SUAMI PENGGANTI ICHA

SUAMI PENGGANTI ICHA
Bosan!


__ADS_3

Pagi ini terasa sedikit muram. Matahari tampaknya sedikit enggan untuk beranjak dari peraduannya. Kabut menggantung tipis di antara udara pagi. Hawa dingin yang menusuk membuat Icha enggan beranjak dari kasur empuknya.


Ia mencoba meraih sehelai kain untuk menghalau udara dingin, namun sayang ia tak jua menemukan apapun, dengan perasaan enggan ia sedikit memaksa untuk membuka mata dan mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya lampu kamar yang lupa ia matikan semalam.


Di liriknya jam beker yang sedari tadi berdering di atas nakasnya, jam menunjuk angka 6.30 WIB, seketika mata Icha membulat, rasa kantuk hilang kabur entah kemana,


Dengan sigap ia berlari ke kamar mandi, meraih handuk dan di sampingnya dan bergegas, selang lima belas menit kemudian, ia sudah mengenakan pakaian casual dan segera keluar kamar menuju dapur.


Saat menuruni tangga indra penciumannya mencium aroma masakan yang lezat, ia sangat yakin jika aroma itu berasal dari dapur. Segera ia mempercepat langkah.


"Sudah bangun?" Sapa Adit yang sudah lengkap dengan seragam putih Abu-Abu yang melekat di badannya.


"Iya, maaf kesiangan," jawabnya malu-malu


"Sini.... " ajaknya sembari mempersilakan Icha untuk segera menyantap sarapan pagi ini.


"Beli dimana? " tanya Icha, pasalnya di atas meja sudah tersaji beberapa menu yang tak mungkin Adit yang memasaknya.


"Sedih,... ini Mas Adit loh yang masak" ucapnya dengan percaya diri


Mendengar itu membuat Icha semakin tidak percaya dengan perkataan Adit,


"Serius, ini aku yang goreng loh, " tunjuk nya pada sebuah piring yang penuh dengan tempe goreng.


"Tempe goreng? " tanya Icha memastikan.


"Ho'oh, itu bukan tempe goreng biasa loh ya, ini tempe istimewa karena dimasak dengan penuh cinta." gombal Adit pagi ini


[[]]


[[]]


[[]]


Hubungan keduanya tidak bisa dipungkiri sudah ada sedikit perkembangan, biasanya makan dalam diam kini perlahan mulai ada obrolan ringan diantara keduanya.


Sekitar sepuluh menit, akhirnya hidangan yang tersaji sudah tandas, Adit yang sudah bersiap untuk pergi ke sekolah merasa ada yang kurang saat menatap istrinya.


"Kamu ndak sekolah?"tanyanya saat melihat penampilan Icha yang terkesan santai karena hanya mengenakan kaos serta celana longgar.


" Oh sudah kok, udah lama juga lulusnya" celetuk nya dan bergegas meninggalkan Adit yang nampak kebingungan dengan jawaban Icha.


"Hah? gimana gimana? aku enggak ngerti maksudmu" teriaknya saat Icha sudah tak nampak sebab sudah berlalu dengan setumpuk piring kotor di tangannya menuju belakang.


"Hati-hati ya Mas! " teriak Icha dari ruang belakang.


Mendengar pesan Icha membuat Adit kegirangan, karena ini kali pertama Icha memanggilnya Mas tanpa ada ancaman dari dirinya. Kedua pipi Adit nampak merona, bahkan ia tak dapat menyembunyikan senyuman dari raut wajahnya.


"Iya Mas berangkat dulu" kekehnya dan bergegas meninggalkan Icha dan terlupa menanyakan kenapa Icha tidak ke sekolah pagi ini.


__


__

__ADS_1


__


Sekolah


Pagi ini terasa berbeda bagi Adit, panggilan sayang dari Icha nyatanya mampu merubah moodnya pagi ini.


Adit berjalan melenggang dengan tas selempang serta sebuah jaket yang sengaja ia letakkan di atas bahunya.


"Widih ada yang bahagia nih, roman-romannya" celetuk Agung saat melihat aura yang berbeda terpancar dari wajah Adit pagi ini.


"Apaan sih!, kepo banget lu nyet! " jawab Adit dengan kesal.


"Wuuuuuu santai bro, slow kaku amat sih, masih pagi juga! " ucap Ali dengan menggelengkan kepala melihat tingkah kedua sahabat nya pagi ini.


"Lu udah belajar? gila stres banget hari ini! Matematika! gaes! asli gue dendam banget sama dia!" keluh Agung


Kali ini Ali sependapat dengan apa yang disampaikan oleh Agung, jujur diapun juga sedikit stres saat akan menghadapi ujian Matematika hari ini.


dan tentu berbanding terbalik saat Agung dan Ali nampak terbebani dengan ujian hari ini, Adit justru nampak baik-baik saja seakan matematika adalah musuh yang bisa dipastikan dapat ia taklukkan dengan mudah.


"Asem banget lu Dit, senyuman mu mengandung hinaan!" oceh Agung


"Ya Syukur deh kalau pada nyadar!" bisik Adit dan segera kabur dari mereka berdua.


"Asem..... " mereka pun segera mengejar Adit yang sudah keburu kabur terlebih dahulu.


-


-


-


Pak Suryo selaku guru pengampu pelajaran Bahasa Inggris terlihat memasuki ruang ujian, tak lupa ditenteng nya lembar ujian dengan senyum sumringah, seakan bahagia menyaksikan murid-murid yang akan berperang melawan ujian Matematika kali ini.


" Selamat pagi anak-anak?" sapanya basa-basi


Langsung saja hari ini kita akan ujian matematika, jangan lupa berdoa, dan pastikan kalian jujur! jangan nyontek apalagi kabur." lelucon garing yang sengaja ia lontarkan untuk para murid pagi ini.


Tak berselang lama lembar ujian sudah di bagikan ke seluruh murid, tertulis dengan jelas berapa durasi yang di berikan untuk mengerjakan soal ujian yaitu 45 menit, serta beberapa peraturan serta tata cara pengerjaan disana.


"Bismillah seg penting yakin!" ucap Agung dengan logat ala orang Jawa. Celotehan Agung ternyata memberi hiburan tersendiri bagi murid-murid.


Sementara murid-murid fokus mengerjakan soal ujian, Icha justru sedang dilanda rasa bosan. Entah sudah berapa kali ia terlihat mondar-mandir kesana kemari, niatnya ingin menyibukkan diri namun justru ia bingung apa yang harus dilakukan selama dua minggu ke depan.


Tak mungkin baginya untuk pulang ke rumah orang tuanya, bisa-bisa ia menjadi bahan ledekan dari bang Aksa kalau ia mengetahui penyebab ia l mendapat scors dari Kepala Sekolah, hanya karena ketahuan pacaran di Sekolah, meskipun pada kenyataan nya Adit adalah suaminya sendiri.


Tak mungkin juga bagi dirinya menganggu Rara, karena ia tahu betul sahabat nya itu sedang banyak tekanan mengahadapi atasan baru di kantor.


"Ih bosan, " keluhnya pada ruang sepi


Untuk menghilangkan sedikit rasa bosan sengaja ia ambil laptop di dalam kamar, tak lupa ia siapkan beberapa cemilan ringan untuk menemaninya menonton drama Korea terbaru.


Tak terasa sudah empat jam lebih Icha terpaku dengan drama baru yang ia tonton, tapi empat jam maraton ini nyatanya membuat ia semakin jenuh dan makin sepi di pagi menuju siang ini.

__ADS_1


Entah sudah beberapa kali ia mengecek ponsel yang sengaja ia letakkan tak jauh darinya, berharap ada seseorang yang akan memberi kabar baik atau setidaknya menemani dirinya saat dirundung sepi kali ini. Tapi sayangnya notifikasi ponselnya sunyi tak ada pemberitahuan sama sekali.


"Ya Allah,... bosen" ucapnya sekian kali


_____


_____


_____


_____


_____


Disisi lain Naya sedang dirundung duka, saat ini ia sedang duduk termangu di kursi yang depan rumah. Tatapannya kosong, nampak sesekali air mata jatuh tak tertahankan. Hari ini adalah 100 hari kematian abah, tak terasa sudah tiga bulan Abah meninggalkan dirinya, meskipun ia tahu Naya tak sepenuhnya kesepian ada Radit di samping nya, tapi siapa yang tahu apakah hanya Naya yang akan bersanding dengan Radit atau justru dimasa yang akan datang ia harus merelakan Radit menemukan cinta sejatinya, yang bisa jadi itu adalah Icha.


Semakin membayangkan membuat tangis Naya tak bisa dibendung, hatinya kalut dan takut jika apa yang selama ini ia pikirkan akan menjadi kenyataan.


Dretttt Dreetttt


Sebuah panggilan masuk ke ponsel Naya, segera ia bergegas mengangkat dan tak lupa ia usap mata yang sedari tadi lebam serta memamerkan senyum palsu pada suaminya,


Radit lah yang menelepon Naya memang bukan untuk membicarakan hal yang penting, tapi bagi Radit sendiri sedikit meluangkan waktu meski hanya ngobrol melalui sambungan telepon adalah strategi yang sengaja Radit lakukan untuk mengenal Naya.


"Sudah makan mas?" tanya pelan


"Kamu habis nangis?" tebak Radit


Seakan Radit bisa melihat Naya dengan cepat menggelengkan Kepala dan berkata " Endak Mas, Naya ndak nangis" Kilahnya


"Oh iya udah jangan nangis ya, nanti Mas sedih, oh iya kamu udah makan? " tanyanya kembali.


"Sudah Mas" jawab nanya singkat


jujur rasanya ingin segera mengakhiri obrolan singkat kali ini, Naya ingin sendiri dalam kekalutan nya.


Saat Radit akan bertanya, segera Naya menghentikan " Mas maaf Naya ada urusan nanti aku hubungi lagi" tandanya dan segera mematikan sambungan telepon tanpa persetujuan dari Radit.


Tut.. tut...


"Nay,... " panggil Radit


"Ya Allah apalagi sih maunya Naya, dipikir aku peramal yang bisa nebak isi hatinya? dasar...!!! gerutunya.


\=\=\=\=\=\=[\=\=\=\=\=\=>


Sebelumnya aku minta maaf kepada para penggemar yang sudah setia mengikuti alur kisah dari Suami Pengganti Icha, maaf kisah ini sempat tertunda beberapa bulan karena satu dan lain hal, yang secara tidak langsung kejadian itu ternyata cukup membuat penulis terpuruk beberapa waktu.


Hidup terus berjalan, meskipun tidak melulu orang yang kita sayang akan membersamai hingga akhir.


tTetap melangkah kedepan, dan pastikan kita senantiasa bersyukur.


Happy Reading semuah🙊

__ADS_1


 


__ADS_2