
Akhirnya Icha berhasil kabur dari dua murid tersebut, meskipun butuh waktu yang cukup lama untuk menyakinkan mereka bahwa diantara Adit dan dirinya tidak ada hubungan apa-apa.
Adit yang berjalan mengekor di belakang Icha nampak cemberut dengan raut muka yang sudah tak ada semangat untuk memulai kencan perdana mereka.
"Kamu marah Dit?" tanya Icha menghentikan langkah Adit
"Kalau Iya?" Jawaban Adit semakin membuat Icha semakin merasa bersalah, karena dirinya masih belum berani mengungkapkan pada dunia bahwa mereka sudah sah menjadi sepasang suami-istri!
Tapi Icha terlalu takut akan pandangan orang-orang terhadap mereka berdua nanti.
"Maaf Dit, terpaksa aku bilang gitu, kalau nanti kita jujur bakal rame, terus nanti... "
"Kenapa kalau rame? apakah salah jika kita menikah? kenapa kita harus sibuk dengan apa pendapat orang lain terhadap kita? Terserah kamu aja Cha, mau jujur atau bohong itu pilihan kamu, tapi bagiku kau adalah Istriku dan akan ku tunjukkan pada dunia bahwa kamu adalah istri ku!" ucap Adit dengan perasaan yang menggebu, dan ini kali pertama Ia melihat Adit meluapkan perasaannya.
Ia pun bergegas meninggalkan Icha yang masih mematung diujung jalan.
Adit terlebih dahulu menuju mobil, cukup lama ia berdiam disana, tapi Icha tak kunjung menyusul dirinya, rasa khawatir pun tiba-tiba menghampiri Adit, Ia takut jika terjadi sesuatu pada istrinya.
Ia pun berjalan menyusuri jalanan yang ia lalui, tapi tak kunjung menemukan icha, setelah berputar ke sana kemari akhirnya Ia menemukan Icha sedang terduduk dibawah pohon dengan menenggelamkan wajahnya,
Adit pun perlahan mendekat dan terdengar isakan tangisnya Icha.
"Cha, maaf aku terbawa emosi" ucap Adit sembari merangkul Icha dalam dekapannya.
"Kenapa ditinggal sih, aku kan gak bawa hp" ucap Icha dengan sedikit terisak.
Entahlah sudah bawaan dari lahir, Icha memang termasuk orang yang mudah terbawa emosi dan kadang-kadang juga bertingkah manja layaknya anak kecil.
"Aku tuh gak tau jalan pulang, gak bawa hp, jangan ditinggalin sembarangan dong" rengeknya kembali, seakan yang menjadi penyebab utama dirinya menangis adalah Adit.
"Iya udah, maafin ya, ayuk kita makan aja, malu tuh dilihatin orang-orang"
Ia pun segera menyeka air matanya dan berdiri tegak, dan berjalan meninggalkan Adit
"Cha kok ditinggal? teriaknya sembari memanggil nama istrinya itu.
Adit pun menyusul Icha dengan sedikit berlari kecil, mereka pun meninggalkan taman tersebut untuk mencari tempat makan di sekitar daerah itu.
Hemmm mungkin bisa dibilang kencan kali ini tak meninggalkan kesan mendalam bagi keduanya, pasalnya selepas makan Icha kekeh mengajak Adit untuk segera pulang. Tak ada pilihan bagi Adit kecuali menuruti istrinya bukan? ingat wanita tak pernah salah
_____________________________________
Tempat Kerja Rara
Sudah menjadi pemandangan hampir setiap hari suasana kantor sangat lah sibuk dengan setumpuk pekerjaan yang sudah menanti untuk segera di eksekusi, bahkan hari ini terpaksa para karyawan harus masuk kantor meskipun di hari libur!!
Sementara Abang yang sedang duduk dikursi kebesaran nya nampak berpikir keras, apa yang harus ia perbuat agar kedua orang tuanya tak khawatir lagi akan masa depannya, yang dianggap suram gegara diumur yang sudah tidak mudah lagi tapi masih betah menyendiri.
Yah semalam Papa dan Mama sengaja meminta waktu abang untuk berbicara serius tentang masa depannya nanti, Mereka sangat berharap Abang segera mendapatkan pasangan secepatnya, sebenarnya hal ini sudah biasa Abang rasakan tapi entahlah obrolan semalam seperti nya berhasil sedikit mengetuk hati Abang.
*Flashback
"Bang lihat, ini anaknya Pak Gatot, cantik kan? dia juga lulusan luar negeri loh, Mama udah ketemu anaknya sopan banget Pa," ucap Mama dengan wajah berbinar saat menatap lembaran foto kandidat calon mantunya itu.
__ADS_1
Mama dan Papa sibuk melihat satu persatu deretan gambar wanita cantik hasil rekomendasi beberapa kolega keduanya. Sedangkan Abang terlihat nampak frustasi melihat tingkah orang tuanya.
"Ma.... , InsyaAllah Adek yang cari sendiri ya" ucapnya lirih
"Kapan?" ucap keduanya kompak
"Keburu tua! " celetuk Mama
"Akhhhhhh, Adek stres loh kalau kalian kayak gini," gerutunya dengan kesal
"Iya kamu aja stres apalagi kita ya Pa?" Balas Mama tak kalah kesal.
"Bang mungkin ini saatnya kamu harus memikirkan masa depanmu, lihat Mama dan Papa sudah semakin tua, dan mungkin ini sudah menjadi harapan semua orang tua di dunia ini, saat masa tua melihat anaknya hidup bahagia bersama pasangan nya" ucap Papa sepenuh hati.
"ya Allah boro-boro nikah kenal cewek aja enggak" batin Adit frustasi tingkat dewa.
Tidak salah memang jika Abang tak jua menemukan belahan jiwanya, karena selama ini memang Abang sengaja menenggelamkan dirinya pada pekerjaan, tipe manusia yang gak bisa kalau gak kerja! bahkan motto hidupnya adalah Kerja, kerja,dan kerja!!!!
*Flashback Off
_______________________
"Maaf Pak, anda diminta untuk menggantikan Pak Direktur rapat dengan investor dari Singapura" ucap Miko asisten pribadi Direktur.
"Ah... Baik, Terima kasih atas informasi nya. kira-kira rapat akan dimulai jam berapa?" tanyanya pada pria berjas rapi.
"Dua jam lagi Pak" Setelah memberikan beberapa berkas, dan berpesan bahwa nanti ada salah satu karyawan yang akan menemani dirinya, kemudian pria tersebut pamit mengundurkan diri dari hadapan Abang.
di tengah membaca berkas yang telah diberikan oleh Miko, seseorang mengetuk pintu sembari berujar " Selamat Siang Pak, saya Rara yang ditugaskan Pak Direktur untuk l menemani bapak rapat".
"Iya" jawab Abang singkat, tanpa melihat ke arah Rara sedikitpun.
Melihat respon sangat manager membuat Rara sedikit bingung, ia tak tahu apa yang harus dilakukan, apakah harus keluar ruangan atau bertahan disini menunggu instruksi selanjutnya?
"Kenapa malah bengong?" seru Abang membuyarkan lamunan Rara.
"Maaf Pak" ucap Rara dan melangkah keluar ruangan.
"Loh, mau kemana?" tanya Abang menghentikan langkah Rara
"Kembali ke Meja Pak" jawabnya Polos
" Iya terus kalau gitu kenapa Pak Direktur nyuruh kamu baut nemenin saya? bukankah seharusnya kamu membaca beberapa berkas sebagai bahan jika investor bertanya " Ucap Abang dan meletakkan berkas yang sedari tadi Ia baca.
"Baik Pak" jawab Rara dan mendekat ke arah Abang
"Kenapa kesini?" tanya Abang panik
"Iya mau baca Pak" jawab Rara santai
"Dua meter" seru Abang
"Apanya Pak? " jawab Rara mulai lelah dengan tingkah atasannya itu.
__ADS_1
"Dua meter jarak antara kamu dan aku!" tegas Abang yang langsung di respon oleh Rara dengan ekspresi tanda tanya "
"Asli ini orang Gilaaaaa, dia manusia dari planet mana sih" batin Rara
Tak Ingin memperpanjang masalah dengan atasan yang menyebalkan ia pun terpaksa menuruti titahnya yang meminta untuk jaga jarak!!
Sekitar satu jam lebih, mereka selesai membaca berkas dan segera menuju ke tempat Rapat.
"Kamu mau ngapain?" tanyanya saat Rara hendak masuk ke mobil Abang
"Mau naik Pak?" jawab Rara
"Kamu ingat kan pesan saya? jaga jarak dua meter?"
Rara pun menganggukkan kepala, tapi apalah daya respon Rara mungkin sedikit lambat menyadari maksud tersembunyi dari ucapan Abang, dan tanpa rasa berdosa ia tetap masuk ke dalam mobil berwarna hitam itu.
"Kamu....! seru Abang dengan kesal yang masih berdiri di luar mobil.
" Ayok Pak keburu macet, kita cuma punya waktu 30 menit" ucap Rara terburu-buru.
"Benar Pak, waktu kita cuma sedikit" ucap Miko yang menjadi supir dadakan bagi keduanya.
Tak ada pilihan bagi Abang ia pun dengan kesal masuk kedalam mobil dengan raut muka yang tidak bersahabat.
"Kamu jangan dekat-dekat! " ucap Abang
"Iya Pak, saya ingat! tapi mohon maaf ya Pak, mobil Bapak seperti nya kurang luas! jadi terpaksa kita harus dempet gini! balas Rara dengan nada kesal.
Sepanjang perjalanan obrolan keduanya hanya berdebat tentang jaga jarak! bahkan Miko yang sedari tadi diam pun mau tak mau harus ikut terlibat dalam perdebatan kecil diantara keduanya.
Singkat cerita akhirnya mereka sudah sampai di tempat tujuan, bersamaan dengan para investor.
Mereka pun segera memaparkan beberapa tawaran yang menarik untuk menggaet investor agar bersedia menanamkan modal di perusahaan nya, cukup alot tapi berkat kerja sama yang bagus diantara Abang dan Rara akhirnya, mereka berhasil mendapatkan kontrak.
Senyum ceria jelas menghiasi keduanya,
"Pantas saja dia dipercaya oleh Pak Direktur" celetuknya pelan.
"Jelas dong, saya terkenal Pintar Pak" jawab Rara penuh percaya diri.
Alih-alih merespon Abang justru pura-pura tertidur dan memalingkan wajahnya dari Rara.
"Dasar......!!! batin Rara menggebu.
____________________________
Yap novel " Suami Pengganti Icha" ini tidak hanya menceritakan kehidupan Icha dan Adit semata, melainkan orang-orang yang berada di sekitar keduanya, juga berperan penting dalam pembentukan alur cerita.
jadi pastikan untuk fokus ya...
oh iya Fyi, jika sudah lupa alur ceritanya alangkah baiknya membaca episode sebelum nya... dan nantikan episode selanjutnya 😁....
Terima kasih... 🤍
__ADS_1