
Keesokan harinya...
Doni bersiap dengan pakaian hitam dan tak lupa earpiece yang selalu menempel di telinganya, ya itu adalah alat komunikasi sesama bodyguard jika terjadi sesuatu yang darurat atau bahaya.
"Bimo, aku mau berangkat dulu sebelum tuan muda bangun takutnya nanti dia bertanya macam-macam kalau tahu aku akan pergi," kata Doni sebelum dia pergi melakukan misi mereka.
"Kamu mau kemana pagi-pagi begini?" Kata Bimo mengucek matanya menunjukkan baru pukul 5 dini hari.
"Hei apa kamu lupa dengan rencana kita," kata Doni mengingatkan.
"He he he he he he, aku lupa," jawabnya cengengesan.
"Ya sudah aku tinggal dulu kalau ada apa-apa, kamu bisa hubungi aku," jelasnya.
Bimo mengangguk. Setelah berbicara seperti itu kepada Bimo, Doni pun pergi meninggalkan mansion tak lupa membawa 5 orang bodyguard bawahannya.
Ya Bimo dan Doni di sini mempunyai bawahan masing-masing.
"Kalian sudah siap?" Tanya Doni.
"Siap," jawab keempat orang itu secara serempak.
Doni berjalan menuju ke arah mobil di ikuti oleh keempat orang tersebut.
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi karena suasana sepi membuat Doni leluasa mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi.
Cit...
Mobil berhenti di depan rumah sederhana.
"Kalian coba cari tahu semua informasi tentang wanita di foto ini dan jangan sampai terlewat satupun," perintah Doni.
"Baik," jawabnya sambil mengambil foto wanita cantik yang ada di tangan Doni.
"Kalian berdua tahu kan apa yang harus kalian lakukan, kalau sudah selesai kalian bisa kembali ke mansion menggunakan taksi atau kalian bisa minta jemput anggota atau teman kalian yang lainnya."
"Siap...."
Doni pun menurunkan 2 orang itu di sana, setelah itu mobil melaju ke tujuan yang kedua.
"Kalian jangan lupa awasi pria itu, laporkan semua kegiatan pria itu jangan sampai ketahuan," perintah Doni.
"Mengerti," jawab kedua orang yang di tunjuk oleh Doni tadi.
"Ya sudah kalau begitu aku balik ke mansion takutnya tuan muda mencari ku," kata Doni pamit kepada keduanya.
"Oh ya sampai lupa, kalau tugas kalian selesai. Kalian bisa menghubungi teman kalian untuk minta jemput," jelas Doni.
"Beres pokoknya bos Doni tenang saja."
__ADS_1
Kembali Doni meninggalkan dua orang itu kembali ke mansion karena Doni yakin sang tuan muda sudah bangun.
Doni mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi mengingat jam sudah menunjukkan pukul 06.30 pagi.
Doni membelokkan mobilnya ke arah penjual nasi pecel yang tak jauh dari sana.
"Bu, 2 ya," pinta Doni.
"Makan di sini atau di bawa pulang?" Tanyanya.
"Bungkus saja," jawab Doni.
Doni cukup senang karena di negara ini juga ada nasi pecel kesukaannya. Negara ini tak jauh berbeda dari negara tempat tinggalnya dulu membuat Doni tak terlalu kesusahan untuk beradaptasi.
Setelah membayar, Doni pun melajukan mobilnya kembali ke mansion. Akhirnya mobil sampai di depan gerbang dan benar saja Doni melihat sang tuan muda sedang lari pagi.
Doni bergegas memasukkan mobil ke dalam bagasi, Doni keluar dari mobil dan menenteng kantong plastik.
"Doni kamu dari mana?" Tanya Abraham.
Doni menghela nafas panjang, padahal dia sengaja menghindar dari tuannya itu namun tetap saja bertemu.
"Saya beli nasi tuan," jawabnya menunjukkan kantong plastik tadi.
"Oh..." Abraham mengangguk saja dan tak curiga apapun.
"Kenapa Doni buru-buru? Ah mungkin dia lapar," kata Abraham berfikir positif.
Abraham pun melanjutkan lari paginya.
"Hei Don," sapa Bimo.
Bimo menarik Doni ke dalam kamar. "Apaan sih Bim," protes Doni saat Bimo menarik tangannya.
"Aku mau tanya, bagaimana tadi berhasil?" Tanya Bimo dengan antusias.
"Berhasil apanya, lha kan aku baru memata-matai pria yang berkelahi dengan tuan muda dan nona Aruna itu."
"Ha baru memata-matai, ck kamu lambat," grutu Bimo.
Plak...
Doni kesal memukul tandan Bimo dengan kesal.
"Kamu lupa kalau misi tahap pertama kita itu memastikan dulu semuanya jadi aku harus memata-matai keduanya dulu," jelas Doni.
"Kenapa kita gak sat set sat set gitu kan cepat," grutu Bimo.
"Ya aku takut salah sasaran saja," jelas Doni karena perempuan itu dekat dengan sang tuan mudanya.
__ADS_1
"Ah terserah kamu saja lah," kata Bimo berlalu pergi.
"Hei Bim, kemana?" Tanya Doni.
"Makanlah, apa lagi," jawabnya menoleh ke arah Doni sekilas.
"Hei aku punya nasi pecel, mau tidak," kata Doni menunjukkan bungkusan plastik yang dia bawa.
"Mau dong, ayo sini kita makan di sini saja," Bimo bergegas menarik Doni masuk ke dalam menuju sofa.
"Hei hei tunggu dulu, aku mau cuci tangan dulu," protes Doni saat lagi-lagi Bimo menarik dirinya.
"He he he he he he....." Bimo cengengesan.
Doni pun berlalu menuju wastafel untuk mencuci tangannya.
Bimo sudah membuka kantong plastik itu dan menaruh keduanya ke atas piring tentunya tak lupa sendok juga.
Bimo yang sudah lapar tak menunggu Doni, dia langsung membuka bungkus nasi dan menyuapkan nasi pecel itu masuk kedalam mulutnya.
"Em.. M...Mmm... Emm enak...." kata Bimo sambil mengunyah makanan yang di beli Doni tadi.
Doni melepaskan masker dan masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci wajahnya.
Dengan wajah segar Doni menghampiri Bimo yang sedang makan.
Bimo yang melihat Doni pun tak terganggu makannya, dia tak takut dengan wajah Doni yang mengerikan itu. Wajahnya Doni memang sudah sembuh namun meninggalkan bekas seperti bekas luka bakar.
Doni tersenyum melihat temannya itu tidak terganggu, dia tahu kalau Bimo selalu tulus kepadanya tak pernah sekalipun mengejek ataupun jijik karena wajah Doni. Doni bersyukur masih memiliki teman yang benar-benar tulus seperti Bimo meskipun Bimo sering membuat dirinya kesal apalagi dengan ulah aneh dan kadang suka bikin pusing.
"Ayo cepat makan, nanti keburu dingin gak enak," ajak Bimo.
"Hmmm....."
"Makan mu jangan buru-buru nanti tersedak," tegur donk saat melihat Bimo yang makan dengan lahap.
"Ini enak jadi aku tak sabar ingin makan lagi dan lagi," jelasnya membuat Doni mengelengkan kepalanya.
"Ck ada-ada saja kamu," kata Doni mengelengkan kepalanya berkali-kali melihat kelakuan temannya yang suka bikin suasana semakin hidup itu.
"Kalau kamu mau, kamu bisa habis kan punya ku," jelas Doni menawarkan makanan miliknya itu.
"Benar?"Tanya Bimo menyakinkan.
Doni melotot ternyata temannya itu masih kurang kenyang padahal nasi bungkus yang Doni bawa tadi porsinya cukup banyak.
"Ya sudah kamu makan saja, aku mau buat mie saja," jelas Doni berlalu menuju dapur. Di depan kamar mereka tersedia dapur kecil untuk mereka sekedar membuat kopi, teh ataupun makanan cepat saji seperti mie instan.
Bersambung...
__ADS_1