SUAMI PENGGANTI ICHA

SUAMI PENGGANTI ICHA
RaRa....


__ADS_3

Rara begitu orang memanggilku, tidak ada yang istimewa dari kisah hidup ku, aku terbiasa menjalani hidup layaknya air yang mengalir yang entah dimana ia akan menepi.


Biarlah takdir yang mengaturNya untuk ku.


"Ahhhhharrhrvrgrhj" ucapnya dengan merenggangkan tubuh yang seharian ini tenaga nya Ia kuras untuk bekerja keras.


"Kamu Kuat! ucapnya kembali dengan menepuk-nepuk bahunya seakan ia berucap pada diri sendiri jika ia adalah wanita kuat yang siap menerjang kerasnya hidup.


Perlu kalian tahu, Rara adalah gadis yang bekerja keras meski usianya masih muda, hal itu karena ia bukanlah dari keluarga berada, di usia 7 tahun ia ditinggal oleh orang tuanya, selanjutnya ia diasuh oleh sang nenek hidup pas-pasan di tengah gemerlapnya Ibu Kota.


Kerasnya hidup membuat ia mempunyai tekad kuat untuk membahagiakan sang nenek, tapi apalah daya Sang Kuasa terlebih dahulu memanggilnya.


Dunianya seakan runtuh, tapi ia sadar jika hidup harus terus berjuang, dan itu pesan nenek ia harus tetap bertahan.


Dengan susah payah hidup seorang diri, Jangan ditanya soal Cinta karena Rara pantas mendapat predikat jomblo terawet sepanjang masa. tenang dia masih perempuan normal kok, buktinya setiap melihat cowok ganteng jantungnya selalu berdebar dan seringkali mengagumi nya dari jarak jauh.


Begitulah Rara....


-


-


-


Disinilah Rara menatap gedung tinggi yang sudah dua tahun ini menjadi tempat untuk mencari nafkah. Dengan keuletan dan kerja kerasnya ia berhasil mendapatkan posisinya saat ini, meskipun bukan posisi tertinggi di perusahaan tapi ia cukup bersyukur mampu bertahan sampai detik ini, tapi entah semenjak pergantian manager baru sepertinya tekad bulat untuk bertahan perlahan mulai kendo.


Ia tak bisa memahami bagaimana bisa ada manusia seperti itu, yap siapa lagi kalau bukan Aksa, manusia yang secara terang-terangan menegaskan untuk menjaga jarak dengan dirinya, serta tingkah absurd yang tidak bisa dimengerti oleh Rara.


Entah Rara yang aneh atau Si Gila itu yang memang sinting.


"Wah pagi sekali Mbk Rara" sapa Satpam di depan


"Pak doakan saya bahagia ya" ucap Rara yang jelas membuat Pak Satpam bingung di pagi hari


"Ah, mbak Rara bisa aja, semoga bahagia dan segera mendapatkan pendamping hidup, biar bahagianya sempurna" balasnya dengan sepenuh hati


"Makasih ya Pak, duluan"


Berangkat Pagi sepertinya akan menjadi rutinitas Rara mulai detik ini, pasalnya setelah ia dilantik menjadi asisten manager maka terpaksa ia harus menyesuaikan diri dengan jadwal atasannya itu. Dan hal itu tentu menjadi tantangan terberat bagi dirinya, yang lebih sering bangun kesiangan ketimbang kepagian hehe.


"Besok jam 06.00 pas sudah sampai sini" sebuah perintah tanpa perasaan terlontar dari mulut Aksa yang dingin. Rara tak punya pilihan, karena Ia sadar diri ia tak berhak untuk melawan.


"Baik Pak" balasnya dengan senyum palsu


____________________


"Untung cakep! kalau enggak gue tonjok tuh muka!! dasar tiang listrik" gerutunya saat sudah sampai di dalam ruangan yang nampak masih sepi.


"Tuh kan, kayaknya dia sengaja nyuruh gue berangkat pagi, nah dianya malah belum datang, dasar tiang listrik nyebelin." cerocosnya seakan Aksa mendengar hal itu.


Tak selang berapa lama terdengar suara pintu berdecit, terlihat seorang dengan setelan jaz lengkap berwarna nevi dengan tatanan rambut yang rapi masuk kedalam ruangan tak lupa kedua tangannya memegang dua cangkir kopi hangat hingga aromanya memenuhi ruangan.


Rara terpaku sejenak, hingga akhirnya ia kembali tersadar. "Kebiasaan lama gak ilang-ilang suka khilaf kalau lihat yang bening" batin Rara


"Kamu telat tujuh menit" sapanya di pagi hari.


Reflek Rara melihat jam dan benar apa yang dikatakan si tiang listrik itu jika ia terlambat tujuh menit.


"Maaf Pak tadi saya kesiangan"


"Saya enggak tanya alasan," ucapnya berlalu setelah meletakkan satu cangkir kopi di meja Rara.


Rasa ingin menenggelamkan Pak Aksa jauh lebih besar ketimbang mengucapkan terimakasih untuk secangkir kopi di pagi hari.


"Menyebalkan" gerutunya dalam hati


Tak ingin larut dengan bagaimana menyebalkan nya atasannya itu segera ia menuju ke meja dan lagi-lagi belum semenit ia mendudukkan dirinya di kursi, sebuah telepon yang sudah ia tahu siapa yang meneleponnya pagi ini, siapa lagi kalau bukan orang yang duduk tak jauh dari dirinya, bahkan ia mengira meskipun Ia matikan sambungan telepon nya masih bisa terdengar suara dari penelepon tersebut.


"Sabar" batin Rara


"Ada yang bisa saya bantu Pak?" tak lupa ia juga menarik sudut bibirnya agar tersenyum


"Hari ini saya kirim jadwal saya, kamu bisa menyesuaikan, sama satu lagi besok jangan telat" segera ia menutup sambungan telepon dan terlihat membaca beberapa berkas.

__ADS_1


"Sabar" ucapnya dengan menarik nafas perlahan kemudian menghembuskan nya dengan pelan.


Ia pun segera membuka email dan mulai mengatur jadwal serta menyiapkan beberapa keperluan dari atasannya itu.


Sepertinya hari ini jadwal Pak Aksa sangat padat, dan mau tak mau Rara harus ikut menemani dimanapun ia berada.


____________________


Tak terasa setelah mengikuti beberapa agenda rapat di tempat yang berbeda ternyata cukup menguras tenaga Rara hari ini, seakan soto satu porsi yang ia makan tadi pagi tak lagi bisa mengganjal perutnya.


Ingin rasanya mengajak tiang listrik untuk sejenak mencicipi makanan, atau seenggaknya roti tapi kenapa jadwalnya padat banget!!


"Aku pingin makan" batinnya dengan sekuat tenaga menahan lapar sedari tadi.


"kreuk, Kruekekkkkkkk Kruek" bunyi suara perut Rara lolos saat keduanya sedang berada di dalam lift untuk pertemuan selanjutnya.


"Maaf Pak keluar begitu saja" ucapnya dengan gugup menahan rasa malu.


Terlihat Aksa meregoh sakunya untuk mengambil sesuatu,


"Ini makan" ucapnya datar sembari menyodorkan sebungkus snack ringan.


Dengan cepat Rara meraih itu dengan muka berbinar seakan Aksa adalah penyelamat hidupnya hari ini.


Mobil yang mereka kendarai melesat untuk ke tempat selanjutnya, sementara Rara asyik menikmati snack nya dan melupakan Aksa yang sedari tadi menatap nya dengan tanda tanya.





Hari ini hari yang cukup melelahkan Aksa baru pulang pukul 22.00 WIB dan hal itu sudah menjadi hal biasa bagi dirinya.


"Baru pulang Bang?" tanya Mama saat menyambut anak bungsunya.


"Iya Ma" balasnya dengan mencium punggung tangan sang Mama


"Hem kayak kamu enggak kenal Papa mu aja, biasa nungguin kamu pulang"


"Makan malam dulu, pasti Lapar kan? ajak Mama


" Ya Allah, maaf Ma tadi sudah makan di luar"


"Tumben?" ucap Mama bersamaan dengan Papa


"Ciaaa kompak sekali, Jangan-jangan Jodoh" goda Abang dan mendekat ke Papa.


"Kebetulan tadi makan bareng sama orang kantor, dianya kelaparan Pa" jelasnya


"Tumben?" maksud Mama kok bisa?" tanyanya keheranan


"Ya kan abang manusia, ya butuh makan juga kan?" ucapnya datar


Tentu hal itu merupakan momen yang langka pasalnya selama ini Aksa termasuk orang yang sangat sulit dekat dengan orang lain kecuali dalam hal pekerjaan.


Dan ini anak sulungnya makan dengan orang lain, sungguh momen langka.


Flashback On


Mobil yang dikendarai oleh Aksa dan Rara melaju menerobos macetnya Ibu Kota, dengan muka lelah dan menahan lapar sedari tadi membuat Rara nampak lesu tak bertenaga, bahkan dalam perjalanan pun sesekali Rara terlihat menguap dan tertidur sesaat.


Aksa yang kali ini menyetir mobil sengaja menepikan mobilnya di salah satu kedai tempat penjual Bakso yang cukup terkenal.


"Mbak sudah sampai tujuan" sebuah sindiran sekaligus alarm untuk Rara agar segera bangun dari tidur cantiknya.


"Astaghfirullah, maaf Pak Aksa saya ketiduran" segera ia merapikan penampilannya dan bergegas keluar dari mobil untuk menyusul Aksa yang sudah meninggalkan dirinya terlebih dahulu.


"Bakso" ucap Rara dengan berbinar


Ia membayangkan bagaimana lezatnya ketika bakso itu masuk ke dalam mulutnya.


"Pak saya pesen bakso urat, bakso sapi sama miso (Mie Ayam Bakso) sama teh manis satu ya" ucapnya pada penjual dan melupakan Aksa yang sedari tadi melongo melihat tingkah Rara tanpa rasa jaim.

__ADS_1


"Jam kerjaku udah selesai, jadi gak perlu panggil bapak kan? dan seperti nya umur kita gak jauh beda, jadi santai saja! ucap Rara dengan percaya diri dan bodo amat dengan sorot mata tajam dari Aksa yang mematikan.


Tak selang lama pesanan Rara sudah datang dan sudah memenuhi meja, "kamu enggak pesan?" tanyanya santai.


"Ini bukan pesanan kita berdua? " tanya Aksa dengan bahasa formal


" No No No, It's Mine, kamu pesan sendiri," balasnya dengan sengaja mencomot bakso tepat di depan Aksa.


"Dasar Orang Aneh" gerutu Aksa dalam diam


Ia pun mau tak mau harus memesan sendiri bakso untuk makan malam ini.


"Emang kamu bisa habiskan itu semua" tanya Aksa heran pasalnya dia sendiri hanya memesan satu porsi bakso yang berukuran sedang.


"Habis dong, hari ini aku kerja rodi, jadi wajib banget mengisi tenaga" balasnya dengan masih terus mengunyah.


"Aksa" panggil Rara


Tentu panggilan tersebut membuat kedua alis nya mengkerut, heran bagaimana Rara bisa sesantai ini dengan dirinya padahal ia adalah atasannya ditempat kerja.


"Eh kan udah gue bilang kita santai aja pas di luar kantor" ucapnya menegaskan kembali.


"Lu gak capek apa kerja kayak gitu, jangan memprioritaskan pekerjaan terus sementara hidup lu kurang main, banyak-banyak main gih" ucapnya seakan memberi wejangan pada anak bungsunya.


Kalian tanya Respon Aksa?


Tentu dia DIAM.....


Diam-diam memikirkan ucapan Rara....


"Hemm masih kaku aja sih ya udah besok-besok deh kita makan lagi biar makin akrab" seru Rara.


Semua pesanan Rara sudah habis tak tersisa, entah terbuat dari apa perut Rara.


"Aksa anterin bentar ke depan ya, biar ngirit" kekehnya sesaat mereka keluar dari warung bakso.


Lagi-lagi Aksa tak habis pikir dengan cara berpikir wanita di depannya itu, apa Ia sengaja ingin balas dendam karena Ia tekan? atau justru ini sifat aslinya?


Aksa hanya mengangguk, karena ia tak mungkin membiarkan Rara pulang sendirian karena sudah terlalu malam.


"Nah gitu dong jadi baik, ya udah yuk udah ngantuk" ujarnya kemudian duduk dikursi depan seakan melupakan sejenak tentang jaga jarak yang diperintahkan oleh Aksa selama ini.


Reaksi Aksa??


Mungkin dia terlalu lelah untuk berdebat dan membiarkan Rara bertingkah sesuka hatinya, toh benar apa yang ia katakan, hubungan kerja mereka berakhir saat jam kerja telah berakhir.


"Just Simple"...


Flasback Off


" Nih anak malah senyum-senyum sendiri" ucap Papa yang sedari tadi memperhatikan sang Sulung


"Abang ke kamar dulu ya Pa, " pamitnya meninggalkan keduanya.


_________________


Jangan protes ya jika dalam novel Suami Pengganti Icha ini, Author sengaja memunculkan banyak tokoh serta alur kehidupan mereka,


karena apa?


karena hidup tidak melulu tentang kita berdua, tapi lebih dari itu, ada aku kamu dan mereka pastinya.


BTw, kalian Tim mana nih?


ADIT VS ICHA


RADIT VS NAYA


atau....


RARA VS AKSA?


Ya udah dari pada pusing, happy Reading aja ya... 🍍

__ADS_1


__ADS_2