Suamiku Bodyguard Buruk Rupa

Suamiku Bodyguard Buruk Rupa
65. Pulang ke rumah


__ADS_3

Doni mendekat ke arah Tina, dia langsung merapatkan tubuhnya ke arah sang istri. Tina berdebar dibuatnya meskipun bukan pertama kalinya kedua dalam jarak begitu dekat namun setiap kali dirinya berdekatan dengan sang suami ada perasaan yang sulit di jelaskan namun bukan perasaan takut.


Doni mendekat ke arah perut Tina untuk menyapa sang anak yang entah berumur berapa hari itu. "Assalamualaikum nak, sehat-sehat terus di dalam perut bunda," lirih Doni sambil mengusap pelan perut istrinya itu dengan penuh kasih sayang.


Tina yang melihat itupun terharu, Tina begitu bahagia.


"Kok bunda, kenapa tidak ibu atau mama, eeeeemmmm umi juga bagus?"Tanya Tina menggoda suaminya itu.


"Aku lebih suka dengan panggilan bunda, terdengar lebih enak di dengar. Tetapi kalau kamu ingin dipanggil mama, mami, ataupun umi sekaligus juga tidak apa-apa asal kamu senang," jawab Doni masih setia mengelus perut sang siatri.


"He he he he he geli mas, singkirkan tangan mu geli..." Tina meronta mencoba melepaskan tangan sang suami.


"Kenapa sih, aku tidak ngapa-ngapain kok," protes Doni.


"Iya tapi tangan kamu itu buatku geli," jelas Tina.


KEESOKAN HARINYA....


"Pak, Bu kami pamit pulang," kata Doni mencium tangan kedua mertuanya secara bergantian.


"Kak Doni kok sudah mau pulang sih," protes Adit yang masih belum rela mbak Nana dan suaminya itu pulang.


"Hei bocah, mas Doni banyak pekerjaan yang di urus bukan pengangguran," kata Tina memukul pelan pundak adik laki-lakinya itu.


"Bu mbak Nana jahat," Adit mengadu.


"Sudah-sudah jangan bertengkar," lerai bapak.


"Nak Doni jangan lupa sering pulang ke sini tengok kami," pinta bapak memeluk menantunya itu dengan berkaca-kaca.

__ADS_1


"Iya pak," jawab Doni.


"Dit bentar lagi libur sekolah, kamu sama bapak dan ibu datang ke rumah mbak saja. Kamu tinggal hubungi mas Doni," kata Tina dengan berbinar menatap sang suami meminta persetujuan.


"Iya benar apa kata mbak mu, kamu bisa hubungi aku nanti akan ada yang menjemput kalian di kampung atau kalian bisa naik mobil travel biar nanti aku yang urus semuanya," kata Doni menyakinkan.


"Buk, pak... Nana pamit. Assalamualaikum," kata Tina yang masuk ke dalam mobil di susul Doni.


Tina membuka kaca mobil dan melambaikan tangannya ke arah keluarganya dengan sedih harus berpisah lagi.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh..." Jawab ketiganya serempak. Tak lupa juga melambaikan tangannya.


"Sudah jangan sedih, kita bisa datang ke kampung lagi atau mereka bisa datang ke kota," bujuk Doni.


"Ingat anak kita jangan sedih nanti anak kita akan ikut sedih," sambung Doni.


Tina menoleh ke arah sang suami dan mengangguk setuju.


Sebelumnya Doni sudah membawa Tina ke bidan sesuai dengan perkataan bidan kemarin, Doni juga ingin memastikan kondisi istrinya itu baik-baik saja saat melakukan perjalanan pulang ke rumah.


Doni berhenti di setiap minimarket yang dia lihat karena takut istrinya itu kelelahan ataupun lapar.


Setelah perjalanan jauh yang dilewati keduanya, akhirnya mobil pun sampai di rumah mewah milik Doni.


"Ah akhirnya sampai," keluh Tina yang sudah merasa lelah.


Doni pun segera membuka pintu rumahnya agar istrinya itu bisa segera beristirahat.


Doni menutup pintu pagar, dia segera menuju mobil mengambil koper miliknya dan barang-barang milik istrinya juga. Tak lupa juga Doni menaruh beberapa minuman, kue atau keripik yang di belinya tadi saat singah di minimarket. Doni sengaja membeli begitu banyak agar istrinya itu tidak perlu repot-repot keluar untuk membelinya. Doni juga membawa 4 bungkus nasih di taruh di Magicom agar tak basi setelah itu dia juga menaruh sayur lodeh nangka di dalam kulkas agar sewaktu-waktu dia lapar dia bisa memanaskannya lagi. Ayam goreng, serta perkedel kentang juga tak lupa Doni masukkan ke kulkas.

__ADS_1


Setelah semua beres, Doni pun langsung menarik kopernya masuk ke dalam kamar, Doni pun duduk di soglfa memutar tubuhnya yang terasa kaku.


Ceklek...


Tina keluar dari kamar mandi dengan baju yang sudah berganti, wangi sahampo bercampur dengan sabun menyeruak di hidung Doni.


"Oh ya mas, siapa yang membersihkan rumah ini selama kita di kampung?" Tanya Tina dengan heran melihat rumah ini rapi tak berdebu.


"Aku meminta seseorang untuk membersihkan rumah, kalau kamar ini aku tak mengijinkan siapapun masuk jadi aku sendiri yang membersihkannya," jelas Doni membuat Tina mengerti.


"Kamu tidur saja kalau lelah," kata Doni.


"Terus mas Doni mau kemana?" Tanya Tina.


"Aku mau mandi," jawabnya berjalan menuju ke arah kamar mandi.


Tina pun merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk miliknya, Tina tak menyangka dia bisa menikmati semua ini. Rumah mewah dengan perabotan lengkap, dia merasa di ratukan oleh suaminya.


"Kalau jadi cerita pasti bagus nih, suami ku bodyguard penyayang atau suamiku Bodyguard Buruk Rupa," kata Tina cekikikan memikirkan kisah hidupnya yang rumit dan Tina bersyukur ternyata Doni begitu baik kepadanya.


Tina menguap berkali-kali, dia pun tertidur pulas menjemput mimpi.


10 menit Doni keluar dari kamar mandi.


"Dia sudah tidur," guman Doni mengelengkan kepalanya, begitu cepat istrinya itu tidur.


"Mungkin dia kelelahan," kata Doni langsung menuju lemari mencari baju miliknya setelah itu Doni keluar dari kamar.


Doni pun menuju garasi mengeluarkan motor sport miliknya untuk menemui seseorang.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2