
"Kita mampir ke cafe bentar ya" Ajak Adit pada Icha sesaat sebelum Icha siap membonceng.
"Mau beli kopi kah?" tanya Icha
Adit hanya menggeleng, karena tentu bukan itu alasan mengajak Icha ke sana. Memang Adit akui Akhir-akhir ini ia jarang berkunjung ke Cafe meski hanya sekedar memantau perkembangan Cafe, yap dia sedang fokus belajar guna persiapan Ujian Nasional tentunya.
"Kamu duduk di sini bentar ya, aku mau ketemu teman sebentar, kamu bebas pesen apapun dan yang penting gratis buat kamu"
"Tumben? kamu gak sakit kan?" tanya Icha merasa heran
"Iya pesan aja, anggep saja cafe sendiri" kekeh Adit
"Sembarangan, ya udah aku tunggu disini ya"
Icha pun kemudian memesan beberapa menu yang ditawarkan di cafe ini ya meskipun bukan makanan berat tapi cukuplah buat mengganjal perut yang kosong sedari tadi.
Adit kemana Thor?
ya tentu dia menghampiri empat karyawan yang Ia miliki untuk memastikan apakah ada kendala ataupun bagaimana perkembangan cafe selagi ia tak ada disini.
Cukup lama sekitar satu jam sudah Icha menunggu Adit yang tak kunjung menampakkan batang hidungnya, bahkan tanpa Icha sadari ia sudah menghabiskan dua cangkir kopi serta dua cemilan sebagai pelengkap kopi siang ini.
"Ini bocah lagi bahas negara kali ya, lamaa bener" gerutu Icha dengan kesal...
"Lama ya nunggunya?" Ucap Adit sedikit mengagetkan Icha.
"Sudah tahu, pakai nanya, ya udah kita bayar dulu ya"
"Ndak perlu, kita pulang aja" jawab Adit melangkah keluar terlebih dahulu
"Tuh bocah, katanya mau nraktir, hemmm"
Icha pun segera ke kasir untuk membayar tapi justru uang yang ia sodorkan tidak diterima
"Mas, berapa semuanya"
"Gratis Bu" ucap Mas Kasir
"Kenapa Mas, maksudnya saya dalam rangka apa ya? saya tadi pesen banyak soalnya" balas Icha, karena ia juga tahu penjual itu mengharapkan untung, kalau pelanggan di kasih gratis sih seneng, tapi ia juga kasian sama pemilik usaha bisa-bisa gulung tikar" batin Icha
"Karena Ibu Cantik" jawab Masnya dengan mengedipkan mata,
"Astaghfirullah" ucap Icha spontan.
"Mas jangan ngelucu atuh, saya cuma mau bayar" ucap Icha menekankan kembali
Adit yang sedari tadi sudah berada di atas motor merasa heran kenapa Icha tak kunjung kemari,
"Ya Ampun Icha, kamu ngapain sih" terpaksa Ia harus menyusul Icha ke dalam Cafe, dan benar saja Icha masih berdebat dengan Bima salah satu pegawai Adit yang di tempatkan bagian kasir.
"Maaf Mas, mbaknya kekeh mau bayar" ucap Bima saat melihat Adit
"Yuk Cha, keburu sore" lalu menarik Icha keluar
Icha hanya melongo melihat bagaimana Adit mengajak keluar bukannya membayar terlebih dahulu.
"Naik" ucap Adit datar
Mereka berdua menerobos ramainya Ibu Kota dengan sepeda kesayangan Adit dan tentunya dengan Icha yang setia membonceng di jok belakang.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Adit dan Icha kali ini memilih untuk menepi di taman kota tak jauh dari rumah, mereka seperti nya lebih nyaman ngobrol di tempat terbuka ketimbang berdua di dalam rumah.
Mereka duduk di salah satu kursi tak lupa memesan bakso dua porsi yang kebetulan ada Abang Bakso sedang lewat.
Tampilan keduanya tentu menarik perhatian orang yang berlalu lalang di taman kala itu.
Seragam abu-abu serta baju dinas masih menempel di badan keduanya.
"Bu baru selesai ngajar ya?" tanya Abang yang mungkin sudah tidak tahan untuk bertanya kepada keduanya.
__ADS_1
"Iya Bang, kebetulan tadi abis ngajar" balas Icha dengan ramah
"Adek juga baru pulang sekolah?
Adit yang masih linglung menunjuk dirinya sendiri?
" Saya?...
Ah iya Bang, saya baru pulang sekolah " balasnya ramah juga.
"Oh berarti barengan?" tanya Bang Bakso spontan
"Hah? gimana Bang? Icha terlihat kurang nyaman dengan pertanyaan Bang Bakso yang menurut nya terlalu privasi, ah Icha lupa bukankah itu sudah menjadi kebiasaan masyarakat +62 yang suka julid hehe
" Maaf ya Bu, bukan maksudnya saya ikut campur, cuma saya penasaran saja" ucap Abang nya sedikit takut jika pelanggan nya tersinggung.
"Hahaha tenang Bang, saya enggak baper kok" jawab Adit dengan bijaksana
"Tapi saya Iya! " jawab Icha blak-blakan.
Suasana nampak canggung, terlihat sang Abang Bakso merasa bersalah.
"Hahaha, dia bercanda kok Bang, emang ada yang aneh ya sama kita berdua?" tanya Adit kembali
"Maaf ya Bu, sama Mas tapi saya lihat kalian berdua lagi menjalan hubungan, tapi itu gak salah kok cinta itu memang gak pandang status atau umur, dan kalian juga serasi, gak papa misal banyak yang nentang tapi Saya Percaya kalian pasti bisa bersatu." ucap Abang tanpa jeda
Ucapan sang Abang membuat Adit tertawa terpingkal-pingkal karena baginya lucu saat orang lain salah mengartikan hubungan keduanya.
"Makasih ya Bang, doakan kami langgeng"
"Pasti Mas saya doakan"
"Tuh kan Abang e baik loh do'ain biar pernikahan kita langgeng" ucap Adit sengaja meninggikan volume suara nya agak penjual bakso itu mendengar.
"Astaghfirullah berarti kalian sudah nikah?" ucapnya terkejut.
"Maaf mas saya kira kalian pacaran" lirih Abang
Setelah itu suasana sedikit mencair, Adit nampak asyik ngobrol ngalur ngidul dengan Abang tersebut sementara Icha sibuk berselancar di media sosial.
Hari semakin sore, bunyi klakson sesekali bersahutan, kurasa hari ini jakarta masih macet seperti biasanya.
"Cha masih mau disini atau pulang?" tanya Adit saat keduanya memandang langit yang mulai gelap
"Dit sebenarnya ada yang pingin aku obrolin sama kamu" ucapnya dengan mengalihkan pandangan dan menatap Adit
"Apa? tanya Adit
" Kenapa kamu gak cerita?" tanya Icha ragu-ragu
"Tentang...?
" Kita" jawab Icha berjeda
Adit masih terlihat tenang, dengan pertanyaan Icha meskipun tidak bisa ia pungkiri hatinya sedang gusar memikirkan bagaimana kehidupan mereka ke depan seperti apa.
Ketidakjelasan ini membuat mereka seakan tak bisa berbuat apa-apa.
Adit memilih diam,
"Aku tahu kehadiran ku di hidupmu bisa dibilang tiba-tiba,, ya memang aku tiba-tiba hadir di hidup mu, maaf kan aku menjadi batu sandungan untuk masa depanmu. aku tak bermaksud"
Tak terasa air mata yang ia tahan tumpah sudah, dengan masih berlinang air mata Icha mencoba meneruskan ucapannya.
"Jangan bicara dulu," ucap Adit
"Maafin aku" isaknya dalam tangis sore ini
Adit hanya bisa menggenggam tangan Icha karena terhalang meja yang memisahkan keduanya.
Suara adzan magrib menggema, tangisan Icha perlahan mulai mereda, sengaja Adit membiarkan ruang bagi Icha untuk menumpahkan segala risau yang selama ini Ia pendam, mungkin ada benarnya " Menangis lah maka beban di pundakmu akan sedikit terangkat, jangan di pendam atau di tahan kau akan sakit dan mati seorang diri.
__ADS_1
Setelah Icha merasa lebih baikan, mereka berdua memutuskan untuk pulang untuk menunaikan salat dan tentunya untuk membersihkan diri dari keringat yang menempel sedari pagi tadi.
Sementara disisi lain.....
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hari ini tanpa sepengetahuan mereka berdua Bunda berkunjung ke rumah, hanya kebetulan lewat saja jadi tidak ada salahnya kan kalau Bunda mampir,... " begitu pikirnya
Bak rumah sendiri tanpa dipersilahkan masuk oleh tuan rumah, Bunda sudah mendorong dirinya beserta bawaan yang Ia siapkan khusus untuk mereka berdua.
"Mbok nanti ini di taruh di kulkas saja ya, biar gak basi"
"Baik, Bu"... ucap Mbok yang setia menemani Bunda kemana pun Ia melangkah.
" Mbok kok mereka lama ya, mana nanti sore ada arisan lagi" keluh Bunda yang sedari tadi menanti tapi orang yang dinanti justru tak kunjung datang.
"Mau di telepon dulu Bu?" balasnya menanggapi
"Ah, ndak usah Mbok, kita pulang aja, kan cuma mampir"
"mampir, Bagaimana bisa ini disebut mampir? mbok sampai pegel nyiapin ini itu, hemmm" batin Mbok dalam hati
Mereka Berdua akhirnya meninggalkan kediaman Adit dan melesat pergi ke tempat arisan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sepuluh menit akhirnya mereka sampai di pekarangan rumah, Icha terlebih dulu masuk sementara Adit memarkirkan motor di garasi samping rumah.
Rumah adalah tempat pelarian terbaik memang benar adanya, Icha yang sudah lelah merebahkan tubuhnya di atas sofa,
"Loh, ndak mandi?" tanya Adit heran
"Kamu dulu saja, aku capek" lirih Icha
"Emang habis ngapain?"
"Adit, please aku tuh gampang capek, kamu tahu kan aku gak muda lagi, ya bedalah sama kamu! omel Icha
Adit memilih meninggalkan Icha dan naik ke atas terlebih dahulu.
Merasa haus, Icha kemudian dengan langkah berat menuju dapur untuk mengambil air pelepas dahaga.
Dengan mata menahan rasa kantuk ia membuka kulkas dan terkejut saat melihat kulkas dalam rumah sudah penuh dengan beberapa makanan.
"Omooooo" ucap Icha berbinar
"Apa ini mimpi?"
Eh tunggu ini dari Siapakah? bagaimana jika ada racun?
Seketika Icha bergedik ngeri dan bergegas ke lantai atas untuk menanyakan ke Adit.
Karena terburu-buru Icha masuk ke dalam kamar Adit tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Ad...... " ucapannya terhenti saat ia melihat Adit sedang bertelanjang dada dengan handuk yang membalut sampai lutut, rambut basah dan sesekali buliran air jatuh ke lantai menambah aura kegantengan Adit semakin berlipat ganda.
Icha terdiam sesaat dan memandang Adit tanpa berkedip entah antara malu atau terkejut ternyata ia mempunyai suami seganteng itu.
Merasa Icha memandang nya sedikit berlebihan, dengan tetap pura-pura terlihat tenang Adit bertanya.
"Iya Cha ada apa?
" Ah.. anu anu... " ucap Icha gelagapan
"Anu,... ?" tanya Adit heran
"Ah ini, mau ambil ini! ucap Icha sembari mengambil sebuah topi yang menggantung di dinding tepat Icha berdiri.
Untuk menghilangkan rasa malu segera ia mengambilnya dan berlari meninggalkan Adit yang masih kebingungan dengan tingkah Icha hari ini.
"Aish, kenapa mesti kabur sih!!! ucapnya merutuki diri sendiri.
__ADS_1