Suamiku Bodyguard Buruk Rupa

Suamiku Bodyguard Buruk Rupa
61. Pusing


__ADS_3

Tok tok to tok...


''Na Nana ayo bangun nak sudah siang,'' kata sang ibu yang mengetuk pintu kamarnya.


Berkali-kali sang ibu mengetuk pintu kamar sang anak namun tak kunjung terbuka.


Tok tok tok....


"Na bangun sudah jam 7 pagi nak, kenapa kamu masih betah tidur. Katanya kemarin katanya kamu mau ikut ke kebun,'' kata sang ibu yang masih setia di depan pintu kamarnya.


Tina pun membuka matanya karena terusik dengan suara berisik, dengan malas Tina membuka matanya yang masih berat itu.


''Hoaaaammmm......."


Berkali-kali Tina menguap mengurangi rasa kantuk yang mendera.


" Stttttt..... Duh kenapa kepalaku rasanya sakit seperti ini,''gumannya pelan memegang kepalanya yang berdenyut nyeri, Tina pun memijit pelipisnya untuk mengurangi rasa sakit yang mendera.


" Nak bangun....''


Ibu masih berteriak di depan pintu kamarnya karena sang anak yang tak kunjung membuka pintu kamarnya.


"Duh kenapa males banget sih, kepalaku juga tiba-tiba pusing begini. Apa ini gara-gara aku tak bisa tidur tadi malam,'' guman Tina menerka-nerka kondisi tubuhnya saat ini.


Dengan pelan tina berdiri dan berjalan pelan menuju ke arah pintu.


Ceklekkkkk


"Lho nak kamu baru bangun?" Tanya sang ibu yang melihat anaknya dengan tampilan yang masih acak-acakan saat ini, sepertinya anaknya itu baru saja bangun membuat sang ibu heran dibuatnya tak biasanya anaknya itu baru bangun.


"Iya bu, kepala Nana rasanya sakit sekali jadi dari tadi Nana tiduran saja karena buat berdiri saja kepalaku rasanya begitu sakit,'' adunya kepada sang ibu.


''Ya sudah kamu istirahat saja, tidak perlu ikut ibu ke kebun,'' kata sang ibu yang tak tega melihat anaknya.


"Kamu cuci muka dulu terus makan setelah itu minum obat dan lanjut tidur lagi juga tidak apa-apa,'' jelas sang ibu penuh perhatian kepada anaknya.


"Iya bu,'' sahut Nana pelan karena tubuhnya benar-benar lemas.


Tina pun berjalan menuju ke arah kamar mandi dan membasuh wajahnya tak lupa menggosok giginya, Tina melakukan semuanya dengan cepat mengingat dia tak tahan dengan rasa dingin dari air yang begitu menusuk kulit.


Tina pun masuk ke dalam kamarnya meskipun dia tak mandi namun Tina mengganti bajunya.


Di sinilah Tina saat ini, di depan meja makan.


" Mbak Nana tumben bangun siang?" Sapa Adit yang baru saja duduk di meja makan.


"Pasti karena tadi malam mbak Nana mimpi buruk ya,'' tebak sang adik yang ingat teriakan sang kakak tadi malam sehingga membuat acara nonton film horor nya terganggu.

__ADS_1


"Berisik banget sih, terus kamu jam segini kenapa masih saja di rumah tidak berangkat sekolah,'' kata Tina yang menatap adiknya itu dengan heran karena Adiknya itu sudah memakai seragam sekolah.


"Jam kosong mbak, biasa kalau habis ujian kan suka gitu," kata sang Adik sambil mencomot tahu goreng yang ada di atas meja makan.


"Mending kamu bolos terus temenin mbak beli buah ke pasar, mbak ingin makan buah," kata sang kakak dengan entengnya.


"Duh mbak sudah rapi begini kok di suruh ke pasar," protes sang adik.


"Ayolah Dit, mbak lagi gak nafsu makan. Mbak pengen makan yang segar-segar," pinta Tina memelas.


"Ya sudah, Adit hubungi teman Adit dulu bilang kalau hari ini Adit tidak masuk sekolah," kata sang adik dengan pasrah.


"Iya sekalian kamu ganti baju dulu," kata Tina.


Tina pun berdiri dan bergegas masuk ke dalam kamar untuk mengambil jaket dan dompet miliknya.


"Ayo Dit," ajak Tina dengan wajah sumringah.


"Bentar mbak, Adit ganti baju dulu," pinta Adit karena dia belum sempat mengganti seragam sekolahnya.


Di sinilah mereka berdua Adit dan Tina.


"Dit mbak mual Dit," kata Tina menepuk pelan pundak Adit dari belakang.


"Bentar mbak, Adit cari tempat dulu buat berhenti,'' kata Adit dengan binggung menoleh ke kanan kiri mencari tempat untuk berteduh.


"Hoeeekk..."


"Duh mbak Nana kok bisa begini sih, sepertinya mbak masuk angin ini," kata Adit memijit punggung kakaknya karena tak tega melihat sang kakak yang berjongkok memuntahkan air karena pagi ini perut Tina belum terisi apapun.


"Nih mbak minum," kata Adit menyodorkan minuman kemasan kepada kakaknya itu.


"Terimakasih,"


"Mbak kita pulang saja ya," usul Adit yang tak tega melihat kondisi kakaknya itu.


"Jangan, nanggung Dit tinggal sebentar lagi sampai pasar," tolak Tina.


"Ya sudah deh mbak, ayo Adit bantu," kata Adit memapah Tina untuk duduk diatas motor miliknya itu.


Adit melajukan motornya dengan pelan agar Tina merasa nyaman.


"Mbak ayo turun," ajak Adit saat keduanya sudah sampai di pasar.


"Bentar mbak Adit parkir dulu," kata Adit agar kakaknya itu tidak masuk kedalam terlebih dahulu.


Keduanya pun masuk ke dalam pasar, Tina semakin mual membuat dia harus menunggu kembali keluar dan menunggu Adit. Tina pun di minta Adit untuk membelikannya buah-buahan yang sedang dia inginkan.

__ADS_1


Tina memilih menunggu Adit sambil menikmati es degan.


SEDANGKAN DI TEMPAT BERBEDA


Doni menerjabkan matanya, dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Bau obat menyeruak di dalam ruangan itu.


"Akhirnya kamu sadar juga," kata Bimo berjalan mendekat ke arah Doni yang terbaring di ranjang.


"Ini di mana?" Tanyanya pelan.


"Ini di rumah sakit," jawab Bimo.


"Iya maksudnya di rumah sakit mana?" Tanya Doni karena dia tak asing dengan rumah sakit ini.


"Rumah sakit yang dulu kamu pernah di rawat di sini," jelas Bimo.


"Berarti kita sudah kembali dari negara B," guman Doni masih di dengar oleh Bimo.


"Iya tuan muda meminta kita membawa mu kembali untuk di rawat di sini."


"Terus mereka," kata Doni menanyakan tentang pria target mereka kemarin yang berhasil mereka lumpuhkan.


"Tenang pria itu sudah aman dan ada di markas kita dan mungkin pria itu sudah tak berbentuk karena tuan muda," jelas Bimo acuh.


Doni mengangguk mengerti, Doni berusaha bangun namun dengan cepat Bimo mencegahnya.


"Hei mau kemana kamu?" Tanya Bimo.


"Aku ingin duduk."


Bimo pun membantu Doni untuk duduk. "Yang sakit itu tangan ku dan aku masih bisa duduk tak perlu di bantu," protes Doni.


"Ck sakit saja masih cerewet," kata Bimo menyenggol pelan lengan Doni dengan sengaja.


"Sakit tahu," kesal Doni.


"Nah tuh tahu masih saja tak mau di bantu," grutu Bimo.


Ceklek...


Keduanya asyik berdebat yak menyadari kalau ada seseorang membuka pintu.


"Hei kalian ini berisik banget sih, ini rumah sakit bukan taman bermain," kata Gre yang baru masuk ke dalam ruangan.


"Kamu juga Bim, kemarin saja nangis bombai sekarang berantem. Heran gue sama kalian berdua," grutu Gre yang hafal betul tingkah laku kedua temannya itu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2