ke lantai, bertepatan dengan Bu Dewi yang masuk ke dalam ruangan.
"Ya Allah Adit kenapa malah tiduran dilantai?" tanyanya saat melihat Adit terkapar dilantai, sementara Adit masih belum percaya terhadap apa yang baru saja ia alami!
status nya sebagai suami Icha seakan roboh, bagaimana ia dengan mudahnya dibanting Oleh Icha yang tubuhnya, lebih kecil dari ukuran tubuhnya, rasa malu dan menyesal menyelimuti Adit
"Harusnya aku dengarkan ancamannya", tapi sejak kapan ia jadi sekuat itu?" bukankah itu teknik bela diri Jiu-jitsu dari Jepang. Bela diri ini pertama kali dikembangkan sebagai metode untuk petarung bertubuh kecil agar dapat mengalahkan lawan yang lebih besar, dan dapat membantu menaklukkan seseorang yang lebih kuat! dari mana Icha belajar itu!" batin Adit dengan menahan sakit diarea punggungnya.
"Bangun Adit malah bengong" seru Bu Dewi
terheran melihat Adit tak kunjung bangun dan semakin khawatir saat melihat Adit linglung.
"Bu ini anak kesambet kayaknya" tanya Bu Dewi pada Icha
Icha pun menahan senyumnya dan membantu Adit berdiri, tak lupa ia pun membisikkan sesuatu tepat di telinganya " Gimana Jiu-jitsu nya? makanya jangan macam-macam " ucap Icha dengan sorot mata tajam menatap Adit.
"Benar dugaan ku Jiu-Jitsu!! batin Adit
" Kamu tuh jangan suka ngelamun Adit, kalau capek butuh istirahat lebih baik pergi ke UKS, bukan malah selonjoran disini, ya kan Bu"
Icha hanya mengangguk membenarkan ucapan Bu Dewi,
"Bu ada yang mau saya obrolin" ucap Bu Dewi dengan menatap Adit, seakan memberi kode untuk Adit segera meninggalkan mereka berdua.
Tapi memang dasarnya kurang peka, Adit justru dengan santainya duduk di kursi ujung ruangan tersebut.
__ADS_1
"Bu saya mau ngobrol" ucapnya penuh penekanan.
"Iya Bu, monggo silahkan duduk. ucap Icha mempersilahkan
" Bu saya mau ngobrol" ucap Bu Dewi mengulangi pernyataannya.
"Ya ampun apa sih mau nya Bu Dewi" batin Icha mulai jengah.
Tapi untung lah Icha dengan cepat menemukan masalahnya, pantas saja Bu Dewi tidak segera mengutarakan sesuatu, jika masih ada Adit yang duduk santai memandangi keduanya. dengan sigap Icha pun menggeret Adit keluar dari ruangan.
"Nanti kita obrolin lagi di rumah! "ucap Icha setelah berhasil mengantarkan Adit keluar ruangan, segera ia menutup pintu tersebut dari dalam untuk jaga-jaga saja biar Adit tak menerobos masuk.
Icha pun menarik nafas dan menghembuskan secara perlahan, Ia tak habis pikir kenapa hari ini Adit bertingkah seperti itu, dan Ia pun tak tahu apa yang akan diutarakan oleh Bu Dewi kali ini.
Mereka berdua duduk berhadapan, Bu Dewi lah yang memulai percakapan kali ini, ia dengan gamblang mengutarakan maksud kedatangan nya,
"Jadi Bu saya ada kabar baik buat Bu Icha, jadi kebetulan saya punya kenalan yang lagi nyari Guru yang bisa diikutkan dalam seleksi beasiswa S2 Bu, dan saya jadi kepikiran sama Bu Icha" ucapnya dengan antusias
"Wah menarik sekali Bu, saya juga pingin lanjut S2 kalau ada kesempatan" s
"Ambil aja Bu, InsyaAllah seleksinya tidak memberatkan.
" Baik Bu insyaallah saya pertimbangan, saya Izin ke suami dulu ya" ucap Icha keceplosan
"Suami?" tanya Bu Dewi dengan mata bulat
Bukan hanya Bu Dewi yang terkejut bahkan Icha pun juga terkejut dengan apa yang baru saja Ia ucapkan.
"hahahah" tawa Icha mencoba mengalihkan Bu Dewi.
"Saya salah dengar kali ya Bu, maklum sudah tua, bisa-bisanya saya dengar Bu Icha ngomong Suami," ucap Bu Dewi dengan menggelengkan kepalanya.
"Nah kabar baik yang kedua Bu, kebetulan saya punya ponakan dia baru saja pulang dari luar negeri, nah siapa tahu kan kalian cocok" ucap Bu Dewi blak-blakan.
Icha hanya memberikan senyum kecilnya dan mulai tidak nyaman dengan arah pembicaraan tersebut, tentulah ia bersikap seperti itu, pasalnya saat ini statusnya jelas bahwa ia adalah istri dari Adit. Yap dia adalah perempuan yang sudah bersuami.
Tet Tet... Tet...
Bunyi Bel tanda bahwa waktu istirahat telah usai, bagi Icha Bel tersebut merupakan jadi penyelamat dirinya, dan setelah berbincang sedikit Bu Dewi pamit untuk mengajar.
"Kenapa Bu Dewi lucu banget sih, apa enggak keliatan kali ya aku sudah bersuami haha, apa mungkin karena masih perawan jadi auranya tidak terlihat? kekeh nya saat bermonolog sendiri.
"Apa mungkin ini saatnya kita berdua harus membicarakan akan masa depan kita, karena kita tak akan bisa menjalani pernikahan ini seperti ini selamanya bukan?"
___________________________________________
..."Kalau Readers ada diposisi Icha kira-kira apa yang akan kalian lakukan?"...
___________________________________________
^^^Happy Reading semua.. 🤍^^^
^^^ ^^^
^^^Bunda Ayu^^^
__ADS_1