SUAMI PENGGANTI ICHA

SUAMI PENGGANTI ICHA
Salah enggak sih ?


__ADS_3

Sepanjang perjalanan dari Rumah Sakit Icha hanya diam membisu, Ia akan menemui sahabatnya Rara di salah satu mall terbesar di kota ini.


Sekitar 20 menit, akhirnya ia sudah sampai tempat tujuan, terlihat Rara sudah berdiri di ujung sana dengan wajah sumringah + senyum yang mengembang.


"Habis gajian?" Ejek Icha saat keduanya sudah bertatap muka.


"Ish tahu aja sih,... " balas Rara dengan memamerkan gigi putihnya


"Hari ini banyak diskon, sis, yok keburu amblas!" dengan cepat menarik Icha ke dalam mall tersebut


Dua jam berlalu, Rara sibuk memilih baju dan aneka aksesoris lainnya dengan antusias. sementara Icha terlihat jelas tak ada beban dalam hidupnya. dan tentu saja Rara menyadari hal itu.


Ia pun mengajak Icha ke salah satu Restoran untuk menambah energi yang sudah terkuras tadi.


"Kamu kenapa sih, Cha?" tatapan lu dari tadi kosong tau! " ucap Rara sambil menengguk lemon tea yang ia pesan.


"Lu lagi ada masalah ya? Rara menepuk bahu Icha pelan


" Cerita... "ucapnya yakin


Icha hanya menghembuskan nafas dengan berat.


" Ra, salah enggak sih gue merried sama Adit?" ucapnya terlihat menyediakan


"Ya elah, nih bocah kesambet dimana sih? yang namanya nikah mah gak ada yang salah! pacaran noh yang haram! nikah itu ibadah bahkan menyempurnakan separuh agama" ucap Rara enteng sambil mencomot kentang goreng dengan lahap.


"Ra, gue juga udah tahu kalau itu! serius gue, salah enggak sih gue nikah sama Adit" ucapnya mengulangi pertanyaannya.


"Lu sih, pertanyaan mu itu terlalu absurd! gak cetho!


"Gue cuma ngerasa jadi benalu buat Adit. Dia masih terlalu muda buat nikah. Belum lagi itu pernikahan ini nggak pernah diinginkan dia. Terlebih seharusnya gue itu jadi kakak iparnya." lirih Icha


"Itu cuma pikiran lu kali. Selama ini Adit terlihat fine-fine aja kayaknya. Buktinya dia malah berani ngenalin lo ke sahabat sahabatnya yang lo bilang sering ngerusuh di rumah lo." balas Rara


"Gimana kalo Adit punya pacar?"


"Pacar? Gila aja lo, masa sih Adit masih punya pacar. Buat apa? Udah ada yang halal malah nyari yang haram? Ya Nggak mungkin lah itu," kilah Rara.


"Justru karena itu. "


"Eiittss....jan ngomong gitu ah. merinding gue, tapi memang sih sekarang lagi viral pelakor gitu, bahkan drama Korea juga banyak bet" gurau Rara yang malah ditanggapi serius oleh Icha.

__ADS_1


"Tapi memang kenyataannya gitu. Apa ada definisi lain selain pacaran, kalau cewe sama cowok bermesraan dalam satu ruangan?" ujar Icha dengan mengaduk-aduk minuman nya.


Rara sempat tidak 'ngeh' dengan maksud ucapan Icha yang pembawaannya terlalu santai.


Satu detik


Dua detik


Tiga detik


Rara melebarkan matanya, menatap horor pada Icha – berlebihan memang–tapi… "Jangan bilang lo ada di sana dan lagi lagi cuma masang muka tegang terus bilang..Maaf?" seru Rara heboh


"Terus gue harus apa Rara? Teriak-teriak seperti orang kebakaran jenggot?" Icha menaikkan kedua alisnya.


Rara tak habis pikir! bagaimana bisa Icha bersikap seperti itu lagi!


"Cha lu sadar dong! okelah kalau dulu kan lu status nya masih jadi pacar Radit, wajar kalau pacaran selingkuh! lha Ini Cha..... LOE UDAH NIKAH WOY NIKAH!!! ITU Laki lu kebangetan banget sih!" ucap Rara dengan mengusap wajah dengan gusar.


"Iya mungkin ini takdir gue Ra, lagian gue terlalu tua buat maki-maki anak SMA yang lagi di rundung kasmaran! ucapnya datar dengan minum jus jeruk manis.


" Heran Gue ama lu Cha! asli " ucap Rara semakin frustasi melihat kepasrahan sahabat itu.


Mendengar apa yang diucapkan Icha, sontak membuat Rara berbinar dan melupakan masalah sahabat nya itu.


"Yuks cepet Cha..." ucap nya dengan berlari meninggalkan Icha


_


_


_


Jam sudah menunjukkan pukul 16.00, keduanya memutuskan untuk berpisah dan pulang ke rumah masing-masing. Setidaknya kebersamaan bersama Rara bisa sedikit melupakan permasalahannya dengan Adit pagi tadi.


Setelah selesai mandi dan salat asar, dia pun membuka ponselnya berharap Adit menghubungi nya walaupun hanya sekadar basa-basi, tapi tak ada satupun pesan maupun panggilan dari Adit.


"Sabar, sabar..... " Ucapnya dengan mengelus dada


Tak terasa hari sudah gelap, sengaja Icha habiskan waktunya kali ini untuk menonton drama Korea yang sedang On-going. dan Ia belum ada rencana untuk menjenguk Adit malam ini.


Sebuah pesan masuk ke ponsel Icha

__ADS_1


Adit : (21.00) Cha disini dingin ❄🍃


Adit : (22.54) Cha kamu gak kesini?


Adit : (23.30) Gak bisa tidur 😴


Adit : Cha.....


Tentu pesan tersebut hanya Icha baca,


Setelah membasuh wajahnya dengan air hangat, Icha memulai petualangan alam mimpinya. Berharap akan masalahnya lenyap.


"Pagi Cha....


Pesan Adit menyambut pagi ini.


Icha dengan malas membuka pesan tersebut, dan melanjutkan aktivitas pagi sebelum datang ke sekolah,


___________________


Hari ini seperti biasanya setiba di sekolah, Ia sudah di sibukkan dengan berbagai persoalan /kasus dari siswa yang sedang bermasalah yang harus segera di tangani, meski kadang lelah, tapi Icha mencoba menikmati profesi nya itu.


Saat jam istirahat Icha menerima panggilan dari Bunda


Icha segera menegakkan punggungnya, mengusap layar ponsel untuk menjawab panggilan dari ibu mertuanya itu. Kemudian saling berbalas salam dan sedikit basa basi sebagai pembuka pembicaraan keduanya.


"Kenapa Nggak ngabarin Bunda sih sayang? tanya Bunda


meski tidak melihat langsung tapi Icha yakin saat ini ibu mertuanya sedang mencebikkan bibirnya.


"Emm.. Adit Nggak luka parah kok Bun, dia Nggak mau Bunda khawatir. Kata dokter, sore ini dia udah bisa pulang kok Bund" balas Icha memberi penjelasan


"Jam berapa pulang sekolah?" tanya Bunda


"ini udah mau pulang Bunda,...


"Kalo gitu kamu ke rumah sakit sekarang ya, sebentar lagi Bunda susul. Kita makan siang di sana ya?" pinta Bunda


"Iya Bunda."


Icha tersenyum kecut yang tidak Bunda tahu adalah kenyataan bahwa Icha sangat enggan ke rumah sakit. Setelah berbalas salam, Bunda mengakhiri panggilannya. Icha memang hanya dua kali menjenguk Adit, padahal suaminya itu mengiriminya puluhan pesan yang berisi, menyuruh dirinya untuk datang. Icha sudah terlanjur malas. Dua kali ia menebalkan hatinya, dua kali pula hatinya terkikis sampai tipis. Kali ini mau tidak mau, suka tidak suka ia harus kembali menebalkan hatinya. Baru saja pikirannya beristirahat sekarang harus kembali bekerja. 💔

__ADS_1


__ADS_2