
Sudah 4 hari Doni di rawat di rumah sakit ini, setiap hari juga Abraham sang tuan muda itu menyempatkan menjenguk Doni di rumah sakit. Memantau semua perkembangan Doni sampai dirinya sembuh.
Abraham tahu bagaimana kondisi Doni dan juga Abraham menyarankan Doni agar mau melakukan operasi di luar negeri nanti kalau Doni sudah sembuh sepenuhnya. Namun Abraham harus menelan kekecewaan saat Doni menolak tawaran darinya. Doni tak ingin merepotkan sang tuan muda.
Bimo masih setia menemani Doni setiap hari, menghibur temannya itu agar Doni melupakan kesedihannya. Apalagi Bimo sering melihat Doni melamun tak jelas, entahlah Bimo tak tahu karena Doni tak pernah terbuka dengan dirinya.
"Don, aku ngantuk," kata Bimo yang matanya sudah berat menahan rasa ngantuk.
Doni melirik ke arah jam dinding dan benar saja Bimo sudah merasa ngantuk karena jam sudah menunjukkan jam 10 malam.
"Tidurlah....." Jawab Doni tanpa melirik ke arah Bimo.
Bimo pun menaikkan kedua kakinya ke atas sofa untuk mengistirahatkan tubuhnya yang terasa lelah karena seharian menjaga Doni.
Bimo menatap langit-langit ruangan itu, menghela nafas panjang setelah itu dia pun memejamkan matanya yang sudah lelah.
Doni pun sama, dia ikut memejamkan matanya mengistirahatkan pikiran dan juga hatinya.
KEESOKAN HARINYA
Bimo memasukkan baju-baju milik Doni ke dalam tas. Bimo sudah tak sabar ingin pulang dan merasakan nyamannya ranjang tempat tidur nya, Bimo rasanya sudah bosan tidur di sofa beberapa hari, tubuhnya sudah remuk.
"Sudah tidak ada yang ketinggalan?" Tanya Doni memastikan semuanya kepada Bimo saat ini, karena Doni hafal betul bagaimana Bimo.
"Tidak ada," jawab Bimo dengan begitu yakin kalau dia sudah mengemas semuanya dengan benar. Bimo bahkan mengeceknya sampai 2x.
"Hmmm....! Aku tak ingin ada yang ketinggalan dan kamu tak akan berhenti mengomel sepanjang jalan kalau nanti ada satu barang pun yang tertinggal," kata Doni.
"Iya kamu tenang saja, ku pastikan tidak ada yang tertinggal karena aku sudah mengecek semuanya sampai 2x," kata Bimo dengan yakin.
Tak lama muncullah Reza dan Gre yang di tugaskan untuk menjemput Doni. Abraham cuma mengirimkan pesan permintaan maaf karena dirinya tak bisa datang untuk menjemput Doni karena dirinya nada tugas kelompok bersama dengan teman-temannya.
Doni pun turun ranjang, dia duduk di atas kursi roda di bantu oleh Reza dan Gre dengan wajah tak bersahabat menahan rasa kesal.
Awalnya Doni sempat memprotes, dia tak ingin duduk diatas kursi roda. Doni merasa baik-baik saja, dia tak terluka apapun di tubuhnya cuma bagian wajahnya yang tertimpa kayu kemarin.
"Ayo," ajak Gre ke arah Bimo.
__ADS_1
Untuk perban di wajah Doni masih belum di buka oleh dokter, karena luka di wajah Doni belum sembuh sepenuhnya.
DI DALAM MOBIL.....
Saat ini mereka semua sudah berada di dalam mobil.
"Sudah nyaman?" Tanya Reza saat sudah menaruh Doni di dalam mobil.
Doni memutar bola matanya dengan malas, dia sedikit jengah karena Reza memperlakukan dirinya seperti orang sakit padahal dia sudah sembuh dan tubuhnya juga tidak sakit cuma lecet sedikit.
"Ck kamu pikir aku ini sakit, hei aku ini baik-baik saja lihatlah," protes Doni tak lupa menunjukkan otot kekarnya.
Reza tak menggubris, dia pun beralih duduk di depan untuk mengemudikan mobilnya. Sedangkan Gre memilih duduk di samping Reza.
Gre melirik ke belakang di mana Bimo dan Doni duduk, Gre menghela nafas panjang, beginilah sifat Doni.
"Iya iya kamu sudah sehat," kata Gre mengiyakan saja tak ingin berdebat dengan Doni.
"Ayo jalan, aku sudah tak sabar ingin makan masakan chef Hans," kata Bimo berbinar membayangkan berbagai hidangan yang sering chef Hans sediakan untuk mereka.
"Dasar tukang makan," ejek Reza membuat Gre dan Doni terkekeh kecil. Dia hafal betul kalau Bimo suka makan dalam porsi besar namun terkadang mereka sering berfikir kemana larinya semua itu karena melihat Bimo tak gemuk-gemuk.
Ckitt.... Mobil berhenti di lampu merah.
Reza menoleh ke belakang dia bisa melihat kalau semuanya diam dengan kesibukan masing-masing, Doni memilih memejamkan matanya, Gre yang sibuk dengan ponselnya sedangkan Bimo tengah sibuk sendiri, entahlah Reza tak tahu.
Saat lampu sudah berwarna hijau, Reza pun melajukan mobilnya kembali.
Tiba-tiba....
"Berhenti...."
Reza masih diam memilih mengurangi kecepatan. Sedangkan Gre memilih menoleh ke belakang ke arah sumber suara, Reza maupun Gre di buat binggung dengan kelakuan Bimo.
"Apaan sih Bim?" Tanya Gre menyergit heran.
"Hei berhenti...." teriak Bimo namun dia tak menggubris pertanyaan dari Gre tadi.
__ADS_1
Gre berdecak kesal, karena Bimo mengacuhkan dirinya. "Ck....."
"Berhenti...." Teriak Bimo dengan resah, binggung bercampur menjadi satu di wajahnya.
Reza pun langsung mengerem mobilnya dengan mendadak membuat Doni yang saat ini sedang memejamkan matanya pun langsung terbangun.
Untung saja Reza tepat di jalan yang agak sepi.
Doni binggung menatap ke sekeliling, namun dia menghela nafas kasar saat tahu Bimo berteriak meminta berhenti. Bimo mempunyai firasat pasti ada sesuatu yang tertinggal, Doni sangat yakin karena Doni sudah hafal betul Bimo.
"Berhenti. Ayo putar balik lagi," pinta Bimo.
Gre maupun Reza di buat melongo, perasaan mereka tiba-tiba tak enak.
Doni memilih memejamkan matanya lagi, dia acuh tak acuh saat mengetahui semua ini ulah Bimo. Doni bisa menebak semuanya.
"Apaan sih Bim, kamu buat aku kaget saja," kesal Reza karena ulah dari Bimo tadi dia harus mengerem mobilnya secara mendadak, untung saja tidak terjadi kecelakaan atau apapun itu.
"Iya nih, suka banget sih buat orang kaget," grutu Gre yang ikut kesal.
"Untung saja tidak terjadi kecelakaan," sambung Gre lagi.
"Cepat katakan, atau ku tendang kamu keluar," teriak Reza murka, untung saja jalan ini sepi jadi dia bisa berhenti sembarangan kalau tidak bisa-bisa mereka di teriaki oleh pengemudi lain karena berhenti di tengah jalan mendadak.
"He he he he he he, slow bro," jawab Bimo sedikit takut apalagi melihat Gre maupun Reza terlihat garang seperti harimau yang siap memangsa buruannya.
"Cepat katakan hah....." Bentak Gre.
"Jam tangan aku ketinggalan di rumah sakit," jawab Bimo memelas membuat ketiga nya (Reza, Gre, Doni) menghela nafas panjang.
Gre menepuk keningnya frustasi.
"Biarin saja, besok ku ganti repot amat sih. Mana sudah jauh," kata Reza.
"Iya kamu jalan saja," kata Gre.
"Hiks hiks hiks hiks hiks, please kita balik ya," pinta Bimo dengan air mata buaya.
__ADS_1
Bersambung....