
Mobil milik Doni akhirnya sampai di rumah Tina, di susul di belakang dengan mobil bak yang mengangkut kasur yang berukuran besar.
Tina turun dengan cepat membawa sebungkus nasi pecel tadi dan 3 bungkus es dawet ditangannya lalu di susul Doni turun namun bergegas menuju bagasi mengambil semua barang belanjaan mereka tadi.
"Mbak Nana kok lama sih?" Tanya Adit menghampiri Tina.
"Ya namanya juga belanja pastinya lama lah, harus pilih-pilih dulu yang benar-benar segar," grutu Tina sedikit kesal, apa adiknya itu tak tahu kalau dimana-mana belanja di pasar pasti lama harus muter-muter cari barang yang di cari belum lagi kalau antri harus nunggu. Apalagi suasana hatinya masih sedikit kesal gara-gara kedua orang yang entah datang tak diundang itu.
tiba-tiba mata adit tertuju pada tangan sang kakak.
"Eh itu apa kak?" Tanya Adit kepo saat melihat bungkusan di tangan sang kakak.
"Ish mata kamu ini jeli banget sih, ini es dawet buat kamu sama bapak," sahut Tina menyerahkan bungkusan di tangannya kepada sang adik .
"Wah enak nih, panas-panas gini minum es pasti sueeegeeer ," kata sang adik dengan berbinar.
"Baru jam 10 dah ngeluh panas saja Dit, tuh sana bantuin kak Doni turunin semua belanjaannya," kata Tina menunjukkan ke arah mobil sang suami.
Tiba-tiba muncul 2 pria bertanya kepadanya membuat Adit maupun Tina menoleh bersamaan. Adit tercengang saat melihat yang di bawa kedu pria itu dengan kesusahan.
"Maaf mbak ini taruh dimana?" Tanya kedua pria yang sedang kerepotan membawa kasur busa yang cukup besar.
Doni dan Tina sengaja milih kasur seperti itu karena mudah saat di pindahkan mengingat kamar Tina tak begitu besar. Rencananya kasur itu juga akan di taruh di lantai karena Doni takut kejadian seperti kemarin terulang lagi, Doni maupun Tina tak ingin malu untuk kedua kalinya itu.
"Eh iya mas, taruh di dalam saja," kata Tina menunjuk ke arah ruang tamu. Biarlah nanti suaminya itu yang memindahkan ke kamar, Tina tak ingin kedua pria asing itu masuk kedalam kamarnya.
2 orang itu pun membawa kasur masuk. Tina dengan cepat membuatkan minuman dingin beserta cemilan untuk kedua orang itu. Sedangkan Adit membantu Doni membawa begitu banyak barang belanjaan.
Setelah selesai minum, 2 orang tadi berpamitan kembali ke toko. Sebelum kembali Doni memberikan uang sebagai ongkos namun keduanya menolak, namun Doni memaksa dengan alasan sebagai terima kasih. Keduanya pun akhirnya menerima karena merasa tak enak menolaknya.
"Kak banyak banget belanjaannya?" Kata Adit sedikit kaget saat melihat di mobil.
"Apa kak Tina mau buat suaminya bangkrut ya, belanja sayur dan ikan saja begini banyaknya," grutu Adit di dalam hatinya.
"Ini buat kebutuhan beberapa hari, agar ibu tidak perlu belanja lagi,'' sahut Doni enteng.
"Buset dah, nih kak Doni lempeng amat lihat belanjaan segitu banyaknya. Apa dia gak takut dompetnya jebol ya tiap nemenin mbak Nana belanja. Terus itu apa lagi kasur? Ck pemborosan," grutu Adit apalagi saat melihat 2 orang membawa kasur masuk, kasur yang dipastikan milik sang kakak karena Adit tahu kalau ranjang milik sang kakak ambruk dari cerita ibunya.
''Sudah jangan banyak tanya, cepat bawa masuk sisanya,'' perintah Doni tak ingin berlama-lama karena dia sudah lelah.
''Iya ya kak,'' jawab Adit dengan mayun.
__ADS_1
Adit pun membawa semua sisa belanjaan tadi ke dapur, di sana sudah ada sang ibu yang sedang membongkar semua belanjaan anak dan menantunya. ''Lho mbak Nana mana bu?'' Tanya Adit saat tak mendapati sang kakak di sana.
''Mbak mu tadi pamit mau mandi,'' jawab sang ibu yang masih sibuk membuka dan membersihkan sayur, buah, daging maupun ayam yang di beli anaknya tadi.
''Oh ya bu terus Bapak mana?'' Tanya sang anak lagi.
''Kamu ini semua di tanyain, sekalian tuh kak ipar mu tanyain juga,'' grutu sang ibu karena anaknya itu bertanya terus menerus.
Adit menggaruk tengkuknya karena binggung dengan reaksi ibunya itu.
''Sudah kamu cepat batu ibu cuci tuh semua,'' tunjuk sang ibu ke arah sayuran yang sudah di taruh sang ibu di ember besar.
''Bu kok jadi Adit sih yang di suruh, inikan harusnya bagian mbak Nana,'' sahut Adit dengan wajah di tekuk.
''Ya kan adanya kamu di sini, jadi cuma kamu yang bisa ibu suruh,'' kata sang ibu dengan enteng karena memang benar cuma ada Adit saja di sana.
''Bapak mana sih bu? Adit kan mau keluar sudah janji sama Bambang,'' kata Adit memelas.
''Bapak mu ya masih di kebun, kamu kan libur harusnya di rumah bantuin ibu bukannya keluyuran tak jelas.''
"Ya kan tidak tiap hari Adit main bu.''
''Nah tuh ada mbak Nana, jadi Adit pamit main dulu,'' kata Adit dengan cepat meraih tangan sang ibu untuk berpamitan dan melesat pergi meninggalkan ibu dan sang kakak yang melongo melihat kelakuan ajaib adiknya itu.
''Tuh anak benar ya,'' kata sang ibu mengelengkan kepala.
"Biarkan saja Bu, paling juga main dirumah temannya," sahut Tina.
Tina pun membantu membersihkan semuanya.
"Oh ya nak kamu tidak beli udang?" Tanya sang ibu.
Wajah Tina berubah masam saat mendengar udang, akhirnya Tina pun menjelaskan kejadian di pasar tadi kepada sang ibu.
"Ya sudah jangan di pikirkan, nak Doni orangnya baik dan ibu doakan semoga rumah tangga mu langgeng dan bahagia terus," kata sang ibu mendoakan kebaikan untuk anaknya.
"Iya Bu mas Doni memang baik, andai ibu tahu semua kebaikan mas Doni pasti ibu akan lebih terharu lagi. Mungkin kalau bukan karena kebaikannya anak mu ini tak tahu nasibnya bagaimana," batin Tina mengingat kebaikan suaminya selama ini.
"Amin"
MALAM HARI.....
__ADS_1
Tina sedang asyik tiduran di kasur sambil melihat ponselnya, sesekali dia tertawa cekikikan.
Doni yang melihat itupun menjadi penasaran dan mendekati istrinya.
"Kamu ketawain apa sih sampai segitunya?" Tanya Doni heran bercampur rasa penasaran.
"Aku lagi video-video lucu di sini," sahut Tina.
"Eh lihat mas ini ada video bagus, mas Doni mau ya?" Pinta Tina memelas.
"Tetapi...." Saat Doni hendak menolak namun niat itu diurungkan saat mata itu terlihat penuh harap.
Doni pun pasrah.
Setengah jam, Doni melotot tak percaya dengan apa yang di lihatnya.
"Wah mas Doni tampan banget," kata Tina berbinar.
Doni terdiam merasa aneh. "Hapus ya, aku risih," pinta Doni namun Tina melarang.
Nah sekarang mereka di sini di meja makan, semua menatap takjub ke arah Doni.
"Benar ini kak Doni?" Tanya sang adik ipar.
"Iya kalau bukan mas Doni siapa lagi," sahut Tina cepat.
"Benar?"
"Iya..."
"Wah kak Doni terlihat begitu tampan seperti aktor-aktor di tv," sahut Adit dengan cepat.
"Iya benar katamu Dit, mas mu seperti pria yang sering muncul di tv," kata bapak membenarkan.
"Kamu apain suami mu nak?" Tanya sang ibu kaget.
"He he he he, mas Doni sengaja Nana makeup dan hasilnya bagus kan," kata Nana bertanya.
"Iya Na, bagus," sahut bapak dan ibu. Sedangkan Doni hanya terdiam menghela nafas panjang, dia seperti boneka saja yang di dandani. Doni sedikit merasa tak nyaman wajahnya seperti berat namun dia tak berani protes apalagi melihat semuanya senang.
Bersambung...
__ADS_1