
Icha membisu mendengar pernyataan Adit, hampir saja ia mengatakan iya jika saja Mama tidak datang dan mengetuk pintu kamar mereka.
"Nak Adit istrimu masih tidur? " tanyanya dari luar kamar.
" Sudah Ma, ini baru mandi" jawab keduanya.
"Hah mandi?" tanya Mama memastikan dengan senyum geli melihat tingkah anaknya yang lucu. Suasana menjadi sedikit canggung, keduanya gelagapan salah tingkah.
Adit segera membilas tubuhnya dari sisa-sisa sabun yang melekat di kulitnya.
Singkatnya Icha dibopong kembali menuju kamar dan mereka berdua sholat berjamaah, Sedang Mama setia menunggu di bawah. tak lama kemudian suara mobil memasuki pekarangan, Papa sudah pulang lebih awal kebetulan tidak ada lembur.
"Assalamu'alaikum" sapanya saat memasuki rumah.
Mama segera menyambut kedatangan suaminya dengan senyum lebar, dicium punggung tangan suaminya itu berharap mendapatkan berkah dari Sang Maha Kuasa.
"Wa'alakumussalam Pa, pasti Papa capek ya? ucapnya sembari menepuk kedua bahu suaminya seakan ingin berkata Papa pasti kuat!
" Anak-anak kemana Ma? " tanya Papa
"Oh mereka masih diatas Pa, kalau Aksa ya jelas masih dikantor.
" Papa mandi dulu ya habis itu kita makan bareng " pinta Mama dengan lembut
Disisi lain Icha masih merasakan perih teramat dibawah sana, ketika ia mencoba berjalan langkah nya sedikit berbeda, Adit merasa bersalah telah menghajar Icha terlalu membabi buta.
" Ya Allah, sayang maafin Mas Adit, udah enggak lagi-lagi kayak gini" lirih Adit
"Ih, ini kalau ketahuan sama yang lain gimana? " sewot Icha
Jam sudah menunjuk angka lima, hari sudah sore, sementara Icha dan Adit masih berdebat tanpa akhir. Mama dan Papa sudah menanti di meja makan,
"Mereka ngapain aja ya Pa, udah dari tadi loh enggak turun-turun" ucap Mama dengan kesal
Baru saja beliau akan memanggil, keduanya sudah terlihat menuruni tangga menuju kearah mereka. Ada yang aneh, pasalnya Adit dengan setia memapah bahu Icha dengan sangat hati-hati.
Papa dan Mama menyaksikan adegan itu saling pandang satu sama lain, Why? ada apa? Apa jangan-jangan Adit sudah berhasil menaklukkan Icha? batin keduanya dan diiringi mata yang berbinar.
__ADS_1
"Semoga ya Pa" bisik Mama
Dari kejauhan ternyata sedari tadi ada dua mata yang dengan intens mengamati dengan serius, yap Aksa hari ini pulang lebih awal.
Kedua tangannya diapit dibawah ketiak, kepalanya manggut-manggut. Niat jailnya sudah terdeteksi dari raut wajahnya.
Icha tersentak saat mendapati sang Abang tengah tersenyum jail padanya, ia pun segera memberi kode kepada Adit untuk bersikap lebih natural jangan berlebihan.
"Aish kenapa abang harus pulang cepet sih, biasanya kan malem" bisik Icha
Wah tumben sekali ini abang pulang cepet bahagia banget rasanya, "ungkap Mama tulus.
" Wow jelas dong ma, abang kan juga mau menyambut ponakan baru, iya enggak Dit?" pertanyaan Aksa membuat Adit dan Icha melongo bagaimana bisa si Jomblo akut mengatakan hal semacam itu dengan mudahnya.
Adit tersenyum getir, bingung harus menjawab apa pada abang satu ini.
"Ih abang enggak boleh goda adeknya terus, cepat kesini kita makan bareng"
Aksa nurut dan segera duduk setelah mencuci tangan terlebih dahulu, dilihatnya Adit dan Icha nampak gugup.
"Eh kalian apa enggak kedinginan, sore-sore keramas, habis ngapain? "
Jawaban keduanya terasa lucu, membuat yang lain tertawa.
"Ma abang jail sama adek" Icha merajuk
"Udah-udah makan dulu, udah lama juga enggak makan bareng kayak gini" ucap Papa sebagai penengah diantara mereke semua.
Malam ini terpaksa mereka harus menginap di rumah Mama, diluar hujan ditambah Adit yang masih kelelahan sedang Icha juga harus pemulihan terlebih dahulu.
_______________
Rara tersenyum sumringah, setelah sekian lama akhirnya ia bisa menikmati senja, di pesannya secangkir kopi latte ditemani sepiring kue membuat sempurna perpaduan diantara keduanya.
Saat ini ia melipir disalah satu pojok cafe langganannya, memilih kursi paling ujung menghadap langit yang mulai memerah, birunya langit perlahan lenyap diterkam gelapnya petang. Hasil perdebatan keduanya menghasilkan senja yang elok dipandang mata.
Tak lama berselang suara Adzan berkumandang, terasa damai na menyejukkan hati, bukan Rara tidak taat, hanya saja hari ini ia sedang mendapat tamu bulanan.
__ADS_1
"Bye bye Senja" salam terakhir nya sebelum indahnya senja hilang entah kemana. tak lupa ia juga mengabadikan moment indah itu.
"Alhamdulillah" ungkapnya sedikit merenggangkan tubuhnya, "Ah nikmat mana lagi yang engkau dustakan" ucapnya
Salah satu pelayan menghampiri Rara, maaf kak mau pesan menu lagi?" dilihatnya kue yang ia pesan sudah hampir habis, dan perutnya masih menuntut untuk di beri jatah.
"Saya pesen red velvet sama rainbow cake ya mas" titahnya dengan santun
__ __ __
__ __ __
__ __ __
Radit pulang ke rumah hampir tengah malam, pekerjaan menumpuk ditambah lagi hubungan dirinya dengan Naya sedikit renggang, ia merasa Naya akhir-akhir ini menjauh darinya. Seperti malam ini ia mendapati Naya tertidur menunggu kepulangan dirinya di sudut sofa ruang tengah.
"Assalamu'alaikum"
Naya terbangun ia membenarkan posisi hijabnya yang sudah terkoyak, dengan cepat ia menghampiri suaminya dan mencium punggung tangannya.
"besok-besok jangan tidur di depan, nanti masuk angin," diulesnya pucuk hijab Naya dengan lembut, Naya hanya menunduk, di bawanya tas selempang Radit, kemudian meletakkannya di atas nakas. Sebelum berlalu ia berucap " Mas Radit sudah makan?" aku panasin dulu ya mas! ungkapnya lembut
"Sudah, kamu tidur dulu saja. Naya berlalu tanpa berucap sepatah katapun.
Radit duduk di kursi, sesak di dada tak bisa terucap, ia mencoba melonggarkan ikatan dasi berharap tidak terlalu sesak. Namun sayang rasa sesak terasa kian mencekiknya.
" Ya Tuhan, apa yang terjadi padaku" lirihnya pilu
Naya membaringkan tubuhnya, butiran air mata turut serta menambah pilu dalam hatinya.
"Ya Allah apakah Naya bisa mempertahankan rumah tangga ini? beri Naya kekuatan
Apa yang sedang terjadi pada Naya? Bagaimana nasib pernikahannya? Mampukah ia bertahan?
ikuti kisah mereka terus ya...
Like, comment dan Vote sangat berarti bagi Author, jangan lupa dukungan nya.
__ADS_1
Happy Reading 😘😘😘