
"Aku ingin wajah mu kembali seperti semula, tetapi ku minta minta mu untuk bersabar karena saya masih harus mengumpulkan uang untuk biaya operasi kamu nanti. Kamu tenang saja, yang jelas ini bukan uang kedua orang tuaku karena aku sekarang sedang belajar dan bekerja di perusahaan Papa," jelas Abraham dengan sedikit bangga karena dia sudah bisa mencari uang dengan sediri.
Doni merasa terharu dengan kata-kata tuan mudanya itu, dia tak menyangka sang tuan muda memintanya untuk melakukan operasi plastik untuk memperbaiki wajahnya, wajah yang masih doni tak tahu seberapa parah kerusakannya akibatkan kebakaran kemarin.
Doni bersyukur telah di pertemukan dengan pria sebaik tuan mudanya, Doni tersenyum begitu tulus dari hati melihat kebaikan tuan mudanya. Doni berharap kebaikan hati tuan mudanya itu tidak akan pernah hilang. Doni juga bersyukur dirinya tidak di pecat akibat wajahnya ini.
Tiba-tiba rasa penasaran melanda dirinya saat ini, tanpa sadar tangan Doni meraba wajahnya sendiri, dia meringis saat merasakan sedikit perih di wajahnya saat meraba bekas luka yang ada di sana.
"Bagaimana keadaan wajah ku," batin Doni merasa penasaran dengan kondisi wajahnya, dia tak sabar melihat secara langsung wajahnya nanti.
"Apakah aku benar-benar akan buruk rupa, atau wajahku akan menyeramkan seperti monster," batin Doni merasa ketakutan sendiri saat membayangkan semua itu.
Berbagai pikiran buruk muncul di kepalanya saat ini. Doni menghela nafas panjang, mungkin inilah takdirnya, hatinya pasrah bagaimana nanti takdir ini membawa dirinya. Doni pun beralih menatap wajah tuan mudanya itu.
"Biarlah ini seperti ini tuan," jawab Doni dengan yakin menolak permintaan tuan mudanya saat ini.
"Tetapi bagaimana kalau wajah mu benar-benar rusak dan aku takut teman-teman mu menjauhi mu atau mengatakan hal-hal buruk tentang mu," lirih Abraham dengan nada sedih menatap Doni dengan rasa bersalah karena semua ini juga berawal dari Doni yang menyelamatkan dirinya saat itu.
"Andai kamu tidak menyelamatkan ku, mungkin akulah yang akan berada di posisi mu saat ini atau mungkin aku sudah tidak ada di dunia ini," batin Abraham sendu Doni yang saat ini berada tak jauh darinya itu.
Doni mendongak menatap ke arah tuan mudanya sambil tersenyum. "Tuan muda tenang saja, mungkin ini sudah menjadi takdir saya jadi tuan muda jangan pernah merasa bersalah ataupun menyalahkan diri anda sendiri. Dan saya juga yakin kalau orang itu benar-benar tulus berteman dengan saya, dia tidak akan malu saat berjalan ataupun bersama saya di hadapan umum, ataupun, jijik serta menjelekkan saya. Mungkin dengan ini saya bisa menemukan seseorang yang benar-benar tulus," jelas Doni secara langsung menyadarkan tuan mudanya saat ini arti ketulusan yang sebenarnya.
Abraham merasa takjub dengan pemikiran Doni saat ini, meskipun umur Doni tak jauh berbeda dengan dirinya namun Doni bersikap begitu dewasa, memandang apapun dari segi baiknya saja.
Namun sesaat kemudian Abraham dibuat sedih karena tanpa sengaja dirinya menatap ke wajah itu. "Tetapi aku akan merasa bersalah," lirih Abraham muda dengan suara kecil.
Hatinya masih merasa bersalah, andai waktu bisa di putar mungkin Abraham memilih untuk menyelamatkan Doni waktu itu.
"Tuan muda tak perlu merasa bersalah, sudah saya bilang berkali-kali kalau ini semua adalah takdir," kata Doni mencoba tersenyum tabah. Ya mungkin benar ini sudah takdirnya itulah yang Doni rasakan saat ini.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu aku harus pergi dulu, ingatlah tawaran ku itu berlaku sampai kapan pun kalau kamu nanti berubah pikiran," jelas Abraham mengingatkan.
"Terima kasih atas kebaikan tuan muda," kata Doni dengan tulus.
Saat Abraham akan berbalik menuju ke arah pintu keluar, Doni langsung teringat sesuatu.
"Tuan muda tunggu....." Teriak Doni mencegah tuan mudanya itu keluar.
Abraham pun berhenti, dia berbalik menatap ke arah Doni. "Ada apa?" Tanya Abraham bingung.
"Bagaimana dengan ini?" Tanya Doni mengangkat map yang berisi sertifikat tadi.
"Terimalah,"
"Tetapi bagaimana kalau tuan besar dan nyonya besar tahu?" Tanya Doni.
Doni merasa gelisah dia begitu takut kalau nantinya dia dituduh memanfaatkan tuan mudanya itu dengan kecelakaan ini dengan meminta macam-macam.
"Apa kamu takut, papa akan menuduh mu memanfaatkan ku?" Tanya Abraham membuat Doni tak percaya kalau tuan mudanya itu bisa menebak apa yang di pikirkan nya sedari tadi.
"Ba-gaimana tuan muda tahu apa yang saya pikirkan?" Tanya Doni kaget.
Abraham tersenyum kecil. "Karena ada seseorang yang berfikir seperti kamu," jelas Abraham.
"Tenang saja papa bukan orang seperti itu, lagian itu rumah yang aku beli dengan uang tabungan ku sendiri meskipun kecil semoga kamu mau menerimanya," jelas Abraham memupus rasa takut dan tak nyaman di hati Doni.
"Sudahlah jangan berfikir macam-macam, kamu harus banyak istirahat biar kamu cepat sembuh. Oh ya 3 hari lagi dokter akan datang memeriksa luka mu."
Setelah berkata demikian, Abraham pun keluar dari kamar Doni.
__ADS_1
Doni masih terdiam menatap punggung kekar itu dengan pandangan yang rumit, entahlah.
5 MENIT KEMUDIAN....
Tap tap tap tap tap tap tap tap tap...
Langkah kaki terdengar berjalan mendekat ke arah Doni. Namun Doni masih tak tak bergeming memikirkan semua kebaikan tuan mudanya saat ini.
Muncul ide jahat di pikiran Doni saat melihat temannya itu seperti tidak menyadari kehadiran dirinya saat ini karena sibuk melamun, entah apa yang Doni pikiran saat ini sampai dirinya tidak fokus.
Dooooorrrrr....
"Hei melamun aja sih dari tadi." tegur Bimo dengan menepuk pundak Doni dengan cukup keras.
Memang Bimo sengaja mengagetkan Doni yang sepertinya sedang melamun itu.
Doni berjingkat kaget karena ulah dari Bimo saat ini, dia sungguh tak bisa berkata-kata lagi melihat kelakuan temannya itu yang sering melakukan hal-hal yang membuatnya jengkel.
"Kalau bukan teman sudah ku gantung di pohon mangga di depan sana," grutu Doni menatap Bimo dengan kesal.
Mendengar grutuan dari Doni, seketika senyum cengengesan muncul di wajah Bimo.
"He he he he he he he he he, jangan dong nanti kamu kangen lagi," kata Bimo mengedip matanya saat ini dengan genit.
Doni bergidik ngeri melihatnya, lalu dia memijit pelipisnya merasa pusing dengan kelakuan temannya yang aneh bin ajaib itu.
"Jijay banget sih," sinis Doni bergidik ngeri.
"Ha ha ha ha ha ha ha," Bimo tertawa terbahak-bahak menertawakan Doni.
__ADS_1
Bersambung....