
Siang hari cuaca terlihat tak bersahabat, gumpalan awan hitam menyelimuti langit yang biasan cerah terkena sinar matahari itu berubah mendung.
Doni tengah bersantai sambil menyeruput kopi hitam. Entahlah hari ini Doni ingin meminum kopi pahit itu karena pikirannya tengah kacau.
"Semoga firasat ku salah," lirih Doni.
Kring...
Kring...
Kring...
Ponsel Doni berbunyi membuat pria yang tengah melamun itu tersentak kaget di buatnya.
Dengan cepat Doni menekan tombol hijau dan menempelkan benda persegi panjang itu ke telinganya.
"Halo ada apa?" Tanya Doni tanpa basa-basi saat tahu yang menghubunginya adalah orang yang tadi pagi dia perintahkan.
"Semoga mereka menemukan sesuatu," guman Doni tentunya itu di dalam hati.
"Bos saya ingin melaporkan tentang perempuan itu," jawab pria di sebrang sana.
"Jelaskan," pinta Doni secara singkat sambil melirik Bimo yang sedari tadi juga penasaran siapa yang menghubungi sahabatnya itu.
"Bos target terlihat mencurigakan?" Terang seseorang di sebrang sana kepada Doni.
"Apa yang mencurigakan?" Tanya Doni dengan penasaran karena menurut pikirannya kalau wanita itu tidak sesederhana yang terlihat itulah yang Doni lihat dari kemarin.
"Saya melihat kalau dia pergi dengan seorang pria namun saat saya mencoba mencari informasi dari tetangganya. Mereka bilang kalau pria itu sering datang ke sana dan sesekali menginap namun tak ada yang tahu pastinya dia siapa. Ada yang bilang dia itu kakaknya, sepupunya atau kekasihnya, entahlah bos saya jadi binggung sendiri," jelasnya dengan raut wajah yang binggung.
"Pria??" Guman Doni juga merasa penasaran.
"Ya sudah tugasmu hari ini cukup sampai di sini saja, kamu bisa lanjutkan besok. Kamu harus dapatkan kebenaran siapa pria itu," jelas Doni meminta informasi yang lebih akurat lagi.
"Baik bos."
"Siapa pria itu? Dan apa hubungannya dengan wanita itu, apa mungkin dia kekasihnya?" Batin Doni bertanya-tanya di dalam hatinya saat ini.
Tut....
Panggilan itupun terputus sepihak tentunya Doni yang yang mengakhiri panggilan tersebut.
__ADS_1
"Siapa?" Tanya Bimo dengan raut wajah penasaran.
Fyuuuuuhhh..... Doni menghela nafas lega, akhirnya mereka mendapatkan petunjuk meskipun masih abu-abu dan belum pasti.
"Mereka sudah dapat sesuatu tentang perempuan itu namun mereka masih ragu karena informasi yang mereka berdua dapatkan masih membingungkan," jelas Doni sambil menyesap teh miliknya.
"Oh, apa yang membingungkan?" Tanya Bimo semakin di buat penasaran dengan jawaban yang keluar dari mulut Doni saat ini.
Brak...
"Auhhh ....." Pekik Bimo kesakitan akibat perbuatan Doni yang di sengaja itu.
Kenapa kamu menginjak kaki ku," kata Bimo melotot ke arah orang yang menginjak kakinya itu yang tak lain adalah Doni.
"Kamu lupa kita berada di mana hah..." Kata Doni membalas dengan tatapan tak kalah tajam.
"Ya kita sedang minum," jawab Bimo seenaknya dan masih belum sadar dengan pertanyaan dari Doni saat ini.
"Maksudku kita sekarang lagi di tempat umum kadi pelankan suara mu dan jangan bahas hal itu lagi," pinta Doni dengan geram karena Bimo yang tak mengerti situasi saat ini.
Bimo seakan lupa kalau ini adalah tempat umum dan dipastikan pembicaraan yang bersifat rahasia itu takutnya di dengar orang lain.
"Terus kita bahas dimana?"Tanya Bimo dengan wajah polosnya.
"Nanti kita bahas di mansion saja, takutnya pembicaraan kita di dengar orang lain dan membuat kita dalam bahaya," pinta Doni dengan suara pelan seperti berbisik ke arah Bimo tak lupa matanya sambil melirik ke kanan dan kiri memastikan semuanya aman, dia (Doni) merasa tak nyaman membicarakan hal itu di tempat yang ramai seperti ini.
"He he he he maaf aku lupa," guman Bimo ikut melirik ke samping memastikan kalau tak ada yang memperhatikan yang mengawasi pembicara dia dan Doni.
Ya saat ini mereka berdua sedang berada di sebuah cafe yang tak jauh dari kampus sang tuan muda. Doni dan Bimo memilih menunggu sang tuan muda di luar sesuai dengan permintaan dari tuan muda Abraham sendiri.
"Oh ya tumben tuan muda jam segini belum pulang," kata Bimo melirik ke arah jam yang ada di pergelangan tangannya saat ini.
"Mungkin sebentar lagi," sahut Doni menyesap minumannya sampai habis.
"Aku lapar," kata Bimo sambil mengelus perutnya.
"Ck kamu menyusahkan saja, kenapa tidak dari tadi pesan makanan. Kenapa kamu cuma pesan cake begini," grutu Doni.
"He he he he, kan tadi masih belum lapar," jawab Bimo tanpa rasa bersalah.
"Ya sudah aku mau pesan nasi goreng dulunya," kata Bimo.
__ADS_1
"Ya sudah silahkan, tetapi nanti kalau tuan muda menghubungi ku dan kamu masih belum selesai makan, siap-siap ku tinggal ya," kata Doni tersenyum namun senyum menantang.
"Mana bisa begitu," protes Bimo.
"Nasi goreng itu harus masak dulu butuh berapa menit belum lagi saat kamu makan, semakin lama saja kan," jelasnya.
"Oh iya ya, terus bagaimana? Aku kan masih lapar, kue ini tidak membuat ku kenyang," jelas Bimo.
"Ya sudah terserah kamu saja lah," jawab Doni cuek.
"Ah sudahlah aku tidak jadi pesan saja," kata Bimo dengan cemberut.
"Kamu pesan kue saja, kan ada tuh di sana," tunjuk Doni ke arah etalase yang berjejer berbagai macam jenis kue berjejer di sana dan tak perlu menunggu lama untuk menikmati kue itu.
"Ck hari ini aku bisa diabetes kebanyakan makan manis-manis," grutu Bimo.
"Siapa yang minta Kamu buat borong tuh kue. Kamu beli kue-kue secukupnya saja buat di makan di mobil. Kamu tidak lihat jam berapa ini? Sebentar lagi tuan muda pasti akan menghubungi ku," kata Doni mengingatkan Bimo.
"Ya sudahlah, kamu tunggu di sini aku mau pesan kue dulu untuk di bawa pulang," kata Bimo beranjak dari tempat duduknya.
"Sekalian kamu bayar semua ini ya," pinta Doni menunjukkan ke atas meja yang mereka tempati tadi.
"Uang nya mana?" Pinta Bimo.
"Ck jangan pelit," kata Doni berdecak kesal.
"Pakai uang mu dulu saja, nanti di rumah saja aku bayar," jelas Doni.
"Benar ya," kata Bimo meyakinkan.
"Iya, memang kapan aku pernah bohongi kamu," grutu Doni.
"He he he he, iya ya," jawab Bimo mengesalkan.
Doni tak menggubris, di pun keluar dari tempat itu. Baru sampai pintu ponselnya berdering.
"Halo tuan muda...." Jawab Doni dengan hormat.
"Kamu cepat ke sini, aku sudah selesai," pinta Abraham di sebrang telephon.
"Baik tuan muda," jawab Doni patuh.
__ADS_1
Setelah itu panggilan terputus.
Bersambung....