
Besok Naya dan Radit berencana untuk menemui Bunda ke Jakarta, karena kebetulan jadwal mereka berdua sedang kosong.
"Yakin kamu gak papa ketemu sama Bunda?" tanya Radit memastikan kembali, pasalnya ide ini di cetuskan oleh Naya. Bukan Ia tak senang hanya saja Ia takut jika Bunda tidak akan bersikap manis pada keduanya.
"Iya, Mas Bunda kan ibuk aku juga, jadi kita ndak bisa lari terus kayak gini, aku pingin dapat restu dari Bunda Mas" jawab Naya pelan
"Baiklah, Mas paham bismillah semoga Bunda nerima kamu, sabar ya semua akan indah pada waktunya. ucapnya menenangkan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Rumah Adit
-
" Cha, makan yuk" ucapnya dengan mengetuj pintu kamar Icha, pasalnya setelah tragedi tadi Icha tak juga menampakkan barang hidungnya, mungkin ia malu " batin Adit
"Ah, iya makan malam" jawab Icha
Kemudian mereka berdua turun ke bawah, Icha juga memberitahukan jika ada seseorang yang mengisi kulkas, tapi ia tak tahu siapa gerangan.
"Ah, ini Bunda pasti"
"Oh syukurlah, kamu tunggu disini aku panasin bentar ya"
Icha dengan cekatan membuka beberapa jenis makanan yang Bunda berikan, ada rendang, iseng tempe, dan rica-rica ayam dan yang paling penting sambal cabe ijo yang menggugah selera.
Sepuluh menit akhirnya makanan sudah tersaji di meja makan, mereka pun makan dengan lahab , kemudian Adit berujar jika Ia ingin mengajak Icha menemui Bunda besok, itung-itung minta doa sebelum ujian sekaligus ngucapin makasih sudah dikirim makanan enak seperti ini. Tentu Icha langsung mengiyakan ajakan Adit, sebetulnya ia juga sudah amat kangen dengan sang mertua. Singkat cerita akhirnya selepas makan malam merekapun akhirnya tidur karena malam sudah semakin pekat.
____________________________________
Radit dan Naya sengaja berangkat pagi menuju Jakarta, sengaja untuk menghindari kemacetan Ibu Kota. Sedangkan Adit terpaksa menggunakan mobil Icha karena sang Istri tak mau jika naik motor, padahal Adit sangat menikmati saat Icha di bonceng oleh dirinya.
"Ya udah kita naik mobil, asal..... " ucap Adit menggoda Icha
"Enggak usah aneh-aneh kamu!!!!" omel Icha
"Ya udah kalau enggak mau kita naik motor" ucapnya enteng
"Ya udah apa syarat nya! seru Icha
" Em..... mudah sih sebenarnya" ucap Adit dengan malu-malu
"Ya ampun kenapa gak to the point aja sih Adit! ucap Icha dengan kesal
" Ok kamu bebas milih, mau pilih cium aku atau panggil sayang! udah itu tidak bisa di tawar, harga paten!
"What......!! kamu sengaja ya"
"Iya" jawab Adit dengan jujur
"Ya Allah pilihan sulit itu! aku gak bisa!! seru Icha
" Ya udah kalau enggak bisa kita naik Motor" tunjuk Adit ke motor kesayangan yang sudah menanti di garasi.
"Nomor dua" jawab Icha
Tapi aku gak mau manggil sayang,
"Terus...diganti apa dong?" tanya Adit penasaran
"Mas! "
__ADS_1
Pipi Adit nampak memerah, terutama Adit yang terlihat sangat jelas Ia amat bahagia saat Icha akan memanggilnya dengan kata tambahan mas di depan namanya.
"Coba Mas Adit mau denger dong" ucap Adit
"Tuh kan memang kamu sengaja ini mah" ucap Icha kesal
"Di tunggu..... "
" Mas Adit" mendengar Icha mengucapkan kata tersebut ia bersorak ramai,
" Ih ayok berangkat keburu siang, macet!!!"
Icha kemudian terlebih dahulu masuk ke mobil, namun langkahnya terhenti saat Adit berucap
"Oh iya syarat kedua berlaku seumur hidup jadi saat memanggilku jangan lupa selipkan kata MAS ya.." ucap Adit menekankan kata Mas
"Gak mau!"
"Gak boleh nawar! dan tentu jawaban Adit disambut muka cemberut.
Keduanya kemudian melakukan menuju kediaman Bunda tak lupa mereka juga membawa beberapa bingkisan sebagai buah tangan.
Kemacetan membuat mereka harus sabar, salahnya sendiri karena berangkat berbarengan dengan jam pulang kantor! waktu yang harusnya cuma satu jam bisa sampai ke rumah Bunda justru molor hingga dua jam lebih.
Raditlah yang sampai terlebih dahulu, mereka bertiga nampak canggung, Bunda mencoba bersikap tenang menyembunyikan raut kekecewaan, tapi lagi-lagi ia tak boleh egois bukankah Naya adalah pilihan Radit.
Bunda cukup terkejut saat melihat kedatangan mereka berdua, pasalnya kali terakhir bertemu Bunda meminta mereka untuk jaga jarak sementara waktu, tapi sepertinya itu tak lagi berpengaruh.
Bunda dengan ramah mempersilahkan keduanya, bahkan sarapan bersama, selepas itu Radit mengajak Naya berkeliling ke pekarangan rumah untuk melihat-lihat koleksi tanaman.
Mereka sangat menikmati kebersamaannya, tangan mereka selalu bergandengan seakan tak mau terpisahkan satu sama lain, sesekali Radit juga memeluk Naya yang bertepatan dengan Adit dan Icha yang kebetulan masuk halaman.
Matanya tertuju pada kedua bahu Icha yang bergetar dengan tangan yang tiba-tiba melemas. Lalu menatap lurus jauh di depan dimana pria yang ia kenal tengah memeluk pinggang wanita yang notabene adalah kakak iparnya.
Dengan cepat Adit melingkarkan kedua tangan ke wajah Icha.
"Jangan liat" lalu menarik lengan Icha agar berbalik menghadapnya, membawa wanita yang sedang menangis itu ke dalam dekapan.
Lalu mengelus punggung Icha dengan lembut.
Setelah Icha tenang, Adit melepas pelukan, menatap wajah Icha yang terlihat murung.
"Kita pulang ya" ucapnya lembut
Icha mengangguk dengan tangan yang sibuk mengusap mata, mereka berdua kemudian kembali ke dalam mobil. Adit kemudian membuka kunci dan melaju pelan saat Icha sudah duduk di sebelah nya.
Adit melirik Icha, wanita itu hanya menunduk selama perjalanan, sesekali tangannya sibuk mengusap hidung dan mata. tak mengatakan apapun memilih diam membiarkan Icha menumpahkan rasa sesak.
Perjalanan cukup panjang harus mereka lalui kembali, mereka seakan lupa tujuannya hari ini untuk bertemu Bunda terpaksa harus kandas.
Tak terasa mobil yang di bawa Adit sudah sampai ke pekarangan rumah, begitu mesin dimatikan Icha langsung turun tak peduliin Adit, Ia melangkah masuk ke rumah dan segera menuju ke kamar.
Melepas jaket dan melempar tas yang berada di dekat lemari, duduk di tepi tempat tidur kemudian menutup wajah dengan kedua tangannya, tangisnya pecah, tergugu hingga kedua bahunya bergetar.
Entahlah kenapa Icha merasa sesakit ini saat melihat Radit bermesraan dengan Naya, mereka tak salah karena mereka sudah sah menjadi suami istri, tapi entahlah kenapa Icha masih belum sepenuhnya menerima akan hal itu, egois bukan? aku bukanlah wanita munafik yang bilang sudah move on dengan Radit! bayangkan 5 tahun kita bersama tak mudah untuk menghilangkan bayang-bayang dia di hatinya, Ia juga benci akan hal itu.
Terasa sapuan hangat di bahunya, lalu pergerakan kasur yang menandakan seseorang duduk di samping nya. Siapa lagi kalau bukan Adit.
"Sini, ku peluk" meraih tangan yang menutupi wajah, lalu membawa Icha untuk menumpahkan tangis di bahunya. menurut Icha melingkarkan kedua tangannya ke bahu Adit dan menumpahkan tangis di bahu bocah yang saat ini berstatus sebagai suaminya.
Setelah merasa lebih tenang, kemudian Icha mengendurkan pelukannya, dan kembali mengusap mata dan ingusnya.
__ADS_1
Adit hanya menggeleng melihat tingkah Icha hari ini, dan anehnya ia tak cemburu ketika melihat Icha menangisi sang Abang saat berduaan deng istrinya, justru Icha terlihat lucu di mata Adit.
"Mandi dulu, tu muka penuh ingus" titahnya dan merebahkan tubuh di kamar Icha
Merasa malu Icha kemudian segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Lagi-lagi kenapa aku nampak bodoh di mata Adit sih! kenapa juga aku harus nangis kayak gitu! sesalnya dan menggugurkan air hangat di seluruh tubuh.
Cukup lama Icha berada di kamar mandi, saat keluar dari kamar ia heran kenapa Adit malah tidur di kasurnya?.
"Haruskah aku bangunkan?"
"Eh tapi dia pasti capek!"
Dengan langkah perlahan Icha menghampiri Adit, menatap wajah Adit dari dekat, kemudian tersenyum mengingat bagaimana dia bersanding dengan dirinya. tangannya gatel pengin nyubit hidung mancung mancungnya.
"Kamu perfect, cowok idaman ku banget", ucapnya pelan dengan masih memperhatikan wajah imut di depannya itu. " Tapi enggak untuk umur, jalanmu masih panjang, aku tak ingin menjadi penghalang untuk masa depanmu, kurasa kamu lebih cocok jadi adekku" ucapnya kembali dan kemudian memilih keluar kamar.
Sebuah tangan menghentikan langkahnya, "jangan pergi, ku mohon" lirih Adit pelan
"Aku tahu perasaan tidak mudah berubah, tapi aku akan tetap menunggu mu, jadi ku mohon tetaplah disini" lirih Adit.
"Maafkan aku Adit, aku istri paling buruk" balas Icha dengan air mata yang kembali menangis.
"Jangan nangis lagi, ada aku tak akan biarkan kamu menangis karena orang lain" balas Adit dengan menggenggam tangan Icha dengan erat.
******
Pagi menyapa
Sudah menjadi kebiasaan bagi Icha, selalau bangun lebih pagi dari ayam, dan itu sudah menjadi kebiasaan nya dari dulu. Icha menggeliat segera ia bangun karena kebelet pipis.
Dengan mata yang masih sedikit merem beranjak dari kasur dan menutup mulut saat menguap lebar, berjalan pelan menuju kamar mandi bawah.
Segera menurunkan ****** ***** dan jongkok, tangannya bergerak mencari gayung yang biasanya tergeletak tak jauh dari kloset.
Tiba-tiba ada gayung di depan mata yang sengaja di sodorkan oleh seseorang.
nyawa yang masih belum terkumpul sempurna membuat nya menerima gayung itu tanpa berpikir lebih.
setelah selesai Icha pun menaikan ****** ********, Lalu.....
"Aaaaaaaaaaa...... " teriaknya dengan kencang
Adit hanya menutup kuping
"Guyur dulu sana" tanpa ekspresi Adit ngeloyor keluar kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya.
Bukan sengaja memang kebetulan air kran di kamar mandi Adit macet, jadi ia menggunakan kamar mandi bawah, eh malah dapat itu... ehe...
Icha mematung... Mukaku mau di taruh dimanaaaa Tuhannnnnnnnnn"!!!!!!!!!
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
...Jangan lupa Like, vote dan comment ya gaes.... ...
...Biar makin semangat gitu, iya kan...
...Iyain aja dah.... ...
^^^Happy Reading 🤍^^^
__ADS_1