
Bimo berdecak kesal saat sedari tadi dia di ikuti bocah ingusan yang membuatnya kesal. Bagaimana tak kesal bocah yang tak lain adalah adik ipar Doni ini mengikutinya bagaikan itik mengikuti induknya.
"Ck nih bocah buat kesal saja sih, dari tadi ngikutin Mulu," grutu Bimo di dalam hatinya.
"Om Bimo mau kemana?" Tanya Adit dengan ramah.
"Jalan..." Jawab Bimo datar.
"Om kerja jadi bodyguard enak tidak? Terus bayarannya gede ya?" Tanya Adit dengan begitu antusias.
"Hei bocah, kamu tanya saja tuh sama kakak ipar kamu, jangan ikuti aku teru. Aku mau menghubungi tuan muda," kesal Bimo.
"Ya kak Doni dari tadi nempel terus sama mbak Nana," jawabnya.
"Lha terus kenapa kamu ngikuti aku dari tadi kayak bebek," grutu Bimo sesekali melihat ponsel mahal miliknya yang seperti tak berguna karena sinyal di kampung ini begitu sulit.
Bimo sedari tadi mondar-mandir di depan rumah sambil menggoyangkan ponselnya mencari sinyal.
"Ya kan aku mau tanya sama om Bimo," jawab Adit masih engan meninggalkan Bimo sendirian.
"Am om am om ...... Ck sejak kapan aku jadi om mu," grutu Bimo tak suka, sedangkan Adit hanya meringis tak jelas.
"Ah dapat..." Seru Bimo dengan bahagia lalu menghubungi tuan mudanya meninggalkan Adit yang terbengong sendirian di sana.
Adit manyun karena pria itu mengacuhkan dirinya dari tadi.
"Ya sudah deh tanya kak Doni saja lah," kata Adit berbalik pergi membuat Bimo leluasa berbicara dengan sang tuan muda.
Doni berjalan dengan riang menuju ke arah rumah namun dia di hentikan dengan suara dari tetangganya.
"Dit Adit sini...." Panggil seseorang pria yang seumuran dengan orang tuannya.
"Ada apa sih mang Roni panggil aku?" Tanya Adit saat sudah mendekat ke arah pria yang memanggilnya.
"Hei aku mau tanya, dengar-dengar mbak mu sudah pulang? Tadi aku lihat ibu kamu bagi-bagi jajan ke tetangga katanya oleh-oleh dari si Tina?" Tanya pria itu menggebu-gebu.
"Iya mbak Nana sudah pulang," jelas Adit dengan polosnya.
"Terus itu mobil milik mbak mu atau hasil pinjam biar di kata kalau dia sukses dan kaya," sinis pria yang bernama Roni itu.
__ADS_1
"Lha itu sih bukan milik mbak Nana tetapi milk suaminya," jelas Adit heran melihat pria di depannya begitu sinis.
"Dasar kampungan, pulang bawa mobil bagus buat pamer. Sombong banget sih,'' ceplos Roni dengan semakin sinis.
"Yee dasar mang Roni saja yang berfikiran begitu, mbak Nana tidak sombong tuh buktinya punya mobil dan rumah mewah saja tidak bilang-bilang," bela Adit kesal dengan tetangganya yang sepertinya iri itu.
"Dih kerja jadi pengasuh saja bisa punya rumah dan mobil atau jangan-jangan," sindir mang Roni.
Adit semakin meradang di buatnya.
Adit mengepalkan tangannya bersiap ingin memukul pria di depannya itu namun niat itu di urungkan saat mendengar seseorang memanggil namanya.
"Adit...."
"Adit ke sini...."
Adit pun meninggalkan mang Roni namun Adit sebelum pergi memberi tatapan horor kepada pria tua yang bermulut pedas itu.
"Cih dasar anak kecil, memang dia pikir saya takut," kata mang Roni sebelum pergi meninggalkan tempat itu.
"Kenapa sih punya tetangga tak ada yang normal," grutu Adit sambil berjalan masuk ke dalam rumah.
"Itu tuh pak, mang Roni ngeselin masa bilang kalau mbak Nana sombong pulang kampung saja bawa mobil," jelasnya atau lebih tepatnya mengadu.
"Biarin saja lah, tidak perlu kamu hiraukan. Kan mang Roni orangnya begitu, ingat tidak dulu saat pak RT baru beli motor baru yang lebih bagus dari punya dia," kata bapak mengingatkan sang anak tentang kelakuan dari tetangganya yang bin ajaib itu.
"Ya kan kesel saja pak dengernya," keluh Adit.
"Sudah-sudah jangan bahas lagi buat bapak ikut nambahin dosa saja."
"Ayo masuk, di panggil kakak ipar mu dari tadi tuh," kata bapak mengingatkan anaknya agar segera masuk menemui Doni secepatnya.
Adit pun masuk ke dalam rumah. Di ruang tamu sudah ada Doni dan Tina yang menunggunya sedari tadi.
"Mbak Nana panggil aku?" Tanya Adit saat masuk ke dalam.
"Bukan mbak yang panggil, tetapi mas Doni," jawab Tina.
Adit pun melirik ke arah suami kakaknya itu.
__ADS_1
"Kamu sekarang kelas berapa?" Tanya Doni dengan serius tanpa basa basi membuat Adit begitu kagum dengan pesona kakak iparnya itu yang terlihat begitu tegas.
"Adit sih sudah kelas 3," jawabnya dengan binggung.
"Kamu mau melanjutkan kuliah atau tidak nanti?" Tanya Doni membuat Tina maupun Adit terbengong.
Adit tak pernah membayangkan hal itu, Adit tahu bagaimana perjuangan mbak Nana nya dan kedua orang tuanya untuk menyekolahkan dia sampai SMA, jadi Adit tak pernah berharap. Adit hanya ingin segera bekerja untuk membahagiakan kedua orang tuanya saja dan tak ingin menjadi beban sang kakak.
"Hah kuliah kak?" Tanya Adit memastikan pendengarannya tak salah.
"Mas..." Tina melihat ke arah suaminya itu, Tina terharu mendengar sang suami begitu perhatian kepada adiknya itu.
"Bapak suruh masuk juga," pinta Doni.
Tina pun berdiri memanggil bapak yang sedang bersantai di teras rumah menunggu sang istri pulang.
Karena sudah lengkap, Doni pun mengutarakan maksudnya.
"Aku ingin bapak, ibu dan Adit nanti ikut kami tinggal di kota," jelas Doni membuat Adit dan bapak saling berpandangan.
"Maksudnya nak?" Tanya bapak masih linglung.
"Begini pak, saya berfikir lebih baik bapak sekeluarga nanti ikut kami ke kota. Kasihan Tina kalau saya tinggal bekerja dia sendirian di rumah," jelas Doni.
"Tetapi kak, Adit kan belum lulus," protes Adit masa dia akan di tinggal di sini sendirian. No way... Adit tidak akan mau.
"Ya nanti setelah kamu lulus sekalian kuliah di sana, kalau untuk rumah di sini terserah bapak mau diapakan asal jangan di jual," kata Doni membuat bapak binggung.
Dia menatap putrinya meminta pendapat.
"Bapak bisa pikirkan, karena jujur Nana di sana cuma tinggal berdua dengan mas Doni. Terkadang Tina merasa takut karena rumah itu terlalu besar untuk kita tinggali berdua," jujur sang anak membuat bapak tak tega.
"Bapak tidak perlu khawatir ataupun merasa tak enak. Di sana bapak dan ibu bisa membuka usaha kecil-kecilan kalau ingin. Doni akan usahakan," jelas Doni.
"Terus Adit kalau lulus langsung kuliah di kota," tanya sang adik dengan berbinar.
"Iya terserah kamu ingin masuk ke kampus mana dan kak Doni akan belikan kamu motor agar kamu lebih leluasa ingin kemana-mana," kata Doni semakin membuat bocah remaja itu kegirangan.
"Duh mbak Nana mimpi apa ya punya suami royal begini, meskipun wajah kak Doni begitu tetapi asli dia baik banget," kata Adit dengan senang di dalam hatinya menatap Doni dengan senyum yang manis.
__ADS_1
Bersambung....