SUAMI PENGGANTI ICHA

SUAMI PENGGANTI ICHA
Duar....


__ADS_3

Adit benar-benar dalam mood yang buruk, Ia selalu terbayang bagaimana bahagia nya Icha bersama Pak Dion. Ia berusaha menghilangkan pikiran buruknya itu, tapi bisikan syetan lebih kuat.


Akhirnya penantian Adit usai sudah, tepat pukul 15.30 Icha sudah sampai di rumah.


sebelum naik ke lantai atas ia sempatkan untuk menyapa mertuanya yang sedang asyik merawat bunga di halaman luar.


"Udah Pulang? pasti capek, cepat ganti baju nanti kita makan bareng ya, Bunda udah masakin makanan" tutur Bunda panjang lebar


"Wah, makasih banyak Bunda, maaf juga ya tadi ada rapat bulanan jadi telat deh pulangnya"


"Iya gak papa-papa, udah samperin tuh suamimu dari tadi tingkahnya aneh" ucap bunda asal.


"Aneh? maksudnya gimana Bun?" tanya Icha bingung


"Langsung tanya aja sama orangnya" jawab bunda sambil tersenyum.


"Ya udah Bunda, Icha naik dulu ya" pamitnya meninggalkan mertuanya itu.


Icha pun bergegas menapaki tangga,


"Alhamdulillah akhirnya Bunda tahu, kalau anak nya memang aneh! gak jelas ngeselin! gerutunya melampiaskan emosinya.


-


-


-


Tok Tok Tok


Tiga kali Icha mengetuk pintu, untuk memastikan agar yang ada didalam kamar tidak terkejut dengan kedatangannya.


" Kok gak ada jawaban?" tidur kah? ya udah sih masuk aja! "batin Icha


Saat pintu terbuka ia dikagetkan dengan Adit yang berdiri tepat di balik pintu dengan tatapan menusuk.


"Ya Allah Adit, kamu ngapain sih! untung aku gak punya penyakit jantung! omel Icha


bukannya merasa bersalah justru Adit melemparkan beberapa pertanyaan dengan mengintimidasi


" Kenapa baru pulang?"

__ADS_1


"Dari sekolah kan... " belum selesai Icha menjelaskan Adit sudah memotong ucapannya dan lagi-lagi memberondong berbagai pertanyaan.


"Kamu tadi ngapain saja di sekolah?


" Kenapa gak ngasih kabar?


"Tadi dianter Pak Dion?


"Tadi makan apa sama Pak Dion?


" Kayaknya kamu seneng banget sama Pak Dion!


"Sudah? ada lagi? tanya Icha


" Satu aja belum dijawab! balas Adit kesal


"Iya gimana mau jawab! kamu aja gak ngasih kesempatan! , dengerin dan buang pikiran ngacomu itu jauh-jauh


Kenapa aku telat pulang? karena hari ini ada rapat bulanan yang wajib diikuti oleh seluruh karyawan. !"


"Dan benar tadi aku makan sama Pak Dion! salah? kan cuma makan! lagian juga di tempat umum rame, dan gak ada aktivitas lebih!


Sama kamu tuh suka ngaco mana ada aku dianterin Pak Dion! dia aja naik motor! sementara aku? naik mobil Adit."


ucapnya dengan nada meninggi


"Aku gak seperti kamu! aku serius dengan pernikahan ini, meskipun kamu tidak it's Ok"


jadi jangan mikir yang macam-macam,


Kamu tahu? aku tuh capek tahu gak sih, kamu giniin terus!


Aku juga punya hati, bukan hanya kalian! dan tolong setidaknya hargai aku Adit,"


Ucap Icha dengan berderai air mata, ia juga tak tahu kenapa bisa emosi seperti ini, ini bukanlah karakter Icha,


Adit hanya mematung melihat kemarahan Icha, ia sangat menyesal telah berburuk sangka kepada istrinya, padahal Ia sadar betul jika Adit lah yang sudah bersikap kelewatan.


"Cha.. maafin aku.. " ucapnya tulus penuh penyesalan


Icha pun meninggalkan Adit dan bergegas ke kamar mandi.

__ADS_1


Setelah 30 menit akhirnya Icha sudah tampil cantik, meskipun mata sebabnya tak bisa ia sembunyikan.


Ia pun bergegas menuju ke ruang makan, karena sedari tadi Bunda sudah memanggilnya untuk makan bareng.


Di ruang makan sudah ada Adit dan Bunda


"Loh kenapa mata mantu kesayangan Bunda? tanya Bunda saat melihat mata Icha yang memerah


" Ah itu Bunda, tadi kena sabun jadi perih" balasnya berbohong


Adit hanya menenggelamkan dirinya dengan rasa bersalah,


"Oh iya udah nanti coba kasih obat tetes ya" pinta Bunda, Icha mengangguk mengiyakan.


Ting Tong Ting Tong


Bel rumah berbunyi kesekian kali.


"Oh tumben ada tamu, jam segini? ucap Bunda heran


" Biar Icha aja yang bukain Bunda"


"Gak papa nih? "


"Iya" Icha pun berjalan ke sumber suara, ia sangat berharap jika tamu hari ini bisa menghapus kesedihannya,


"Semoga aja abang" batin Icha


"Iya sebentar" sahutnya pada tamu yang sudah menunggu di depan pintu.


Dengan perlahan ia buka pintu tersebut,


DUAR....


Rasa bahagia sirna sudah saat ia mendapati dua orang /sepasang manusia saling menggenggam tangan dengan erat,


air mata Icha tak bisa ia tahan, dengan mudahnya mengalir deras, ia pun gak tahu kenapa bisa seperti ini.


Cukup lama ketiganya membeku dalam diam, tak tahu apa yang harus dilakukan? apakah harus menyapa? atau ....


Mas Radit....

__ADS_1


(ucap Icha dengan nada bergetar menahan tangis)


__ADS_2