
Icha menapaki lantai rumah sakit dengan sebelah tangannya menenteng sekantong camilan dan beberapa susu kotak dan air mineral. Tas kerjanya juga tersampir di bahu kirinya, dengan langkah agak berat ia terus melangkahkan kakinya menuju ruang rawat inap suaminya itu.
Sebelumnya ia sudah menemui dokter yang menangani Adit, persiapan kalau-kalau Bunda nanti kepo bertanya ini dan itu. Bukankah aneh, kalau sampai Bunda bertanya perihal sakitnya Adit dan Icha sama sekali tidak tau penyebabnya.
Icha menghembuskan nafas gugup saat membuka kenop pintu. "Assalamu'alaikum." "Wa'alai....kumsalam." Adit yang awalnya sumringah begitu mendengar ucapan salam dari Icha langsung lesu saat melihat Icha tidak langsung mendatangi ranjangnya melainkan, langsung melengos duduk di sofa yang membelakanginya. Icha meletakan tas dan kantong plastik bawaannya di atas meja kecil lalu menghempaskan tubuhnya di sofa yang sangat empuk.
Punggung serta kepalanya ia sandarkan untuk menghilangkan sedikit penat di kepalanya. Meski sekilas, Icha dapat melihat bahwa tidak ada siapapun di ruangan itu kecuali Adit dan perawat yang baru saja masuk bersamaan dengannya untuk memberikan obat. Hanya tiga menit dan perawat itu keluar dari kamar inap Adit.
"Cha.. "panggil Adit pelan
"Bunda mau ke sini, sekalian jemput kamu pulang," potong Icha sebelum Adit selesai membuka mulut.
"Masih marah?" tanya Adit lesu.
"Marah? Marah untuk?" Icha balas bertanya. "Soal kemaren, dan malam sebelumnya?" "Aku Nggak marah," balasnya singkat.
"Maafin gue, Cha?" ucap Adit memelas, berharap Icha mau melihat dirinya kali ini.
"Maaf untuk?" Icha kembali bertanya.
"Untuk Lia—" lagi.
Belum habis Adit membuka mulutnya Icha sudah mengangkat tangannya ke udara menyuruh Adit menghentikan ucapannya.
__ADS_1
"Bunda minta kita tinggal di rumahnya untuk beberapa hari, sampai keadaan kamu membaik," ujar Icha dengan datar, mengacuhkan ucapan Adit.
"Cha, gue kangen sama lo," satu kalimat yang dilontarkan Adit membuat Icha seketika membatu. Berusaha tetap tenang, Icha mengambil sebungkus roti dari dalam kantong plastik yang dibawanya tadi. Memakannya dalam diam.
Adit tidak kehabisan akal, ia tahu Icha mendengarnya. "Gue kangen masakan lo. Kemaren Agung, Ali sama Aldi ngabisin semuanya." Icha masih belum berbalik badan.
"Gue juga kangen lo duduk di samping gue pas lagi nonton berdua." Icha bergeming.
"Gue juga kangen..." Adit menjeda ucapannya, memikirkan apa yang harus ia katakan dan Adit memutuskan mengatakan apa yang sedang ia pikirkan, asalkan Icha berbalik melihatnya
"...kangen cium bibir lo yang manis tiap malam."
"Uhuukk!" Icha tersedak roti yang dimakannya saat mendengar ucapan Adit. Segera ia mengambil air mineral dalam plastik dan meminumnya, sedangkan Adit mati-matian menahan tawanya.
Icha mendelik melihat ke arah Adit,
"Maksud kamu apa?" ujarnya sengit.
Adit tertawa renyah, " masih punya rasa penasaran juga ya." Adit menggoda dengan jahil.
Icha memutar bola matanya kesal, "Maksud kamu apa?!" Icha mengulang pertanyaannya. "Gue kangen sama lo Cha, lo mau kan maafin gue kan?" Adit memelas.
Entah untuk ke berapa kalinya untuk hari ini Icha membuang nafas lelah. Ia memilih bangkit dari duduknya lalu berjalan mendekati ranjang Adit. Melihat pergerakan Icha, Bayu mengulum senyum lalu mengubah posisinya menjadi duduk. Icha berdiri tepat di sisi ranjang Adit, melihat tepat ke manik matanya. Sakit aja ganteng, gimana mau marah? Icha membatin.
__ADS_1
"Adit, kamu tau kaca Nggak?" Adit mengangguk, lalu Icha melanjutkan ucapannya. "Ibarat kaca, sekali jatuh retak tapi dua kali jatuh ya pecah. Berkeping-keping. Kalo udah pecah bisa sih dilem lagi tapi Nggak bisa seperti semula." Ucapan Icha membuat Adit terdiam
"Maaf Cha," wajah Adit memelas penuh penyesalan.
"Maaf untuk?" tanya Icha kembali
"Gue bisa jelasin semuanya, Cha." ujar Adit
"Ha ha ha..." Icha tertawa hambar.
"Penjelasan untuk apa? Untuk menjelaskan siapa cewek yang malam kemarin? Atau menjelaskan kenapa kamu bilang kangen padahal ada cewek yang setia nemenin kamu di sini. Adit ..aku nggak sebodoh itu untuk mendefinisikan siapa cewek semalam yang.... " oceh Icha panjang lebar
CUP.. .........
_____________________
Terima Kasih yang sudah tetep setia mengikuti perjalanan kisah Adit dan Icha....
Boleh banget Kritik dan sarannya ya...
Karena Author sendiri adalah penulis pemula, yang punya segudang kesalahan dalam penulisan tentunya.
jangan lupa buat like, comment dan vote hehe
__ADS_1
See You 🤍