Suamiku Bodyguard Buruk Rupa

Suamiku Bodyguard Buruk Rupa
19. Masih teka-teki


__ADS_3

"Hai Hans," sapa Doni menghampiri pria yang lebih tua darinya itu dan melepaskan kaca matanya agar pria di depannya itu bisa mengenalinya.


Pria yang dipanggil Hans itu terdiam cukup lama, dia berfikir mengingat pria di depannya itu siapa. Tak lama senyum Hans mengembang.


"Doni, kamu Doni kan?" Tanya pria yang di panggil Hans itu.


Doni mengangguk membenarkan ucap dari pria di depannya itu.


Pria itu bisa tahu kalau itu Doni tentunya dari postur tubuh Doni, karena wajah Doni tertutup masker dan pria itu tahu alasan Doni memakainya.


" Doni ngapain kamu di sini?" Tanya pria itu saat melihat seseorang yang di kenalnya itu tengah berdiri tak jauh darinya.


"Aku lagi mau ke rumah teman bos ku buat mengantarkan sesuatu, alamatnya di sekitar sini. Eh tak tahunya ketemu kamu," jawabnya dengan begitu meyakinkan membuat pria yang di panggil Hans itu mengangguk mengerti.


"Oh...! Memang siapa namanya?" Tanya pria yang bernama Hans itu.


"Nona Aru aru... Ah iya nona Aruna namanya," jawab Doni berpura-pura sedikit berfikir.


"Oh no Aruna," kata Hans mengangguk lagi.


"Kamu kenal?" Tanya Doni berpura-pura antusias .


"Iya nona Aruna sering memberikan kita makanan kalau lewat sini," jelasnya.


"Aduh aku lupa lagi tanya rumahnya nomor berapa?" Kata Doni menepuk pelan keningnya seperti seseorang yang melupakan sesuatu yang begitu penting.


"Bentar ya, aku mau menghubungi tuan muda dulu untuk tanya nomor rumahnya," kata Doni berpura-pura untuk menghubungi tuan muda. Tangannya bergerak lincah, dia langsung merogoh sakunya untuk mengambil ponsel dan saat dia mau menekan nomor di ponselnya di hentikan oleh pria di depannya.


"Hei tidak perlu repot-repot menghubungi bos kamu, aku tahu kok nomornya," kata Hans dengan cepat melarang Doni sebelum nomor itu selesai di tekan.


"Ah benarkah? Untung saja berkat kamu aku bisa menghemat kuota ku," jawab Doni dengan sumringah namun itu hanya mengelabui pria di depannya.


"Ck kamu sama siapa saja," kata Hans menimpali ucapan dari Doni.


"Ya kan lumayan,'' jawab Doni berpura-pura memasang wajah senang.


"Rumah non Aruna itu nomor 26 blok B," jelas Hans memberitahu rumah milik Aruna tepatnya di mana.


"Thanks ya, untung aku bertemu dengan mu,'' kata Doni merasa tak enak hati.


"Tetapi aku sering melihat nona Aruna ke mana-mana menggunakan motor ya kenapa?" Tanya Doni mencoba mencari informasi kepada pria di depannya itu.


"Entahlah, saya juga kurang tahu mungkin nona Aruna lebih suka memakai motor dan juga nona Aruna jarang terlihat di sini," kata pria di depannya tanpa sadar dia mengungkapkan sesuatu yang membuat Doni tersenyum di balik maskernya.


"Oh..." Doni mengangguk.


"Oh ya ngomong-ngomong kita dah lama tidak bertemu, kamu masih kerja jadi bodyguard?" Tanya pria itu.


"Iya masih. Oh ya kalau di sini jangan panggil aku Doni," pinta Doni.

__ADS_1


"Kenapa?" Tanya pria itu menyergit heran.


"Teman-teman ku sering panggil aku dengan nama Goe," bohong Doni.


"Jauh banget, kok bisa dari Doni ke GEO," kata Hans terkekeh.


Doni sengaja berbohong takutnya nanti temannya itu tanpa sengaja keceplosan berbicara dan bilang kepada Aruna kalau Doni datang ke sini. Doni tak ingin semuanya ini jadi berantakan.


"Entahlah mereka suka memanggilku begitu, oh aku aku pamit dulu takutnya bos ku mencari ku," pamit Doni.


Saat hendak berjalan menuju ke arah mobil, Doni baru teringat sesuatu. Doni harus meyakinkan temannya itu agar tak berbicara dengan temannya kalau Doni ke sini mencari alamat atau bertanya dengan Hans tentang Aruna.


Tap tap tap tap... Doni berlari menghampiri pria tadi.


"Hans..." Panggil Doni.


Hans menoleh. " Kenapa?" Tanyanya.


"Oh ya jangan kasih tahu teman mu tentang aku," pinta Doni.


"Kenapa?" Tanya Hans dengan heran.


"Aku takut dia berfikir buruk tentang ku karena wajah ku ini," elak Doni.


"Oh ya sudah kamu jangan khawatir," katanya meyakinkan Doni agar dia tenang.


Kring...


Kring...


Kring...


"Halo..." Jawab Doni saat mengangkat panggilan tersebut.


"Baik..."


"Siap..."


"20 menit lagi saya sampai."


"Siap bos."


Kata Doni berpura-pura berbicara seperti itu dengan raut wajah hormat seperti berbicara dengan tuan mudanya membuat orang lain pasti menganggap kalau Doni tadi bertukar kata dengan atasannya.


Di sebrang sana, pria yang menelpon Doni di buat binggung.


"Kenapa No?" Tanya temannya itu saat melihat wajah Beno terlihat aneh.


"Bos Doni di ajak ngomong jawabannya aneh banget sih, gak nyambung," jelasnya.

__ADS_1


"Mungkin ada seseorang di samping bos Doni," kata temannya mencoba berfikir positif.


"Oh iya mungkin juga ya," pria itu pun mengangguk setuju dengan jawaban dari temannya itu.


"Ayo kita pergi..."


"Ayo..."


Keduanya pun berboncengan kembali ke mansion karena tugas hari ini sudah selesai.


KEMBALI KEPADA DONI....


"Aku bisa berpura-pura ada sesuatu yang darurat jadi aku punya alasan yang bagus untuk pergi dari sini," batin Doni.


Tut.... Segera Doni memutuskan panggilan itu.


Doni berpura-pura menghela nafas berat membuat pria di depannya itu penasaran.


"Kenapa Don? Ada sesuatu yang penting?" Tanyanya.


"Iya aku harus pergi," jawab Doni.


"Terus katanya kamu mau mengantarku sesuatu ke rumah nona Aruna," kata Hans membuat Doni harus memutar otaknya dengan cepat.


"Bos meminta ku secepatnya kembali karena ada sesuatu yang penting," jelas Doni tentunya semua itu hanya kebohongan semata.


"Sorry Hans, aku harus berbohong kepada mu," batin Doni merasa tak enak telah membohongi temannya itu.


"Oh. Ya sudah kamu titip saja barang itu ke aku nanti aku antarkan ke rumah nona Aruna," kata Hans menawarkan bantuan kepada Doni.


D E G...


Doni terdiam sejenak memikirkan untuk menolak tawaran dari Hans.


"Tidak perlu repot-repot, tadi bos aku bilang akan menyerahkan sendiri nanti," jawab Doni.


"Oh ya sudah."


"Aku pamit dulu ya," pamit Doni berjabat tangan dengan Hans.


"Iya, hati-hati di jalan," kata Hans.


Doni pun berbalik arah menuju ke arah mobilnya terparkir.


Brak... Pintu mobil tertutup. Doni segera menghela nafas panjang.


"Maafkan aku Hans harus berbohong padamu," lirih Doni merasa begitu bersalah.


"Ternyata dia (Aruna) berpura-pura miskin, entah dia memiliki rencana apa sehingga dia melakukan itu. Aku harus mencari tahu karena aku takut dia mempunyai rencana jahat terhadap tuan muda," lirih Doni memijit pelipisnya terasa pusing. Dia harus terus menyelidik semua ini tanpa sepengetahuan tuan mudanya entah sampai kapan semua ini akan terbongkar.

__ADS_1


"Aku harus segera mencari tahu semuanya dengan cepat," guman Doni sebelum melajukan mobilnya kembali ke mansion. Dia takut Bimo keceplosan berbicara apabila di tanya tuan mudanya.


Bersambung...


__ADS_2