Suamiku Bodyguard Buruk Rupa

Suamiku Bodyguard Buruk Rupa
63. Kabar bahagia.


__ADS_3

"Adittt...."


"Aditttt..."


"Adit kemari nak, tolong ibu,"


"Adit....."


"Ditt tolong ibu, mbak Nana mu pingsan," teriak ibu dari ruang tamu memanggil Adit yang sedang berada di kamarnya.


Berkali-kali ibu berteriak memanggil nama sang anak namun tak ada sahutan dari dalam.


"Lho Bu, Tina kenapa?" Tanya Doni kaget saat melihat istrinya itu tak sadarkan diri atau pingsan pelukan sang ibu mertua.


"Lho nak Doni," kata ibu kaget saat melihat ke arah pintu depan ternyata di sana berdiri Doni.


"Bu Tina kenapa?" Tanya Doni mendekati ibu dan istrinya yang sedang tak sadarkan diri.


"Entahlah nak, tadi bilangnya kepalanya pusing terus tiba-tiba pingsan. Ibu juga binggung," jelasnya dengan nada cemas.


"Ayo Bu," Doni pun mengangkat sang istri dan membaringkannya di sofa.


"Lho Bu, mbak Nana kenapa?" Tanya Adit kaget saat mendapati kakak perempuan terbaring di sofa ruang tamu.


"Mbak mu tiba-tiba pingsan, ibu tidak tahu kenapa? Cepat kamu pergi panggil Bu bidan,'' pinta sang ibu dengan cemas.


"Iya bu, Adit pergi dulu panggil Bu bidan," pamit Adit segera keluar dan memanggil bidan yang rumahnya tak jauh dari tempat tinggal Tina.


Adit berlari dengan tergesa-gesa menuju rumah bidan terdekat.


Sedangkan Doni masih setia berada di samping sang istri, Doni mengengam tangan sang istri dengan cemas.


"Nak Doni minum dulu, pasti nak Doni lelah," kata ibu menyuguhkan 2 gelas teh manis untuk menantu dan anaknya itu.


"Terimakasih Bu," jawab Doni.


Tak berselang lama tibalah Adit bersama bidan dan di belakang Adit ada bapak yang ikut masuk menyerobot karena binggung kenapa ada bidan datang ke rumahnya saat ini.


"Bu ini ada apa?" Tanya bapak khawatir.


"Lho nak Doni kapan tiba," kata bapak kaget melihat menantunya itu sudah di samping Tina, kemudian pandangan bapak beralih ke sofa di mana terdapat anak perempuannya yang tertidur di sofa.


"Syutt bapak diam dulu," pinta ibu menarik suaminya agar mundur ke belakang.


"Bu bidan, tolong periksa anak saya," pinta ibu dengan khawatir.

__ADS_1


"Mohon minggir sebentar ya pak," pinta Bu bidan agar Doni menyingkir sehingga dia bisa memeriksa keadaan Tina.


Ibu, bapak dan Adit masih setia menunggu di belakang, menunggu hasil pemeriksaan bagaimana keadaan Tina saat ini.


Dengan teliti Bu bidan memeriksa keadaan Tina. Bu bidan tersenyum, dia sudah mendengar kalau Tina pulang membawa suaminya meskipun banyak yang heran karena tak tahu kapan Tina menikah, banyak warga yang penasaran di buatnya.


"Bagaimana kondisi istri saya?" Tanya Doni dengan cemas.


"Kondisi mbak Tina baik-baik saja, sepertinya mbak Tina kelelahan. Apa akhir-akhir ini mbak Tina mengeluh sakit?" Kata Bu bidan.


Doni menghela nafas lega, ternyata istrinya itu cuma kelelahan. Setelah itu Doni beralih menatap mertuanya karena mendengar pertanyaan dari bidan di depannya.


"Iya kemarin dia mengeluh kepalanya pusing dan mual, saya kira masuk angin," jelas sang ibu menceritakan yang dialami anaknya kemarin.


Bu bidan tersenyum, ternyata pikirannya benar.


"Dari gejalanya sepertinya anak ibu hamil, kalau Tina sudah sadar tolong minta untuk memakai alat ini, di sini sudah ada petunjuk mengunakannya ya Bu dan ini vitamin tolong di minum sesuai resep," jelas Bu bidan.


"Hamil..." Guman Doni di hatinya masih tak percaya dengan apa yang di dengarnya saat ini.


"Mbak Nana hamil," ceplos Adit.


"Iya mbak mu hamil," kata bapak menyakinkan.


"Alhamdulillah..." ibu memekik senang mendengarnya.


Bu bidan pun berbicara dengan ibu menjelaskan semuanya dan meminta Tina untuk periksa ke tempatnya nanti, sedangkan Doni masih setia menunggu sang istri sadar.


Bapak maupun Adit masih setia menunggu Tina sadar. Ibu sudah berada di dapur membuatkan bubur untuk sang anak agar saat sudah sadar nanti Tina segera memakannya.


"Emmhhhh...."


"Sayang, akhirnya kamu sadar," kata Doni saat mendengar suara sang istri.


Tina membuka sedikit matanya langsung menengok ke sebelah, memastikan suara yang di dengarnya itu tidak salah.


"Mas Doni," kata Tina dengan hati yang begitu bahagia mendengar suara orang yang ternyata benar-benar di dengarnya adalah suara yang dari kemarin di rindukannya, suara yang telah lama tak di dengarnya.


Tina langsung bangun dan memeluk Doni dengan erat seakan engan untuk di tinggalkan lagi oleh suaminya itu.


"Hiks hiks hiks hiks, aku kangen mas Doni," lirih Tina yang masih memeluk erat suaminya.


Bapak dan ibu yang melihat itupun memilih pergi keluar membiarkan suami istri itu saling melepas rindu. "Biarkan nak Doni yang memberitahu Nana sendiri Bu," kata bapak kepada istrinya, ibu pun mengangguk setuju dengan ucapan dari bapak.


Tak lupa bapak menarik Adit keluar. "Kenapa sih pak?" Grutu Adit.

__ADS_1


"Biarkan mbak Nana sama suaminya," kata bapak menarik Adit keluar dari sana agar tak menganggu keduanya.


"Tetapi Adit masih mau di sini," protes Adit tak ingin pergi.


"Ayo," bapak melotot menarik paksa anak laki-lakinya itu agar keluar mengikutinya.


Dengan wajah manyun, Adit mengikuti orang tuanya keluar.


Sedangkan Doni dan Tina saat ini.


"Sayang kamu sudah baik-baik saja?" Tanya Doni memastikan keadaan sang istri.


"Cuma masih sedikit pusing mas," jawab Tina menyenderkan tubuhnya di dada Doni.


"Terimakasih ya sayang," kata Doni mengecup kening sang istri dengan penuh cinta.


"Terimakasih untuk apa?" Tanya Tina dengan binggung.


"Oh iya, mas lupa bilang ke kamu," kata Doni menepuk keningnya pelan.


"Bilang apa?" Tanya Tina dengan kening mengkerut.


"Alhamdulillah kamu hamil," kata Doni sumringah.


"Hamil?"


"Iya kita akan segera punya anak," jelas Doni.


Tina berkaca-kaca dia tak menyangka kalau benar dia hamil, Tina mengusap pelan perutnya yang masih rata dan hal itu di sadari oleh Doni.


"Assalamualaikum nak," lirih Doni ikut mengusap lembut perut istrinya yang masih rata itu.


"Mas tahu darimana kalau aku hamil?" Tanya Tina penasaran.


"Tadi saat mas datang melihat mu pingsan di pelukan ibu terus Adit di suruh panggil Bu bidan, dan ya hasilnya kamu hamil," jelas Doni dengan wajah sumringah.


"Apa mas Doni bahagia?" Tanya Tina.


Tina takut suaminya itu tidak senang mendengar kabar kehamilannya saat ini, Tina takut suaminya itu hanya berpura-pura senang saja.


"Kenapa kamu bisa bertanya demikian," kata Doni.


Doni menghela nafas panjang seakan tahu isi pemikiran istrinya itu. "Jujur aku sangat bahagia kalau kita akan punya anak," kata Doni meyakinkan istrinya kalau dia benar-benar bahagia.


Doni pun memeluk istrinya kembali dengan sayang.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2