
"Siapa yang datang Cha? kok gak di suruh masuk" ucap Bunda dari kejauhan.
Perlahan ia pun mendekat ke pintu masuk, betapa terkejutnya Bunda saat melihat siapa yang datang hari ini,
Radit datang tak seorang diri, Ia dapat melihat dengan jelas jika anak sulung nya itu sedang menggenggam erat tangan wanita yang berdiri di samping nya. Dan Bunda bukanlah orang bodoh yang tak bisa mengartikan makna dari genggaman tersebut.
Hatinya mencelos tak mampu berkata apa-apa dan semakin sakit saat melihat menantu kesayangannya itu sedang berlinang air mata.
Bunda pun segera merangkul Icha, mencoba menguatkan hati nya, agar ia tabah, lagi-lagi tak ada kata yang terucap diantara mereka.
Naya pun hanya mematung dengan rasa bersalah yang teramat,
"Jika saja aku tak mengacaukan semuanya, pasti mereka hidup bahagia." batin Naya
Radit yang pertama membuka obrolan
"Bunda, apa kabar?" tanyanya menahan tangis
tak ada jawaban hanya isakan tangis yang terdengar, wajar
Ibu mana yang tak rindu pada anaknya? sebenci-bencinya pasti tetap rasa sayang lah yang lebih besar.
Ingin rasanya Bunda memeluk anak sulungnya dengan erat, tapi ia urungkan untuk menjaga hati menantunya.
"Icha apa kabar?" tanya canggung
" Sehat Mas," jawabnya dengan canggung pula
"Kamu agak kurusan Dek" ucap Bunda tak bisa menahan lagi saat melihat jika Radit semakin kurus.
" Masih sama Bunda, kenalin Bunda ini Naya istri Radit. ucapnya tanpa ragu.
Mendengar penjelasan tersebut membuat Bunda dan Icha kembali terkejut, mereka tak menyangka jika Radit sudah menikah, bahkan tanpa restu dari sang Ibunda.
Rasa kecewa, bercampur menjadi satu. Ia sudah tak mengenali putra sulungnya lagi.
Bunda kadung kecewa bahkan tanpa melihat menantu barunya itu.
Mereka kembali diam cukup lama, Adit yang sudah lama menunggu meraka akhirnya memutuskan untuk melihat siapa tamu hari ini, sampai-sampai Icha dan Bunda begitu lama meninggalkan dirinya.
"Ngapain mereka malah berdiri di depan pintu doang dah" ucapnya dengan kesal
__ADS_1
Dengan langkah sedikit tertatih menahan sakit, akhirnya Adit berhasil mendekat
matanya sedikit melotot, Ia pun mengucek matanya untuk memastikan bahwa apa yang Ia lihat bukanlah sebuah ilusi semata.
Terpampang jelas Abang yang selama ini lari dan menyebabkan masalah, akhirnya datang menyapa.
"Mas Radit.... " Panggil Adit agak keras
Semua mata pun tertuju pada Adit, Ia pun menghampiri Radit dan memeluknya dengan erat, dari lubuk hati terdalam tak ada satupun kebencian pada abangnya itu. Justru Ia sangat bersyukur dari kejadian tersebut dirinya bisa bersanding dengan Icha.
"Kenapa baru datang sekarang?" ucapnya larut dalam pelukan sang Abang
"Maafin aku dek" balas Radit penuh penyesalan
Setelah beberapa menit mereka pun melepas pelukan
"Kenapa gak masuk?" Mari Mbak masuk dulu gak enak kalau diluar" ucap Adit mempersilahkan keduanya.
"Nanti saja dek, mas bakal mampir lagi"
"Loh kenapa? besok mah urusan nanti, kalau sekarang ya harus mampir dulu, kebetulan kita tadi baru mau makan jadi sekalian aja makan bareng, ya kan Bunda?" ucapnya melontarkan pertanyaan pada Bunda nya itu.
_
_
_
Meja Makan
Suasana yang tercipta benar-benar canggung, tak ada Obrolan hangat mereka memilih diam, kecuali Adit yang berubah menjadi orang yang bisa dibilang agak cerewet dari biasanya.
"Gimana Mas Enak Enggak? pasti kangen masakan Bunda dong" tanyanya dengan sumringah
"Enak dek, masakan Bunda yang terbaik" puji Radit pada sang Ibunda
"Mbak mau telur balado? tanya Adit pada Iparnya itu.
" Makasih dek, nanti saya ambil sendiri" jawab Naya halus
"oh iya Mbak kenalin saya Adit, ini Istri saya Icha dan yang paling ujung sana Bunda, kalau mbak sendiri? tanyanya kembali
__ADS_1
" Panggil saja Naya, Mas Radit sering cerita tentang kalian, " jawabnya ragu-ragu
"Wah Bahaya ini, Mas Radit nyeritain yang baik-baik tentang aku kan? tanya Adit dengan nada bercanda.
Selang beberapa menit akhirnya mereka selesai makan bersama, hari sudah semakin sore, Radit berencana pamit, tapi Bunda mengajak mereka berdua, Radit dan Naya untuk ngobrol di kamar terlebih dahulu.
" Bunda mau ngobrol dulu, Sebelum kalian pulang," pintanya pada anak sulungnya.
Mereka bertiga pun masuk ke dalam kamar, meninggalkan Adit dan Icha dengan rasa penasaran, entah apa yang mau Bunda obrolin.
"Cha.... " panggil Adit membuyarkan lamunan Icha
"Kita keatas aja yuk, kaki ku pingin selonjoran"
Icha tak menjawab, tapi Adit bersyukur Icha bersedia mengikutinya ke kamar.
_
_
_
Di dalam Kamar
"Kenapa takdir hidupku menyedihkan seperti ini?" satu pertanyaan yang lolos begitu saja dari mulut Icha begitu saja.
"Apakah selucu itu takdir mempermainkan hidupku?" tanyanya dengan putus asa
Adit sangat paham apa yang dirasakan oleh Icha, bagaimana orang yang selama lima tahun lebih mengisi hatinya dengan mudahnya berpaling dengan wanita lain tanpa rasa bersalah, dan meninggalkan Icha dengan luka yang teramat perih.
Ia pun mendekap Icha dalam peluknya, seenggaknya ini bisa sedikit menghangatkan hatinya yang terlanjur terluka dengan mantan pacarnya itu.
"Lebih baik kamu cepat mengetahui kebenaran ini, meskipun sakit setidaknya kau tak akan terluka lagi di masa yang akan datang" ucapnya pelan, sementara Icha menumpahkan air matanya pada pelukan suaminya.
Icha tak bisa pura-pura baik-baik saja saat hatinya terluka, dia manusia punya hati punya rasa.
______________________________________________
..._Begitulah hidup kadang kita harus berani untuk menghadapi kenyataan meskipun menyakitkan, tapi percayalah ada pelangi indah setelah badai melanda_...
______________________________________________
__ADS_1