Suamiku Bodyguard Buruk Rupa

Suamiku Bodyguard Buruk Rupa
12. Perubahan Doni


__ADS_3

Hari demi hari berlalu tak terasa sebulan lebih telah berlalu dengan cepat.....


Doni yang dulu ramah kepada semua orang berubah menjadi penyendiri dan pendiam bahkan terkesan dingin kepada temannya.


Bukan karena apa namun Doni merasa minder. Bodyguard pilihan keluarga ini kebanyakan berisi pria gagah dan tampan. Doni merasa dia berbeda jadi dia lebih senang menyendiri. Memang Doni belum sepenuhnya bekerja namun dia masih sering ikut latihan untuk kebugaran tubuhnya.


Beberapa yang tak suka dengan Doni pun berbisik membicarakan tentang wajahnya. Bahkan ada yang berpura-pura tak mengenal Doni dan hal itu membuat Doni menjadi pendiam dan tak suka bergaul.


Namun mereka yang mengenal Doni begitu maklum apalagi mereka tahu penyebab semua ini karena untuk melindungi tuan mudanya. Bahkan pimpinan dari para bodyguard itu pun begitu menghormati Doni mengingat dirinya begitu gigih menyelamatkan tuan mudanya padahal banyak dari mereka yang mencegah dan mengatakan bahwa di dalam tidak ada siapapun karena mereka tak tahu ada tuan mudanya yang terjebak di sana. Ya kalau tidak ada Doni mungkin tuan mudanya itu tidak akan selamat atau bahkan mengalami yang Doni rasakan saat ini dan tentunya tuan besar tak akan tinggal diam atau bahkan memecat mereka semua karena gagal menjalankan tugasnya, lebih parahnya mereka bisa di jebloskan ke penjara.


Puk...


"Kamu kenapa duduk di sini sendiri? Apa kamu tidak ingin makan di sana bersama dengan yang lainnya. Bahkan Bimo asyik duduk di depan meja koki dan meminta tambahan lauk berkali-kali," sapa Tito yang bertugas mengawasi dan melatih mereka.


"Seperti yang kamu lihat," jawab Doni singkat tanpa menatap ke arah mereka dan sibuk dengan aktivitasnya sendiri.


Mark yang melihat itupun menghela nafas kasar dan segera mengelengkan kepalanya kepada Tito agar tak bertanya lebih lagi, karena Mark bisa lihat Doni saat ini dalam suasana hati yang kurang baik sepertinya, entahlah mungkin ada yang menyinggung perasaan nya atau apapun itu yang Mark ingin tahu.


"Ya sudah lanjutkan makan mu, aku juga mau pesan makanan," jelas Tito dengan sendu meninggalkan Doni yang masih setia berdiam diri tak ingin menyapa dia dan Mark.


"Kamu berubah," lirih Mark membuat Doni menoleh dan tersenyum sinis.


"Ya aku berubah menjadi monster," sinis Doni.


Mark menghela nafas panjang. "Kamu yang dulu ramah dan sering tersenyum, sedangkan sekarang kamu pendiam dan jarang mau bergaul dengan teman kamu yang lain," jelas Mark.


"Oh kamu mau aku menyapa mereka, ha ha ha ha ha lucu sekali. Apa kamu tahu? Mereka melihat ku saja jijik dan apa kamu juga tahu sebutan apa yang mereka berikan untukku?" Kata-kata Doni membuat Mark bungkam tak bisa menyahuti atau sekedar menjawab pertanyaan dari Doni.


Mark bisa melihat sorot kesedihan di wajah Doni.


"Ha ha ha ha ha ha, mereka menyebutku buruk rupa," kata Doni di selingi tawa getir.


Ingatan Doni mengarah ke beberapa hari yang lalu, tanpa sengaja dia mendengar suara beberapa orang yang berkumpul dan menyebut-nyebut nama nya. Doni yang penasaran pun mendekat dan mendengar kalau beberapa dari mereka menyebutnya malang, kasihan dan ada pula yang menghinanya dengan mengatakan dia buruk rupa dan mister jelek. Tak lupa di sertai tawa ejekan. "Ha ha ha ha, syukurin karena sok kecakepan pake sering dekat-dekat neng Rani lagi."


Doni cuma bisa mengepalkan tangannya dan berlaku pergi sebelum mereka menyadari keberadaannya.


Mark terdiam saat melihat Doni yang sepertinya melamun, entahlah bibirnya terasa keluh untuk berbicara sekedar membalas ucapan dari Doni. Sungguh dia binggung harus menjawab apa.


Dia hanya bisa menepuk pundak Doni memberikan semangat. "Jangan pernah dengarkan kata-kata yang menyakiti mu, jadilah Doni yang seperti dulu kalaupun tak bisa buatlah dirimu bahagia dan jangan pernah minder dengan wajah mu ini karena wajahmu ini adalah lambang bodyguard sejati."

__ADS_1


Setelah berbicara seperti itu, Mark pergi melanjutkan kembali kegiatannya tadi.


"Hos hos hos hos hos, Don... Eh Don..."


Tiba-tiba Bimo datang dengan nafas ngos-ngosan.


"Don... Don... Terus dari tadi, nama ku Doni," kesal Doni.


Namun sekesal-kesalnya Doni dengan Bimo, dia tetap perhatian dengan temannya itu.


"Nih minum...." Doni menyodorkan minuman yang ada di depannya yang masih tersegel rapi, karena tak tega melihat temannya itu seperti kelelahan.


Gluk gluk gluk....


"Ahhh leganya....." Kata Bimo mengelus tenggorokannya.


"Kenapa kamu buru-buru seperti itu? Apa kamu di kejar anjing?"


"Hei enak saja, aku mau bilang ke kamu kalau tuan muda Abraham meminta kamu dan aku menemaninya, ayo cepat karena tuan muda sudah menunggu," Bimo dengan cepat menarik Doni yang masih binggung.


"Hei hei jangan tarik- tarik," grutu Doni sambil berlari kecil mengikuti langkah Bimo tak lupa dia berpaling menatap makanan yang baru dia suap 5x itu.


"Ck dasar Bimo," grutu Doni.


"Oh tadi aku baru habis satu piring, mau nambah. Eh aku di suruh bang Re ke tempat tuan muda Abraham," jelas Bimo dengan cemberut.


"Mending kamu sudah habis 1 piring, sedangkan aku cuma separuh."


"He he he he he...." Bimo justru tertawa membuat Doni semakin mendelik sebal.


Keduanya pun berlari kecil menuju tempat di mana tuan mudanya saat ini sedang berada.


Akhirnya keduanya pun sampai.


"Maaf tuan muda, kami terlambat," kata Doni dan Bimo berbarengan.


"Ya sudah kalian ambil perlengkapan kalian, aku ingin berburu di hutan yang ada di sana," kata Abraham dengan santai namun membuat Bimo kaget.


"Siap tuan muda," jawab keduanya serempak.

__ADS_1


.


.


Keempat orang itupun sambil di depan hutan yang cukup luas, hutan milik keluarga Abraham.


"Oh ya, kalian semua ambil panah itu," perintah Abraham.


Bimo, Doni maupun Tito pun mengangguk mengambil panah yang sudah Abraham siapkan.


"Tuan muda kenapa kita tidak menggunakan pisau ataupun senjata lainnya?" Tanya Titi yang memimpin mereka.


"Tidak, aku ingin menggunakan panah."


Semuanya pun terdiam tak ada yang menanyakan apapun lagi kepada sang tuan muda.


Mereka berjalan menuju hutan dan mengikuti tuan mudanya.


Srekkk....


Satu anak panah melesat dan itu milik Doni.


Mbek mbek mbek...


"Wah Doni dapat, ayo kita lihat," seru Bimo.


Mereka pun tersenyum kala Doni mendapatkan satu buruan yang cukup besar yakni kambing.


Hutan itu buatan, di sana ada kambing, kelinci, ayam dan hewan-hewan yang sengaja di taruh di situ. Untuk hewan buas seperti harimau di tempatkan sendiri, untuk mengeksekusi setiap penyusup.


"Ha ha ha ha, kambing. Yee kita makan besar," seru Bimo.


Srekkk....


Abraham mengarahkan panah tadi ke arah kelinci dan ternyata berhasil.


"Wah tuan muda juga dapat,"


"Bimo, kamu bawa semuanya. Ayo kita panggang di sana dan Doni tolong siapkan tenda," pinta Abraham.

__ADS_1


Abraham ingin berkemah di hutan buatan ini dan menikmati suasana sejuk dan tenang.


Bersambung....


__ADS_2