Suamiku Bodyguard Buruk Rupa

Suamiku Bodyguard Buruk Rupa
42. Berkemas


__ADS_3

2 Hari yang di tunggu telah tiba.


Saat ini Doni dan istrinya sedang berada di dalam kamar, keduanya sedang berkemas memasukkan barang apa saja yang akan mereka bawa nantinya.


"Apa semuanya sudah siap? Tidak ada yang ketinggalan," tanya Doni memastikan semua barang sudah di kemas rapi dan tak ada yang tertinggal.


"Emmm...." Tina terdiam sambil memeriksakan barang miliknya sekali lagi memastikan tak ada yang tertinggal nantinya.


(Sesuai permintaan dari dari pembaca, mulai hari ini aku sebut Tina saja ya)


"Sepertinya sih sudah," jawab Tina dengan begitu ya.


"Oleh-oleh untuk keluarga di kampung sudah semua," tanya Doni memastikan oleh-oleh yang di belinya kemarin tak ada yang tertinggal satupun.


"Emm sepertinya sudah semua di kardus itu,'' kata Tina menunjuk ke arah kardus besar berisi aneka kue kering, cemilan dan baju untuk kedua orang tuanya.


"Oh ya bisa tidak panggilan kita di ubah bukan kamu dan aku," pinta Doni kepada perempuan yang sudah resmi menjadi istrinya itu dengan pelan penuh keraguan, takut kalau perempuan cantik itu tidak akan menerima usulan darinya.


"Maksudnya?" Tanya Tina dengan binggung.


"Bisa tidak kamu panggil aku sayang, mas atau suamiku juga boleh, aku juga lebih tua dari mu," kata Doni mengutarakan keinginannya saat ini dengan sedikit keraguan dalam ucapannya saat ini. Doni ingin panggilan itu terkesan hangat dan sopan kepada suaminya.


Doni ingin keduanya semakin dekat karena menurut dia panggilan aku dan kamu seperti orang asing saja padahal dia sudah resmi menjadi suami istri.


"Emmm...." Tina pun berfikir sebentar menimbang-nimbang di hatinya.


"Aku panggil mas saja bagaimana?" Kata Tina memutuskan panggilan itu yang cocok dan meminta persetujuan dari pria di hadapannya saat ini.


"Boleh juga, jadi mulai besok kamu panggil aku mas dan aku akan panggil kamu sayang titik tidak ada penolakan," kata Doni dengan tegas tanpa ada bantahan.


"Duh bagaimana nanti kalau bapak dan ibu mendengar mas Doni memanggilku sayang atau lebih parahnya nanti terdengar tetangga Nisa jadi bahan gosip sekampung," batin Tina membayangkan nanti saat keduanya telah sampai di kampung dan Doni memanggil dirinya dengan sayang di hadapan kedua orang tuanya atau lebih parahnya lagi di hadapan tetangga. Sungguh Tina hanya bisa menghela nafas panjang.

__ADS_1


Tina pun menghela nafas panjang, dia mau tak mau hanya bisa mengangguk setuju. Apalagi wajah Doni begitu tegas tanpa bisa di bantah sama sekali.


"Aku ingin bertanya untuk kesekian kalinya," kata Doni terdiam menarik nafas panjang sebelum memulai bertanya lagi.


"Apa kamu tidak malu punya suami dengan wajah seperti ku? Apa nanti keluarga mu, ah maksudku kedua orang tua mu mau menerima memantu dengan wajah seperti ku," tanya Doni yang masih merasa minder dengan kondisi wajahnya saat ini.


Tina mendekat ke arah Doni, dia membingkai wajah suaminya itu dengan kedua tangannya. "Aku tidak malu ataupun menyesal menikah dengan pria sebaik mas Doni," kata Tina dengan penuh kelembutan mampu membuat jantung Doni berdebar kencang.


"Orang tua ku tak akan mengusir ataupun menghina mas Doni karena mereka tak pernah memandang sesuatu dari fisik. Mereka pasti senang mempunyai menantu sebaik mas Doni," sambung Tina meyakinkan suaminya yang dilanda rasa tak percaya diri.


D E G


D E G


Jantung Doni semakin berdetak kencang tak berirama, wajahnya Doni sudah memerah malu.


"Em mmmm aku aku," Doni tergagap karena grogi.


"He he he he, dia manis banget sih," guman Tina saat melihat wajah Doni tersipu malu.


" Ooh ya jangan lupa di sana ada ponsel baru untukmu sayang," kata Donie yang tiba-tiba memunculkan setengah badannya dari kamar mandi sambil menunjuk ke arah meja yang tak jauh dari sana.


"Hah.... Ponsel baru?" Guman Tina heran. Namun dia pun mencerna kata-kata suaminya itu dan dia menutup mulutnya tak percaya.


"Ponsel ba-baru buat ku," tanya Tina menunjuk ke arahnya memastikan kalau ponsel yang di maksud itu benar-benar untuk dirinya takutnya dia salah dengar.


"Iya itu ponsel yang ku belikan khusus untuk istriku tersayang, agar mudah menghubungi suami mu ini," kata Doni dengan keras setelah itu dia langsung masuk ke dalam kamar mandi bergegas untuk mandi.


Perempuan itupun bergegas menuju meja yang di tunjuk suaminya tadi dan benar saja ada ponsel yang masih terbungkus rapi di dalam tas kardus dengan tulisan terima kasih karena mau menerima ku sebagai suami meskipun dengan awal pernikahan mereka berdua terjadi akibat paksaan.


Dengan penuh rasa kehati-hatian mbak Tina membuka dengan penuh semangat.

__ADS_1


"Ponsel ini sepertinya mahal," guman Tina membolak-balik ponsel di tangannya dengan rasa tak percaya. Ya perempuan cantik itu tak pernah berfikir ataupun berandai-andai mempunyai ponsel bagus yang sering muncul di iklan televisi namun karena masih tak percaya.


"Auuchh...." Tina pun mencubit pelan kulit tangannya saat ini.


"Ha sakit kok, jadi ini benar apa yang di lihatnya saat ini, Tina yakin dia tak pikun atau berhalusinasi jadi dia mencubit tangannya sendiri untuk memastikan. Tentu saja Tina di buat senang hati saat tahu semuanya bukan mimpi namun kenyataan.


Terdapat tulisan dengan amplop kecil yang tampilannya mampu membuat Tina tersipu malu. "Kado untuk perempuan spesial yang sudah resmi menjadi istri ku. Tina....." Itulah isi pesan yang tentunya dari Doni.


Doni keluar dengan segar, otot-otot perut milik Doni terlihat menawan dengan tampilan kotak-kotak akibat rajin berolahraga, sehingga membuat Tina begitu terkesima apa lagi Doni dengan gaya kerennya menggosok rambutnya yang masih basah.


Doni berjalan santai menuju lemar miliknya dan mencari baju yang cocok untuk bertemu dengan kedua orang tuan Tina.


"Apa kamu tidak mandi?" Tanya Doni saat memergoki istrinya yang terpesona dengan keindahan tubuhnya saat ini.


"A-aku sudah mandi kok," jawab Tina dengan cepat mengurangi rasa gugupnya.


"Ya sudah cepatlah bersiap karena 2 jam lagi pesawat akan berangkat," perintah Doni.


"Kita naik pesawat?" Tanya mbak Tina meyakinkan.


"Iya, agar kita lebih cepat sampai dan istriku tidak merasa kelelahan nantinya," jelas Doni semakin membuat Tina terharu. Di balik wajahnya itu terdapat sosok pria yang begitu hebat siapa lagi kalau bukan Doni.


Blusssshhhh


Sekarang bergantian wajah Tina yang memerah di buatnya.


"Em emm aku ke luar dulu memastikan semua pintu terkunci," kata Tina dengan cepat melesat pergi agar jantung dan hatinya aman.


"Fyuuuh akhirnya," guman Tina mengelus dadanya pelan karena selamat dari kata-kata manis yang keluar dari mulut suaminya saat ini.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2