SUAMI PENGGANTI ICHA

SUAMI PENGGANTI ICHA
Aw....


__ADS_3

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 15.00 lebih, sementara di ruang tengah terlihat Icha masih terlelap dalam tidur nya di salah satu sofa disana. Wajah natural tanpa polesan makeup menambah kecantikan yang terpancar secara alami dari wajahnya.


"Hem memang asli sih istriku ini cakep pisan oy" Ucap Adit mengagumi wajah Icha sedari tadi,tanpa sepengetahuan istrinya itu. Sepertinya Adit sengaja memandang Icha lebih intens, sampai-sampai tidak ada jarak diantara keduanya. Namanya juga cowok ya wajar kalau khilaf" hihi ( Batin Adit).


Tangan Adit terulur memindahkan rambut yang menutupi sebagian wajah cantik Icha. Adit pun menyibakkan rambut secara perlahan, dan tanpa sadar tangan Adit menyentuh telinga Icha.


Reflek Kedua mata Icha terbelalak lebar merasakan seseorang telah menyentuh dirinya saat terlelap. Matanya membulat karena tepat saat ia membuka matanya Icha menyaksikan dengan gamblang bahwa sedari tadi ada seseorang memandang nya dengan jarak yang sangat dekat.


"Adit..... !!" teriaknya sembari menutup wajahnya dengan kedua tangannya, dan mencoba berdiri namun na'as berhubung matanya tertutup ia tak sengaja menyundul wajah Adit yang sedari tadi masih diposisi yang tidak jauh dari Icha.


Dan........


"Aw....... " Teriak Adit yang sudah tersungkur ke lantai dengan memegang hidung yang mengeluarkan darah segar.


Melihat sang suami yang sudah tersungkur berniat untuk membantunya, tapi sialnya saat mencoba membantu kaki kiri Icha justru keserimpet karpet bulu yang memang digunakan sebagai alas lantai di ruang tengah. Alhasil tubuh Icha tersungkur tepat sesaat Adit menengok ke arah Icha.


"Bruk" Bunyi yang cukup keras saat tubuh Icha mendarat tepat di tubuh Adit, berat setengah kwintal lebih ambruk ke tubuh Adit tanpa aba-aba.


"Aww....... " rintihnya keberatan


Wajahnya merah menahan beban di tambah hidung yang berdarah menambah penderitaan Adit sore ini.


Bukan Adit namanya, ibarat kata di setiap penderitaan akan ada kebahagiaan yang menanti. Tentu kesempatan ini tidak akan disia-siakan Adit dengan cepat, ia sengaja mengangkat sedikit kepalanya hingga bibir mereka saling bersentuhan.


Icha melotot saking terkejutnya, untuk beberapa saat mereka hanya diam dengan bibir masih menempel.


Detak Jantung keduanya seakan beradu satu sama lain, dan bingung apa yang harus dilakukan.


Saat dua insan ini serasa berada di alam yang penuh romansa, tanpa mereka sadari kejadian itu dilihat jelas oleh Ali sahabat Adit yang sedari tadi menunggu Adit di teras depan. Karena yang ditunggu tak kunjung datang, maka disusul nya kedalam dan... sial ia justru harus menyaksikan adegan 18+


"ampuni Ali ya Allah" batinnya


"Anjir loh Nyet malah asik begituan, kalau mau bikin ponakan itu mbok ya di kamar, atau seenggaknya ganti baju dulu gitu, tu lihat masih pakai seragam loh ya... masih di bawah umur"


gerutu Ali dengan memalingkan wajahnya kearah lain, tanpa memperhatikan jika Icha masih termangu diatas tubuh Adit.


Gegara Panik ia pun refleks menampar pipi Adit sebelah kiri, dan berlari masuk ke dalam kamar. Dengan malu Icha bergegas meninggalkan keduanya tanpa menyapa Ali terlebih dahulu.


"Ih kok mas di tampar sih? " Ucap Adit dengan nada sumringah


"Gue tampol sebelah kanan juga loe ya!" timpal Ali penuh gereget.


"Kak, bantuin adek, adek jatuh, hidung berdarah di tambah pipi adek merah nih" ucap Adit dengan nada yang dibuat dengan gemoy saat meminta bantuan dari sahabatnya yang tidak percaya dengan sikap sahabatnya kali ini.


"Gue tampol beneran lu yak, dari tadi pagi asli loe nyebelin" Ucapnya sembari duduk di sofa belum juga lima menit Icha sudah terlihat dari arah belakang membawa senampan berisi air minum dan cemilan untuk tamu dari suaminya itu.


"Ya Ampun Bu, jangan repot-repot, maaf tadi gak sengaja lihat itu" tutur Ali panjang lebar, meskipun Icha juga tak mengharapkan penjelasan rinci dari Ali.


"Hehehe" balas Icha dengan senyum canggung yang terpancar darinya. Sesekali ia melirik Adit yang masih sibuk memberhentikan laju darah yang terus mengalir dari hidung nya.


"Waduh, keras juga ini kepala" batin Icha panik.


Icha pun segera menuju ke dapur dan meninggalkan keduanya.


"Diminum nyet, istri gue dah bikinin loh" ketus Adit sambil terus memastikan bahwa hidung nya baik-baik saja.


Selepas kepergian Icha, keduanya nampak membicarakan sesuatu yang cukup intens, tapi entah apa yang sedang mereka rencanakan. hanya Allah dan mereka yang tahu pastinya.


(Eh thor lu jangan ngadi-ngadi ya, lu juga tahu lah apa yang mereka obrolin!! *


_


_


Malam Hari

__ADS_1


Rumah Adit


Suasana rumah nampak sepi selepas kepergian Ali, pasalnya sedari tadi kalau tidak salah dengar meraka asyik bercanda, terutama saat menjadikan Adit sebagai bahan guyonan mereka. Jangan tanya Icha kemana pada saat itu! karena sudah bisa ditebak ia masih bertahan di balik dinding kamar dengan deru jantung yang masih belum stabil sedari tadi.


"Dasar Icha, ngapa gampang baper sih" rutuknya pada diri sendiri, sembari mengingat kejadian tadi sore.


Karena Jengah, iapun memberanikan diri keluar kamar, sengaja ia mendekati gagang pintu dan menariknya secara perlahan agar tidak bersuara, dengan langkah berjinjit dan sorot mata yang sibuk kesana-kemari untuk memastikan bahwa ia tak akan bertemu dengan Adit setidaknya untuk malam ini saja.


Selangkah demi selangkah ia tapaki dengan hati-hati, dan terus fokus untuk menghindari target.


Tingkah lucu Icha nyatanya menarik perhatian Adit yang kebetulan baru saja keluar dari gudang. Diikuti lah Icha dari belakang.


"Alhamdulillah, gak ketahuan" ucap Icha lega


saat sampai di dapur dengan aman.


"Ketahuan Apa?" tanya Adit dari arah belakang


"Ya Allah Adit!! " teriak Icha


"Ya Allah Istriku, bikin mas kaget aja sih" balas Adit tak kalah kencang


"Kenapa teriak? " ucap Icha dengan keras


"Lha kamu teriak lo!" balas Adit dengan merendahkan sedikit nada suara nya.


"Kamu habis maling?" tanya Adit asal


"Hah maling enak saja! " jawab Icha ketus


"Ih ngaku aja, kamu habis maling kan! " tuduh Adit kembali


"Serius gak lucu Dit" balas Icha dengan sorot tajam


"Ngaku aja, kamu sudah maling hatiku kan? kelakar Adit memenuhi ruangan malam ini


"Dek, jangan ngambek dong, mas kan cuma becanda, maafin mas ya" bujuk Adit saat Icha hendak meninggalkan dirinya


"Mau minta apa? mas belikan apapun! hari ini gajian loh" bujuknya dengan iming-iming


"Mau bakso Pak Dayat! " Balas Icha singkat


"Ayok Lets Go! balas Adit penuh semangat.


" Kemana? jawab Icha bingung


"Mau Bakso kan?" tanya Adit balik


Icha hanya menganggukkan kepala pertanda mengiyakan apa yang Adit tanyakan


"Nah, makanya Ayok!, buruan ke buru ngantri panjang loh, bentar ambil kunci diatas. ucapnya sambil melesat dengan cepat.


" Dit, Adit " Pnggil Icha berulang kali


" Etdah tu bocah, ngapain musti keluar sih, kan ada aplikasi canggih, ngapa mesti repot-repot keluar, masih antri panjang dan kenapa harus naik motor sih, dasar bocah pinter banget dah nyari kesempatan" gerutunya dengan bibir yang kembali manyun.


Tak selang lama, Adit sudah lengkap dengan jaket serta kunci di tangannya.


"Loh kok adek manyun?, kan mau makan bakso, " ucap Adit saat melihat ekspresi lucu dari Icha.


"Nyebelin" ucap Icha dan berjalan keluar lebih dulu menuju motor kesayangan Adit.


"Loh gak pakai jaket? Dingin loh nanti" tanya Adit.


"Ya peka sedikit dong jadi cowok! " ketus Icha dengan mood parah.

__ADS_1


"Ya Allah, sini sini Mas peluk yak biar anget" ucap Adit seakan-akan mau merangkul Icha.


"Adit... gak boleh nakal ya, masih kurang sundulannya" ucap Icha mencoba berdamai dengan amarah yang sedari tadi menumpuk dalam relung hati, entahlah mungkin ini memasuki masa menstruasi.


jadi bawaannya pengen makan orang!!


"Haha, ni hidung mas udah bengkok loh, ini aja masih sakit banget masak mau disundul lagi sih, sun aja boleh enggak? " ucapnya menggoda Icha.


"Yuk Ah keburu malam, becanda mulu!


" Sip lah, yok naik peluk Mas yang kenceng ya" ucap Adit cengengesan


"Emang paling pinter kamu cari kesempatan ya Dit!" bisik Icha saat naik motor CBR itu


" Tau aja, pegangan loh ya! Adit pun mengendarai motor dan melesat menyusuri kemacetan ibu kota malam ini.


-


-


-


Disisi lain Icha dan Adit sedang menikmati masa bahagia romantis, Rara justru harus lembur bersama atasan yang super nyebelin, yang menginginkan untuk semua bawahannya harus bekerja secara perfeksionis, spesialis dan minimalis.


Dan Rara tentu tidak bisa memenuhi ketiganya, Alhasil dengan setumpuk berkas serta berbagai laporan yang memang harus di tinjau harus ia selesaikan malam ini juga.


Tak hanya Rara, Aksa pun juga turut begadang lembur untuk menyelesaikan kerjaan yang menumpuk sedari tadi.


Di liriknya Rara yang sesekali tertidur, dan nampak muka wanita yang duduk di kursi seberang itu sudah menahan kantuk dan lelah yang teramat.


"Untung aku baik, coba kalau enggak udah pasti dipecat tu orang" pikirnya sembari terus melanjutkan pekerjaannya.


Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, sebuah panggilan telepon dari Mama


"Assalamu'alaikum Bang, abang kok tumben jam segini belum pulang? udah solat belum? makan malam udah? pertanyaan beruntun dari sang Mama tercinta.


" Wa'alaikumussalam Ma, alhamdulillah abang udah solat kok, iya maaf Ma, sepertinya malam ini kerja lembur, lagi banyak kerjaan, Mama dan Papa makan malam duluan saja, nanti abang biar makan di luar saja. " jawabnya santun


"Beneran loh bang, jaga kesehatan ya, ya Udah kami makan duluan kalau gitu, Hati-hati ya kalau pulang, naiknya pelan-pelan saja. Assalamu'alaikum " ucap Mama mengakhiri sambungan telepon malam ini.


Dilirik kembali Rara yang sudah terbangun dan nampak mulai fokus ke layar komputer, "Untung dia bangun! " tutur Aksa dalam hati.


"Sialan ni, pasti sengaja gue dikerjain gegara gak sopan kemarin sama ini orang!! gerutu Rara dalam hati, tak nampak sedikitpun raut bahagia yang ada hanya muka kesal yang menyelimuti wajahnya.


Dering ponsel yang lupa ia matikan pun menarik perhatian Aksa, saat seseorang berulang kali mencoba menghubungi Rara.


" Aish ni bocah, ngapa gak tepat banget dah" kesalnya saat ia tahu yang menghubungi nya adalah Icha sahabat dekatnya.


Tak berselang lama telepon kantor yang berada di dekat Aksa berdering dengan nyaring


"Halo dengan Aksa disini," ucapnya tegas


"Saya Rara Pak! "


"Kenapa harus telepon sih, kita kan se ruangan"


"Saya patuh pada aturan jaga jarak Pak"


"Mohon izin angkat telepon dari pacar saya" izin Rara pada Aksa


" 5 menit, biar gak numpuk dosa" ucap Aksa tegas.


"Aish untung lu cakep kalau kagak gue kepret lu! batin Rara menggebu.


__________________________

__ADS_1


Happy Reading semua, 🐭


__ADS_2