
Mungkin Icha merasakan perubahan sikapku yang drastis beberapa hari terakhir, jangan tanyakan mengapa aku bersikap kekanak-kanakan seperti itu.
Bukan tanpa alasan tentunya, tepatnya setelah tragedi pembantingan paling memalukan, aku samar-samar mendengar perbincangan antara Icha dan Bu Dewi,
iya meskipun aku diusir keluar dari ruangan tersebut, justru membuat diriku semakin penasaran,
Sengaja ku dekatkan daun telinga ku menempel pada pintu ruangan BK tersebut.
Mataku terbelalak lebar mendengar percakapan keduanya, bagaimana mungkin Bu Dewi dengan seenaknya akan menjodohkan istriku dengan ponakannya!
Ada sedikit harapan agar Icha menolak atau jujur tentang status nya sebagai seorang Istri, tapi cukup lama aku menguping tak kunjung Icha membuka suara.
Raut kecewa jelas tergambar di wajah Adit,
"Benar, Dia belum sepenuhnya menerima diriku sebagai suaminya" lirih Adit dan berjalan gontai meninggalkan mereka.
__________________________
Pasca tragedi tersebut pikiran ku kacau, semuanya seakan menuntut diriku entah itu tentang persiapan ujian, keluarga, bisnis bahkan persahabatan semuanya kacau.
Teman Empat sekawan selalu menyalahkan sikapku yang tak mengungkapkan fakta bahwa aku sudah menikah pada Lia, dan mereka selalu menganggap ku sebagai orang yang menyakiti hati Icha, bahkan aku sempat bersitegang dengan Agung sepulang sekolah. Karena bagiku dia terlalu ikut campur dengan kehidupan pribadi ku, terutama dalam pernikahan ku!
Sementara disisi lain bisnisku juga sedang kurang stabil akibat suplay kopi sedang ada masalah, Sementara Keluarga? kalian tahu sendiri bukan? rumah tangga yang aku bina dengan Icha tak layak disebut sebagai pernikahan, tapi lebih tepatnya hubungan tarik ulur GAK JELAS!!!
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hari ini selepas menyelesaikan masalah Cafe, Aku pulang ke rumah dengan tubuh yang lelah, ku lihat Icha tengah repot membawa cangkir serta beberapa cemilan di tangannya, ku padang ia dari jarak jauh.
Jujur ingin rasanya ku labuh kan tubuhku padanya, ingin aku mencurahkan rasa lelah ku hari ini, setidaknya aku butuh sandaran untuk diriku terlelap.
Tapi hal itu ku urungkan saat melihat reaksi Icha, yang tak sejalan dengan harapanku, aku pun segera bergegas meninggalkan dirinya yang masih terpaku diujung sana.
"Biarlah aku manahan rasa ini, cukup Ia di sampingku itu lebih dari segalanya" ucapnya pada diri sendiri sebelum terlelap dalam tidur panjangnya.
Suara ketukan pintu memaksanya untuk segera membuka kedua matanya, agak berat tapi perlahan ia menuju ke sumber suara, masih dalam setengah sadar Adit melihat Icha berdiri mematung di depan pintu,
Ingin rasanya ia tarik Icha kedalam dan...
(Hayoo gak boleh mikir Aneh-aneh!"😋)
Singkat cerita kita berdua telah selesai makan malam bersama meskipun masih dengan suasana canggung, tapi aku akan berusaha." Batin Adit.
Tak terasa malam sudah semakin pekat, mungkin bisa dipastikan sebagian makhluk di muka bumi ini sudah terlelap dalam tidur panjangnya,
Adit yang sudah terbiasa bangun pada malam hari untuk bersimpuh sekaligus mencurahkan segala keluh kesahnya di dunia ini pada Sang Pencipta.
__ADS_1
Karena baginya waktu paling tepat untuk mengadu adalah ketika sunyi, banyak untaian doa sengaja ia kirim untuk orang-orang yang Ia sayangi dengan tulus.
Ia pun juga mendoakan secara khusus rumah tangga yang Ia bina agar sakinah, mawadddah dan Warahmah bersama Icha sampai ke pintu surga kelak. Setelah dirasa cukup mengadu ia pun melipat sajadah dan meletakkan ke tempat semula.
Saat akan meneruskan tidurnya, Adit merasakan ada sesuatu yang kurang, yap rutinitas malam yang sempat tertunda saat mereka di rumah Bunda.
Ia pun berjalan dengan sedikit berjinjit menyelinap ke kamar Icha,
Adit bersyukur Icha punya kebiasaan lupa mengunci kamar dan ini menjadi kesempatan buat Adit tentunya, REJEKI NOMPLOK mah... "
meskipun hanya memandangi wajah polos Icha saat terlelap atau sesekali memberi kecupan itu sudah membuat hati Adit terbang ke langit... (Lebay Bet sih Dit!)
Sudah beberapa aksinya ini tidak ketahuan sama Icha, bagi Adit rutinitas malam ini bagai candu yang membuatnya nagih untuk terus dilakukan.
Saat akan melancarkan aksinya lebih nakal, tubuh Icha menggeliat merasa terganggu.
Ia pun segera berlalu keluar dari kamar tersebut.
Tapi entahlah seakan ada sebuah bisikan, bukannya kembali ke kamarnya sendiri justru malah berbalik arah kembali menemui Icha yang masih terlelap.
Sebuah dorongan yang tak biasa ia jelaskan tiba-tiba menguasai dirinya.
Dengan pelan Ia mengangkat tubuh Icha dalam dekapan nya dan berjalan menuju kamar Adit.
Adit tak melepaskan pandangannya pada Icha, seutas senyum kembali menghiasi wajahnya, hanya membayangkan saja membuatnya tersipu malu, la pun semakin mempercepat langkahnya menuju kamar.
Mata mereka beradu dengan pikiran masing-masing!
"Apa yang Adit lakukan?" batin Icha dengan detak jantung mau copot
Saat akan berucap Adit dengan segera menghentikannya dengan mendaratkan ciumannya pada bibir Icha, Kedua mata Icha membulat terkejut dengan apa yang Adit perbuat malam ini.
Tubuhnya seakan tersetrum oleh Aliran listrik dengan tegangan tinggi saat Adit menyentuh dirinya. terasa kaku untuk menolak, sementara Adit masih terus melancarkan aksinya semakin intens. Semakin lama keduanya semakin menikmati. Mereka berdua seakan melampiaskan perasaan yang selama ini mereka pendam.
Adit adalah laki-laki normal, siapa yang tak tergoda saat ada wanita yang sudah halal ia sentuh terpampang jelas didepan mata, Ia pun dengan gesit membuka kaos yang sudah penuh keringat, entah lah padahal malam ini udara cukup dingin tapi saat bersama Icha suhu badan naik seketika.
Separuh tubuh Adit terpampang nyata dihadapan Icha, bahkan Ia pun tak menyangka jika suami kecilnya ini mempunyai tubuh sekekar itu.
Merasa malu Icha pun menutupi wajahnya dengan telapak tangannya.
"Apakah kau malu?" bisik Adit
Icha mengangguk pelan, tidak salah karena ini kali pertama ia melihat laki-laki bertelanjang dada dihadapan nya. Antara malu dan mau bergabung menjadi satu.
Dan ini menjadi kesempatan tersendiri bagi Adit, untuk melancarkan aksi berikutnya, ia perlahan membuka kancing baju Icha satu persatu. Ia pun menyibaknya maka seketika terlihat lah sebuah pemandangan yang cukup membuat nya menelan slavina.
__ADS_1
Jantung nya berdetak semakin cepat, reflek tangannya kanannya menyentuh br* yang masih menutup gundukan kenyal tersebut.
dengan cepat Ia berhasil melepaskannya, Tapi dengan cepat pula Icha menyilang kan kedua tangannya.
"Adit.... malu tahu! " ucapnya tersipu malu, sembari menundukkan pandangan.
Adit pun menarik dagu Icha membuat kedua netra hitam keduanya saling beradu, seakan memberi Isyarat bahwa " Kau tak perlu merasa malu, kita sudah halal"
Icha pun Mengangguk, dan...
Author : (Ya Ampun gaes, Author tak kuasa lah🙊🙉🙈🙊)
Readers: IH APAAN SIH GANGGU SUASANA LU THOR!!! BALIK KE CERITA GAK!!!! 😡😠🤬
Readers: Sabar Sabar kita kan abis maafan di hari Raya!!!!!
Lanjut.......
Bagaikan mendapat durian runtuh, Adit pun dengan lahab ******* Icha, Ia bahkan meninggalkan beberapa tanda cinta di sebagian tubuh Icha.
Saat nafsu keduanya tak terkendali, sesuatu dibawah sana meronta untuk segera di puaskan, Ia pun dengan pelan meminta izin Icha
"Boleh?" ucap Adit pelan
**Seakan tahu maksud Adit, Icha pun mengangguk pelan tanpa perlawanan. Ada sedikit gugup yang melanda keduanya, lagi-lagi ini kali pertama mereka berbuat lebih dengan lawan jenis!!
Senyum Adit kian melebar setelah mendapat persetujuan dari Icha, dalam pikirnya akhirnya setelah sekian tahun menjaga kesucian nya akhirnya hari ini Ia akan mencetak sejarah dalam baru dalam hidupnya.
Saat akan melancarkan Aksinya, Icha kemudian teriak cukup Keras!
"Akhhhhhhhhh... " teriak melengking
"Sayang kan belum... " ucap Adit bingung pasalnya Ia baru akan mulai lantas kenapa Icha teriak?
Icha pun merubah posisi dan terduduk.
Moment manis malam ini kandas sudah saat Adit mengetahui kenapa Icha teriak cukup keras
"Adit aku lagi datang Bulan.....!!!!
Glodak...........
Adit lagi-lagi tersungkur dihadapan Icha,
_____________________________
__ADS_1
Like,Comment dan Vote!!!
wkwkwwkwkwkw🤣**