
Abang lagi-lagi tenggelam dalam pekerjaan yang kian menumpuk, tetapi Ia bersyukur tiga hari terakhir, beban kerjanya sedikit berkurang saat Pak Andi alias Pak Direktur menunjuk karyawan untuk menjadi sekretaris nya.
Rara adalah wanita yang diajukan oleh Pak Andi, keputusan sepihak yang diambil Pak Andi cukup berat bagi Abang, karena selama ini dia termasuk orang yang yang menjaga jarak dengan wanita, takut khilaf" kilahnya
Tetapi mau bagaimana lagi ia mau tak mau harus menerima keputusan tersebut bukan? itung-itung buat melihat apakah sekertaris baru itu akan kuat menghadapi sikapnya!
"Ya kita lihat saja!" ucapnya
Sementara di sudah yang lain, terlihat perempuan sedang menatap pantulan dirinya pada sebuah cermin,
"Harus sabar ya, mana senyumnya?" ucap Rara saat memandang wajahnya pada cermin.
Ya awalnya ia sangat bahagia saat Pak Andi memberi kabar jika dirinya naik jabatan, seketika rona bahagia terpancar pada wajahnya, tapi sayang ibarat kata orang dulu "Jangan bahagia terlalu berlebihan!!! ada benarnya."
Senyum bahagia pudar berganti menjadi senyum kecut yang Ia tampilkan,
"Ra mulai hari ini kamu jadi partner kerjanya Pak Bagas ya, saya lihat kalian cocok, semoga kerja sama kalian membawa aura positif bagi perusahaan kita" ucapnya dengan senyum lebar.
_
_
Bagas Aksara Wijaya, Pria yang berusia 29 tahun dengan segudang prestasi yang sudah Ia raih baik skala nasional maupun internasional diusia muda. Pria yang memiliki banyak nama panggilan, Biasa dipanggil Abang saat di rumah, sementara para saudara biasa memanggilnya dengan nama Bang Aksa, sedang di kantor ia lebih dikenal sebagai Pak Bagas.
Pasti kalian bertanya kenapa banyak sekali nama panggilan untuk nya, ya tidak lain agar ia lebih mudah mengenali siapa yang berhubungan dengan dirinya, semakin dekat hubungan nya mana semakin ekslusif nama panggilannya.
Pria dengan sorot mata yang tajam membuat lawan bergidik ngeri itu justru menambah aura tersendiri, meskipun statusnya masih membujang tapi jangan salah banyak wanita rela mengantri untuk mendapatkan hati Bang Aksa!!
Rara dengan langkah berat melangkah menuju kantor atasan barunya itu, ia pun berulang kali menyemangati dirinya untuk tetap bertahan disana meskipun berat!
"ingat Ra, gajinya besar!! kamu bisa pasti Bisa!" ucapnya bersorak ria saat berada di lorong.
"Berisik!! " tegas Pak Aksa yang muncul tiba-tiba dibelakang Rara
Rara yang keburu kaget mendengar suara seseorang ia pun berbalik arah dan
BUG....
Wajah Rara tepat menempel pada dada bidang Abang ...
Ia bahkan mendengar detak jantung si empunya wajah ganteng tersebut, sementara kedua tangan memegang erat pada jaz yang berwarna senada dengan bajunya hari ini, merah maroon.
Abang yang seumur hidup nya tak pernah dekat dengan wanita, apalagi dengan jarak yang cukup dekat membuat nya bergidik ngeri ia pun mendorong tubuh Rara menjauh dan tak lupa ia kibas-kibaskan jasnya seakan jijik dengan Rara.
"Ma-ma af Pak" ucapnya terbata-bata
"Ingat Jaga Jarak!! tandasnya dan berlalu mendahului Rara yang masih terpaku.
" Ih... dikira gue Najis kali ya! we pitak lu!! omelnya yang tak akan terdengar oleh Abang.
Ia pun sedikit berlari mengejar langkah Abang yang sudah berada di ujung sana.
"Kamu....!" tunjuk Abang
" Saya Pak?" ucap Rara
__ADS_1
"Iya siapa lagi, ini kamu taruh paling pojok, sama satu lagi jangan ganggu saya!"
" Baik Pak, saya disini buat bantu bapak kok" Ucap Rara menimpali ucapan Rara
Rara terpaksa harus memindahkan kursi+meja serta beberapa berkas menuju ke pojok ruangan yang berukuran cukup luas itu.
"Dasar Bos sialan, peka kek bantuin gitu! gerutunya dengan pelan.
" Saya dengar loh, kerja tu pake otak bukan mulut" cibir nya dengan masih fokus pada beberapa berkas yang ia baca.
"Kalau ini saya lagi gak pakai otak Pak, Tenaga jauh lebih penting" bantah Rara dengan keringat yang sudah berpeluh-peluh.
"Gak Nanya" sebuah jawaban tajam menancap pada relung hati Rara
"Sialan" makinya dalam hati
Hampir 15 menit Rara bersusah payang memindahkan barang-barang, baru saja akan mencoba untuk duduk sebuah telepon yang terpasang di meja berdering, Buru-buru ia mengangkat dan berkata:
"Selamat Pagi, Mohon maaf dengan siapa disana" jawab Rara ramah
"Kopi"
"Mohon maaf Pak, sepertinya salah sambung"
"Kamu... "
Seakan mengenali suara si penelepon, Rara pun menengok ke arah Abang yang kebetulan sedang memegang gagang telepon.
"Ini saya! Ucapnya penuh penekanan
"Kopi, kalau enggak minum ngantuk" titahnya mengabaikan pertanyaan Rara dan menutup telepon secara sepihak.
Rara pun kembali menatap Abang dengan kesal.
Ia sungguh tak habis pikir kenapa ada orang seperti itu di dunia ini!!!
Ia pun segera menuju ke belakang untuk membuat secangkir kopi, sengaja ia membuat kopi kali ini agak pahit, niatnya untuk memberi pelajaran tapi........
"Saya suka!"
Hah sungguh pujian yang tak seharusnya ia dapatkan, dan tunggu bagaimana bisa manusia menelan kopi sepahit itu?
Asli ada yang salah sama pak Bagas!!!
Hari ini adalah hari pertama kerja bareng sama Pak Bagas, tapi seakan tubuh luar dan dalamnya terkoyak, ia sungguh lelah
_______________________"___
TET TET.... (Anggap aja bunyi telepon kek gitu ya)
Sebuah panggilan datang dari sahabat nya Icha
"Sayangku...... " teriak Rara bahagia
"Aih.. kebiasaan, kamu sibuk banget sih hari ini? selidik Icha pasalnya biasanya sahabat nya ini selalu mengirim pesan yang bertubi-tubi tapi hari ini tak satupun pesan ia dapatkan.
__ADS_1
" Hah! panjang cerita nya"
"Makan yuk, kangen bakso Pak Slamet"
"Ok ketemu disana ya, mo izin dulu sama suami"
"Anjir lagi kasmaran banget sih" kekeh Rara sembari menutup panggilan tersebut.
__
__
__
Sebuah warung sederhana dengan menu bakso beraneka ragam menjadi tempat bertemu keduanya.
Rara sengaja memesan Bakso merecon ekstra pedas kali ini, ia akan melampiaskan amarah yang ia pendam pada atasan barunya dengan makan bakso pedas ini.
"Ih gila itu pedas banget loh" tutur Icha khawatir
"Ada yang jauh lebih pedas lagi! tangkas nya
" Apa?" tanya Icha penasaran.
"Atasan Gue! ucapnya sembari mengunyah bakso yang sudah menyatu dengan cabai
" Pak Andi?
"Bukan lah, ini mah bisa dibilang seratus kali lipatnya Pak Andi! " ungkapnya menyatu dengan amarah dan rasa pedas di lidah.
Icha pun hanya menanggapi ucapan Rara dengan senyum tipis, karena Ia sangat pahan jika sahabatnya ini tipe manusia yang sangat mudah terpancing emosi.
Panjang lebar Rara bercerita mengenai bos barunya itu, bahkan Icha seakan terhipnotis juga ikut merasa kesal pada orang tersebut.
Satu jam lebih mereka menikmati kebersamaan nya kali ini, Ia bersyukur meskipun Icha sudah menikah tapi Ia tak lantas mengabaikan dirinya, Sebelum pulang tak Lupa Icha membungkus dua porsi bakso untuk dirinya dan Adit tentunya.
"Kamu yang semangat ya" Ucapnya dengan memberi pelukan hangat pada sahabatnya itu.
"Makasih, sudah mau jadi pendengar ku kali ini, sayang pake banget pokoknya" ucap Rara memeluk Icha dengan erat.
Keduanya pun berpisah...
|
|
Hari ini semuanya nampak berjalan baik-baik saja, tetapi siapa sangka jika esok ada badai akan menerjang....
Kira-kira apa yang akan terjadi?
Ikutin terus kisahnya dalam novel berjudul "Suami Pengganti Icha", ditunggu episode berikut nya ya... 🤍
..._________________________...
Jangan Lupa Like, Comment dan Vote dong
__ADS_1
...__________________________...