
"Kenapa aku baru sadar sekarang," lirih Doni merutuki ketidak pekaan dirinya saat ini atau lebih tepatnya selama ini dia di bodohi dengan wajah polos pria tua itu. Ah mengingat nya saja membuat Doni kesal setengah mati bahkan keluarga sang tuan muda dan semua bodyguard sang tuan muda tidak ada yang menyadarinya selama ini.
Doni mengelengkan kepalanya antara ragu dan bimbang, kalaupun ternyata semua itu ulah dari pria yang tak dia sangka-sangka selama ini. Pria yang dia kenal baik, jujur saat ini Doni dilanda kebingungan tentang apa yang harus dia lakukan untuk menyeret pria itu apalagi pria itu selama ini pintar mengelabui dirinya dan tuan mudanya.
"Apa wajah ku jadi begini juga karena ulahnya," lirih Doni sedih tak percaya pria yang dia anggap baik tega berbuat seperti ini sampai membuat wajahnya mengerikan bagai monster. Doni mengepalkan tangannya dengan erat sampai otot-otot di tangannya terlihat menegang.
Doni mau tidak mau harus segera menyampaikan semua ini kepada tuan mudanya agar pria tua itu segera di ringkus dan tidak semakin membahayakan tuan muda nantinya.
Doni pun bergegas menuju ke arah kamar sang tuan muda namun saat di tengah jalan dia berpapasan dengan pria tua yang dia curigai.
"Mau kemana Don?" Tanya pria masih tetap dengan senyum ramahnya.
"Andai aku tak tahu wajah aslimu mungkin aku tertipu dengan topeng senyum mu itu," batin Doni.
"Ah tidak saya hanya mau berkeliling memantau keadaan itu saja," bohong Doni karena dia tentu tak mau bicara jujur kalau dia tengah mencari sang tuan muda, bisa-bisa pria itu menaruh curiga kepadanya.
"Oh ya sudah lanjutkan saja," jawabnya setelah itu berlalu pergi meninggalkan Doni yang masih terdiam terpaku di tempatnya.
Doni seketika sadar akan sesuatu hal. "Aku harus cari tempat yang aman untuk berbicara dengan tuan muda, takutnya semua tempat telah terpasang cctv atau penyadap dan sebagainya, ya pokoknya aku harus berhati-hati dan Bimo tidak boleh tahu akan hal ini sebelum semuanya terkuak mengingat Bimo terlalu polos dan sering berbicara keceplosan saat ada yang memancing dia," batin Doni di dalam hati nya saat ini.
Doni pun mengambil ponsel dan mengirimkan pesan singkat untuk sang tuan muda.
Doni tak ingin semuanya gagal apalagi tuan muda juga saat ini sedang dalam bahaya mengingat tuan besar sudah tak ada lagi.
Di sinilah Doni dan sang tuan muda berada.
Tempat ini seperti lorong rahasia, Abraham sudah duduk di kursi kecil yang tersedia di sana.
"Katakan," pinta Abraham.
Doni pun mengatakan semuanya yang dia ketahui dan semua prasangka yang menuju ke arah pria tua itu, awalnya mendengar ucapan Doni, Abraham tak percaya namun dia seketika sadar akan sesuatu ketika sang Papa pernah berpesan kepadanya. "Jangan percaya dengan apa yang kamu lihat."
Kata-kata itu selalu terngiang di telinganya, Abraham baru sadar mungkin ini yang di maksud oleh papa nya waktu itu.
__ADS_1
"Apa rencana mu?" Tanya Abraham.
Doni pun menjelaskan lagi semua rencana yang telah dia susun.
"Satu jam lagi kita bergerak," kata Abraham seperti perintah.
Abraham pun berjalan pergi meninggalkan ruangan tersebut, Doni menuju pintu samping yang langsung terhubung dengan markas.
Doni meminta semua anak buahnya untuk bersiap dan juga Mark maupun Tito. Mereka harus bergerak cepat meringkus semua tikus-tikus yang bermuka dua yang menjadi bawahan dari pria yg tua itu.
Doni, Mark, Bimo dan Tito pun mendiskusikan rencana yang akan mereka jalankan untuk menyeret para penghianat itu.
"Kita harus pastikan semuanya bersih, setelah ini kita harus perkuat kedudukan tuan muda di perusahaan agar tidak ada yang berani berfikir untuk mengeset kedudukan tuan muda nantinya sebagai penerus sah tuan besar," kata Doni kepada Bimo, Tito dan Mark.
Tap tap tap tap tap tap...
Langkah kaki menggema terdengar begitu mengusik mereka, membuat semuanya menoleh.
Mereka bergegas berdiri kala tahu siapa yang datang. " Tuan muda," sapa semuanya menunduk hormat.
Keempat orang itu menatap sang tuan muda dengan rasa penasaran, apa yang akan disampaikan oleh tuan mudanya itu.
"Doni mulai hari ini kamu akan menjadi bodyguard pribadi ku satu-satunya....." Belum selesai Abraham berbicara, Bimo sudah menyela ucapannya membuat Abraham melotot.
"Bagaimana dengan saya tuan?" Tanya Bimo dengan polosnya membuat semuanya yang ada di sana menghela nafas panjang.
"Kamu diam dulu dengarkan aku," pinta Abraham.
"He he he he he, maaf tuan muda," jawab Bimo cengengesan.
Abraham tak mempermasalahkannya karena dia tahu bagaimana sifat Bimo.
"Oh ya untuk Mark, kamu harus membantuku di perusahaan dan tentunya juga sebagai mata-mata dan untuk anda paman Tito sudah saat nya anda beristirahat dan biarkan Bimo mengantikan anda menjadi pemimpin semua bodyguard. Paman Tito tinggal membantu dan mengawasi Bimo dan paman juga bisa membantuku belajar di perusahaan,'' jelas Abraham panjang lebar.
__ADS_1
Keempat orang itu mengangguk patuh.
"Oh ya tuan muda, bagaimana dengan asisten pribadi apakah anda memakai asisten lama milik almarhum tuan besar dulu atau anda ingin menggantinya?" Tanya Tito yang lebih tua dari mereka semua.
"Aku ingin menggantinya namun nanti tunggu kabar dari teman ku. Aku ingin semuanya berpihak kepada ku karena aku sudah lama mencurigai asisten papa itu. Oh ya besok paman Tito dan Mark kalian berdua harus mulai membersihkan perusahaan papa," pinta Abraham dengan penuh permohonan karena Abraham sudah tak mempunyai siapapun kecuali mereka ini.
"Baik tuan muda,kamu mengerti," jawab keduanya serempak.
Doni menatap jam yang melingkar di tangannya. "Maaf tuan muda sudah waktunya kita bergerak," kata Doni membuat semuanya pun sadar.
"Ingat kalian harus selamat, aku tak ingin sesuatu terjadi kepada kalian," pinta Abraham.
"Siap tuan muda," jawab mereka serempak.
Abraham pun duduk di sini menunggu keberhasilan mereka.
Bimo, Doni , Tito dan Mark menyiapkan anak buahnya masing-masing.
Sebelum mereka semua pergi menjalankan tugasnya, mereka sudah membagi tugas masing-masing jadi bisa mempercepat eksekusi nantinya.
"Aku ingin kalian semua berhasil dan usahakan jangan sampai terluka," kata Doni kepada anak buahnya.
"Siap laksanakan," jawab semua serempak.
Begitu dengan yang lainnya, Mark, Bimo maupun Tito.
Tak lupa semua juga membawa senjata untuk mencegah sesuatu yang tak diinginkan.
"Hidup tuan muda," kata Doni sambil mengacungkan senjata miliknya ke atas
"Hidup tuan muda," jawab mereka semua mengikuti Doni.
Mereka semuanya pun berbaris rapi sesuai dengan arahan dari keempat orang tadi sebelum benar-benar pergi menuju mansion untuk menjalankan perintah sang tuan muda.
__ADS_1
Bersambung.....