SUAMI PENGGANTI ICHA

SUAMI PENGGANTI ICHA
Bikin gemes


__ADS_3

"Untuk? "tanya Icha bingung.


"Biar aman aja sih," balas Adit


Walaupun masih bingung, Icha tetap menuruti perintah Adit. Setelah menutup pintu, Icha berbalik. Mengambil sabun dan shampoo.


Adit mengulum senyum melihat Icha yang sudah bersiap untuk memandikan dirinya. Saat Icha mulai menyiram tubuhnya dengan air, Adit hanya diam sambil tersenyum lebar, matanya tidak berhenti menatap wajah Icha yang berada di jarak terdekatnya.


"Kok makin cantik ya?" pikir Adit dalam hatinya.


"Bocah, kok bisa banget bikin aku lupa! Rasa kesal ku tadi ke manaaa???!!!! Icha berseru heboh dalam hatinya.


"Adit!" Icha memekik kaget saat Adit tiba-tiba memeluk pinggangnya lalu menyenderkan kepalanya di perut rata Icha.


"Udah basah juga gak papa dong kalau misal kayak gini ." Adit menengadah ke atas melihat wajah terkejut Icha.


Icha memutar bola matanya "Ya terus gimana aku mau sampoin ini?" tanya Icha mulai dongkol, pasalnya busa dari sampo yang ia usap di kepala Adit terkena ke bajunya.


Adit tidak ambil pusing ia hanya melanjutkan menyenderkan keningnya di perut Icha. Ia semakin tersenyum senang ketika Icha melanjutkan menggosok-gosok rambutnya lalu membilasnya. Adit merasakan pergerakan Icha yang agak memiringkan tubuhnya untuk menggapai sabun lalu mulai menggosokkan sabun di punggungnya.


"Kalo kamu nempel terus, gimana aku mau sabunin Dit?" tanya Icha jengah.


"He he he...mau dong disabunin…" Ujar Adit dengan nada menggoda sembari menaik turunkan alisnya.


Icha menghembuskan nafasnya dengan kesal, "Dasar ya bocah sekarang" gerutunya yang masih terdengar oleh Adit pastinya.


Icha berdiri dengan bertumpu pada dua lututnya, wajahnya hampir sejajar dengan perut Adit. "Gila! Ini bocah kok perutnya kotak-kotak? Pasti enak kalo dipeluk he..he.." - Icha membatin.


Salahkan tampang Adit yang kelewat ganteng dan bentuk tubuhnya yang six pack kayak roti sobek, membuat pikiran aneh Icha keluar.

__ADS_1


Icha tidak menyadari kalau Adit melihat pipinya yang merah menahan malu, lalu Icha sedikit berjongkok untuk mengosok sabun di kaki Adit. Saat ia kembali ke posisi setengah berdiri –bertumpu pada lutut– Adit langsung menangkup wajahnya, membuat Icha sedikit terkejut.


"Ca, gosoknya pelan-pelan banget. Junior gue negang," bisik Adit tepat ditelinga Icha, lalu ia mengulum senyum geli.


Icha yang awalnya menyerngit tak mengerti, lalu mendorong Adit pelan. " apaan sih, bajuku kena busa semua nih!" protesnya, "Lagian apa sih junior-junior. Masa ada adik kelas kamu yang negang gara-gara kamu mandi!" ujarnya sedikit kesal karena Adit malah tertawa.


"Polos amat sih, bikin gemes. gimana gak tambah sayang coba " Adit membatin.


"Gimana nggak negang kalo yang mandi ganteng kayak gue?" balas Adit sombong, Icha mencibir sembari membilas busa sabun lalu beranjak mengambil sikat gigi dan pasta gigi.


"Nih sikat giginya." Icha menyodorkan sikat gigi yang sebelumnya sudah ia taruh pasta gigi. Setelah selesai, Icha mengambil handuk lalu membantu Adit berdiri.


"Bisa pake sendiri kan handuknya? Aku mau ganti baju." Ujar Icha.


"Kenapa nggak ganti sekarang?" tanya Adit, lagi-lagi membuat Icha bingung keningnya mengerut. "Emang kamu bisa jalan sendiri ke lemari terus ke tempat tidur?


“Gue bisa tunggu kamu ganti baju di sini atau mau aku yang gantiin baju?" Adit berbisik ditelinga Icha.


Icha menatap Adit horor "Sembarangan!" ujarnya ketus.


"Yailah, toh juga udah liat sama elus-elus badan gue. Masa gue gantiin baju lo aja nggak boleh sih," jawab Adit polos seolah tidak ada yang salah dari ucapannya.


"Aku nggak ngelus-ngelus badan kamu! Kan kamu yang minta dimandiin kayak balita?!" balas Icha tidak terima.


"Abisnya lo udah basah, ya sekalian mandiin gue lah. Nah, sekarang ganti baju sana!" perintah Adit lalu kembali mendekatkan bibirnya ke telinga Icha, "Baju lo nyiplak tuh!" seketika mata Icha membelalak dengan lebar. Dengan gerakan cepat Ia menolehkan wajahnya ke bawah melihat bagian yang dikatakan Adit 'nyiplak' lalu reflek menutup bagian itu dengan kedua tangannya,


"Ngapain ditutup sih? Gue udah liat dari tadi kok," ujar Adit santai.


"Ihhhh..rese banget sih. Kenapa baru bilang sekarang!!!" ujar Icha geram, sementara Adit? Dia hanya nyengir tanpa merasa bersalah.

__ADS_1


_"Gemes banget sih, istri manis ku itu" batin Adit saat Icha berlari meninggalkan dirinya karena malu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Radit menggenggam tangan Naya dengan erat, sebenarnya ia ingin menghilangkan sedikit kekhawatiran istrinya itu, tapi justru sebaliknya semakin ia menggenggam erat justru dirinya lah yang keringat dingin.


"Mas takut?" tanya Naya ragu-ragu


"Sedikit... " jawabnya dengan menatap sekilas istri kecilnya itu.


"Bunda gak marah, nanti kalau marah biar aku saja yang di marahin" gurau Naya


"Siap, nanti kamu yang di depan ya" timpal Radit meladeni gurauan dari istrinya itu. Mereka pun melaju menerobos jalanan siang itu.


_____________________


Sekitar satu jam lebih mereka akhirnya sampai ke tempat tujuan, di sebelah kanan jalan terlihat rumah bercat putih berdiri dengan megah, rumah dengan halaman pekarangan yang luas sudah terpampang di depan mereka berdua, tapi keduanya tak segera beranjak dari mobil.


Mereka di landa kebimbangan, Radit masih fokus menatap ke arah rumah tersebut dengan diam, entah apa yang ia pikirkan kala itu, Naya pun paham jika suaminya itu perlu keberanian untuk bertemu kembali dengan keluarga nya setelah tragedi beberapa bulan yang lalu.


"Nay,.. sepertinya mas butuh waktu lagi" ucap Radit belum siap menghadapi amarah dari keluarga nya itu.


"Baik Mas, aku ngikut mas saja" balasnya sembari menggenggam tangan suaminya itu untuk menguatkan dirinya yang sedang rapuh.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Bakal terjadi perang kedua gak tuh kalau Radit ketemua sama keluarga dan Mantan Calon Istrinya? 🌝


Jangan lupa like, comment dan vote ya, biar Author makin semangat buat up tiap hari hehe🤍

__ADS_1


__ADS_2