
Keesokan harinya.
Tina dan ibunya sedang menata semua makanannya di meja makan, ada juga ayam goreng serta perkedel tak lupa sayur sup dan sambal tentunya. Menu sederhana namun mampu membangkitkan selera makan.
Adit datang ke meja makan dengan berbinar di susul dengan Doni di belakangnya. "Mbak Nana mana udangnya?" Tanya Adit dengan binggung saat tak mendapati udang kesukaan tidak ada di meja padahal kemarin sang kakak pergi ke pasar, kenapa dia tak menghidangkan udang yang jelas-jelas adalah makanan kesukaannya itu.
"....."
Tina terdiam binggung dia tak mungkin menjelaskan kalau gara-gara udang dia hampir saja terkena amukan dari sang suami. Ah bukan karena udang nya namun si penjual udang yang tak lain si Agus sang mantan yang bermulut besar itu. Tina memikirkan saja menjadi takut, dia dengan cepat melirik ke arah sang suami yang ternyata duduk dengan tenang.
Sedangkan sang ibu melihat anak perempuannya binggung terdiam pun angkat bicara. "Sudah jangan banyak protes, makan saja yang ada," kata sang ibu agar anaknya itu tak banyak bicara.
Sang ibu berbicara seperti itu karena ibu tahu kejadian kemarin yang dialami anak perempuannya itu, ibu tahu semua karena Tina menjelaskan semuanya saat sang ibu menanyakan hal yang sama seperti adiknya tadi, kenapa tidak membeli udang?
"Ih ibu mah," grutu Adit manyun langsung duduk dan menyendok nasi serta mengambil 2 ayam dan sambal. Ibu hanya mengelengkan kepalanya melihat kelakuan anaknya itu.
Doni hanya melirik sambil tersenyum tipis melihat bagaimana Adit merajuk seperti anak kecil.
"Nih anak lupa kali ya, ada kakak iparnya bisa-bisanya dia ngambek seperti itu, apa dia tidak malu karena sudah besar tetapi kelakuan masih seperti bocil," grutu sang ibu tentunya di dalam hati.
"Adit..." Seru sang ibu melotot memberi kode lirikan kepada anaknya itu agar dia ingat sedang ada Doni sang kakak ipar.
Adit yang masih manyun pun menoleh ke samping ternyata ada kakak iparnya yang melihatnya dengan gelengan kepala.
"Hah kenapa aku bisa lupa ada kak Doni, ck malu-maluin saja. Jangan sampai kak Doni ilfil," batin Adit malu, dia langsung menunduk tak berani berkutik. Dengan lahap Adit makan dan tak mengeluarkan suaranya lagi karena malu.
"Nak Doni silahkan di makan, maaf menunya sederhana," kata ibu dengan ramah kepada menantunya itu.
"Iya Bu, terimakasih,"
"Na cepat kamu ambilkan nasi untuk suami mu," perintah sang ibu.
Tina pun sadar langsung dengan cepat mengambil piring dan mengisinya dengan nasi. "Apa segini kurang mas?"Tanya Tina dengan perhatian.
"Sudah cukup takutnya aku kekenyangan dan membuat tubuhku tak bisa bergerak cepat," sahut Doni cepat saat melihat istrinya itu hendak menambahkan nasi di piringnya lagi.
__ADS_1
"Terus mas Doni mau lauk apa?" Tanya Tina sekali lagi.
"Nanti aku ambil sendiri saja, kamu juga makanlah," kata Doni menolak istrinya saat hendak mengambilkan lauk. Dia masih bisa mengambilnya sendiri tak ingin istrinya itu repot, apalagi istrinya itu sudah lelah sedari tadi memasak di dapur. Doni meminta istrinya itu juga makan.
Ketiganya pun makan dalam diam, bapak dan ibu pun datang menghampiri mereka.
Saat ini mereka tidak jijik mau makan dengan Doni karena berkat sang istri, Doni bisa muncul di depan mereka dengan biasa tak memaksi masker wajah. Tina memberikan sentuhan bedak sehingga mampu menutup sedikit luka di wajah sang suami, karena dia iseng-iseng ikut trend di sosial media. Karena banyaknya video yang memperlihatkan laki-laki berdandan dan membuatnya bertambah tampan.
Awalnya bapak, ibu maupun Adit kaget namun mereka pun mengerti dan senang saat Tina memberitahu bahwa semua ini berkat make up.
Bahkan Adit yang paling gembira serta takjub melihat wajah kakak iparnya yang ternyata begitu tampan.
"Wah bapak telat nih," kata bapak saat sudah sampai di meja makan.
Ibu pun duduk di dekat bapak dan langsung mengambilkan nasi beserta lauk, hal itu tak luput dari perhatian Doni.
"Bapak darimana?" Tanya Tina saat melihat bapaknya baru datang.
"Bapak tadi habis ambil pisang di kebun ada yang sudah matang takutnya nanti di curi orang," jelas bapak panjang lebar.
"Kenapa?" Tanya bapak memberi kode kepada istrinya saat melihat Adit si anak yang cerewet itu tiba-tiba makan dengan diam dan sopan. Bapak baru kali ini melihat anaknya makan dengan tenang.
Ibu mengelengkan kepalanya sebagai tanda agar suaminya itu diam tak berbicara lagi, bapak yang paham pun memilih diam dan ikut makan dengan diam.
Selesai makan Adit ke ruang tamu menyalak televisi sedangkan Doni memilih duduk di teras.
Tina membantu sang ibu membereskan semuanya. "Sudah nak, kamu temani suamimu saja. Buatkan kopi atau teh dan bawa cemilan untuk teman kalian duduk di teras depan," kata ibu kepada Tina agar sang anak berhenti membantunya dan menemani suaminya itu.
Di teras rumah.
Tina datang dengan nampan berisi kopi, pisang goreng dan tempe mendoan untuk sang suami.
"Di minum mas," kata Tina meletakkan kopi serta cemilan yang di bawanya tadi di meja dan Tina pun ikut duduk di hadapan suaminya.
Sruppp...
__ADS_1
Doni menyeruput kopi itu dengan hati-hati mengingat kopi masih panas.
Ponsel Doni sedari tadi berbunyi nyaring membuat Doni dengan cepat mengangkat panggilan tersebut.
"Halo....." Jawab Doni.
Doni awalnya mengerutkan keningnya saat melihat nama yang tertera di layar ponsel.
Doni terdiam menyimak ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut pria di sebrang telephon.
"Hmm...."
"Hmm..."
Tut..... Panggilan itupun terputus dengan cepat membuat sang istri heran.
"Kenapa mas Doni kok diam?" Tanya Tina saat melihat sang suami terdiam setelah menerima panggilan telephon dari entah siapa, Tina pun tak tahu karena sang suami hanya diam mendengarkan saja tak menyahut ataupun tak menyebutkan nama.
"Tidak ada, cuma aku harus segera kembali karena tuan muda membutuhkan ku," jawab Doni cepat berterus terang kepada istrinya karena besok pagi Doni harus sampai.
Tina mendekat itupun sedikit kecewa karena dia juga harus kembali ikut pulang dengan suaminya itu.
Doni tahu pemikiran sang istri dengan cepat berbicara. "Aku pulang sendiri, setelah urusan ku selesai nanti aku ke sini lagi untuk membawamu pulang ke rumah kita."
"Terus mas Doni berangkat kapan?" Tanya sang istri memastikan.
"Mungkin nanti malam, agar besok sudah sampai," jelas Doni membuat Tina sedikit kecewa. Padahal mereka baru saja dekat terus dia sekarang harus di tinggal di sini karena Doni bekerja.
"Kamu di sini saja dulu bersama keluargamu sepuas-puasnya, setelah semua urusanku selesai nanti aku pasti jemput kamu," kata Doni menenangkan.
"Hmm..." Tina mengangguk lesu.
"Ingat jangan nakal atau ketemu si Agus kerempeng itu," kata Doni mengingatkan membuat wajah Tina manyun.
Bersambung....
__ADS_1