Suamiku Bodyguard Buruk Rupa

Suamiku Bodyguard Buruk Rupa
24. Menipu Tikus kecil


__ADS_3

"Ketemu...." Seru Doni saat melihat target tak jauh dari sana.


"Bos apa yang harus kita lakukan, apa kita langsung tembak kakinya agar dia tak bisa lari jauh," saran dari anak buah yang mengikutinya.


"Biarkan saja, aku ingin lihat apa yang akan dia lakukan, mungkin nanti dia mencari bosnya atau entahlah, kita ikuti saja dia," jawab Doni disertai perintah agar mereka tak bertidak gegabah.


Doni tersenyum saat melihat pria itu tengah kebingungan mencari jalan keluar. Pria itu menoleh ke kanan kiri mencari jalan keluar yang tidak di jaga.


"Kamu kira bisa kabur dari sini, hmmm jangan harap," kata Doni di dalam hati dengan senyum mengerikan menatap punggung pria itu yang berlalu pergi dengan cepat seperti takut akan tertangkap olehnya.


Orang itu tidak akan bisa kabur karena Doni sudah meminta semuanya untuk bersiaga di depan maupun di belakang sehingga tak ada yang bisa lolos dari sana.


Doni tak akan membiarkan pria itu lolos kali ini.


Tap tap tap tap tap tap...


Pria itu menoleh saat mendengar suara derap langkah kaki seperti orang-orang berjalan mendekat ke arahnya.


Prok prok prok prok prok prok....


Tepukan keras terdengar menggema di seluruh penjuru lorong itu.


"Ha ha ha ha ha ha, berharap bisa kabur. Tidak akan," kata Doni dengan tawa yang membuat anak buahnya yang mengikuti langkah Doni menjadi ketakutan di buatnya.


"Ck ternyata cuma tikus kecil yang sedang ingin bermain-main," kata Doni berdecak kesal, suaranya sengaja sedikit dia keraskan agar pria itu sadar keberadaan doni, di sana tak ada siapapun jadi Doni berani berbicara keras seperti tadi.


Pria itu ketakutan, dia menatap pria di depannya saat ini dengan tatapan sedikit takut, Doni melepaskan masker yang ada di wajahnya sehingga pria di depannya dapat melihat wajah mengerikan Doni saat ini membuat tubuh nya bergetar hebat, antara takut melihat wajah itu dan takut tertangkap.


"Aa-aa-ampun... Lepaskan aku," lirih pria itu memohon ampun dengan tatapan wajah yang pucat pasi.


"Melepaskan mu, jangan mimpi. Kamu sudah berani masuk dan mengusik tuan muda dan kamu dengan entengnya meminta ampun. Ha ha ha ha ha sungguh lucu," kata Doni mengejek pria itu.


"Tolong lepaskan saya, saya cuma di suruh memasukkan ini ke minuman itu dan saya tidak tahu apa ini," katanya dengan nada bergetar ketakutan menunjukkan botol yang tadi dia bawa.


"Tidak tahu.....! Ck alasan yang tak masuk akal," jawab Doni dengan tatapan sinis.


Doni melirik ke arah anak buahnya sebagai tanda untuk segera meringkus pria di depannya saat ini.

__ADS_1


Grepp...


Pria di langsung di sergap oleh anak buah Doni, tangannya di taruh di belakang dan di borgol.


"Ahhh apa yang kalian lakukan," teriak pria itu saat tangannya di tarik paksa ke belakang dan di borgol.


"Lepaskan aku..." Pria itu berteriak meronta-ronta meminta di lepaskan.


Saat anak buah Doni hendak membawa mereka, pria itu meronta-ronta.


Doni menyipitkan matanya saat tanpa sengaja melihat


"Tunggu," teriak Doni saat mereka menyeret paksa pria itu.


Doni meraba bekas luka yang ada di belakang leher pria itu.


"Hei lepaskan aku...." Pria itu masih mencoba untuk meminta di lepaskan.


"Dari mana kamu dapat bekas luka ini hah??" Tanya Doni dengan marah.


"Apa urusan mu," ketus pria itu sambil meronta-ronta.


"Cepat katakan atau ku congkel kedua mata mu," bentak Doni penuh amarah.


"I i ini kecelakaan," elak pria itu.


"Kecelakaan ya?" Tanya Doni berpura-pura percaya.


Doni pun mengeluarkan pisau lipat yang dia bawa tiap hari. "Bicara jujur atau pisau ini yang akan berbicara," ancam Doni.


"Ampun, ampuni aku," pinta pria itu memelas.


"Oh tidak mau bicara ya, jadi...." Doni menggertak dan mengelus pipi pria itu dengan pisau membuat pria itu gemetar ketakutan.


"Iya iya aku mau bicara, hiks hiks hiks hiks lepaskan aku," pria itu ketakutan saat benda tajam itu menari-nari di pipinya dan sedikit menggores wajahnya membuat pria itu meringis kesakitan.


Meskipun hanya membuat pipinya tergores namun tidak ada darah yang keluar cuma menimbulkan rasa perih yang menjalar.

__ADS_1


"Cepat katakan..." Bentak Doni hilang kesabaran.


"I-ini ku dapat saat aku bertarung melawan pria sewaktu berada di negara tetangga," jawabnya dengan menunduk gemetar.


"Bawa dia ke markas, jangan biarkan dia bunuh diri karena aku ingin dia hidup sampai aku sendiri yang mencabut nyawanya," kata Doni dengan seringai yang terlihat menyeramkan di wajahnya.


Beberapa anak buah Doni bergidik ngeri saat melihat raut wajah Doni yang mereka pahami.


"Ck berani cari masalah dengan keluarga tuan muda tentunya harus siap menghadapi bos Doni dulu," batin anak buahnya.


"Ha ha ha ha ha ha, selamat menjadi mainan bos Doni," batin anak buah yang satunya lagi.


Pria itu di seret paksa oleh anak buah Doni dengan cepat, tak lupa dari mereka langsung memukul tengkuk pria itu agar pria itu tak membuat keributan dan menganggu acara pengajian ini.


Doni merapikan bajunya dan memakai kembali masker di wajahnya dengan cepat.


Doni pun berbalik pergi namun sebelum dia melangkah Doni tersenyum misterius tanpa ada yang tahu.


"Fyuuuhhh....." Seseorang menghela nafas panjang saat melihat Doni pergi meninggalkan tempat itu.


"Akhirnya pria itu pergi, untung saja aku cepat bersembunyi," kata seseorang yang bersembunyi di balik semak-semak tumbuhan yang ada di samping tembok, tanaman itu cukup lebar membuat pria itu bisa bersembunyi di dalamnya.


Pria itu pun bergegas pergi menyusup ke tempat di mana para pelayan sibuk menata cemilan dan minuman untuk para tamu yang hadir.


Sedangkan Doni menekan earpiece miliknya sehingga panggilan itu tersambung seseorang di sebrang sana.


"Pastikan kamu tidak kehilangan jejak tikus tadi dan aku tidak ingin mendengar kata gagal dari mulut mu," kata Doni penuh peringatan agar seseorang di sebrang sana menjalankan tugasnya dengan sebaik mungkin.


"Beres bos, ku pastikan dalang di balik tikus itu tertangkap," jawab pria di sebrang sana dengan dengan penuh keyakinan.


"Bagus ku ingat kata-kata mu," jawab Doni tersenyum samar sebelum mematikan sambungan itu dan berlalu pergi menuju ke tempat di mana sang tuan muda berada.


Tap tap tap tap tap....


Doni pun sampai tempat di mana sang tuan muda berada, Doni melihat tuan mudanya itu sedang duduk di temani Aruna, lebih tepatnya Aruna sedang menghibur tuannya itu.


"Semoga wanita itu bisa membuat tuan muda tersenyum lagi namun entahlah dalam lubuk hatiku merasa wanita itu akan membawa kesakitan untuk tuan muda, ah semoga itu semua hanya perasaan ku saja," lirih Doni di dalam hatinya saat ini menatap sang tuan muda dan perempuan itu dengan tatapan rumit.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2