
Pagi menyapa,
Udara dingin terasa menusuk, , terlihat embun membentuk pola di rerumputan, kicauan burung saling bersautan menyambut mentari yang masih malu-malu menampakkan sinarnya.
Naya sudah bangun bahkan sebelum adzan subuh berkumandang, Ia sudah disibukkan dengan setumpuk pekerjaan rumah yang menanti untuk segera dieksekusi.
Dengan telaten dan penuh kesabaran menjalani pekerjaan tersebut. Ia sadar itu bagian dari tugasnya melayani suami.
Pagi ini Naya berencana memasak menu sarapan sederhana, hanya nasi pecel serta telur balado ditambah gorengan sebagai pencuci mulut.
"Semoga mas Radit suka" batinnya penuh harap
Terdengar suara Adzan subuh telah berkumandang, ia segera menghentikan aktivitas nya kemudian membangunkan Radit untuk segera melaksanakan sholat, dan itu sudah menjadi kebiasaannya sedari dulu.
Agak berat memang tapi Ia dengan lembut membangunkan suaminya,
"Mas, Mas kita sholat jama'ah yuk" Ajak Naya dengan sedikit menggoyangkan tubuh Radit yang masih tertidur pulas di atas kasur.
Masih belum ada jawaban, Naya tak menyerah dibangunkan nya berulang kali, hingga akhirnya Radit terbangun dan segera menuju ke kamar mandi.
Kegiatan mandi nyatanya ampun membuat mata yang sebelumnya terpejam seketika terbelalak, "tiada yang lebih menyegarkan dari pada mandi pagi" ucap Radit
Mereka melaksanakan sholat berjamaah dengan khusuk dan selanjutnya sarapan bersama, sepi tidak ada percakapan hanya terlihat dengan jelas jika ada sesuatu yang mereka berdua sengaja simpan dan belum siap untuk diungkapkan satu sama lain.
Setelah sarapan Naya pamit untuk masuk kuliah, hari ini ia menolak untuk diantar Radit, banyak alasan yang dilontarkan mulai dari ada agenda sampai harus mampir ke suatu tempat untuk membeli barang-barang serta alasan lain yang sengaja Naya buat-buat.
Radit tak ingin memaksakan kehendak, " mungkin Naya perlu sendiri " batinnya
Mereka keluar rumah bersama namun dengan tujuan berbeda.
Ada apa dengan Naya?....
Batin Radit berulang kali, apakah ia berbuat salah?"
Masalah Naya ternyata menambah beban pikiran nya akhir-akhir ini.
Perubahan sikap Naya sendiri sebenarnya disebabkan oleh Radit. kemarin tanpa sengaja ia mendengar Radit sedang asyik berbincang dengan seseorang melalui telepon.
Mereka nampak akrab, dan sesekali saling melempar gurauan. Naya tak masalah akan hal itu, tapi ada obrolan mereka yang menusuk hati Naya, pedih itu yang dirasa.
Radit dengan entengnya berucap jika menikah dengan Naya bukanlah pilihan, namun keterpaksaan yang harus ia jalani, Yap satu kata "Keterpaksaan"
Miris bukan!!!
Naya menahan tangis di balik tembok, hatinya kalut tak mampu berucap. Hanya mendung yang menyelimuti hati nya.
"Abah, kenapa nitipin Naya pada Mas Radit" isaknya penuh dengan penyesalan.
"Naya bisa hidup sendiri Bah, tanpa orang lain, kalau seperti ini bagaimana hidup Naya, terikat pernikahan , bukan bahagia yang di dapat ia justru harus menahan perih yang entah kapan akan hilang".
Naya mengendarai motor kesayangannya menuju ke kampus, saat ini ia sudah memasuki semester ke enam, dosen sudah memberikan nasehat kepada para mahasiswa agar segera menyicil mengerjakan skripsi, agar nantinya tidak keteteran diakhir.
Naya pun juga merasa ada amanah besar dipundaknya, sebagai penerima beasiswa, kampus juga menekan dirinya untuk bisa menyelesaikan kuliah dalam waktu 3,5 tahun atau bisa dibilang semester tujuh nanti ia harus sudah bisa lulus. Satu bulan lagi.
Naya sebenarnya juga ingin menuntaskan hal itu, tapi bagaimana bisa saat ini pikirannya bercabang, tak hanya fokus kuliah tapi juga harus memikirkan nasib pernikahan nya dengan Radit.
"Ya Allah bantu Naya"
"Eh bengong aja sih Nay, kamu punya hutang?" goda Bayu, Satu-satunya laki-laki yang berani mendekati Naya meskipun sudah ribuan kali Naya tolak mentah-mentah, tapi bukan menyerah justru semakin menempel pada Naya.
__ADS_1
"Eh enggak Bay, aku endak punya hutang kok" balas Naya Polos menampik tuduhan Adit.
"Eh jangan dianggap serius dong, ini namanya becanda Nay, " Tanpa permisi Bayu segera duduk bersebrangan dengan Naya tak lupa ia menyodorkan sebungkus minuman kotak yang ia beli dari kantin tadi.
"Minum dulu, biar tenang, kamu lagi ada masalah? cerita sama aku, pundakku masih kuat kok menjadi sandaran hidupmu" ucap Bayu malu-malu
"Iya namanya juga hidup, pasti ada masalah bukan? " jawab Naya sopan.
Awalnya Naya agak canggung dengan Bayu, karena ia sadar tidak ada pertemanan antara lawan jenis jika salah satu tidak memendam rasa. Tapi mau bagaimana lagi Naya sudah ribuan cara buat menjauhi Bayu selalu gagal, bukannya benci justru Bayu dengan terang-terangan mengatakan jika dirinya semakin tertarik dengan Naya. Agak gila memang Bayu ini.
Mereka asyik berbincang di meja kantin sembari menunggu mata kuliah selanjutnya.
"Oh jadi itu alasannya, syukurlah" gumam Radit saat memergoki kedekatan keduanya.
Tidak ada amarah, justru Radit merasa bahagia saat melihat Naya terlihat bahagia bersama pemuda itu, apakah Radit tidak cemburu?....
"Sebentar lagi tugasku selesai" ucap Radit kemudian meninggalkan keduanya.
Entahlah apa yang sebenarnya terjadi pada Radit! bukankah waktu itu ia bilang mulai jatuh cinta dengan Naya!! dan saat ini mengapa ia melepaskan Naya? ,
_____ ____ ____
_____ ____ ____
Adit dan Icha terpaksa harus kembali ke rumah mereka sejak Pagi, mereka mengendarai motor, sementara mobilnya ia tinggal disana.
Udara sangat dingin, dengan erat Icha memeluk Adit agar suhu badannya tetap hangat dan yang terpenting agar Icha tidak jatuh terpental dari Motor Adit tentunya.
Hari ini adalah hari yang mendebarkan bagi keduanya, bagaimana tidak setelah tragedi kemarin ia harus siap menghadapi anak-anak serta para guru di sekolah, mereka pasti menuntut penjelasan dari kita berdua.
"Cha kalau kamu belum siap, kita bisa bolos untuk hari ni" Ucap Adit sembari menyantap nasi uduk yang mereka beli tadi.
Seulas senyum terbit di wajahnya, ia pun dengan lahap menyantap makanannya bersama Adit di meja makan.
Selepas sarapan Adit bertanya kepada Icha, apakah ia akan tetap berangkat sekolah atau perlu waktu untuk menenangkan diri sebelum nanti menghadapi hal-hal yang tidak terprediksi sebelum nya.
"Kamu percaya aku kan? So kamu enggak boleh takut bukankah kita sudah menikah, lantas apa yang mau ditakutkan?" Ujar Icha
"Okey" balas Adit ....
"
"
"
Sekolah
Adit seakan ingin menyulut api yang sedang membara, ditengah ramainya pembicaraan tentang dirinya dan Icha, Ia justru sengaja membonceng Icha dan memarkirkan motor mereka di tempat yang ramai,
Sorakan serta siulan kembali mereka dapatkan,
"Cie cie yang udah nikah, pamer teross" ejek salah satu siswa. Adit terus melangkah ke depan, mengantarkan istrinya itu ke ruang kerjanya, dan tak memperdulikan omongan orang-orang.
"Aku masuk kelas dulu ya Cha, nanti kalau ada apa-apa kabarin aku" pamit Adit tak lupa ia juga memberikan kecupan di kening Icha.
Icha mengangguk, ia merasakan kehangatan dari perlakuan Adit kepadanya, " Semoga kita kuat! " doa Icha pagi ini.
Selepas kepergian Adit, baru saja Icha akan duduk Pak Anton dengan tergopoh-gopoh masuk ke ruangan Icha, sembari mengusap-usap rambut klimisnya.
__ADS_1
" Bu Icha jangan salah paham, hanya saja saya butuh penjelasan tentang apa yang sedang terjadi! " lirih pak Anton putus asa, seperti yang kita tahu bahwa pak Anton sangat menyukai Icha.
"Benar pak saya sudah menikah" balas Icha sopan
Raut wajah kekecewaan jelas terlihat di wajah pak Anton, ia tak menanggapi memilih pergi dengan hati berkeping-keping.
"Harus kuat, kamu bisa! Ucapnya menguatkan diri sendiri.
Tanpa di ketahui keduanya ada sebuah pesan berantai yang menyebar di tengah-tengah murid.
" Dukung masa depan Adit, segera ceraikan Bu Icha karena ia tak pantas ada disamping Adit" begitu kiranya.
Pesan ini muncul diinisiasi oleh geng para cewek yang menjadi pengagum rahasia Adit, mereka kompak menolak pujaannya itu di rampas oleh wanita yang sudah berumur.
Meskipun Bu Icha tidak bisa dipungkiri wajahnya masih kelihatan muda, tapi tetap saja itu tidak diterima.
Seperti kali ini, saat Icha akan makan dikantin, para murid tak lagi melempar senyum maupun salam, yang ada hanya tatapan kebencian terpampang nyata di wajah mereka,
"Mereka kenapa sih!? " gerutu Icha dan tetap melenggang pergi
"
"
" Rapat Sekolah"
Lagi, hari ini tiba-tiba Bu Yati memberitahu jika selepas pulang sekolah nanti akan mengadakan Rapat Dadakan, katanya banyak yang harus segera di bahas dan diselesaikan. Icha tak lupa mengirim pesan kepada Adit dan memintanya untuk pulang lebih awal, jangan menanti dirinya.
Para guru sudah ramai berkumpul, tak lama kemudian beliau membuka rapat tersebut, Icha merasa ada aura yang berbeda.
"Bu Icha saya langsung saja, sebenernya ini bukanlah masalah sekolah lebih ke masalah pribadi, tapi masalahnya ini sudah membawa nama baik sekolah kita, benar jika Bu Icha sudah menikah, tapi tolong Bu Icha harusnya bisa jaga sikap, dan bisa jadi contoh anak-anak.
Lantas setelah ini apa yang akan Bu Icha lakukan? " tanya Bu Yati dengan tajam
Icha sedikit tergagap, keringat dingin mengucur, lidahnya kilu ingin rasanya kabur meninggalkan rapat kali ini.
"Bagaimana Bu? " selidik Bu Yati kembali
"Saya akan tanggung jawab sepenuhnya Bu, saya pribadi mohon maaf sebesar-besarnya atas, kejadian ini" ucapnya sambil menunduk.
.
"Maaf tidak menyelesaikan masalah loh Bu? ejek guru yang duduk disebrang sana.
" Saya akan resign jika kehadiran saya disini menganggu dan menyebabkan masalah, saya permisi dulu" ucapnya pilu.
Suasana menjadi agak gaduh, para guru ramai-ramai saling berbisik-bisik, mereka tak menyangka dengan keputusan Icha.
-
-
- Apakah Icha akan resign?
lantas bagaimana jika Adit mengetahui hal itu?
Nantikan kelanjutannya di "Suami Pengganti Icha"
Happy Reading 🥰🥰
__ADS_1