
"Mbak cari siapa?"
tanya gadis yang berada tepat di samping Adit.
Mendengar pertanyaan itu, seperti meremukkan hati Icha, Air mata lolos begitu saja mengaliri pipinya tanpa bisa disembunyikan.
"Salah, Aku sudah salah sangka, aku terlalu mengkhawatirkan orang yang bahkan sedikitpun tidak mengharapkan keberadaan ku" batin Icha
"Ca—" Icha pun mengangkat telapak tangannya, memberi tanda kepada Adit agar tidak melanjutkan ucapannya.
Sekuat tenaga ia menghapus jejak air mata di pipinya, menarik nafas dalam lalu menghembuskan nya. Memasang tampang tegar nya seperti saat menjadi guru BK, Icha pun berkata
"Maaf, saya salah ruangan."
Dan pergi meninggalkan keduanya dengan senyuman manis yang malah membuat Adit bagai tertusuk ribuan jarum.
"Yee dasar mbak-mbak nglindur kali ya!" gerutu Lia, sedangkan Adit masih diam membisu. ***
_____________________
Jangan salah kan jika Adit tak bisa mengejar Icha, karena sebagian tubuhnya masih terluka, dan tak mungkin juga Adit mengejarnya sementara ada pujaan hatinya disana" pikir Icha
Ali yang sedari tadi menyaksikan ketiganya, Ia merasa bersalah kepada Icha yang sudah datang tengah malam justru harus melihat pemandangan yang harusnya tidak Ia saksikan.
"Mbak.... " Icha mengabaikan panggilan Ali, ia memantapkan langkahnya untuk segera pulang.
Dengan sedikit berlari Ali mengejar Icha,
"Mbak maafin saya , sumpah saya nggak tau kalo kejadiannya bakal kayak gini," penjelasan Ali sarat penyesalan.
Icha pun memaksakan senyum palsunya kepada sahabat suaminya itu, "Kamu gak salah Ali, kamu sahabat terbaik Adit, terimakasih ya sudah jagain Adit, aku tadi cuma terlalu panik saja, hehehe ."
__ADS_1
Kekehan Icha justru terdengar sangat rapuh bagi Ali, "Padahal nggak seharusnya aku terlalu khawatir, toh status ku cuma sebagai istri kalau di rumah. Aku pamit dulu ya, ini beberapa keperluan Adit untuk besok pagi."
Icha mengakhiri ucapannya dengan senyum yang semakin meremas hati Ali lalu memberikan sebuah tas berukuran sedang yang berisi beberapa barang milik Adit.
"Ini semua salah mu Adit." batin Ali. ***
_______________
Icha harus menelan pil pahit kembali, dalam perjalanan pulang ia menumpahkan tangisnya yang sedari tadi ia tahan, bagi nya Adit tak ada bedanya dengan Radit!
Dua laki-laki yang selalu meninggalkan luka yang menganga di hati Icha.
Bayangan pahit akan masa lalu yang selama ini ia kubur rapat, kembali terbuka. Caca bertanya-tanya seburuk apakah dia di mata Abang dan Adik itu? Sejahat apa dia hingga mereka tega berkali-kali menyakiti? Atau yang apa yang telah dilakukannya pada kehidupan sebelumnya?
Pak Sopir hanya diam membisu menyaksikan pelanggan nya, entah masalah apa yang sedang gadis itu hadapi,
_________________________
Tidak ada manusia yang sempurna, setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan. namun Apakah ia juga harus memberikan maaf pada Adit? Bagaimana bisa? Meskipun Icha sendiri belum yakin dengan perasaannya pada Adit, tapi bocah SMA itu tetaplah suaminya yang SAH. Lelaki yang menjadi teman seperjalanannya menuju surga-Nya. Itu artinya Icha tidak bisa terus-terusan berkilah untuk tidak peduli pada apa yang dilakukan bocah itu. Gak bisa begini terus! Harus ada kejelasan lanjut atau berakhir!" Ucap Icha saat merebahkan tubuhnya sambil memandang langit-langit di kamarnya.
"Astaga ngapain juga sih kamu nangis semalaman, ya Ampun mata gue bengkak" ucap Icha saat menatap wajahnya di depan cermin di pagi hari.
Ia pun segera melaksanakan ibadah salat subuh, dan mencoba melupakan kejadian semalam, meskipun siapapun wanita di bumi ini tak akan rela melihat suami sahnya dekat dengan perempuan lain! Ya kali harus ngalah sama pelakor!!!" gerutu Icha dengan emosi yang membara.
Icha baru saja menyelesaikan ibadah shalat Subuh, sebuah panggilan masuk, sengaja Ia tak menjawab panggilan, karena dengan jelas nama dari penelepon, siapa lagi kalau bukan Adit! setelah beberapa kali panggilannya di abaikan, berganti menjadi pesan teks yang masuk silih berganti.
Adit : (04.01) Cha.... Maaf🥺
( Bener-bener ya gak jauh beda sama Abangnya! Ah we lupa mereka kan seDNA!!)
Adit : (04.30) Cha disini dingin
__ADS_1
(Suruh bakar pacarmu saja sana!, biar gosong kamu)
Adit : (05.03) Cha, nanti masak apa?, bubur ayam enak kali ya? disini makanan nya hambar,
(Kasih garam saja! biar berasa!! )
Adit : (05.15) Cha... Adit kangen🤗
Pesan dari Adit tak jua Icha balas, Ia hanya membaca sembari meluapkan amarahnya seakan Adit di hadapan nya! "dasar suami Nakallllllllll"
_______________________
Tapi begitulah Icha di tengah rasa kesalnya pada suaminya itu, Ia tetap harus memastikan bahwa suaminya itu tidak kelaparan pagi ini,
Ia pun dengan cekatan menyiapkan bubur sesuai permintaan Adit melalui pesan tadi.
Setelah beberes ia pun segera meluncur ke Rumah Sakit tempat Adit di rawat.
Ada rasa takut dalam hatinya, Ia belum siap jika harus menyaksikan Adit bersama wanita lain di banding dengan dirinya. Saat berada di depan pintu Ia pun mencoba mengumpulkan kekuatan agar siap dengan apa yang ada di dalam kamar itu!
Ceklek...
Pintu ruangan itu terbuka, membuat beberapa orang di dalamnya menoleh. Mereka merespon dengan ekspresi yang berbeda. Empat sekawan nampak membuka mulut mereka seolah tidak percaya dengan apa yang mereka lihat, Adit tersedak kaget hampir menyemburkan sebagian bubur di mulutnya,
Sementara Lia? Sebelah alisnya terangkat, matanya memindai Icha dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Cewek semalam, ngapain?" Pikir Lia.
_____________
"Gaes kalau kalian jadi Icha apa yang akan kamu akukan? "
°
__ADS_1
°
°