
"Sayangku,... " Ucap Rara penuh haru.
"Idih, apaan sih, lebay banget deh," balas Icha dengan mood yang masih buruk sedari tadi.
"Oh gitu ya kamu sekarang, mentang-mentang udah punya tambatan hati, aku terlupakan, Ok aku Terima, aku tetap sayang kamu kok, muah muah" Ucap Rara asal ceplos penuh ekspresi penghayatan.
Kebetulan Aksa tanpa sengaja mendengar obrolan Rara, saat ia hendak pergi ke toilet.
"Ya Allah, apakah dia cewek gila? udah jelas di selingkuhin masih saja sayang! dasar BUCIN banget sih" ejeknya dalam hati.
Aksa berjalan melewati Raraa yang masih asyik bersenda gurau dengan Icha via telepon, sedang Aksa sendiri sudah terlanjur salah persepsi terhadap Rara.
" ih udah deh, jangan aneh-aneh, kamu dimana? mau ikut makan bareng ndak? " ajak Icha pada sahabatnya.
"Cha, pengin nangis, malam ini lembur dan gue kelaparan, asli gue bulan depan resign fik!!!! ucapnya penuh semangat membara.
"Gue gak bisa kerja tanpa makan!!" ucapnya memantapkan tekadnya.
" Aelah besok pas bangun tidur pasti udah goyah, udah gak usah aneh-aneh, toh kamu juga gak bakal bisa makan kalau gak kerja say" cerocos Icha seakan tak memahami suasana hati Rara malam ini.
"Aish, kalau urusan makan mah bisa numpang sama kamu, dan pasti pujaaan hatimu bakal ngijinin, gue yakin! ucapnya dengan sungguh-sungguh.
" Astaghfirullahalazim " ucap Aksa saat kembali tanpa sengaja mendengar pembicaraan Rara.
Raut wajah Rara nampak bingung ketika mendengar apa yang Aksa katakan, belum sempat ia menjelaskan orangnya keburu sudah masuk ke dalam ruangan terlebih dahulu.
"Bodoamat!" ucapnya dengan pelan.
"Ih gue mah ogah nampung lu, udah bawel jomblo lagi hihihihi" ledek Icha
"Awas lu ya, kalau ketemu, untung malam ini lembur, oh iya salam buat pujaan hatimu ya" ucap Rara mengakhiri percakapan mereka.
Kemudian Rara bergegas untuk melanjutkan pekerjaannya kembali.
Sedari tadi Rara merasakan seseorang menatap nya dengan tatapan berbeda, Yap Aksa tanpa sadar terus menatap Rara dan melamun dengan pikiran yang berkecamuk dalam dirinya. Sesekali Aksa juga terlihat mengernyitkan kedua alisnya.
"Bagaimana mungkin ada perempuan yang tidak tahu malu? kenapa bisa dia hidup seperti itu? bagaimana mungkin dia kuat menahan perasaannya, dan bahkan dia mau hidup numpang sama selingkuhan pacarnya? WHAT?? apakah dunia ini masih baik-baik saja? sampai urat malu manusia sudah putus! parah!!!!!!!!! " pikir Aksa
Rara merasa diperhatikan sedari tadi pun, dan ia merasa risih dengan apa yang sedang dilakukan Aksa.
Tililit Tililit ☎☎☎
Dering telepon yang nyaring membuyarkan lamunan Aksa, sedikit mengerjap ia pun segera mengangkatnya.
"Selamat Malam, dengan Aksa disini" ucapnya dengan Tegas
"Maaf Pak Aksa, kenapa melototin saya terus dari tadi, saya ada salah Pak? saya kan cuma angkat telpon sekali, itupun juga singkat, jadi saya harap jangan sampai segitunya!" Ujar Rara panjang lebar penuh emosi karena sedari tadi menahan lapar.
"Kenapa harus lewat telepon, kan kita satu ruang!" gertaknya pada Rara
"Maaf Pak Aksa, saya hanya mengikuti titah bapak untuk jaga jarak, terimakasih. " tegasnya dan dengan cepat mematikan sambungan telepon.
"Halo, Halo" teriak Aksa penuh greget pada Rara.
Kedua orang itu nampak saling menatap tajam satu sama lain, tatapan penuh amarah dan prasangka buruk.
__
__ADS_1
__
__
Icha dan Adit duduk di atas tikar, sengaja mereka memilih duduk menjauh dari keramaian pelanggan yang sudah lama mengantri sedari tadi. Menu pilihan mereka adalah semangkok bakso ekstra pedas ditambah es teh satu gelas sebagai pelengkapnya.
Sebenarnya tidak ada obrolan yang berarti, namun suasana berubah tegang saat Adit meminta waktu untuk membicarakan hal yang penting.
"Cha, mas mau ngomong sama kamu" ucap Adit tegas lalu sengaja menggeser mangkok bakso dihadapan nya.
"Iya, ngomong aja" titah Icha dengan masih mencomot satu buah pentol miliknya
"Aku mau dedek!" ucapnya padat singkat dan jelas.
Pernyataan Adit sontak membuat Icha tersedak, pentol pedas yang baru saja ia kunyah seakan membakar hampir sebagian mulut Icha, jantung nya memompa udara lebih cepat, wajahnya memerah selain menahan pedas juga terkejut dengan yang baru saja Adit katakan pada dirinya.
"Gila kamu ya, malu didengar banyak orang tauk! ucap Icha dengan menyeruput es teh untuk menetralisir rasa pedas di mulutnya.
" Jangan ngaco dit, jangan mikir yang enggak-enggak" timpal Icha dengan sedikit penekanan.
"Hihihii, gitu aja panik sih, mukanya sampai merah gitu, aku juga ndak mau terburu-buru, perjalanan ini masih panjang, semoga kita selalu bersama sampai maut memisahkan. tuturnya dengan tulus.
" Eh, kenapa jadi sedih gini sih, kita kan mau seneng-seneng makan bakso Adit" oceh Icha pada suami kecilnya itu.
"Cha, maaf mungkin aku belum bisa membahagiakan mu sepenuhnya, tapi aku janji akan berusaha buat kamu bahagia, jadi jangan tinggalin aku ya" lirih Adit
"Ih kamu kenapa sih Dit, kok malah jadi melow gini, udah kalau kita berjodoh pasti bakal terus bareng, makan gih keburu dingin baksonya.
Kalau boleh jujur sebenarnya banyak yang ingin Adit bicarakan dengan Icha malam ini, tapi mau bagaimana lagi sepertinya suasananya tidak mendukung, kapan-kapan saja. Batinnya dalam hati.
__
__
Telilit Telilit ☎☎☎☎
Telepon kembali berdering, Aksa terlihat menarik nafas, "Dengan Aksa disini." singkat ucapnya
"Pak Aksa, maaf saya izin bertanya kira-kira bapak ada niatan untuk pulang ke rumah atau mau bermalam disini bersama saya?" pertanyaan yang dilontarkan Rara membuat Aksa terkejut, sorot matanya semakin tajam menatap Rara, " Ada apa dengan wanita di depannya ini? kenapa bisa dia berucap seperti itu!!!"
"Kamu.... !!!" rahang Aksa mulai mengeras, emosinya serasa sudah sampai ke ubun-ubun.
"Dasar Orang menyebalkan" gerutu Rara yang masih terdengar dengan jelas oleh Aksa.
Baru saja Aksa akan memarahi Rara, ponselnya berdering, dengan sigap ia mengangkatnya "Udah gak usah pakai telepon segala kita kan satu ruangan! langsung saja kalau mau ngobrol !!! dan saya tegaskan gak sudi bermalam dengan mu disini!! pekiknya dengan keras.
Sontak Rara yang dituduh membalasnya dengan pelototan yang kian tajam!
" Ya Allah punya bos kenapa gila gini dah" batin Rara menyaksikan kebodohan Aksa malam ini.
"Abang ini Mama," ucap Mama halus,
"Abang ndak pulang? mau nginep sama siapa? udah malam loh, " tanya Mama dengan rentetan pertanyaan yang lain.
" Maaf Ma, tadi Abang kira pegawai kantor yang gila Ma, " balas Aksa sambil melotot ke arah Rara yang sedari tadi menatapnya dengan tajam.
"Gila? Ya Allah bang, kamu gak diapa-apain kan?" tanya Mama dengan panik
__ADS_1
"Enggak kok Ma, Sebentar lagi abang pulang ko, Mama tidur dulu saja" ucapnya dengan halus disertai senyum tulus terpancar darinya.
Melihat perbedaan sikap Aksa membuat Rara bergidik ngeri, pasalnya baru seperkian detik lalu ia masih melihat bagaimana rahang Aksa mengeras seakan ingin menerka dirinya, tapi detik berikutnya justru wajahnya tersenyum manis dengan balutan senyum khas pada dirinya.
"Asli ni orang punya kepribadian ganda!! " batinnya yakin
Setelah mengakhiri percakapan dengan sang Mama, nampak Aksa sibuk mematikan laptop dan merapikan file yang tercecer, sementara Rara hanya sibuk memperhatikan tingkah bosnya dari kejauhan.
"Duluan," pamitnya setelah semua barangnya sudah rapi di masukkan ke dalam tas 💼 dan meninggalkan Rara yang masih terpaku menatap Aksa yang sudah hilang di balik pintu.
"Aksaaa!!!!!" pekik Rara saat menyadari Aksa meninggalkan dirinya sendirian di kantor.
Rara bergerak cepat menyusul setelah memasukkan barangnya.
" Dasar tu orang gila kali ya, tega bener ninggalin sendirian, kan gue mau numpang pulang!." kesalnya dengan mengeluarkan sumpah serapah penuh emosi.
Aksa semakin mempercepat langkah kakinya untuk menjauh dari Rara, meskipun dengan jelas ia mendengar teriakan beserta sumpah serapah dari Rara yang berusaha untuk mengejarnya.
"Heran gak ada takut-takutnya tu cewek, rasain pulang jalan kaki, bodoamat!" ucapnya melenggang sumringah dan segera memacu mobil hitam kesayangan nya.
"Aksaaaaaaaaa" panggil Rara dengan keras, namun sayang bukannya berhenti justru Aksa sengaja menambah kecepatannya dan tak lupa melambaikan tangannya dari pintu kaca kepada Rara.
"Bos Gilaaaaa" makinya dengan gamblang
Rasa kesal dicampur amarah tengah menyeliputi hati Rara malam ini, jalanan sepi hanya beberapa mobil dengan kecepatan tinggi melenggang di jalanan yang sepi, serta gerombolan anak muda yang asyik bersendu ria di pinggir jalan.
Jujur bulu kuduk Rara agak merinding, merasakan keheningan Ibu Kota serta menyaksikan betapa pekat dunia malam, matanya mengerjap sembari memainkan ponselnya untuk memesan ojek Online, cukup lama orderan Rara di Terima, baru sekitar tiga puluh menit abang ojol (ojek Online) mengirimkan pesan.
"Sesuai aplikasi ya kak😁" sapanya.
"Y" jawab Rara dengan malas karena sudah lama menunggu terlalu lama, sepertinya alam semesta sangat bahagia menyaksikan Rara menderita malam ini.
Tak lama sebuah motor menghampiri Rara dengan senyum riang, "dengan Mbk Rara?"
"Ish ni bapak udah tahu pakai nanya lagi" batinnya dengan kesal.
Rara tak menyahut, diambilnya helm yang sedari tadi di sodorkan Pak Ojol, dan naik ke atas motor, bibirnya manyun tiap kali mengingat Aksa yang super menyebalkan hari ini.
"Mbak lembur? " tanya Abang ojol mencoba eskaesde
"Iya" jawab Rara dengan malas
Bukan Rara tidak ramah, hanya saja moodnya sedang tidak baik-baik saja," kilahnya
Setelah tiga puluh menit akhirnya Rara sampai di sebuah kos yang selama ini ia sewa, tidak besar hanya berukuran 4×6m dengan peralatan sederhana, ia rebahkan tubuh mungilnya di atas kasur ditatap nya langit-langit kamar dengan sendu, badannya remuk hatinya lelah mengingat kerasnya hidup yang harus ia jalani hanya untuk sesuap nasi.
dikamar inilah ia menumpahkan segala rasa dalam hati,
Air mata mengalir, hatinya mencelos ada luka yang selama ini sengaja ia tutupi, ia ingin bersama kembali dengan orang yang Ia sayangi Ayah, Ibu serta Nenek tapi apalah daya dunia mereka berbeda.
"Rara kangen kalian" isaknya dalam kesendirian.
--------------------------------------------------------
Jangan lupa kasih masukan yak, Happy Reading Semua...
jangan lupa bahagia 🥰
__ADS_1